Share

Bab 3

Author: Cat
Bahkan tanpa melirik Oria sedikit pun, pria itu segera berkata kepada dosen pembimbing, "Makalah Chelsea aku sendiri yang menemani dia bergadang sampai selesai. Dia nggak mungkin menyontek. Soal kenapa bisa muncul kemiripan, menurutku ...."

Dia berhenti sejenak, melirik Oria. "Harusnya tanya orang satunya."

Dosen pembimbing tentu mengetahui hubungan Oria dan Zerian. Saat melihat dia bukan hanya tidak membela pacarnya, malah bersaksi untuk Chelsea, ditambah latar belakang Keluarga Canadi, timbul rasa memihak di hatinya.

Sang Dosen menjadi murka, menunjuk Oria. "Oria! Apa lagi yang mau kamu katakan! Saksi dan bukti lengkap! Kamu benar-benar mengecewakanku!"

Oria menatap Zerian dengan tak percaya.

Kalau dulu, mungkin dia masih tidak mengerti kenapa pria itu memperlakukannya seperti ini.

Namun sekarang, setelah tahu semua kebenaran ... apa lagi yang tidak dia pahami?

Demi Chelsea, Zerian sanggup berpura-pura pacaran dengannya, sanggup menyebarkan foto-foto pribadinya. Jadi, sekarang menimpakan tuduhan plagiarisme Chelsea ke dirinya pun bukan sesuatu yang mengejutkan lagi.

Hatinya hancur berkeping-keping, tetapi dia juga tahu, penjelasan apa pun tak ada artinya di hadapan kalimat Zerian tadi.

Dosen pembimbing menyuruh Zerian dan Chelsea keluar terlebih dahulu, lalu kembali memarahi Oria habis-habisan, menyatakan makalahnya dibatalkan, dan mencatat pelanggaran itu ke arsip.

Dengan langkah kosong Oria keluar dari ruang dosen pembimbing.

Begitu keluar, dia melihat Zerian sendirian bersandar di dinding lorong, jelas sedang menunggunya.

Oria berhenti, menatap pria yang sudah dua tahun dia cintai, tetapi dari awal sampai akhir hanya menipunya, memanfaatkannya, dan melukainya. Suaranya kering dan bergetar. "Zerian ... apa kamu nggak merasa kamu harus memberiku penjelasan?"

Zerian mengangkat pandangan, tatapannya tetap dingin. "Kemarin makalah Chelsea nggak sengaja terhapus, dan sudah mendekati tenggat. Jadi dia minta referensimu."

Referensi? Referensi yang langsung copy-paste sampai salah ketiknya pun sama?

Hati Oria terasa sakit sampai hampir tak bisa bernapas.

Zerian melanjutkan dengan suara dingin yang enak didengar tetapi kejam luar biasa, "Kuota beasiswamu sudah dibatalkan, sementara Chelsea masih dalam persaingan. Jadi makalah ini sangat penting baginya. Kamu ... toh sudah begini, jadi sudah tak jadi masalah."

Sudah tak jadi masalah ....

Setiap kata dan kalimat yang diucapkan pria itu hanya tentang Chelsea, sama sekali tak pernah mempertimbangkan perasaan Oria, tak pernah memikirkan betapa sakit hatinya.

Kesedihan dan kemarahan yang besar segera menenggelamkan Oria. Tak bisa menahan diri lagi, dirinya dengan histeris menangis di depan Zerian sambil berteriak, melampiaskan semua rasa ketidakadilan, rasa sakit, dan keputusasaan!

Mungkin ini pertama kalinya Zerian melihat Oria yang biasanya lembut dan penurut menunjukkan ekspresi seputus asa ini, alisnya agak berkerut.

Dulu setiap kali mereka berbeda pendapat, asal dia sedikit mengerutkan kening, Oria pasti segera mengalah, bahkan kalau harus menyerahkan makalahnya pada Chelsea.

Kenapa kali ini berbeda?

"Hanya makalah saja, kenapa harus ribut begini." Zerian mengernyit, meraih pergelangan tangan Oria. "Sudah, bukankah kamu selalu ingin makan bersamaku? Kebetulan hari ini aku ada waktu, ayo kita pergi!"

Dengan mendadak Oria mengibaskan tangan Zerian, tenaga itu membawa seluruh keputusasaan dan amarah yang selama ini terpendam.

"Aku nggak mau!" Suaranya bergetar karena emosi, matanya merah menatap pria yang dulu dia cintai dengan segenap hati. "Zerian, aku nggak serendah itu! Kalau kamu memang nggak pengin makan denganku, maka ke depannya jangan makan lagi sekalian!"

Setelah berkata begitu, dia berbalik dengan tegas, hampir berlari meninggalkan tempat yang membuatnya sesak napas itu.

Zerian berdiri di tempat, menatap punggung sosok Oria yang untuk pertama kalinya melawan begitu keras, bahkan bisa dibilang membangkangnya. Di antara alisnya yang dingin, muncul segelintir ekspresi kebingungan dan ketidaksenangan yang jarang terlihat.

Dulu, setiap kali Oria menatapnya, mata itu selalu dipenuhi kilau lembut, sarat dengan kekaguman yang penuh kehati-hatian dan kepatuhan sepenuhnya.

Oria akan patuh 100% pada pria itu.

Kalau dia sedikit mengernyit, Oria akan segera introspeksi apakah dirinya melakukan kesalahan, lalu dengan suara lembut datang membujuknya.

Namun sekarang ... cahaya di matanya seperti sudah padam, yang tersisa hanyalah keputusasaan dingin dan jarak yang tak bisa dipahami pria itu.

Karena urusan makalah ini gadis ini mengambek? Zerian tidak habis berpikir.

Kekanak-kanakan.

Walau begitu, dirinya tidak mengejar Oria.

Baginya, ini memang cuma perkara sepele. Menghibur Chelsea perlu usaha, menghibur Oria? Tidak perlu.

Oria sendiri nanti juga akan baik-baik saja.

Dengan dingin Zerian menarik kembali pandangannya, lalu berbalik berjalan ke arah lain.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 23

    Zerian dan Jusifan berlutut di tanah yang dingin dan basah, menatap pintu yang tertutup rapat itu. Pintu yang tak akan pernah lagi terbuka untuk mereka, seolah seluruh jiwa mereka telah tercabut.Sejak malam itu, Zerian dan Jusifan seperti kehilangan tulang punggung, benar-benar runtuh.Zerian kembali ke Grup Canadi.Dia menjadi jauh lebih pendiam dari sebelumnya, dingin sampai tak tersentuh perasaan manusia.Dia bekerja seperti orang gila, nyaris tinggal di perusahaan, mengisi setiap detik dengan urusan dan rapat tanpa henti, mencoba membius hati yang sudah lama tandus dan mati rasa.Dia berubah menjadi mesin kerja yang sempurna, tindakannya secepat kilat, keputusannya keras tanpa ampun, memperluas wilayah bisnis Keluarga Canadi menjadi makin besar, menumpuk kekayaan makin banyak.Namun di sisinya, tak ada lagi siapa pun. Dia menolak semua perjodohan dan perkenalan, bersikap sedingin es pada setiap wanita yang mencoba mendekat.Dunianya hanya tersisa angka dingin, dokumen, dan permain

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 22

    Zerian dan Jusifan mengerahkan semua cara yang bisa mereka pikirkan.Tekanan kekuasaan, godaan materi, permohonan yang merendah, keterikatan yang gila, bahkan sandiwara menyakiti diri sendiri ....Namun semua itu, di hadapan benteng yang Oria bangun dari sikap dingin dan ketidakpedulian, hancur berkeping-keping, hanya menyisakan kekacauan dan keputusasaan yang lebih dalam.Akhirnya mereka pun kehabisan tenaga terakhir mereka, lalu menyadari satu fakta yang tak mau mereka akui ....Mereka benar-benar, untuk selamanya, kehilangan dia.Bukan karena dia kejam, melainkan karena merekalah yang dengan tangan mereka sendiri menghancurkan perasaan samar yang mungkin pernah ada itu, bersama harga diri dan hidupnya di masa lalu.Pada suatu senja yang diguyur gerimis, Zerian memarkir mobilnya di sudut jalan seberang apartemen Oria.Dia tidak turun, hanya menatap melalui kaca mobil yang buram oleh hujan, memandangi jendela yang menyala dengan cahaya hangat itu.Dia menelepon nomor yang sudah lama m

