Mag-log in“Aku melakukan semua ini karena aku takut kehilanganmu." Itulah kalimat yang selalu Nolan ucapkan setelah menyakiti istrinya. Selama dua tahun, Arin bertahan dalam pernikahan yang tampak sempurna. Arin percaya bahwa luka, bentakan, dan ketakutan adalah bagian dari kepedulian Nolan. Sampai Guru yoga Arin, datang dan membuatnya sadar bahwa seseorang yang peduli dan menyayangi tak seharusnya membuatnya hidup dalam ketakutan. Untuk pertama kalinya, Arin ingin lepas dari pernikahan yang menyesakkan itu. Namun Nolan bukan pria yang bisa ditinggalkan begitu saja. Saat Arin mulai berani melawan, Nolan berubah menjadi mimpi buruk yang sesungguhnya.
view more"Mas ... kenapa bisa ada di sini?"Suara Arin bergetar hebat. Darahnya seolah membeku melihat sosok suaminya berdiri menjulang di ambang pintu, basah kuyup dengan tatapan membunuh."Kenapa?" desis Nolan, melangkah maju satu tindak. "Kamu kaget liat suamimu repot-repot datang menjemput istri durhakanya yang kabur?""Pergi, Mas!"Brak!Dengan sisa tenaga dan kepanikan luar biasa, Arin membanting daun pintu sekuat tenaga, berniat menguncinya kembali. Namun pergerakan Nolan jauh lebih cepat. Pria itu menahan celah pintu dengan sebelah tangan.Krek!"Akh! Sialan!" ringis Nolan tertahan, merasakan tulang lengannya remuk terjepit di antara daun dan kusen pintu kayu saat menahan daun pintu itu. "Tolong, Mas! Pergi! Aku nggak mau pulang!" teriak Arin histeris, mendorong pintu dari dalam dengan seluruh berat tubuhnya. Ujung kaki Arin sampai memucat menjejak lantai saat ia mendorong pintu itu. "Buka pintunya, Arin! Kamu benar-benar sudah gila melawan suami sendiri! Buka! Jangan buat aku mara
Urat di pelipis Nolan sontak berkedut pelan saat mendengar laporan dari seberang telepon. "Kamu ngikutin aku, Cindy?" desis Nolan. Suaranya terdengar sangat tenang namun mengancam.Di ujung telepon, Cindy malah terkekeh pelan. Nada bicaranya sama sekali tidak menyiratkan rasa takut."Ah! Pak, aku hanya waspada jika Pak Nolan membutuhkan lobang hangatku. Kan Lembang dingin. Siapa tahu Bapak tiba-tiba pengen. Kan aku bisa standby tanpa bapak ke Jakarta," goda Cindy santai. "Dan lagi, aku kan sekretaris Bapak. Segala sesuatu yang menyangkut Bapak, ya... saya pantau. Termasuk, istri Bapak yang tiba-tiba check in di hotel."Rahang Nolan mengeras hingga urat lehernya menonjol. "Kirim alamat hotelnya. Sekarang.""Sudah aku Sherlock di Wawa, Pak. Selamat menikmati malam panjangnya," balas Cindy ringan sebelum sambungan diputus.Nolan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia berbalik dan setengah berlari menuju pintu utama. "Lan! Mau ke mana
"Arin, Stop! Jangan gigit bibirmu terus! Ntar berdarah!" tegur Nick saat melihat Arin meringis dengan tubuh gemetar.Pria yang memakai kimono hotel itu melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di hadapan Arin.Dengan lembut, ibu jari Nick menyentuh bibir bawah wanita itu, memaksa gigitan gigi seri Arin terlepas.Di atas ranjang hotel yang hanya diterangi lampu tidur, Arin duduk memeluk lutut. Tubuh wanita itu sudah terbalut bathrobe putih."Masih kedinginan?" tanya Nick pelan.Arin menggeleng pelan, wajahnya tertunduk dalam. "Udah mendingan, Kak.""Terus kenapa mukanya ditekuk gitu?" Nick mengulurkan tangan, menyelipkan juntaian rambut basah Arin ke belakang telinga. "Soalnya dari tadi kamu gigit bibirmu kuat banget. Apa kamu nyesel habis ngelakuin ini sama aku?"Jari-jari Arin saling bertaut erat. "Aku... aku cuma ngerasa jadi perempuan paling murahan sekarang, Kak. Aku ini masih istri orang. Tapi tadi... pas di kamar mandi..." "Hei!" Srek.Sebelum Arin sempat melayang
"Udah ketemu?" tanya Bramantyo tanpa basa-basi. Begitu pintu utama dari kayu jati itu didorong terbuka, aroma tajam cerutu langsung menyambut indra penciuman Nolan yang baru kembali dari rumah pohon. Di ruang tengah, Bramantyo sedang duduk menyilangkan kaki di atas sofa dengan raut wajah sangat masam."Arin nggak ada di rumah pohon, Yah."Nolan melangkah masuk, mengibaskan sisa air hujan dari pundak jaketnya. Bramantyo mendengus kasar. Asbak kristal di mejanya diketuk dengan beringas. "Anak perempuan nggak guna! Nggak tahu diuntung!" umpat pria paruh baya itu dengan nada tinggi, tak peduli menantunya masih berdiri di sana dengan pakaian setengah basah. "Selalu saja bikin repot. Dari dulu kerjanya cuma nyusahin orang! Harusnya kamu ikat aja dia di kamar biar nggak kelayapan seenaknya!"Nolan menatap mertuanya dengan sorot mata yang tenang, sedingin es. "Mungkin Arin lagi cari angin di luar, Yah," balas Nolan seadanya."Cari angin di tengah hujan badai? Otaknya memang nggak pernah d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu