LOGIN“Aku melakukan semua ini karena aku takut kehilanganmu." Itulah kalimat yang selalu Nolan ucapkan setelah menyakiti istrinya. Selama dua tahun, Arin bertahan dalam pernikahan yang tampak sempurna. Arin percaya bahwa luka, bentakan, dan ketakutan adalah bagian dari kepedulian Nolan. Sampai Guru yoga Arin, datang dan membuatnya sadar bahwa seseorang yang peduli dan menyayangi tak seharusnya membuatnya hidup dalam ketakutan. Untuk pertama kalinya, Arin ingin lepas dari pernikahan yang menyesakkan itu. Namun Nolan bukan pria yang bisa ditinggalkan begitu saja. Saat Arin mulai berani melawan, Nolan berubah menjadi mimpi buruk yang sesungguhnya.
View More"Ayah... Hmmm... Aku nggak ngelakuin apa-apa," jawab Arin gelagapan. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Tangan kiri wanita itu dengan cepat dan diam-diam menyembunyikan amplop cokelat ke balik punggung. Ia menyelipkannya hati-hati ke pinggang celana di balik kausnya yang longgar. "Tadi pas mau nganterin sarapan, aku lewat dan ngeliat pintu ruang kerja Ayah kebuka. Lemari ini juga kebuka. Jadi... aku niatnya cuma mau nutup," kilah Arin, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin.Bramantyo menaikkan sebelah alisnya. Mata tuanya memicing curiga menatap putri semata wayangnya itu.Namun, karena ada hal lain yang lebih penting untuk dibahas, ia tak memperpanjang urusan lemari itu. Pria paruh baya itu berjalan mendekati meja kerjanya."Suamimu belum pulang?" tanya Bramantyo sambil menarik kursi dan duduk.Arin mengatur napasnya pelan. "Belum, Yah. Mungkin ada urusan sama teman-temannya. Kan Mas Nolan punya banyak teman dan klien," jawabnya datar.Bramantyo manggut-manggut sambil m
Pukul empat pagi. Jalan Tol Cipularang diguyur hujan lebat. SUV yang dikendarai Nick melaju dengan kecepatan tinggi membelah kegelapan menuju Jakarta. Di layar dasbor mobil, status panggilan sedang terhubung lewat bluetooth. "Gimana, Yo? Kamu udah dapet titik koordinatnya?" tanya Nick. "Susah, Bang. Beneran dah, aku udah coba lacak berkali-kali," keluh Tyo, teman dekat Nick yang jago IT. "Itu nomor prabayar yang nggak terdaftar. Burner phone. Nggak ada jejak identitas sama sekali."Nick berdecak kasar. "Terus posisi terakhirnya di mana?""Pas ngirim pesan ke kamu, posisinya sih aktif di sekitaran hotel tempat kamu nginep semalam. Udah, habis itu mati total.""Hotel?" Nick mengernyit tajam. "Sialan. Berarti orang itu ngelihat aku panik di lobi. Dia lagi ngawasin aku?" "Kemungkinan sih, Bang. Tapi aneh nggak?" ujar Tyo. "Aneh gimana?" tanya Nick. "Kita sekarang main logika aja. Kalau yang ngirim pesan itu orang suruhan suaminya... ngapain dia ngasih peringatan ke kamu? Nomor anon
"Ayah tenang saja. Biar Arin istirahat dulu di kamarnya. Aku nggak mau memancing emosinya lagi. Dia masih terguncang." Nolan memasang wajah paling memelas dan bijaksana di depan Bramantyo yang masih mendengus kesal di ruang tengah. "Kamu itu terlalu memanjakan istrimu, Lan! Sesekali harus dikerasi biar nggak ngelunjak!" omel Bramantyo, melempar tongkatnya ke sudut ruangan. "Iya, Yah. Besok pagi aku bakal ngajak Arin bicara baik-baik. Oh, iya. Aku pamit mau keluar sebentar, mau cari obat memar buat punggungku," pamit Nolan, memainkan perannya dengan sempurna. "Ya udah. Di kotak P3K juga cuma ada obat merah. Nggak ada obat memar. Lagian, kamu juga. Ngapain sok-sokan menghalangi. Kena pukul, kan," ujar Bramantyo. "Ya ... Mana ada Suami yang tega ngelihat istrinya dipukul di depan mata, Yah?" jawab Nolan. "Ya udah sana! Keburu apotek tutup." Mendapatkan persetujuan itu, Nolan segera berlalu. Begitu pintu utama tertutup, wajah Nolan kembali ke setelan pabrik. Pria it
"Jangan diam terus. Lagian kamu pake adegan main kabur-kaburan segala. Suami mana yang nggak emosi istrinya hilang di tengah hujan begini?" Suara bariton Nolan memecah kesunyian di dalam kabin SUV hitam yang tengah membelah jalanan gelap menuju villa. Di kursi samping kemudi, Arin hanya diam menatap rintik hujan di kaca jendela. Matanya sembap, perutnya masih berdenyut nyeri, tapi otaknya kian bekerja. ‘Mas Nolan tahu dari mana aku ada di hotel itu? Siapa yang ngasih tahu? Apa ada yang ngelihat aku sama Kak Nick?’ batin Arin berkecamuk. "Arin! Kamu dengar nggak sih aku ngomong?!" sentak Nolan, menoleh sekilas dengan tatapan tajam. "Kamu sadar kan kalau kabur dari rumah itu salah? Egois!"Arin menarik napas pelan. Tiba-tiba, ucapan Nick terngiang di kepalanya. ‘Kalau suami kamu itu tipe orang yang selalu ingin menang dan gila validasi, jangan kasih makan egonya. Jangan bereaksi berlebihan. Jangan membela diri. Cukup jawab iya, tidak, atau mengangguk.’Menyadari itu, Arin perlahan


![Wedding Doll [INDONESIA]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews