Aduh! Jatuh Dalam Dekapan Mentor Yoga

Aduh! Jatuh Dalam Dekapan Mentor Yoga

last updateHuling Na-update : 2026-08-21
By:  KuldesakIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
36Mga Kabanata
941views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

“Aku melakukan semua ini karena aku takut kehilanganmu." Itulah kalimat yang selalu Nolan ucapkan setelah menyakiti istrinya. Selama dua tahun, Arin bertahan dalam pernikahan yang tampak sempurna. Arin percaya bahwa luka, bentakan, dan ketakutan adalah bagian dari kepedulian Nolan. Sampai Guru yoga Arin, datang dan membuatnya sadar bahwa seseorang yang peduli dan menyayangi tak seharusnya membuatnya hidup dalam ketakutan. Untuk pertama kalinya, Arin ingin lepas dari pernikahan yang menyesakkan itu. Namun Nolan bukan pria yang bisa ditinggalkan begitu saja. Saat Arin mulai berani melawan, Nolan berubah menjadi mimpi buruk yang sesungguhnya.

view more

Kabanata 1

Bab 1

"Ughhh!"

Lenguhan panjang dan berat terdengar saat Nolan mencapai puncak.

Tanpa aba-aba, pria berusia tiga puluh tahun itu menarik diri dengan kasar, menyudahi permainannya secara sepihak.

Bukannya puas, wajah Nolan justru dipenuhi rasa jengkel. "Lagi-lagi begini. Apa susahnya nunjukin sedikit reaksi?" sungut Nolan.

Tanpa peringatan, telapak tangan Nolan mendorong punggung Arin hingga tubuh wanita yang kedua tangannya masih terikat dasi itu kehilangan keseimbangan.

"Akh!"

Dalam posisi menungging, Arin langsung tersungkur ke atas kasur. Wajah wanita dua puluh lima tahun itu terendam bantal, sementara kedua tangannya yang terikat di belakang punggung membuatnya tak mampu menopang tubuh.

Nolan turun dari ranjang begitu saja, berdiri menjulang menatap tubuh istrinya yang terengah-engah dan gemetar menahan perih.

"Seperti malam-malam sebelumnya, layananmu sangat mengecewakan. Rasanya aku seperti sedang menunggangi mayat, tahu nggak?" cibir Nolan.

"Mas... aku sudah berusaha," rintih Arin pelan.

"Berusaha apanya? Kamu selalu pasrah. Nggak ada usaha buat nyenengin suami. Goyangin pinggul kek, apa kek. Ini udah kayak kayu," balas Nolan tanpa perasaan.

Dengan satu tarikan kasar, Nolan membuka simpul dasi yang mengikat pergelangan tangan Arin. Dasi itu dilempar begitu saja, sebelum akhirnya Nolan berlalu menuju kamar mandi.

"Sshh... sakit sekali," desis Arin lirih.

Wanita itu meringkuk, memeluk lututnya erat-erat. Bekas ikatan di pergelangannya berdenyut nyeri, berpadu dengan memar di pangkal paha dan sekujur tubuhnya.

Dadanya terasa begitu sesak dan hancur. 'Selama dua tahun pernikahan ini, aku sudah menuruti semua keinginan gilanya,' batin Arin menjerit. 'Aku membiarkan tubuhku dihempas, diikat, didorong, dan menahan sakit demi memuaskannya.'

Namun pada akhirnya, bagi Nolan, semua usaha dan rasa sakit yang Arin tahan setiap kali pria itu meminta tetap saja tidak ada artinya.

'Dulu aku merancang rumah yang membuat orang lain merasa aman,' batin Arin pedih. 'Sekarang, aku bahkan gagal mendesain ruang aman untuk diriku sendiri.'

Jujur saja, rasa sakit fisik yang Arin terima tidak ada apa-apanya dibandingkan harga dirinya yang diremukkan setiap malam.

Krek!

Pintu kamar mandi terbuka. Nolan keluar mengenakan jubah putih. Wajahnya begitu tenang, seakan iblis yang baru saja menyiksa Arin telah menguap pergi.

Pria itu mematikan lampu, lalu berbaring memunggungi istrinya.

"Tidur. Besok pagi aku ada rapat penting," ucap Nolan santai.

Dalam samar gelap, Arin hanya bisa menatap siluet punggung tegap suaminya dengan dada yang kian sesak.

Nolan langsung tidur. Sementara Arin terjaga, menahan sakit yang ditinggalkan pria itu. Tak ada maaf, tak ada pelukan, tak ada sedikit pun kepedulian.

Arin tersenyum getir. "Entah rumah tangga seperti apa yang sedang aku jalani. Berkali-kali aku merasa tidak dihargai, tidak dianggap penting. Lalu, apa peranku sebagai istri?"

Di ranjang ini, Arin menyadari bahwa selama dua tahun pernikahan, dirinya tak lebih dari sebuah barang pajangan. Hanya dicari saat dibutuhkan, lalu dibuang begitu saja setelah tuntas.

*

*

Pagi datang terlalu cepat membawa realita yang menyakitkan.

Saat Arin membuka mata, sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Ia mencoba bangun.

"Ughh!" Seketika Arin meringis menahan ngilu luar biasa yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Dengan tangan bertumpu pada pinggang, Arin memaksakan diri mengenakan robe tidurnya. Ia harus turun. Ia butuh obat pereda nyeri secepatnya.

Sesampainya di ruang makan, langkah Arin membeku.

Nolan masih di sana. Pria itu sudah rapi berbalut kemeja navy mahal. Aroma parfum Black Opium suaminya menguar tajam, mengalahkan wangi kopi hitam di atas meja, seketika memicu mual di perut Arin.

"Sudah bangun?" sapa Nolan ringan, pandangannya tak beralih sedetik pun dari layar tablet.

Sapaan itu terdengar seperti ejekan atas perlakuan semalam.

"Iya."

"Duduk dan sarapan."

Arin menarik kursi di seberang meja dengan gerakan sangat lambat, berusaha menyembunyikan ringisannya.

Mbak Rani, asisten rumah tangga mereka, buru-buru datang meletakkan sepiring roti panggang.

"Nyonya pucat sekali. Saya buatkan teh hangat, ya?" tawar Mbak Rani dengan raut prihatin yang kentara.

"Nggak usah, Mbak. Tolong ambilkan air putih dan kotak P3K saja," pinta Arin lirih.

Mbak Rani mengangguk patuh, meski tatapan kasihan dari wanita itu justru membuat Arin merasa semakin rendah diri.

Nolan mendecak pelan. Matanya akhirnya terangkat menatap sang istri. "Kamu sakit?"

"Aku hanya butuh obat pereda nyeri," jawab Arin, menatap suaminya, mati-matian mencari setitik empati di sepasang mata kelam itu.

"Minum vitamin saja nanti."

Datar. Tanpa emosi. Tanpa penyesalan atas apa yang pria itu lakukan semalam.

Sikap pengabaian inilah yang paling membuat Arin muak hingga ke ubun-ubun.

Rasanya Arin ingin meneriakkan kata 'Cerai' saat ini juga dan melempar sisa roti itu ke wajah tampan suaminya.

Akan tetapi, setiap kali pemberontakan itu meronta di ujung lidah, bayangan wajah keras ayahnya langsung mencekik leher Arin.

Ayahnya pernah menegaskan: "Wanita tidak perlu berkarir. Tugasmu hanya cukup patuh, melayani, dan menjadi Nyonya."

Dan pria yang dijodohkan dengan Arin adalah Nolan. Karena menurut ayahnya, Nolan adalah pria yang tepat.

Tepat apanya? Suaminya tak lebih dari pria psikopat di atas ranjang.

"Aku berangkat," ujar Nolan tiba-tiba, berdiri sambil merapikan manset kemejanya. "Jangan pasang wajah murung begitu. Aku nggak suka melihat istriku bertampang depresi. Kalau kolegaku melihat, mau ditaruh di mana wajahku?"

Arin menahan napas. Selalu tentang citra dan reputasi.

"Mulai hari ini, aku akan cari kegiatan di luar," cetus Arin tiba-tiba. Entah dari mana keberanian itu datang.

Nolan hanya mendengus. "Terserah. Asal jangan sampai kegiatan konyolmu itu mengganggu jadwalku. Malam ini tak usah menungguku. Aku ada jamuan."

Seperti rutinitas, Arin berjalan ke arah credenza dengan langkah diseret. Ia mengambil tas kerja suaminya dan menyodorkannya.

"Ini."

Nolan menerimanya tanpa mengucap terima kasih. Di ambang pintu utama, pria itu menoleh sekilas.

"Jangan bikin masalah, Arin."

"Aku tahu."

Pintu utama tertutup. Deru mobil Nolan terdengar menjauh, meninggalkan Arin dalam kesunyian rumah mewah yang mencekik.

Wanita itu menyeret kakinya kembali ke kamar utama, langsung mengunci diri di kamar mandi. Ia menumpukan kedua tangannya di tepi wastafel, menatap pantulan wajahnya yang pias di cermin.

Ke mana perginya Arin si desainer interior yang penuh ambisi?

"Dulu aku mengorbankan mimpiku karena kupikir itu yang namanya berbakti pada ayah dan tidak mau Ayah sedih," suara Arin bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya gugur juga. "Aku mengubah cara berpakaianku, caraku bicara, bahkan caraku tertawa agar suamiku puas! Tapi apa yang aku dapatkan?"

Arin mencengkeram tepi wastafel. "Semakin aku mencoba mengalah... semakin aku kehilangan diriku sendiri."

Arin segera menyalakan keran, mengusap sisa air matanya. Napasnya terengah, dadanya naik-turun.

Cukup.

Tidak akan ada pangeran berkuda yang datang mendobrak masuk untuk menyelamatkannya. Ia mengeringkan wajahnya, melangkah keluar, dan langsung menyambar ponsel di atas nakas.

Jarinya bergerak cepat membuka riwayat pencarian di jejaring sosial. "Prana Yoga Studio"

Tempat itu terlihat tenang, privat, dan jauh dari sirkel sosialita suaminya. Arin tidak mencari olahraga.

Arin hanya ingin mencari ruang untuk bernapas sebelum memutuskan untuk kembali bekerja menjadi desainer interior.

"Selama dua tahun, semua keputusanku selalu tentang ayah dan Nolan," bisik Arin. "Sekarang, aku memilih untuk diriku."

Tanpa ragu, jempol Arin menekan tombol Daftar pada sesi pemula siang itu.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Gilva Afnida
Gilva Afnida
semangat kak kul
2026-07-17 18:04:32
1
1
36 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status