ANMELDENIn my previous life, I was born at the stroke of a cold, pitch-black midnight on New Year's Day, an omen the old town whispered about. They called me a Deathbringer's child, destined to guide the souls of the stillborn to rest. From the age of six, I carried small coffins alone to the graveyard by the church, burying them in silence. Each time, when I reached into the velvet shroud that wrapped the tiny casket, I would find a golden coin resting inside. My mother sold those coins for money, buying my brother a grand mansion, while leaving me behind in the crumbling family house to keep doing the work. No one expected the world of Haunts to descend. However, those coins turned out to be tokens of command, keys that bound the Haunts of the apocalypse to my will. With them, I became the Empress of the End, feared by all, ruling with every resource at my command.
Mehr anzeigen“Lastri, maukah kamu menjadi pacarku?” Tiba-tiba Juned berdiri menghadang perjalanan Sulastri dan kedua temannya.
“Minggir kamu, dasar pria lemah,” ujar Sulastri dengan kasar kepada Juned. “Kamu itu tidak cocok ya bersanding dengan Lastri.” Celetuk salah satu teman Sulastri yang berdiri di sampingnya. Juned hanya tertunduk lesu sambil menggenggam seikat bunga mawar, mendengarkan cemoohan yang menyakiti hatinya. Juned sangat menyukai Sulastri yang merupakan anak Juragan Pasir di desa itu. Meski berkali kali cinta Juned ditolak. Sulastri membalas cinta Juned dengan cemoohan dan hinaan belaka. “Hei, Juned. Kamu itu harusnya berkaca dulu. Kamu itu siapa? Berani beraninya mendekati Sulastri.” Ujar teman Sulastri yang lain, sambil mendorong Juned. Juned terjengkang ke belakang, disambut tawa yang menggema ketiga gadis itu. “Hahaha, lihat dia teman-teman. Baru didorong begitu aja sudah jatuh.” Ucap Sulastri tertawa lepas. Kaos yang dipakai Juned kotor terkena tanah, dia tak mampu untuk bangkit melawan. Bukannya iba melihat kondisi Juned, Perlakuan Sulastri justru semakin menjadi-jadi. “Oh, jadi ini yang mau kamu berikan buat aku, hahaha!” Sulastri mengambil dengan kasar, seikat bunga mawar yang sedari tadi di genggam oleh Juned. “Makan ini bunga!!” Sulastri melempar dengan sekuat tenaga bunga mawar tersebut ke wajah Juned hingga bunga itu berhamburan di tanah. Tanpa rasa bersalah Sulastri dan kedua temannya melenggang pergi sambil tertawa puas meninggalkan Juned. Juned melangkah pulang dengan dipenuhi rasa kesal dan kesedihan. Hatinya tertembus kekecewaan dan penyesalan. “Kenapa harus aku yang seperti ini? Kenapa aku harus terlahir dari keluarga miskin? Kenapa aku terlahir dengan fisik yang lemah ini?” Pertanyaan itu yang selalu terngiang di pikiran Juned. Kampungnya mayoritas warga laki-lakinya bekerja di tambang pasir, sementara Juned adalah satu-satunya laki-laki di sana yang berprofesi sebagai seorang mantri sekaligus tukang pijat. Ia mewarisi sebuah klinik dan panti pijat peninggalan kakeknya. Sedangkan kualifikasi mantri ia dapatkan dari pelatihan utusan puskesmas untuk kampungnya. Sesampainya di rumah Juned tampak murung dan tak bergairah setelah mendapat penolakan disertai hinaan dari Sulastri. Dengan badan yang lemas dia duduk di sebuah bayang di depan rumah sambil menatap klinik yang berada di samping rumahnya. “Juned, kamu kenapa? Kok terlihat kurang semangat.” Sapa seorang wanita yang membuyarkan lamunan Juned. Wanita itu bernama Lilis, tantenya Juned. “Gak apa-apa kok, tante.” Balas Juned agak gelagapan karena lamunannya terhenti seketika. Tante Lilis seolah tahu apa yang sedang ada dalam pikiran keponakan satu satunya itu. “Apapun yang terjadi, Tante akan selalu mendukungmu.” Ucap Lilis sambil membelai dengan lembut pundak Juned, kemudian mendekap kepala Juned ke dadanya. Bagian bawah Juned tak bereaksi sama sekali meskipun kepalanya terbenam di area yang nikmat milik Lilis. “Terima kasih, Tante.” Ucap Juned, sambil tersenyum tipis. “Ngga perlu berterima kasih, Juned. Sudah tugas tante untuk merawatmu dan melindungimu. Dulu ibumu juga yang merawatku dan menjagaku, meski kami hanya saudara tiri tapi ibumu begitu sangat menyayangiku.” Dengan suara bergetar Lilis mengingat masa lalu ketika bersama kakaknya, yang tak lain adalah ibu dari Juned. "Sejak suamiku meninggal karena kecelakaan saat kerja di tambang, kamu adalah satu-satunya keluargaku." imbuh Lilis. Setelah mendengarkan nasehat dari Lilis, Juned merasa kembali bersemangat untuk menjalani kehidupannya lagi. Namun perasaan itu tak bertahan sampai sehari lamanya. Ibarat seperti rumah yang sudah dibersihkan kembali dikotori lagi. Sore harinya, ketika Juned hendak membeli stok obat ke apotek yang terletak di kota. Dia melewati gerombolan pemuda yang sedang asyik nongkrong di pinggir jalan. “Woii, Lembek. Mau ke mana kamu?!, hahaha” teriak ketua geng bernama Sugeng mengejek dengan keras, seketika menghampiri Juned yang berjalan dengan cepat. Sugeng langsung menarik tangan Juned dengan kasar. Membawanya mendekat ke arah teman temannya yang berwajah sangar dan lusuh, tak jauh beda dengan si Sugeng. “Kawan-kawan, ini si lembek dari kampung kita.” Sugeng kembali mengejek Juned yang hanya terdiam di tengah kerumunan, “Satu satunya pria di kampung kita yang memiliki jari lentik, hahaha.” Celetuk salah satu teman Sugeng, sambil menunjukkan tangan Juned kepada yang lain. “Maklum, bro. Tangannya Cuma bisa pijat punggung saja, beda sama kita kita yang penuh tenaga mengangkat pasir. Lakii!!” Sahut Sugeng sambil menunjukkan lengannya ala binaraga. Salah satu pria mendekati Juned, dan memperhatikannya dengan tatapan menghina. “Aku dengar dia menyatakan cinta kepada Sulastri. Saingan berat kamu ini, Sugeng.” Pria itu menepuk-nepuk wajah Juned. Sugeng tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan salah satu temannya. “Hahaha, yang benar saja. Dibanding sama aku ya beda jauh, badanku gagah perkasa dan kuat. Sulastri mana mau sama pria lembek dan lemah syahwat seperti dia.” Ucap Sugeng yang semakin menjadi jadi dalam bertindak. Perkataan Sugeng tersebut seperti petir di siang bolong bagi Juned. Semangat yang telah dibangun sebelumnya, kini runtuh seketika. Kesabaran Juned laksana magma yang telah meletup letup di perut gunung. Siap menyembur kapan saja mendengar semua hinaan mereka. “Pria miskin, lembek, dan lemah syahwat tidak pantas buat Sulastri ...” Perkataan Sugeng terhenti seketika. DEBUUUUKKK.... Pukulan Juned yang begitu lemah tak mampu menjatuhkan Sugeng. Bahkan untuk menghuyungkan tubuh Sugeng pun tak bisa. Sungguh terlalu sembrono bagi Juned, melawan satu lawan satu saja dipastikan tidak akan menang. Sugeng tak terima dengan apa yang dilakukan Juned. Dengan satu pukulan balasan, tubuh Juned langsung jatuh ke tanah. DEBUUUKKKK... DEBUUUUKKK.. Saat Juned sudah jatuh, teman-teman Sugeng yang lainnya ikut melakukan salam olahraga terhadap Juned. Setelah dirasa cukup puas, Sugeng beserta kelompoknya pergi dari tempat itu. Meninggalkan Juned yang dalam kondisi setengah sadar berbaring di tanah. . Juned mencoba bangkit dan berdiri dengan tubuh penuh luka. Dia berjalan menuju ke arah hutan yang ada di pinggir kampung. Sambil tertatih menahan perih, dia terus melangkah perlahan. Sesampainya di hutan, Juned bersandar di salah satu pohon. Meratapi nasibnya yang begitu malang hidup di dunia ini. “Aaaaaaaaaaaaargh!!” Teriakan Juned menggema di dalam hutan itu. Di tengah hutan yang mulai di selimuti gelap, Juned melihat tumbuhan tak jauh dari tempat dia duduk, Tumbuhan yang tampak begitu asing baginya. “Apa itu?” gumam Juned. “Aku pernah melihat gambar tanaman ini, tapi di mana ya?” Juned penasaran melihat tanaman seperti jamur. Dia memetiknya, dan terus memperhatikannya dengan seksama. Dalam hatinya, dia merasa senang telah menemukan Jamur beracun itu. Rasa frustasi yang di alaminya mendorong Juned untuk memakan Jamur itu. Tanpa pikir panjang lagi Juned langsung memakannya dan berharap dapat mengakhiri kehidupan yang nestapa. “Daripada aku harus hidup dengan menanggung semua ejekan dan cemoohan yang begitu menyakitkan, lebih baik aku pergi dari dunia ini.” Gumam Juned sambil terus mengunyah perlahan Jamur itu. Rasa pahit dan getir seolah tak ada apa-apanya dibanding nasibnya, hingga akhirnya dia berhasil menelannya.Her smile, laced with blood, looked haunting.A Haunt swept in, scattering the cash and gold bars from the car.Sparks flew, and the flames roared to life with a loud whoosh.I pulled a gold bar from my pocket. "Hear me, infant spirits, it's time for our final showdown!"The winds howled as I watched my mom wail in despair.Her tears were for her wealth, not a shred of worry for me.I spun around and plunged into the swirling darkness without a second thought.Not a single drop of my blood could be wasted.It trickled down and slowly dried up as it moved along."Unless I back down, I won't surrender an inch of this city to you!"……Maybe it was the power of my blood, or maybe they had truly developed a will of their own.The long night finally gave way to dawn.The morning rain cleansed the city.The malls and supermarkets slowly became sanctuaries for the survivors.The streets echoed with nothingness.I made my way to my childhood home, laying my mother and brother to
Out of nowhere, a bone arrow sliced through the air and struck his chest with a sharp hiss.The arrow, upon contact with Jim's blood, glowed a sinister red.His face contorted in pain, and suddenly, his grip failed him as he plummeted from the sky.I dashed forward, my heart racing, and leaped to cover Jim with my body.The Haunts erupted into mocking laughter."Jim, we've taken apart the bones of the mortal who wanted you dead and crafted them into these arrows. Take one more step and we'll pin you down in front of your own troops!"Jim's eyes blazed with fury, his whole body shook with anger.I held his hand and, with all my might, broke off the bone arrow embedded in him.I bled till it drained all my energy.I gave my blood to the weakened Jim.His face turned a deep shade of red as he looked at my blood-stained lips and slowly extended his hand."He's nothing but bones now, he can't touch me. However, you, you're the one I need to protect!"……Jim yanked the bone arro
Mom lunged for the money, her cheeks quivering in glee."I'm the one who told him to take it. All this makes it easier to move around, anytime, anywhere."Seriously, with brains like that, I bet that old warehouse was going to be their final crib. However, there was no way I was going to give them their happy ending.With a swift kick, I sent them packing. "This joint? It's mine now."James jabbed a finger at me. "You think you're some kind of magician, huh? Stealing all my dough? Just wait till I get back on my feet."They had no clue they were never getting back on their feet.As bloodied humans... The Haunts would sniff them out first.Mom clutched my brother's arm and shot me a death glare. Before storming off, I could see tears streaming down her face. She ranted, "There has to be some laws left in this world."The air turned chilly, a storm was brewing.I let a drop of blood fall on the mountaintop, and the infant spirits formed a line behind me.I gave the signal. "Ton
I could not help but smirk. "Too scared to head home because you think I'll blow you sky-high? Figures. Your fancy sports car can't even handle you. The moment you fall down, the poor thing's gonna kiss the pavement."Laughter erupted from my friends.James, on the other hand, was frantic, lunging to grab my hair.He was so mad he looked like he wanted to smack me, but I was quicker, a swift kick landed right on his pudgy stomach.James yelped, clutching at my arm, babbling, "Since when can't I handle you? You're just a little troublemaker! You've been freaking me out with your spooky antics every single day."The moment had arrived, my friends were already wielding their wands.With one solid kick, I sent him tumbling down the slope.James's bodyguard tried to step in, but just then, the sky turned ominous, and a lightning bolt crashed down."Boom!" It struck right beside James, next to a tree.Smoke billowed up, and it was hard to tell if it was the tree or James's own fat s
I lifted my gaze to meet hers, and she jumped."What's... What's the matter?" she stammered.Without a word, I moved to my brother's side, bit my finger, and let a single drop of blood touch his forehead.With my back to Mom, I whispered, "Don't worry about it. You haven't said my name in years.
I glanced at her, choosing my words carefully, "Mom, the old family house is in my name. What if I trade it for the orchard? The old house in town is known to be sacred ground. Anyone buried there has been blessed by the Lord."She did not take the bait, though. "What's yours is what's mine, when I
If the gold bar was a ticket into the Haunts world, then I could use it to command the infant spirits, to take what was needed.Maybe they could even help me fight off the threats that were coming.While I was lost in thought about my plan, the door suddenly burst open and Mom strutted in with her
In my previous life, when the Haunts world descended, I had just returned from burying someone in the open grounds next to the church.The wind that night was so chilly it seemed to slice through my bones.The front door was left ajar, allowing the ice cold air in, as my mom and brother sat stone-


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rezensionen