LOGINDenise dan sahabat masa kecil suaminya sama-sama diculik. Malam itu, suara erangan di gudang terdengar sepanjang malam. Sebulan kemudian, mereka berdua sama-sama diketahui hamil. Demi menjaga nama baik sahabat masa kecilnya, Hernan tanpa ragu mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya. Sementara anak Denise, justru dianggap sebagai anak haram yang ditinggalkan para penculik setelah memperkosanya. Denise menghancurkan semua barang yang bisa dihancurkan, lalu bertanya dengan putus asa, "Kenapa? Kamu jelas tahu anak ini sudah ada sebelum penculikan terjadi. Para penculik bahkan nggak menyentuhku!"
View MoreSetelah terdengar sedikit suara berisik dari rekaman, suara Declan yang hati-hati terdengar."Jadi kamu benar-benar sudah melupakannya?"Begitu kalimat itu terdengar, tubuh Hernan yang berada di atas ranjang rumah sakit langsung menegang. Dia bahkan menahan napas, takut melewatkan satu kata saja.Tak lama kemudian, suara Denise yang tegas dan mantap masuk ke telinganya. "Ya."Satu kata itu bagaikan petir yang menyambar dari langit. Darah di seluruh tubuh Hernan seolah membeku seketika.Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram seprai erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya seperti dipaku di atas ranjang, tak mampu bergerak sedikit pun.Pikirannya kosong. Semua kesadarannya seakan tersedot habis dalam sekejap, seolah seluruh dunianya runtuh tepat pada saat itu.Bunyi denging yang makin nyaring di telinga membuatnya hampir tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Denise setelah itu.Namun, dia sebenarnya tidak perlu mendengar lebih jauh. Satu kata itu saja sudah memberinya jawaban.
Hingga pameran lukisan berakhir, Hernan tetap tidak berhasil mengucapkan sepatah kata pun kepada Denise.Saat dia hendak mengejar Denise keluar, ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat tulisan "Ayah" di layar, Hernan akhirnya memilih mengangkat telepon itu.Tak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara. Mereka hanya diam mendengarkan napas satu sama lain.Akhirnya, ayah Hernan yang lebih dahulu memecah kesunyian. "Waktumu hampir habis. Kamu masih nggak mau pulang?"Hubungan Hernan dan ayahnya sebenarnya biasa saja. Ditambah lagi, sejak kecil ayahnya jarang menemaninya, sehingga mereka hampir tidak memiliki topik pembicaraan bersama.Ayah Hernan juga sosok yang keras dan tidak suka berinisiatif berkomunikasi dengan anaknya. Jurang di antara ayah dan anak itu pun makin lama makin lebar.Karena itu, mendengar ayahnya tiba-tiba bertanya seperti ini membuat Hernan sedikit tidak terbiasa.Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Aku akan pulang. Tapi aku ingin menemukan jawaba
Menjelang malam, kembang api mulai bermekaran di seluruh penjuru kota. Cahaya berwarna-warni menerangi separuh langit.Di balkon vila keluarga Denise, dia menjadi pusat perhatian para tamu yang mengelilinginya.Dari dalam mobil yang terparkir jauh di sana, Hernan hanya bisa samar-samar melihat senyuman di wajah Denise. Senyum itu masih sama seperti dahulu. Masih memiliki pesona yang mampu menular kepada orang lain.Dia pun diam-diam ikut tersenyum."Selamat ulang tahun."'Denise-ku ....'Ketika kembang api terakhir menghilang di langit malam, para tamu mulai berpamitan dan pulang.Mobil-mobil mewah satu demi satu melaju meninggalkan vila. Rumah yang semula ramai kembali menjadi lengang. Hanya tersisa beberapa pelayan yang masih membersihkan aula.Namun, mobil Hernan tetap tidak bergerak. Baru setelah lampu terakhir di vila itu dipadamkan, Hernan menyuruh asistennya menyalakan mesin mobil.Namun, tepat saat itu seseorang mengetuk pelan jendela di sampingnya. Orang yang datang adalah kep
Kalau Denise bilang dia tidak kecewa saat mengetahui hal itu, tentu itu bohong. Namun, dia tetap memaksakan senyuman dan berkata kepadanya tidak apa-apa.Karena merasa bersalah, Hernan segera memeluknya dan membujuknya dengan lembut. Dia mengatakan bahwa pada ulang tahunnya yang berikutnya, dia akan membuatkan kalung yang lebih indah untuknya.Kemudian, dia benar-benar membuatnya. Kalung bernama Cinta Sejati itu akhirnya selesai dibuat. Sayangnya, pemilik yang seharusnya mengenakannya sudah tidak berada di sisinya lagi.Hernan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangan dan mengetuk jendela mobil.Tak lama kemudian, jendela perlahan turun dan seorang pria berwajah asing segera menjulurkan kepala dengan sikap penuh hormat. "Pak Hernan."Hernan menyerahkan hadiah di tangannya kepada pria itu sambil tersenyum. "Maaf merepotkanmu."Hari ini Keluarga Andora mengundang banyak tamu. Kebetulan di antara mereka ada seseorang yang masih dikenalnya dan belum memutus hubungan dengannya. Kare












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.