Share

Bab 4

Author: Cat
Oria pergi ke kantin sendirian, makan sedikit dengan rasa hambar, lalu segera menuju bagian akademik untuk mengurus pengunduran diri.

Saat mendengar alasannya adalah "melanjutkan studi ke luar negeri", staf akademik memang sedikit menyayangkan prestasinya yang selama ini sangat baik. Namun mengingat foto-foto pribadi yang sedang ramai diperbincangkan serta kasus plagiarisme yang baru saja terjadi, mereka hanya menunjukkan pengertian secara formal tanpa banyak menahan.

"Proses pengunduran diri butuh beberapa hari untuk disetujui. Selama itu kamu tetap masuk kelas seperti biasa."

"Terima kasih, Bu." Oria menjawab pelan, ekspresinya datar.

Dirinya menjalani seharian penuh kuliah seperti mayat hidup. Saat bel pulang berbunyi, dia memeluk buku-bukunya dan mengikuti arus mahasiswa keluar. Ketika melewati taman kecil kampus, terlihat olehnya banyak orang bergegas ke satu arah, disertai suara diskusi penuh semangat.

"Cepat! Cepat! Di depan ada yang berkelahi!"

"Ya ampun, itu Zerian! Baru kali ini aku lihat si cowok idola marah sebesar itu!"

"Dia berkelahi demi Chelsea! Benar-benar murka demi wanita cantik!"

Langkah Oria terhenti, jantungnya terasa seperti ditusuk jarum kecil, tidak terlalu dalam, tetapi menyakitkan.

Tanpa sadar, dia ikut berjalan beberapa langkah, dan benar saja, terlihat sekelompok kecil orang berkumpul di depan.

Di tengah kerumunan, Zerian sedang bergumul dengan seorang mahasiswa laki-laki.

Biasanya dia selalu dingin dan terkendali. Namun saat ini, seolah menyentuh sisik naga terbalik, gerakannya brutal, pukulan demi pukulan mendarat keras. Di wajahnya yang luar biasa tampan itu terlukis amarah yang jarang terlihat.

Percakapan orang-orang di sekitarnya berangsur-angsur masuk ke telinganya.

"Katanya pria itu mengaku cinta pada Chelsea tetapi ditolak, lalu mulai bertindak kurang ajar …."

"Zerian yang biasanya setenang itu, sampai bisa main tangan begini ...."

"Tapi bukankah Oria pacarnya? Kok dia bela Chelsea sampai begitu?"

"Ck, kamu masih nggak ngerti juga? Foto-foto Oria sudah begitu, memangnya Zerian bisa nggak peduli? Kayaknya dari dulu dia sudah muak …."

Mendengar kata-kata itu, hati Oria yang sudah mati rasa tetap terasa nyeri halus.

Saat itu juga, Chelsea di tengah kerumunan seperti anak rusa yang ketakutan, menangis sambil berlari memeluk pinggang Zerian dari belakang. "Kak Zerian, jangan pukul lagi! Aku takut sekali ... tolong berhenti ...."

Gerakan Zerian segera terhenti.

Dia melepaskan mahasiswa yang sudah babak belur itu, lalu berbalik. Aura ganas di wajahnya seketika menghilang, digantikan oleh kelembutan canggung yang belum pernah Oria lihat sebelumnya.

Dia mengusap air mata Chelsea dengan hati-hati, suaranya rendah dan menenggelamkan hati, "Jangan takut, aku berhenti. Aku bikin kamu kaget?"

Kelembutan dan perlindungan yang ekstrem itu seperti pisau es beracun, menghancurkan sisa ilusi Oria sepenuhnya.

Pria itu tidak pernah memandang dirinya dengan tatapan seperti itu.

Dia belum pernah menenangkan Oria dengan suara seperti itu.

Bahkan dalam hal paling intim sekalipun, pria itu merasa Oria begitu memuakkan sampai menyuruh adiknya menggantikan!

Sebetulnya seberapa buta Oria dulu, sampai mengira pria itu menyukainya?

Saat itu, pandangan Zerian tanpa sengaja menyapu kerumunan dan tepat bertemu mata Oria.

Dia tertegun sejenak, seolah tidak menyangka wanita itu ada di sini. Sekilas emosi rumit melintas di matanya, begitu cepat hingga bahkan si pria sendiri tidak menyadarinya.

Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu.

Namun Oria lebih dulu memalingkan pandangan, seakan hanya melihat orang asing yang tak berarti apa-apa, lalu berbalik pergi dengan wajah datar.

Menatap punggung wanita yang pergi tanpa ragu, tanpa sadar Zerian mengerutkan alis lebih dalam.

"Kak Zerian, kenapa?" Chelsea bersandar di dadanya, bertanya lembut.

"Nggak apa-apa." Zerian menarik kembali pandangannya, suaranya kembali hangat, tetapi perasaan aneh di hatinya tak kunjung hilang.

Dia mengeluarkan ponsel, lalu mengirim pesan pada Jusifan, menceritakan singkat pertengkarannya dengan Oria hari ini dan perkelahian barusan. Dirinya meminta Jusifan malam nanti mampir untuk menenangkan Oria.

Jusifan dengan cepat membalas, [Apa? Masih perlu dibujuk apa lagi, segera putus saja!]

Zerian menatap balasan itu, jarinya berhenti sejenak.

Ya ... masih perlu dibujuk apa lagi?

Dia sendiri juga tak bisa menjelaskannya.

Setelah diam sebentar, dia mencari alasan yang terdengar masuk akal, [Kuota beasiswa pascasarjana belum resmi jatuh ke Chelsea. Sandiwara harus dimainkan sampai tuntas. Kondisi emosi Oria sekarang nggak stabil, kalau dia ribut dan memengaruhi Chelsea, itu bisa merepotkan!]

Jusifan segera membalas, [Mengerti, Kak. Malam ini aku pulang untuk menenangkan dia.]

Malam harinya, Oria kembali ke apartemen dalam keadaan lelah lahir dan batin, lalu cepat-cepat berbaring.

Tak lama kemudian terdengar suara di pintu, Jusifan pulang.

"Oria, kok hari ini tidur cepat?" Dia mendekat, nadanya tetap dengan keakraban santai khasnya.

Oria membelakanginya, suaranya datar. "Nggak apa-apa, capek."

Jusifan menangkap dinginnya nada itu, memeluknya dari belakang dan mulai membujuk seperti biasa, menjelaskan ulang soal tesis dan perkelahian dengan rangkaian alasan palsunya.

Oria mendengarkan dengan mati rasa sambil berpikir: satu bertugas menyakiti, satu bertugas menenangkan, duet kakak-adik ini benar-benar sempurna.

Dia memejamkan mata, tak ingin bicara satu kata pun lagi dengan pria itu.

Melihat gadis itu tidak menanggapi, Jusifan kembali mendekat dan mencium lehernya, tangannya mulai bergerak tidak sopan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 23

    Zerian dan Jusifan berlutut di tanah yang dingin dan basah, menatap pintu yang tertutup rapat itu. Pintu yang tak akan pernah lagi terbuka untuk mereka, seolah seluruh jiwa mereka telah tercabut.Sejak malam itu, Zerian dan Jusifan seperti kehilangan tulang punggung, benar-benar runtuh.Zerian kembali ke Grup Canadi.Dia menjadi jauh lebih pendiam dari sebelumnya, dingin sampai tak tersentuh perasaan manusia.Dia bekerja seperti orang gila, nyaris tinggal di perusahaan, mengisi setiap detik dengan urusan dan rapat tanpa henti, mencoba membius hati yang sudah lama tandus dan mati rasa.Dia berubah menjadi mesin kerja yang sempurna, tindakannya secepat kilat, keputusannya keras tanpa ampun, memperluas wilayah bisnis Keluarga Canadi menjadi makin besar, menumpuk kekayaan makin banyak.Namun di sisinya, tak ada lagi siapa pun. Dia menolak semua perjodohan dan perkenalan, bersikap sedingin es pada setiap wanita yang mencoba mendekat.Dunianya hanya tersisa angka dingin, dokumen, dan permain

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 22

    Zerian dan Jusifan mengerahkan semua cara yang bisa mereka pikirkan.Tekanan kekuasaan, godaan materi, permohonan yang merendah, keterikatan yang gila, bahkan sandiwara menyakiti diri sendiri ....Namun semua itu, di hadapan benteng yang Oria bangun dari sikap dingin dan ketidakpedulian, hancur berkeping-keping, hanya menyisakan kekacauan dan keputusasaan yang lebih dalam.Akhirnya mereka pun kehabisan tenaga terakhir mereka, lalu menyadari satu fakta yang tak mau mereka akui ....Mereka benar-benar, untuk selamanya, kehilangan dia.Bukan karena dia kejam, melainkan karena merekalah yang dengan tangan mereka sendiri menghancurkan perasaan samar yang mungkin pernah ada itu, bersama harga diri dan hidupnya di masa lalu.Pada suatu senja yang diguyur gerimis, Zerian memarkir mobilnya di sudut jalan seberang apartemen Oria.Dia tidak turun, hanya menatap melalui kaca mobil yang buram oleh hujan, memandangi jendela yang menyala dengan cahaya hangat itu.Dia menelepon nomor yang sudah lama m

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 21

    Sementara itu, Jusifan justru memilih cara lain yang jauh lebih menyesakkan.Dia tak lagi mengirim hadiah-hadiah mencolok, melainkan mulai memainkan kartu "cinta mendalam".Setiap hari dia muncul tepat waktu di bawah gedung kantor dan apartemen Oria, menenteng kotak bekal yang katanya dibuatnya sendiri, tak peduli hujan maupun panas.Dia tak lagi membuat keributan, hanya diam-diam menatap Oria dengan sorot mata penuh luka dan kasih, seolah Oria adalah perempuan yang mengkhianatinya.Bahkan setelah sekali benar-benar diabaikan Oria, Jusifan menghantam dinding di samping dengan tinjunya, punggung tangannya seketika berdarah dan robek. Dirinya lalu mengangkat tangan yang berdarah itu dan berjalan ke depan mobil wanita itu, lalu bertanya dengan suara serak, "Oria, kalau begini ... bisakah kamu melihatku sekali saja? Satu kali saja ...."Oria duduk di dalam mobil. Melihat kegilaan menyakiti diri demi memperoleh perhatian itu, dirinya hanya merasa mual dan takut seolah isi perutnya teraduk-a

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 20

    Pintu keluar kedatangan internasional dipenuhi arus manusia.Oria mendorong kopernya keluar, mengenakan mantel panjang krem sederhana. Tubuhnya tegap, ekspresinya dingin dan datar.Tiga tahun telah menghapus sisa kepolosannya, menambahkan kedewasaan dan kesejukan yang tenang. Kecantikannya kini makin mengguncang, tetapi dirinya juga makin tak terjangkau.Baru saja dirinya menginjakkan kaki ke tanah air, bahkan belum sempat menghirup udara domestik, dua kelompok orang sudah seperti ikan hiu yang mencium bau darah, dengan cepat mengepung dari dua arah berbeda, memblokirnya di lorong keluar!Di sebelah kiri, dipimpin oleh Zerian.Dia mengenakan setelan jas buatan tangan yang mahal, tubuhnya tinggi ramping, ketampanannya masih sama. Hanya saja, di antara alisnya tertimbun kelelahan yang sulit dihapus dan hasrat berlebihan yang menggelora.Di tangannya ada sebuket besar bunga calla putih yang langka, bahasa bunganya adalah "cinta yang tulus dan penebusan dosa". Dia menatap Oria dengan tatap

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 19

    Saat pertama kali Zerian diarahkan semprotan itu, seluruh tubuhnya segera membeku, di matanya terpancar luka dan keterpurukan yang tak bisa dipercaya.Jusifan justru menjadi lebih ekstrem dan emosional.Ada kalanya dirinya merendahkan diri memohon, menangis tersedu-sedu sambil meminta maaf, menampar wajahnya sendiri, menceritakan betapa dirinya menyesal, betapa tulus dia mencintai Oria.Terkadang dia kehilangan kendali karena sikap dingin Oria, membuat pria itu mengamuk sambil menghancurkan barang-barang. Bahkan ketika Oria berinteraksi normal dengan teman sekelas, dia menerjang keluar dan menarik gadis itu pergi secara paksa, memicu kepanikan dan laporan polisi.Dia bahkan memanfaatkan kekuatan Keluarga Canadi untuk menekan pihak kampus Oria, menekan pemilik apartemennya, mencoba memutus seluruh jalur sosial dan sumber ekonominya, demi memaksa Oria berkompromi.Kedua saudara itu saling menganggap satu sama lain sebagai penghalang terbesar.Zerian menugaskan orang untuk memantau Jusifa

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 18

    Setelah menyelesaikan urusan putus hubungan dengan Chelsea, Zerian segera kembali ke perusahaan. Dengan kecepatan tercepat dirinya mengatur semua urusan darurat, lalu memerintahkan asistennya, "Segera pesan tiket penerbangan paling dekat ke Laruna! Semua jadwal ditunda!"Saat ini hanya ada satu pemikiran di benaknya yang bergejolak dan mendesak: menemukan Oria! Sekarang juga! Saat ini juga!Dia tidak bisa mentolerir Jusifan mengintai di sisi Oria, apalagi menerima kemungkinan kehilangan diri wanita itu sepenuhnya!Selama belasan jam penerbangan, Zerian sama sekali tak bisa tidur. Di benaknya terus berulang berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi, sementara kegelisahan dan harapan asing yang nyaris berubah menjadi kepanikan membakar sarafnya.Begitu pesawat mendarat, dia bahkan tidak pergi ke hotel. Berdasarkan alamat yang sudah diselidiki anak buahnya, Zerian segera menyuruh sopir menuju apartemen Oria.Saat senja, matahari terbenam melapisi jalanan Kota Laruna dengan warna emas hang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status