LOGINMemenuhi hasrat yang belum terpuaskan. Hantu cantik bernama Sari harus mencari pria yang dapat melihat wujudnya. Dan membantunya dalam memenuhi kepuasan jasmaninya. Sari adalah setan yang sangat posesif terhadap pasangannya. Baginya, jika pria yang dapat memenuhi segala ke inginannya maka Sari tidak akan melepaskan pria itu. Meski mereka dalam wujud dua dunia yang berbeda. Menjalani sekolah hantu khusus penggoda pria, semakin membuat Sari ahli dalam dunia menakhlukkan pria incarannya. Horor. Komedi. Misteri. Cinta Terlarang. Pesugihan.
View MoreBrak.
Jendela kamar milik seorang pria terbuka lebar, hingga menimbulkan suara dobrakan yang cukup kuat. Pria yang masih terpejam dalam tidurnya tidak terusik sama sekali, meski angin kencang menerpa gorden penutup kaca jendela. "Dia pria yang aku cari," jari-jari panjangnya mengelus lembut bagian dada pria yang masih tertidur pulas. "Dadanya yang kekar, otot perut yang sixpack, dan dia memiliki kemaluan yang tidak dimiliki hantu mana pun itu?" ucapnya dengan tersenyum bangga. Dia semakin tidak terkendali, kedua tangannya mulai melakukan hal yang dia inginkan. Wajahnya yang penuh luka-luka mendekat ke arah dada pria itu. Mengendus, menciumi, dan lidah panjangnya menjilati pangkal leher. Seakan terbawa suasana, pria itu merasakan hal yang sama meski dalam kondisi tertidur pulas. Ia bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Celana boxernya memperlihatkan gundukan yang sangat besar. "Kau meresponnya, sayang?" Semakin pria itu terbawa suasana, semakin gencar Sari melakukan hal di luar batasnya. "Akh... mengapa bagian dadaku merespon begitu cepat saat kau terbawa arus bersamaku, sayang?" Sari meremas-remas bagian gunung kembarnya. Napasnya mulai tidak teratur. Suara tidak pantas keluar begitu saja dari bibir tipisnya. Mata Sari semakin melebar saat pria itu mengelus lembut wajahnya, dengan mata yang masih tertutup rapat. Elusan tangan kekar itu semakin turun ke dada Sari, meremat kuat bagian kembar itu. "Aku tidak tahu jika hanya disentuh saja hasratku sudah terbakar," napasnya semakin memburu. Sari semakin liar, dia mendongakkan kepalanya ke atas, merespon setiap sentuhan yang diberikan manusia itu. "Lakukanlah... lakukan semakin dalam... ah..." Keduanya seakan tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan malam ini. Saat Sari berada di puncaknya, pria itu terusik dan bangun dari tidurnya. Ia merasa ada hal aneh dengan kondisi tubuhnya malam ini. Saat terbangun, dia tidak melihat apa pun di sekitarnya. Tapi yang anehnya, celananya basah dan lengket. Lengket karena terkena cairan yang sangat menyengat. "Apa yang terjadi dengan tubuhku?" Melirik ke seluruh isi kamar. "Sial. Mengapa jendelanya terbuka? Padahal aku sudah menutupnya tadi sebelum tidur." Stiven. Nama pria yang dikenal dengan wajah tampannya, tubuh kekar dan atletis. Dan paling utama, Stiven adalah laki-laki paling perkasa saat di ranjang. Banyak gadis yang mengincar tubuhnya. Namun Stiven tidak suka menyentuh sembarang wanita yang dia tidak sukai. Mata itu menyipit tajam, melihat bayangan seseorang yang melintas dari depan cermin. _'Apa setan gila itu melakukannya padaku? Apa dia benar-benar tidak malu dengan apa yang dia lakukan padaku malam ini?'_ batin Stiven. "Sial. Mengapa kau harus terbangun sih? Kan aku belum puas melakukannya denganmu," nada suara Sari terdengar sedih. Kegagalan malam ini untuk menuntaskan misinya harus berakhir karena pria incarannya terbangun dari tidur. Sari menunduk, dengan rasa kesal ia segera pergi meninggalkan kamar milik Stiven. Setelah Sari pergi, barulah Stiven melihat ke arah di mana Sari saat ini tengah berdiri di halaman rumah dengan wajah kusutnya. "Aku tak menyangka hantu pun mampu melakukan hal sebodoh itu?" Dengan rasa kesal, Stiven bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya yang mulai terasa lengket. Shower menyala, gemericik air jatuh membasahi tubuh kekarnya. Saat ini Stiven tidak memakai sehelai benang pun saat membersihkan seluruh area tubuh. Bau wangi sabun mandi menyerbak di seluruh ruangan. Sari, hantu itu, kini tengah berada di sebelah Stiven yang sedang menggosok bagian dada dengan busa sabun. "Akh..." teriak Sari dengan tangan menutup kedua mata. "Kenapa kau tidak pakai celana dalam sih jika ingin mandi? Kan aku jadi melihatnya secara langsung," cecar Sari tidak terima. Stiven yang memiliki indra keenam, indra penglihat hantu sejak usianya masih dua tahun. "PERGI KAU, SETAN GATAL..." teriak marah Stiven. Tangannya sigap menarik selang shower, lalu menyiram tubuh Sari sampai basah kuyup. "Ahk... mengapa kau menyiramku? Aku jadi basah, bodoh!" umpat geram Sari. "Kau bilang aku bodoh? Kau yang bodoh, hantu tidak tahu malu. Dengan mata terbuka, kau melihat kejantananku dengan bebas?" cecar Stiven tidak terima. Ia semakin gencar menyiram tubuh Sari. "STOP!" Sari menarik napas dalam. Ia menatap tajam Stiven. Lalu tatapannya beralih ke arah pangkal paha pria itu. "Wow. Besar sekali? Apa aku tidak akan mati kedua kalinya jika benda itu masuk ke dalam tubuhku?" Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja. Tanpa aba-aba, Stiven melempar kasar shower dan menutup benda panjang itu dengan kedua tangannya. "Setan gila. Pergi kau dari sini..." usir Stiven. Tangan kanannya segera mengambil handuk yang berada di gantungan pintu kamar mandi, melilitkan handuk di bagian pinggang hingga sebagian area tubuhnya tertutupi oleh kain. "Kau sudah menyiramku sampai basah. Jadi sebagai balasannya, kau harus mandi berdua denganku!" "Apa kau gila? Sejak kapan hantu bisa basah terkena air, hah?" Sari yang tadinya panik seakan sadar akan ucapan Stiven. "Oh, iya juga ya? Sejak kapan hantu bisa basah terkena air?" Brak. Tanpa aba-aba lagi, Stiven segera keluar dari kamar mandi. Niat ingin membersihkan tubuhnya malah keganggu oleh hantu cantik nan genit itu. "Dasar manusia tidak bertanggung jawab," kesal Sari. Niat ingin mengerjai pria pujaan hatinya, malah apes masuk ke dalam kamar mandi dan melihat hal yang tidak terduga.Jam sudah menunjukkan pukul 23.55. Udara hutan seperti basah. Tapi bukan bau air yang tercium. Bau anyir besi tua memenuhi hutan. Langkah Stiven patah-patah di tanah licin. Napasnya berat. Jesika di belakangnya menggenggam ujung baju Stiven erat-erat, sampai buku jarinya putih. Nenek Rouli paling depan. Tongkat kayunya mengetuk batu tiap 3 langkah. _Tok... tok... tok..._ seperti menghitung mundur nyawa mereka. "Kokokan kedua," bisik Nenek Rouli tanpa menoleh. Suaranya serak, ketelan angin. "Tinggal satu. Kalau ayam ketiga berkokok sebelum kita sampai ke batu nisan Sari... roh itu akan ikut pulang bersama kita." Jesika menelan ludah. "Masih jauh, Nek?" "Di ujung. Lewat pohon beringin yang batangnya berdarah itu." Stiven mendongak. Dan darahnya dingin. Di depan mereka, pohon beringin tua. Batangnya sebesar 3 orang dewasa. Kulit kayunya retak-retak. Dan dari retakan itu, merembes cairan merah kental. Bukan getah. Terlalu kental. Terlalu berbau besi. "Astaga..." Jesi
Rambut putih panjang disanggul rapi, mata tajamnya seperti bisa melihat isi hati keduanya. Di tangannya tongkat kayu tua menjadi penyangga tubuh rentanya. "Kalian terlambat," suara nenek itu terdengar serak tapi tegas. "Roh itu sudah marah karena kalian membawa dia sampai ke sini." Stiven langsung bersujud. "Nenek Rouli? Tolong kami, Nek. Ada roh gadis SMA namanya Sari. Dia bilang saya takdirnya. Dia selalu mengganggu saya tiap jam 10 malam. Teman saya koma karena ulah dia." Nenek Sumi menatap Stiven lama. Lalu menatap Jesika. Hidungnya kembang kempis seperti mencium bau tidak sedap. "Kau membawa bau kuburan," kata Nenek Rouli ke Stiven. "Dan kau," dia menunjuk Jesika, "kau membawa bau darah segar. Kau mau mati untuk sahabatmu." Tubuh Jesika menggigil. "Saya... saya hanya mau Cindi hidup, Nek." Nenek Rouli masuk ke dalam rumah. "Masuk. Sebelum ayam jantan berkokok ketiga kali. Kalau tidak, roh itu akan ikut masuk." Di dalam rumah: dinding dipenuhi jimat, tengkorak ayam,
Hari Kedua Hukuman Sari - 19.47, Apartemen Stiven.Jam dinding menunjuk 19.47. Tinggal 13 menit lagi menuju jam 10 malam. Jam yang Sari janjikan.Stiven duduk di sofa, dasinya berantakan. Di pipinya bekas lipstik merah sudah dia hapus 7 kali, tapi tetap muncul lagi. Tulisan "Milik Sari" di dadanya terasa panas seperti disetrika."Kau yakin mau ikut?" Stiven menatap Jesika yang sedang scroll HP cepat. "Ini bukan urusan manusia biasa, Jes."Jesika tidak menoleh. Matanya fokus ke layar. "Kalau bukan urusan manusia biasa, terus urusan siapa? Stiven, Cindi koma karena hantu yang tergila-gila padamu itu. Kau juga hampir mati tiap jam 10 malam. Jadi ini urusan kita bertiga."Dia mengetuk layar HP. "Dapat! Grup Facebook 'Misteri Sumatera Utara'. Ada yang bahas 'Nenek Rouli, dukun pengusir roh gentayangan'. Komentar orang-orang: 'Anak saya kesurupan 3 tahun, sekali diterapi nenek langsung sembuh'. 'Lokasinya di Desa Huta Silalahi, 2 jam dari jakarta. Masuk hutan sekitar 3 jam-an, Stive'."Stiv
"Stiven, boleh bicara sebentar?" Jesika menarik Stiven keluar ruangan. Di koridor kosong, Jesika langsung menatap Stiven tajam. "Jujur, Stiven. Apa yang sebenarnya terjadi pada Cindi?" Stiven menggosok pelipisnya. "Dia ketabrak truk. Sopir bilang dia berhenti di tengah zebra cross. Tidak fokus." "Tidak fokus?" Jesika menyilangkan tangan. "Cindi meneleponku malam sebelum kecelakaan. Dia bilang... dia melihat 'sesuatu' di kantor. Dia bilang dia mendengar kau menyebut nama 'Sari' dalam tidur." Stiven membeku. Punggungnya kaku. "Siapa Sari, Stiven?" Jesika maju selangkah. "Cindi bilang kau ngigau dan menyebut nama itu 3 kali. 'Sari... Sari... Sari'. Dan sejak itu dia berubah aneh. Dia bilang ada bau melati busuk di kantor. Dia bilang kursi sebelahmu sering bergerak sendiri." Stiven tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Jesika menatap mata Stiven dalam-dalam. Mata CEO itu tidak bisa bohong. Ada rasa bersalah. Ada rasa takut. "Stiven," suara Jesika melembut. "Aku tidak tahu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.