Masuk“Hati kecil aku bilang, kalau kamu adalah selamanya,” – Diandra. “Kamu adalah rumah, dan juga penyembuh untuk semua luka,” – Sangkara. Diandra, menghabiskan tiga tahun masa SMA-nya untuk mengejar cinta Sangkara. Ia tidak peduli meski pun Sangkara seringkali mengabaikan perasaan dan keberadaannya. Hingga di hari kelulusan, saat Diandra memutuskan untuk menutup kisah percintaan SMA-nya, Sangkara justru datang padanya seolah tidak membiarkannya pergi. Diandra kaget, merasa bingung untuk tetap bertahan atau melupakan. Bagaimana kelanjutan kisah cinta Diandra dan Sangkara kedepannya? Apakah hubungan mereka akan berakhir manis, atau justru perpisahan?
Lihat lebih banyak“Kita emang nggak punya hubungan apa pun. Tapi… kamu milik aku,” setelah mengatakan kalimat itu, Kara—cowok yang tiga tahun ini menjadi crush Diandra—menyeringai sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya ke arah Diandra.
Menciumnya.
Pelan… dan dalam.
Diandra yang awalnya melotot karena terkejut, berakhir memejamkan mata, menenangkan diri sendiri, dan perlahan menikmati ciuman lelaki itu di bibirnya.
Diandra menggantungkan tangannya di leher Kara, menarik lelaki itu agar lebih mendekat padanya.
‘Akhirnya… setelah tiga tahun… cinta gue nggak lagi bertepuk sebelah tangan,’ batin Diandra senang.
‘Ini menyenangkan. Ciuman ini… aku menyukainya’.
‘Rasanya… aku tidak ingin terbangun dari mimpi ini.’
Diandra seketika membuka mata di tengah ciuman mereka.
Mimpi.
Mimpi.
“Arrrgh! Kenapa gue harus kebangun di saat-saat kayak gini sih? Padahal lagi hot banget mimpi gue barusan!” Serunya saat kesadarannya sudah pulih sepenuhnya.
Diandra melihat ke sekeliling dan menemukan dirinya masih berada di kamarnya, di atas tempat tidurnya.
“For the first time gue mimpiin Kara kayak tadi. Tapi kenapa malah kebanguuun… ugh!” Diandra mengambil bantal di sisinya dan memukulinya keras-keras.
“Tapi… apa artinya mimpi barusan, ya? Ciuman ini… kenapa rasanya kayak nyata banget,” Diandra memegangi bibirnya sambil tersenyum malu-malu.
***
“Ada apa?” Kara memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menunggu Diandra mengatakan sesuatu.
Mereka berdiri berhadapan setelah Diandra menarik paksa tangan Sangkara menuju ujung lorong yang sepi dekat perpustakaan. Hampir tidak ada siswa-siswi yang melewati lorong itu kecuali anak-anak jenius yang suka menghabiskan waktu mereka di perpustakaan. Termasuk Kara salah satunya.
Lima menit.
Sepuluh menit berlalu.
“Lo udah buang-buang waktu gue,” kesabaran lelaki itu habis, ia hendak pergi dari sana sebelum kembali dicegah oleh Diandra.
“Aku suka sama kamu. Dari dulu… sejak tiga tahun yang lalu, aku udah jatuh cinta sama kamu,” ucap Diandra dalam satu tarikan napas.
Wajah Kara masih datar, tidak menunjukkan reaksi apa pun atas pernyataan cinta Diandra. Ia bahkan sama sekali tidak terkejut!
Diandra menunggu dengan cemas, ia menggigit bibir bawahnya sambil menanti jawaban laki-laki itu. Ia sudah mengumpulkan tekad dan keberanian untuk menyatakan cintanya hari ini. Apalagi setelah mimpi manis semalam, ia semakin yakin untuk segera mengatakan isi hatinya pada Sangkara.
Diandra berharap mimpi semalam adalah pertanda baik, kalau Kara akan memiliki perasaan yang sama dengannya, lalu menerima cintanya dan berakhir mereka jadian. Tapi setelah beberapa menit berlalu, Kara masih belum juga menunjukkan reaksi apa pun. Keteraluan!
“Kok diem? Kamu kaget, atau ilfeel?”
“Nggak tau,” jawabnya singkat.
“Kok nggak tau?”
“Nggak expect aja cewek kayak lo beneran suka sama gue. Gue kira selama ini lo ngejar gue buat seru-seruan aja biar rame.”
“Gimmick maksudnya?”
“Bisa dibilang gitu.”
“Ya mana ada gimmick sampe tiga tahun? Yang bener aja,” serunya tak terima.
Perasaannya pada Kara itu tulus, tapi ia malah menganggapnya main-main. Diandra kesal, sekaligus penasaran dengan jawaban Kara selanjutnya.
“Udahan aja.”
“Hah? Maksudnya? Mulai aja belom, gimana mau udahan,” ujar Diandra tak mau kalah.
“Stop, Diandra. Nggak pantes cewek kayak lo ngejar-ngejar gue kayak gini.”
“Cewek kayak gue… kayak gimana ya maksudnya?”
“Lo nggak perlu jatohin harga diri lo sendiri buat ngejar-ngejar cowok setiap hari. Nggak pantes. Anak sekolah itu tugasnya belajar, bukannya pacaran.”
‘Lah, kenapa malah jadi diceramahin gini,’ batin Diandra kesal.
“Jadi…?” Diandra bertanya lagi.
Demi Tuhan dirinya butuh jawaban. Bukan nasihat percintaan!
“Lo bisa simpulin sendiri jawabannya,” laki-laki itu memalingkan wajah dan pergi begitu saja.
Meninggalkan Diandra dengan tanda tanya besar di kepalanya.
“Ini gue baru aja ditolak… atau digantungin sih?” Ucapnya pada diri sendiri.
***
‘Jangan banyak gerak, nanti malah tambah sakit.’
Diandra tak dapat mengontrol senyumnya sendiri saat kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Kara, cowok introvert dan jenius yang menjadi pujaan hati banyak orang.
‘Cuma luka kecil, nggak usah nangis, paling dua sampe tiga hari lagi juga udah sembuh,’ ucapnya sambil sesekali meniup ke arah lukanya yang baru saja diolesi obat.
Saat itu Diandra tak sengaja tersandung dan jatuh di sekitar lapangan basket. Kara yang berada tak jauh darinya dengan sigap menolong dan membawanya ke UKS. Kara bahkan membantunya mengobati lututnya yang terluka dan berdarah.
‘Sangkara Adhiyatsa’, Diandra tersenyum saat menyebut nama lelaki itu dalam hati.
Sembari mengingat-ingat kembali awal pertemuan mereka dulu. Yang membekas di benak Diandra, dan membuatnya berakhir jatuh cinta pada Kara.
Sejak hari itu… hingga sekarang. Perasaannya tidak pernah berubah.
Setiap hari selama tiga tahun, Diandra selalu mencari cara agar ia bisa dekat dengan Kara. Tidak peduli meskipun Kara selalu mengabaikannya. Namun Diandra selalu mencoba sebaik mungkin untuk mendapatkan perhatian lelaki itu.
“Lagian, kok bisa sih ada cowok yang nggak suka sama lo. Udahlah cantik, kaya, populer pula. Harusnya kalau mau dapetin seratus cowok kayak si Kara Kara itu sih nggak susah, ya. Eh, dia malah sok jual mahal begitu,” ucap Laviena—sahabat Diandra.
“Lo juga, Di. Betah banget tiga tahun naksir sama cowok yang cueknya minta ampun gitu,” lanjut Claudia—sahabat Diandra yang lain.
Diandra hanya tersenyum tanpa berniat menanggapi ocehan kedua temannya.
“Mau sampai kapan lo ngejar-ngejar dia terus? Udah tiga tahun loh! Sampai sekarang Kara nggak pernah tuh nunjukin kalo dia suka sama lo,” ucapan Lavie yang lugas itu mengusik ketenangan Diandra.
“Atau sebenernya dia udah punya cewek di luar sekolah? Makanya selama ini dia nggak tertarik sama cewek-cewek di sekolah kita,” lanjut Claudia lagi.
“Bisa jadi,” sahut Lavie.
“Jangan gitu dong. Kalian temen gue bukan sih? Kok ngomongnya kayak gitu,” Diandra merengut kesal.
“Ya, biar lo move on. Udah mau lulus loh kita sebentar lagi. Di Universitas nanti juga pasti banyak cowok yang lebih dari Kara, lo bisa tuh nangkep satu buat dipacarin.”
“Ikan kali ah ditangkap,” Claudia tak bisa menahan tawanya.
“Tuh liat, mana bisa gue move on dari cowok modelan kayak Kara gitu,” Diandra menatap Kara yang tengah bermain basket bersama teman-temannya.
Berlari, tertawa, melakukan slamdunk, dan berkeringat. Semua hal-hal itu tak luput dari perhatian Diandra saat melihat lelaki pujaan hatinya bermain di tengah lapangan.
Para gadis menyukainya karena Sangkara tampan dan kaya raya. Sedangkan para lelaki membencinya karena Kara terlalu pandai dalam banyak hal, baik akademik maupun non akademik, ditambah lagi background keluarganya yang tidak main-main. Sangkara seolah menjadi sosok yang sulit untuk disentuh.
Tidak heran namanya selalu disebut dalam setiap obrolan siswa mana pun di sekolah.
“Kara!” Diandra berteriak dari kursi penonton, lalu beranjak dari tempatnya dan berlari ke arah Kara begitu pertandingan basket selesai.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, saat melihat gadis lain muncul di sisinya.
Diandra berdiri!Benar-benar berdiri.Ia bahkan mulai melangkah pelan ke arahnya.Kara refleks hendak melangkah maju, namun lengannya segera ditahan oleh Seno yang berdiri tak jauh darinya, berperan sebagai groomsmen untuknya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Seno menggeleng pelan padanya. Kara berdeham sekali, membenarkan letak jasnya, dan kembali berdiri tegak di posisinya semula.Matanya tak luput dari memandangi Diandra yang berjalan seorang diri dengan anggun menuju ke arahnya. Gadis itu sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna off-white yang menampilkan kesan romantis dan klasik. Gaun itu memiliki potongan A-line yang memberikan siluet ramping pada bagian pinggang dan melebar secara anggun ke bawah.Bagian atasnya menggunakan desain kerah V-neck yang rendah dengan ilusi kain transparan pada bagian bahu dan lengan panjang, yang mana seluruh bagiannya dihiasi bordir renda floral, memberik
“Baru deket,” ucap Gavin akhirnya.“Baru?” Diandra bertanya lagi.Gavin mengangguk.“Cepet juga ya progressnya,” semua orang menatap Lavie dengan penasaran.“Maksudnya?” Gavin bertanya.“Nggak… bukan apa-apa,” Laviena menolak jujur.“Arena balap, seminggu yang lalu, di parkiran,” Kata Seno asal.Deg.Tidak ada yang tahu itu suara jantung siapa. Yang pasti, ada empat orang yang sadar diri tengah dibicarakan di sana.“Lo… liat?” Tanya Gavin gugup.Seno dan Laviena mengangguk bersamaan.Gavin mengusap wajahnya gusar, merasa malu karena tertangkap basah oleh sahabat beserta pacarnya juga.“Ya udah sih, nggak perlu malu juga. Kayak sama siapa aja.”“Sejak kapan?” Tanya Diandra penasaran.“Udah dong, kok malah jadi bahas gue sih. Harusnya kan sekarang kita seneng-seneng bareng, dan mungkin juga kita bisa bantuin Diandra buat persiapan pernikahannya. Iya, kan?” Kata Claudia, berusaha berbicara dengan normal.“Iyaaaa.” Jawab mereka semua bersamaan.Sementara Miranda, Marcel, dan juga Lucyana