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 21

    Sementara itu, Jusifan justru memilih cara lain yang jauh lebih menyesakkan.Dia tak lagi mengirim hadiah-hadiah mencolok, melainkan mulai memainkan kartu "cinta mendalam".Setiap hari dia muncul tepat waktu di bawah gedung kantor dan apartemen Oria, menenteng kotak bekal yang katanya dibuatnya sendiri, tak peduli hujan maupun panas.Dia tak lagi membuat keributan, hanya diam-diam menatap Oria dengan sorot mata penuh luka dan kasih, seolah Oria adalah perempuan yang mengkhianatinya.Bahkan setelah sekali benar-benar diabaikan Oria, Jusifan menghantam dinding di samping dengan tinjunya, punggung tangannya seketika berdarah dan robek. Dirinya lalu mengangkat tangan yang berdarah itu dan berjalan ke depan mobil wanita itu, lalu bertanya dengan suara serak, "Oria, kalau begini ... bisakah kamu melihatku sekali saja? Satu kali saja ...."Oria duduk di dalam mobil. Melihat kegilaan menyakiti diri demi memperoleh perhatian itu, dirinya hanya merasa mual dan takut seolah isi perutnya teraduk-a

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 20

    Pintu keluar kedatangan internasional dipenuhi arus manusia.Oria mendorong kopernya keluar, mengenakan mantel panjang krem sederhana. Tubuhnya tegap, ekspresinya dingin dan datar.Tiga tahun telah menghapus sisa kepolosannya, menambahkan kedewasaan dan kesejukan yang tenang. Kecantikannya kini makin mengguncang, tetapi dirinya juga makin tak terjangkau.Baru saja dirinya menginjakkan kaki ke tanah air, bahkan belum sempat menghirup udara domestik, dua kelompok orang sudah seperti ikan hiu yang mencium bau darah, dengan cepat mengepung dari dua arah berbeda, memblokirnya di lorong keluar!Di sebelah kiri, dipimpin oleh Zerian.Dia mengenakan setelan jas buatan tangan yang mahal, tubuhnya tinggi ramping, ketampanannya masih sama. Hanya saja, di antara alisnya tertimbun kelelahan yang sulit dihapus dan hasrat berlebihan yang menggelora.Di tangannya ada sebuket besar bunga calla putih yang langka, bahasa bunganya adalah "cinta yang tulus dan penebusan dosa". Dia menatap Oria dengan tatap

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 19

    Saat pertama kali Zerian diarahkan semprotan itu, seluruh tubuhnya segera membeku, di matanya terpancar luka dan keterpurukan yang tak bisa dipercaya.Jusifan justru menjadi lebih ekstrem dan emosional.Ada kalanya dirinya merendahkan diri memohon, menangis tersedu-sedu sambil meminta maaf, menampar wajahnya sendiri, menceritakan betapa dirinya menyesal, betapa tulus dia mencintai Oria.Terkadang dia kehilangan kendali karena sikap dingin Oria, membuat pria itu mengamuk sambil menghancurkan barang-barang. Bahkan ketika Oria berinteraksi normal dengan teman sekelas, dia menerjang keluar dan menarik gadis itu pergi secara paksa, memicu kepanikan dan laporan polisi.Dia bahkan memanfaatkan kekuatan Keluarga Canadi untuk menekan pihak kampus Oria, menekan pemilik apartemennya, mencoba memutus seluruh jalur sosial dan sumber ekonominya, demi memaksa Oria berkompromi.Kedua saudara itu saling menganggap satu sama lain sebagai penghalang terbesar.Zerian menugaskan orang untuk memantau Jusifa

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 18

    Setelah menyelesaikan urusan putus hubungan dengan Chelsea, Zerian segera kembali ke perusahaan. Dengan kecepatan tercepat dirinya mengatur semua urusan darurat, lalu memerintahkan asistennya, "Segera pesan tiket penerbangan paling dekat ke Laruna! Semua jadwal ditunda!"Saat ini hanya ada satu pemikiran di benaknya yang bergejolak dan mendesak: menemukan Oria! Sekarang juga! Saat ini juga!Dia tidak bisa mentolerir Jusifan mengintai di sisi Oria, apalagi menerima kemungkinan kehilangan diri wanita itu sepenuhnya!Selama belasan jam penerbangan, Zerian sama sekali tak bisa tidur. Di benaknya terus berulang berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi, sementara kegelisahan dan harapan asing yang nyaris berubah menjadi kepanikan membakar sarafnya.Begitu pesawat mendarat, dia bahkan tidak pergi ke hotel. Berdasarkan alamat yang sudah diselidiki anak buahnya, Zerian segera menyuruh sopir menuju apartemen Oria.Saat senja, matahari terbenam melapisi jalanan Kota Laruna dengan warna emas hang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status