Share

20. Posesif

last update publish date: 2025-12-28 21:00:00

“Enggak sama sekali,” Kara tersenyum untuk meyakinkan gadis itu.

“Selama mereka yang caper ke kamu, dan bukan sebaliknya. Aku aman,” lanjutnya.

“Mulai posesif rupanya,” Diandra memincingkan mata, baru mengenal sosok lain di diri Kara.

“Ke kamu doang.”

Setibanya di kelas, Diandra dan Kara langsung berpisah posisi. Diandra menghampiri teman-temannya, sementara Kara duduk bersama Seno seperti biasanya.

“Kaya

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Si Tampan yang Posesif   145. Epilog (2)

    “Emang. Makanya aku kasih stempel dulu, biar kamu nggak bisa berpaling dari aku.”“Jahat banget,” Diandra menggeleng sembari memincingkan mata.“Tapi itu terbukti efektif.”“Yah, sedikit.” Diandra menggeser tubuhnya hingga mereka berhadapan sekarang.“Makasih,” katanya lagi.“Untuk?”“Karena udah jujur tentang semua hal.”“Selalu, sayang. Aku juga nggak ada niat untuk nutupin apa pun dari kamu. Kita udah janji untuk selalu sama-sama. Ada Gestara dan Garistha juga yang udah melengkapi kita. Aku nggak butuh apa pun lagi. Kalian bertiga udah lebih dari cukup.”Diandra tersenyum, melingkarkan tangannya ke leher Kara dan menciumnya singkat.“Kalo Twinny G liat papinya manja kayak gini, bisa diledekin habis-habisan kamu sama mereka,” ucap Diandra.“Biarin aja. Biar mereka tau sebucin apa mami papiny

  • Si Tampan yang Posesif   144. Epilog

    Diandra beserta keluarga kecilnya keluar dari limusin hitam yang baru saja berhenti di depan gedung utama Adhiyatsa Group di Jakarta.Berjalan pelan dan beriringan, dengan Kara yang menggandeng tangannya, sementara tangan Kara yang lain tengah menggendong tubuh gempal Garistha yang sekarang udah berumur dua tahun. Keduanya sesekali tersenyum menyapa para awak media yang sudah tiba lebih dulu di sana untuk meliput berita, begitupun yang dilakukan oleh si kecil Garistha, ia tampak menikmati setiap momen dan juga perhatian semua orang.Gadis kecil itu seolah tak terganggu dengan hingar bingar dan keramaian yang terjadi di sekitarnya.Sementara Gestara masih terlelap di pelukan oma cantiknya, Miranda. Yang sudah lebih dulu memasuki gedung utama Adhiyatsa Group.Butuh dua tahun hingga akhirnya Kara dan Diandra kembali ke Indonesia. Bukan untuk tinggal dan melanjutkan hidup, melainkan untuk sebuah acara penting yang mengharuskan kehadiran mereka berdua sebagai

  • Si Tampan yang Posesif   143. Ending

    “Sorry dulu nih sebelumnya, tapi aku beneran serius, kenapa nikahan kita nggak digabungin aja harinya, biar jadi satu acara? Lumayan hemat budget juga, kan?” Tawanya meledak setelah mengatakan hal konyol itu.“Malu, woy. Anak pengacara kondang kok mau nikah aja, harus mikirin budget,” seru Seno dari belakang.“Yang kondang, kan, bapak gue, bukan gue. Gimana sih.”“Iya, tau. Makanya itu, minimal jangan bikin bapak lu malu.”“Suka-suka gue lah,” Kara mengedikkan bahu acuh.“Iya, emang terserah dan suka-suka lo.”***“Kamu denger, tadi?” Tanya Kara pelan saat dirinya dan Diandra sudah berada di kamar.“Yang mana? Claudia atau Lavie?” Diandra balik bertanya.“Dua-duanya. Nggak nyangka aja aku, dua cowok Tom and Jerry itu bisa barengan gitu ngelamar ceweknya,” jawabnya.“Ya, bagus dong,” komentar Diandra.“Itu artinya dalam waktu deket ini, kita bakal sibuk kondangan terus. Setelah itu, Twinny G jadi punya temen main baru deh,” lanjutnya asal.“Pasti seru banget, ya, kalo nikahan mereka ben

  • Si Tampan yang Posesif   142. Berebut Si Kembar

    Kara dan Diandra menatap nisan putih di depannya. Masing-masing dari mereka menggendong satu orang buah hatinya. Garistha bersama Kara, sedangkan Gestara bersama Diandra. Mereka tersenyum saat memperkenalkan anggota baru Keluarga Adhiyatsa itu pada Sandy.“Sandy, hari ini kakak dateng sama keluarga kecil kakak,” ucap Kara.“Halo, Aunty Sandy. Kenalin… aku Gestara dan Garistha. Dua ponakan aunty yang lucu, imut, dan menggemaskan,” lanjut Diandra, dengan suara imut yang dibuat-buat seolah dirinya adalah kedua bayi kembar itu.“Mereka lucu, kan? Kakak inget banget kalo kamu suka anak kecil. Dan kalo kamu masih ada, kamu juga pasti bakal suka dan sayang banget sama mereka. Garistha cantik, menyenangkan, dan suka menyapa siapa pun, persis kayak maminya. Sedangkan Gestara, dia ganteng, lucu, dan gampang bikin orang jatuh cinta, persis juga sama maminya. Tapi nggak apa-apa, kakak seneng kalo kedua anak kakak ini mirip maminya semua. Karena rumah akan jadi lebih rame, kan?” Kata Sangkara panja

  • Si Tampan yang Posesif   141. Adhiyatsa's New Generation

    “Aku… nggak… kuat…”Kalimat itu membuat lutut Kara melemah. Ia hampir runtuh, namun tetap menahan dirinya agar tetap bisa berdiri di sisi ranjang. Berusaha tetap kuat, demi istrinya, dan calon anak mereka.Dokter kembali memberi instruksi, “Once again Mrs. Adhiyatsa. Kepala bayi sudah terlihat.”Kara menutup mulutnya dengan tangan, tangisnya nyaris pecah.Sedikit lagi.Kontraksinya datang lagi. Diandra mencengkeram tangannya sendiri sampai buku jarinya memutih. Ia mengumpulkan sisa tenaga dan mendorong sekali lagi. Seluruh tubuhnya menegang. Punggungnya terangkat ke atas, napasnya pendek-pendek, seperti setiap udara yang masuk rasanya selalu kurang.Teriakannya pecah, menggema ke seluruh ruangan, namun ia tak peduli.Kara ikut gemetar, namun tetap mencoba menopang Diandra dari samping. Suara erangan berat keluar lagi dari mulut Diandra. Wajahnya sudah pucat sempurna, namun kontraksinya belum reda. Perjuangannya masih panjang.“Sedikit lagi, sayang. Sedikit lagi. Kamu pasti bisa. Kamu k

  • Si Tampan yang Posesif   140. Kontraksi

    “Mas Vincent kapan dateng?” Tanya Diandra setelah melihat Vincent sudah duduk tenang di sofa ruang tamunya.Vincent meletakkan cangkir kopi dari tangannya ke atas meja di depannya sebelum menjawab, “Baru satu jam yang lalu, mba.”Diandra mengangguk dengan mulut membentuk seperti huruf O.“Personal Assistant buat aku udah dapet?” Kali ini Diandra duduk di sofa di seberang Vincent.“Sudah, mba. Ada beberapa kandidat yang menurut saya sudah oke. Saya juga sudah kasih tahu mereka kalau hari ini Mba Diandra akan melakukan wawancara online dengan mereka.”“Aku mau liat portofolionya dulu, dong. Wawancaranya masih satu jam lagi, kan?” Diandra menengadahkan tangan dan mengambil Ipad dari tangan Vincent. Menggeser krusor untuk melihat-lihat portofolio calon PA-nya nanti.“Cuma ada tiga?”“Betul, mba. Dari 150 email yang masuk, hanya tiga it

  • Si Tampan yang Posesif   16. Balapan

    “Sok tau,” ucap Kara cepat.Ekor matanya melirik Diandra lagi, ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu.Diandra awalnya terkejut, namun beberapa detik setelahnya ia kembali bersikap biasa saja. Seolah tak pernah mendengar apa pun.“Orang beneran tau, temen

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Si Tampan yang Posesif   18. Dijemput Gebetan

    Klik.Terdengar bunyi seatbelt yang dibuka.Diandra langsung membuka mata dan menemukan wajah Kara berada sangat dekat di depan wajahnya. Laki-laki itu tersenyum seperti… menertawakannya?“Kenapa?” tanyanya dengan nada malu-malu.“

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Si Tampan yang Posesif   19. Luka Masa Lalu

    “Dia meninggal empat tahun yang lalu. Kecelakaan di arena balap.”Diandra menutup mulutnya tak percaya.“Tapi waktu makan malam itu kamu bilang kalo dia masih di Swiss?”Kara mengangguk sambil tersenyum tipis.“Dia emang dimakamin di sana.”Diandra mengangguk, mencoba memahami situasinya. Situasi ya

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Si Tampan yang Posesif   13. Bibit-Bibit Perasaan

    Lelaki itu menyingkirkan tangan Gavin, dan dengan cekatan menggendong Diandra dan membawanya ke klinik kampus. Meninggalkan tatapan terkejut dari keempat orang lainnya, Laviena, Claudia, Seno, dan Gavin.“Itu tadi… apa?” tanya Claudia terbata.“Yang barusan

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status