Masuk“Udah dijodohin dari lama,” lanjut Diandra, tak sabar menunggu Falisha menyelesaikan kalimatnya.
“Lo ngomong gitu, Fal?”
“Itu… aku…”
“Falisha.” Suara Kara meninggi dan semakin tegas.
Membuat nyali Falisha ciut dan menatap lelaki itu dengan pandangan takut.
“Iya. Aku cuma ngasih tau dia kalo kita emang udah dijodohin dari lama, jadi aku nyuruh Diandra buat jagain kamu. Itu aja.”
“So… how’s my wife? What’s wrong with her?” Tanya Kara setelah Dokter Kenneth selesai memeriksa Diandra.“Congratulation, Mr. Adhiyatsa. She’s pregnant,” ucapnya lugas.Kara tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Informasi ini mengejutkannya, membuatnya mematung di depan dokter Kenneth, namun detik berikutnya ia berteriak kegirangan. Lalu berbalik menuju Diandra dan memeluknya erat, juga menciumi wajahnya berkali-kali.Dokter Kenneth menggeleng dengan senyum, lalu berbalik meninggalkan kamar pasangan suami istri itu. Membiarkan keduanya merayakan kebahagiaan mereka atas kehadiran buah hati di dalam perut Diandra.“Kamu hamil, sayang. Kita akan punya anak,” ucapnya dengan getar kebahagiaan.Diandra mengangguk, senyumnya lebar dengan air mata yang mengalir tanpa bisa ia tahan.“Makasi, sayang. Makasi,” Kara tak berhenti menciumi Diandra untuk menunjukkan kebahagiaan serta kasih sayangnya.Dari semua hal yang membahagiakan dalam pernikahan mereka, kehamilan Diandra ada di daftar nomor du
Napas Diandra tercekat. Sejak menikah, Kara memang tidak pernah menyaring apapun. Semua yang ia pikirkan di kepalanya, itu juga yang keluar dari mulutnya.“K-kenapa buru-buru? Kita, kan, baru aja sampe?” Diandra merasa gugup, namun sebisa mungkin mengontrol ekspresi wajah dan tone suaranya tetap tenang.“Nggak sabar denger kamu mendesah panjang,” ucapnya lirih.“Kara!” Seru Diandra spontan, wajahnya memerah sampai ke telinga.Ia menepuk bahu Kara pelan, tapi suaminya itu hanya terkekeh kecil, seolah menikmati setiap reaksi istrinya.“Kamu harus kerja keras malem ini, sayang.” Gumam Kara dengan nada usil, sudut bibirnya terangkat nakal.“Kamu lupa, ya, kemaren dokter bilang apa? Aku masih proses recovery dan butuh banyak waktu buat istirahat,” balas Diandra cepat, berusaha terdengar tegas meski suaranya goyah.“Kita nggak bisa ngelakuin itu—”“Nggak bisa ngelakuinnya dengan kasar dan terlalu sering,” potong Kara cepat.Ia menatap mata Diandra sambil mengusap ujung rambutnya yang jatuh
Diandra menggeleng, “Enggak sama sekali. Aku malah bersyukur, karena dengan begitu, kita jadi semakin deket, pacaran, sampe menikah kayak sekarang. Makasi ya karena udah berjuang.”“Selalu, sayangku.”Kara yang memulai, ciuman itu yang awalnya lembut dan pelan. Kemudian berubah menjadi panas dan liar. Lagi. Kara kesusahan menahan dirinya sendiri untuk tidak mencumbu Diandra di sembarang tempat. Yang mana orang lain bisa saja melihat perbuatannya. Namun sisi otaknya yang lain mengacuhkanya.Diandra adalah istrinya, jadi ia merasa berhak untuk mencium dan mencumbunya di mana saja.***Kara berbaring dalam gelap, terjaga sementara Diandra tidur. Istrinya itu merapat manja kepadanya dan sekarang lengan ramping Diandra memeluk pinggang Kara. Kepala Diandra terbenam pada bahunya sambil bernapas lembut.Aroma tubuh Diandra masuk ke benak dan mengaburkan pikirannya. Wangi yang sangat disukainya itu selalu berhasil membuatnya lupa diri. Udara malam i
“You know that.”Diandra tersenyum. Ingatannya kembali ke saat-saat di mana Kara selalu menolak bersentuhan fisik yang terlalu intim dengannya, bahkan cenderung menghindar dan menarik diri setiap kali mereka nyaris lepas kendali. Dan sekarang, Kara benar-benar membuktikan hal itu, sesuatu yang selama ini ia tahan, pada akhirnya meledak tanpa bisa ia tahan-tahan.Sekarang… Kara sama sekali tak merasa sungkan menunjukkan gairah dan sensualitasnya yang menggoda, saat mereka sudah menikah. Ia bahkan tak bisa berhenti, sekalipun Diandra sudah kelelahan dan kehabisan tenaga.“Jadi… kapan aku boleh keluar kamar?” Tanya Diandra di ujung percintaan mereka.“Never.”***“Jam lima sore, Waktu Swiss,” kata Marcel sambil melihat arlojinya saat melihat sepasang suami istri baru itu baru muncul di meja makan.“Biasalah pengantin baru,” Kara mengedikkan bahu a
Begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, Diandra sudah berada dalam pelukan Kara, dan membalas ciumannya dengan sepenuh hati saat Kara melumat bibirnya. Lidahnya menyerbu menuntut balasan. Sesekali ia menyedot lidah Diandra hingga gadis itu terengah.Tubuh Diandra menegang, tapi perlahan menyerah. Tangannya bergerak cepat membuka kancing kemeja Kara satu per satu, sementara Kara memilih jalan paling cepat—merobek gaun merahnya dengan kasar.Desiran halus merambat di tubuh Diandra, membuatnya menutup mata, menyerah pada momen itu. Bersama-sama mereka menikmatinya, dan sekarang Diandra adalah miliknya… miliknya sepenuhnya.Diandra lalu melompat ke ranjang, menyambut Kara dengan lengan terbuka, lalu memosisikan diri. Kemesraan yang mereka rasakan begitu cepat dan intens, dan akhirnya memuncak dalam satu ledakan klimaks yang panjang dan menyenangkan.“Sayang…” bisikan Kara terdengar menggelitik di telinganya, suarany
Saat matahari mulai terbenam, perayaan berpindah ke Loggia Segre untuk resepsi yang lebih intim dan romantis. Cahaya senja yang lembut menambah keanggunan vila dan menciptakan suasana hangat dan magis untuk makan malam dan pesta.Kara mengangkat gandengan tangan Diandra tinggi-tinggi. Memamerkan istrinya yang tampak luar biasa dengan balutan dress warna merah marun yang pekat dengan kilau khas kain satin yang jatuh mengikuti lekuk tubuh. Gaun itu memiliki tali bahu yang sangat tipis dengan potongan square neck, memberikan kesan minimalis namun tetap seksi.Bagian pinggngnya terdapat kerutan artistik yang memberikan dimensi pada kain, sebuah potongan sempurna untuk menonjolkan siluet tubuh Diandra. Gaun itu juga memilki belahan tinggi di satu sisi, menampilkan kaki jenjang Diandra yang tampak cantik dibalut sepatu hak tinggi berwarna senada.Sementara Kara, tetap setia dengan stelan serba hitamnya. Menurut Diandra, Kara tidak memiliki warna lain
“Aku nggak akan pergi. Aku akan selalu di sini. Di samping kamu, nemenin kamu.” Katanya dengan penuh kelembutan.Kara menariknya ke dalam pelukan. Memberikan kehangatan dan kenyamanan yang dibutuhkan gadis itu. Tidak membiarkan Diandra merasa bersalah untuk sesuatu yang memang
“Gue nggak akan pernah maafin lo. Bahkan nyebut nama lo aja, gue nggak sudi. Kesalahan lo itu fatal, lo bikin gue ketrigger atas luka lama gue yang udah sembuh. Kelakuan lo ini udah ngalah-ngalahin setan tau, nggak?” Kara berteriak di depan Falisha.Kalau saja Falisha
Kara menatap mata Diandra dalam, membuat gadis itu tak berkutik.“Aku cinta sama kamu, dan aku ngejalanin hubungan ini bukan untuk coba-coba, main-main, atau iseng semata. Aku mau serius, dan jadiin kamu satu-satunya perempuan aku. Satu-satunya yang akan selalu aku usahakan kebahagia
“Sangkara, apa-apaan kamu ini? Nyelonong masuk begitu saja, tidak sopan.” Pak Dekan memarahinya, namun Kara tidak peduli.“Testpack bukan cara penyelesaian yang tepat. Itu bisa menjatuhkan mental seseorang.” Lanjut Kara tanpa takut.“Kenapa kam







