Masuk“Aku nggak mau jadi artis, maunya jadi istri CEO-nya aja.”
Kara tertawa terbahak mendengar penuturan Diandra.
“Noted. Awas aja kalo kamu berubah pikiran.”
“Nggak akan.”
Kara mengelus kepala Diandra dengan lembut dan penuh kasih sayang, membuat seorang gadis yang berdiri di depan Diandra saat ini tak berhenti menatapnya dengan kagum.
‘Cowok ini… tipe aku banget,’ ujarnya dalam hati.
Setela
Diandra mendongak tak percaya.Meskipun dirinya yang lebih dulu minta putus, tapi tetap saja rasanya sedih luar biasa saat Kara akhirnya meng-iya-kannya.“Aku akan pergi sekarang. Aku akan kasih kamu ruang untuk berpikir dan menenangkan diri. Kapan pun kamu butuh aku, bilang aja. Aku akan selalu ada, di sini, buat kamu, cintaku.”“Dan setelah itu, aku harap kamu nggak akan pernah kepikiran kata-kata itu lagi. Demi Tuhan, apa pun boleh kecuali yang satu itu. Kalau kamu ninggalin aku, itu bisa bikin aku mati pelan-pelan.”Setelah mengatakan itu, Kara berdiri dan berlalu pergi. Meninggalkan Diandra sendiri. Menangis dan memeluk dirinya sendiri.Ia tidak tahu apakah keputusannya ini sudah benar atau belum. Namun yang pasti, sekarang ini hatinya sangat hancur. Ia tidak tahu kalau berpisah dengan Sangkara akan terasa semenyakitkan ini.“Non Diandra… non, kenapa?” Tanya Bik Asih, panik saat mendapati Diand
“Kamu masih aja keras kepala. Disaat seperti ini, bukankah harusnya kita ini saling menjaga dan melindungi? Bukan cuma kamu yang kehilangan. Tapi tante juga. Anak tante—calon adik lelakimu juga.”“Stop it! You’re not my mom, and this shit baby, not my brother!” Diandra masih konsisten menolak kehadiran dua orang itu dalam hidupnya.“Diandra, jaga bicara kamu. Dia bahkan belum lahir, tapi kamu sudah sekasar itu ngomongnya,” Arunika mendelik melihat penolakan Diandra.“Kenapa? Kamu nyari apa? Pengakuan? Warisan?” Diandra tertawa meremehkan.“Kamu nggak akan dapet satu pun dari keduanya. Jadi lebih baik sekarang kamu pergi. Jangan kotori rumah saya dengan kehadiran kamu di sini.”“Diandra!” Arunika baru saja akan mengangkat tangan untuk memukul Diandra, namun Kara lebih cepat datang dan menepisnya.“Tolong jangan kasar,” ucapnya tenang, namu
“Enggak, ampun. Gue nggak sengaja,” ucapnya di tengah erangannya.“Tangan lo itu udah lancing, dan lo tau itu artinya apa?”Lelaki itu menggeleng, meringis, bahkan teman-teman satu geng-nya pun tak ada yang berniat membelanya, apalagi menolong.“Makanya, kalo tolol jangan mabok. Apalagi sampe berani sentuh cewek gue sembarang.”“Ampun. Gue salah, maafin gue.” Ucapnya lagi.Ia sadar kalau Kara sedang marah besar sekarang, dan ia tidak berniat membuat lelaki itu semakin murka kalau dirinya tidak segera minta maaf.Sementara Diandra hanya diam, sibuk mencerna kejadian di depannya saat ini.“Vince,” panggil Kara.Dalam hitungan detik, Vincent sudah muncul di sisinya.“Bawa dia ke rumah sakit. Bayar semua pengobatannya sampe sembuh,” setelah mengatakan itu, Kara langsung menarik pergelangan tangan Diandra dan membawanya pergi dari club.“Aduh
Gadis itu membuka mulut, menikmati buah melon hasil suapan Kara, namun pandangannya masih belum berubah. Untuk melirik pun ia enggan.***Malamnya, Lavie memberitahu kalau Diandra ingin pergi ke party tanpa dirinya. Kara setuju tanpa kompromi, membuat gadis itu bertanya-tanya. Selama ini Kara cukup posesif dengan tidak membiarkan Diandra pergi ke party tanpa dirinya. Tapi sekarang, Kara malah berbuat yang sebaliknya.“Gue akan ada di sana, tenang aja.” Ucap Kara lagi.Lavie mengangguk paham. Mungkin lelaki itu akan tetap hadir, namun memberikan jarak aman agar Diandra tidak merasa terganggu.***Diandra pergi ke club bersama teman-temannya. Lavie, Claudia, Gavin, dan Seno, semuanya ada di sana. Hanya Kara yang tidak kelihatan batang hidungnya.Diandra melarangnya, tidak ingin lelaki itu ada di pesta malam itu. Dan Kara menghargai keputusan kekasihnya, namun ia tetap tidak akan membiarkan gadis itu pergi s
“Aku nggak akan pergi. Aku akan selalu di sini. Di samping kamu, nemenin kamu.” Katanya dengan penuh kelembutan.Kara menariknya ke dalam pelukan. Memberikan kehangatan dan kenyamanan yang dibutuhkan gadis itu. Tidak membiarkan Diandra merasa bersalah untuk sesuatu yang memang bukan salahnya.“I love you, sayang.”***Suara alarm berdenting lirih, layar ponselnya menunjukkan angka jam empat pagi. Sunyi, hanya sesekali terdengar napas teratur Diandra yang masih terlelap di sisinya.Kara masih terjaga memeluk kekasihnya, menatap sejenk wajah damai gadis itu saat sedang tidur. Ada sesuatu di sana yang membuatnya enggan untuk beranjak. Ia tahu dirinya tak akan bisa tidur lagi malam ini.Perlahan, ia melepaskan genggaman tangan Diandra, meraih ponselnya, lalu melangkah ke luar kamar.“Kara,” lelaki itu menoleh saat seseorang memanggil namanya.Itu Lavie, yang berdiri dari sofa dan mengham
‘Kara,’ batinnya.Matanya hanya tertuju pada lelaki itu. Ia melangkah mengikuti instingnya untuk menuju ke arahnya. Mereka berdiri berhadapan. Tidak ada suara, namun tatapan keduanya sudah menunjukkan semuanya.Kerinduan. Kesedihan. Kehancuran.Kara mengulurkan tangan, mengelus anak rambut Diandra yang berantakan.Sementara gadis itu malah memukulinya berkali-kali. Mulai dari wajah, dada, hingga ke lengannya. Ia memukul seolah menyalurkan emosinya di sana. Kara tidak bergeming, membiarkan saja saat Diandra justru semakin brutal memukulinya.Ia tahu, ia bersalah. Dan ia bersedia menerima konsekuensinya.“Jahat. Kamu jahat.” Setelah lelah memukuli Kara, Diandra menangis sekencang-kencangnya.Tubuhnya nyaris merosot kalau saja Kara tak segera menangkapnya dan mendekapnya dalam pelukan yang erat.“Maaf… maaf,” sebutir air mata Kara lolos melewati garis rahangnya.Ia mendekap erat ke