“Kayaknya sih iya. Balapannya udah selesai juga,” sahut Seno yang berdiri di sampingnya.“Mereka ciuman,” lanjut Lavie.“Mungkin buat ngerayain kemenangan,” Seno mengedikkan bahunya acuh.“Di tempat kayak gini?”“Kayak baru pertama liat aja. Bukannya mereka emang sering kayak gitu, ya? Kita bahkan liat mereka ciuman pertama kali di tempat pesta.”Laviena dengan cepat menatap ke arah kekasihnya. Merasa ada kesalahpahaman dalam obrolan mereka.“Ini kita lagi ngomongin orang yang sama, kan?” Tanya Lavie.“Emangnya enggak?" Seno menggaruk lehernya, tersenyum canggung bahkan tanpa ia tahu alasannya.“Kamu lagi ngomongin siapa kutanya?”“Tuh, Diandra sama Kara, kan?” Seno menunjuk Kara dan Diandra yang tengah berciuman di dalam mobil, dengan dagunya.Laviena mengarahkan pandangannya ke arah mobil Diandra. Dan benar, ked
“Yakin, aku juga nggak mau kalah dong dari kamu.”“Tapi… ini bahaya, sayang. Kamu nggak bisa lakuin ini hanya karena alesan itu.”“Aku bisa dan aku akan buktiin. Lagipula ada kamu ini di sini, seenggaknya kamu bisa jadi navigator aku." Ucapnya, membuat Diandra seketika mengangguk dan tersenyum.“Di depan nanti ada tikungan, kurangi kecepatan dan ambil bagian kiri jalan sebelum belok ke kanan,” Kata Diandra saat mobil mereka baru saja melaju di tengah arena.Kara menambah kecepatan, mengatur ritme, dan melaju kencang di lintasan. Beberapa kali bahkan lelaki itu tampak bersorak bahagia saat berhasil melampaui satu orang lawannya. Kemudian menambah kembali kecepatannya untuk menyalip lawan yang lainnya.Setelah melewati dua tikungan panjang, akhirnya mereka berhasil mencapai finish di urutan kedua. Kara refleks berteriak sambil memukul kemudi di depannya, ekspresi kepuasan jelas sekali terlihat
“Aku nggak akan pergi. Aku akan selalu di sini. Di samping kamu, nemenin kamu.” Katanya dengan penuh kelembutan.Kara menariknya ke dalam pelukan. Memberikan kehangatan dan kenyamanan yang dibutuhkan gadis itu. Tidak membiarkan Diandra merasa bersalah untuk sesuatu yang memang
“Gue nggak akan pernah maafin lo. Bahkan nyebut nama lo aja, gue nggak sudi. Kesalahan lo itu fatal, lo bikin gue ketrigger atas luka lama gue yang udah sembuh. Kelakuan lo ini udah ngalah-ngalahin setan tau, nggak?” Kara berteriak di depan Falisha.Kalau saja Falisha
Kara menatap mata Diandra dalam, membuat gadis itu tak berkutik.“Aku cinta sama kamu, dan aku ngejalanin hubungan ini bukan untuk coba-coba, main-main, atau iseng semata. Aku mau serius, dan jadiin kamu satu-satunya perempuan aku. Satu-satunya yang akan selalu aku usahakan kebahagia
“Sangkara, apa-apaan kamu ini? Nyelonong masuk begitu saja, tidak sopan.” Pak Dekan memarahinya, namun Kara tidak peduli.“Testpack bukan cara penyelesaian yang tepat. Itu bisa menjatuhkan mental seseorang.” Lanjut Kara tanpa takut.“Kenapa kam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.