LOGINBella’s life took devastating turns after her father’s death. Bounded by a contract she never signed, she marries Lucas, the son of her father’s business partner, in hopes of fulfilling her father’s dying wish for her to have a better life. But the man she marries is far from the saviour she expected. Finding out an unexpected truth after a year of marriage, she left the marriage, knowing fully well she was carrying a baby no one knew about. Her father's wish for her to get a stable life through the marriage crumbles. Some years later, she returns not as a shattered woman but as a strong, independent woman. Ready to face any storm ahead of her. She found love again in an unexpected place. Will her past jeopardise her chance of happiness, or will she strive through all odds?
View MoreRumah keluarga Draxen selalu tampak megah dari luar.
Tetapi malam itu, bagi Alexa, rumah itu lebih terasa seperti pengadilan. Lampu-lampu besar di bagian teras sangat menyilaukan, dingin dan angkuh. Alexa memasuki halaman, keadaannya tampak menyedihkan. Rambutnya kusut, riasannya luntur karena hujan dan gaunnya basah yang dinginnya menusuk sampai ke tulang. Tangannya yang gemetar berusaha menekan bel, hingga pintu yang terbuka menampakkan sosok ibu tirinya yang bermulut pedas. Meriam Barvish, hanya butuh satu detik untuk menilai penampilan Alexa sebelum bibir merahnya melengkung sinis. “Ya ampun, Alexa! Kau terlihat seperti gelandangan.” Alexa menelan ludah, perkataan seperti itu sudah biasa di telinganya. “Aku… aku harus bicara dengan ayah. Dimana ayah?” ucapnya, gemetar karena dingin. “Ayahmu?” Meriam mendengkus. “Ayahmu sedang makan malam dengan orang penting. Lagi pula dia tak akan mau melihatmu dengan keadaan seperti ini.” lanjutnya, ia melipat tangan di depan dada. “Aku perlu bicara dengannya, sekarang!” Alexa terus memohon, hingga suara ayahnya tiba-tiba muncul dari ruang makan. “Meriam, siapa yang–” Langkahnya terhenti ketika melihat Alexa, mata pria paruh baya itu menggelap. Frederick Draxen, mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras. “Alexa! Apa lagi ini? Kerusuhan apa lagi yang kau buat?” Frederick berteriak, tapi suaranya sedikit tertahan. Mungkin karena tak ingin sampai terdengar tamu penting di dalam. “Ayah… Henry mengkhianatiku. Dia berselingkuh dengan Valery, sahabatku sendiri.” “Astaga, Alexa! Kau mengganggu makan malamku hanya untuk mengadukan drama murahanmu itu?” Alexa terhenyak, ia merasa napasnya berhenti di tenggorokan. “Aku tidak berbohong, ayah!” “Kau ‘kan memang selalu begitu,” sahut Meriam cepat. “Membesar-besarkan, playing victim. Tidak heran jika Henry tak tahan lagi denganmu.” Alexa menatap ibu tirinya dengan tak percaya, “Aku diselingkuhi! Dia mengkhianatiku!” Meriam terkekeh, mendelik sinis pada Alexa. “Lalu? Apa itu mengejutkan? Kau terlalu polos dan membosankan, penampilanmu bahkan seperti anak-anak. Henry itu pria dewasa, dia butuh perempuan yang juga sepadan.” Alexa merasa frustasi, ia ingin berteriak tapi suaranya tercekat. Sementara ayahnya hanya diam, bahkan ketika anak kandungnya sendiri dicaci seperti ini. “Apanya yang sepadan? Apa ketika mereka pergi ke hotel bersama dan melakukan hal yang memalukan?” suara Alexa terdengar gemetar. “KAU YANG MEMALUKAN, ALEXA! Menyusup ke hotel tunanganmu, membuat keributan, lalu pulang membawa masalah ke rumah.” bentak Frederick, rasa geram terdengar dari nada suaranya. “Aku tidak menyusup, ayah!” Alexa mendekat, mencari sedikit saja kehangatan dari lelaki yang ia panggil ayah. “Aku datang kesana karena Henry bilang ingin membicarakan sesuatu tentang pertunangan kita,” lirihnya. “Dan kau percaya begitu saja?” Meriam mencibir. “Ayah, aku butuh tempat untuk–” “Bukan urusanku!” kalimat itu adalah palu terakhir yang menghancurkan hati Alexa. Sementara Meriam si ibu tiri tersenyum dengan puas. “Mulai malam ini, tak usah tidur di rumah ini. Kami tidak butuh anak yang membawa aib dan tak tahu diri!” “Ya, pergi saja. Pergilah pada Henry,” tambah suara lain. Grace Riley Draxen, adik tirinya, muncul dari tangga dengan raut wajah yang sengaja dibuat sedih. “Oh, aku lupa. Dia sudah bersama wanita yang lebih baik dan lebih layak darimu.” “Grace!” Alexa mematung “Bagaimana bisa kalian–” “CUKUP!” bentak Frederick, suaranya menggema keras, membuat Alexa refleks mundur. “Aku tidak ingin mendengar apapun lagi! Kau sudah dewasa, jadi urus saja urusanmu sendiri. Ingat, jangan kembali sebelum kau bisa membawa nama baik keluarga.” tegasnya, lalu pergi tanpa peduli lagi pada putrinya. Meriam membuka pintu lebih lebar, senyumnya mengembang tapi dingin. “Silahkan keluar!” titahnya. Alexa menatap wajah mereka satu-persatu, tidak ada satu orang pun yang menunjukkan rasa simpati. Dan Alexa akan mengingat malam ini, akan mengingat penghinaan ini dan akan mengingat ayahnya yang sama sekali tidak peduli. Ia kemudian melangkah keluar tanpa suara, pintu ditutup keras di belakangnya. Suara itu seolah menutup satu babak hidupnya. Sementara hujan semakin deras, angin semakin dingin. Alexa berjalan tanpa arah, hanya ditemani isak tangis yang tertahan-tahan. Lampu-lampu jalan memantulkan bayangan dirinya yang terlihat begitu rapuh. Ketika sampai di halte bus, tubuhnya sudah sangat gemetar. Ia duduk di bangku besi yang dingin, menyandarkan tubuhnya pada tiang, menekuk lututnya ke depan dada. Tidak ada bus yang lewat malam itu, bahkan tidak ada kendaraan lain. Nyaris tak ada suara selain gemerincik hujan dan jeritan hatinya yang rapuh. Ia menatap ke arah jalanan yang kosong, lamunannya melayang jauh ke hotel tadi sore. Pintu kamar hotel itu masih terbayang jelas, lampu redup, aroma wine, dan suara itu. Suara rengehan. “Pelan-pelan, Henry…” Alexa nyaris muntah mengingatnya. Ia mematung tadi, berdiri di depan pintu dengan tangan gemetar. Sementara tunangannya, yang katanya “akan melindunginya selamanya” justru sedang menghancurkan hatinya di atas ranjang hotel bersama Valery. Dan Valery Boutier, sahabatnya sejak SMA. Orang yang ia bela mati-matian saat semua orang Valery tidak bisa dipercaya. Mereka bahkan tidak merasa bersalah, tidak juga menutupi perbuatan mereka. Seolah mereka menganggap Alexa tidak ada, seolah cintanya tidak pernah ada. Alexa langaung berlari, meskipun hujan membasahi tubuhnya. Dan ketika sampai di rumah, ia justru mendapat cacian dan penolakan dari keluarganya. Dari ayahnya. Ayah kandungnya sendiri. Semua orang meninggalkannya, semua orang yang seharusnya bisa ia percaya. “Kau tidak punya siapa-siapa,” gumamnya lirih, pada dirinya sendiri. Dan fakta itu yang membuat hatinya nyeri seperti disayat pisau tajam. Untuk pertama kalinya, Alexa benar-benar merasa sendirian di dunia. Ia memeluk dirinya erat-erat, tangannya terasa kaku dan matanya perih. Kenapa hidupnya menjadi seperti ini? Dosa siapa yang ia tanggung? Apa ia terlalu lemah? Terlalu percaya? Atau terlalu bodoh? Hatinya menjerit pilu, tetapi tak ada ruang untuk melepaskan semua itu. Dunia terasa menyempit, sesak. “Kenapa aku dilahirkan ke dunia, jika semua orang di dunia menolakku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya yang getir, tergerus di antara tangis dan hujan. Tapi tak ada jawaban, tak ada siapapun. Hanya sunyi yang menyapa bersama angin yang terasa menusuk kulit. Satu jam berlalu, atau mungkin dua, Alexa tak tahu. Ia hanya bangkit, ketika tubuhnya sudah telalu kaku untuk duduk. Kakinya melangkah sendiri, membawa dirinya menjauh dari perumahan, menjauh dari kota, menjauh dari ingatan semua orang. Langkahnya berhenti di sebuah jempatan di pinggir kota. Jembatan yang jarang dilalui mobil di malam hari. Laut di bawahnya sedang mengamuk, memantulkan cahaya lampu kuning yang berkelip samar. Alexa naik ke beton pembatas jembatan, ia berdiri dengan rambut yang basah. Matanya sembab dan tatapannya kosong. Sementara di bawah sana, bentulan gelombang laut menghantam tiang jembatan seolah memanggil-manggilnya. Hanya satu langkah lagi. Satu gerakan kecil saja, dan semua rasa sakit ini akan menghilang. Tak ada Henry Tak ada ayah Tak ada pengkhianatan Tak ada rasa yang tidak cukup Untuk pertama kalinya di malam itu, Alexa sesuatu yang mirip ketenangan. Ia menutup matanya, membiarkan angin membelai tubuhnya. Napasnya terdengar berat dan panjang. “Jika dunia tidak menginginkanku…” suaranya pecah “...mungkin lebih baik aku pergi.” Alexa melangkah pelan, deburan laut terdengar semakin jelas. Satu detik. Dua detik. Tubuhnya semakin condong ke depan. Gelap. Bersambung...Lucas’s POV.I still can’t fully explain why Bella has such an effect on me. Every time I look at her, my heart skips a beat, and I feel like I’ve found the missing piece of me. She’s everything I’ve ever needed, everything I never knew I was looking for, and every time our eyes meet, it’s like I can see the future we could have together. But sadly, fate seems to have other plans. For the past three years, I’ve been living a life full of regrets, and I couldn’t move on from the thought of Bella. I’d stayed away from other women because I knew deep down that no one could compare to her. Her memory was enough to keep me in check, to keep me grounded. But today, here I am, standing in the same place with her at my son’s school.My mind kept spinning, torn between wanting to be with her and questioning if it was too soon to ask for more. Part of me wanted to ask her to move in with me, to finally close the distance between us. But I knew better. She wasn’t ready for that. She wouldn’t say
Bella’s POV.The air was filled with excitement, and I couldn’t help but notice how some of the students and pupils had taken out their phones to record the event. It was hard not to feel the weight of their gazes as they filmed the lineup of cars. It seemed like everyone in the school had gathered to witness what was about to unfold.Lucas’s car was the first to arrive, and his escort stepped out, looking every bit as polished and composed as I expected. After a moment, they gave us the signal. It was our turn to step out. My heart raced as I looked at Henry, sitting beside me in the car. I could feel his nervous energy, his gaze fixed on the world outside the window.“Are you alright?” I asked softly, trying to calm his nerves. My voice was low and steady, but I could tell that Henry was still uneasy.“I’m alright, Mum,” he replied, but his voice trembled just slightly. “I’m just nervous. There are so many people outside!”“You don’t have to be nervous. You’ve got this,” I reassured
Bella’s POVIf there’s one thing I knew about Lucas, it was that he loved to make an entrance. He thrived on the extravagant, the dramatic. And as I watched him interacting with our son Henry, it seemed that Henry was beginning to follow in his father’s footsteps. I couldn’t help but smile when I thought about it. When Henry was younger, I was the only parent who attended all of his school events. But today, with Lucas in town, things were different. I had been living a relatively low-key life since moving to Chicago. My son’s school had always viewed us as just another average family. No one really knew the truth about us, not even his teachers. Except for Jane, no one knew that I was a billionaire. I had always worked hard to keep a low profile, wanting to shield my family from the constant attention that would come with the truth.But now, with Lucas following Henry to school, my cover was about to be blown wide open. In all honesty, I wasn’t sure if I was ready for it. Yet, there
Bella’s POVHenry had been talking non-stop about ‘Bring Your Father to School Day,’ and now that Lucas had resurfaced, it was like the perfect timing. I knew Henry had been a little down about it, not wanting to show it too much, but now that Lucas was back in the picture, he couldn’t stop gushing. Henry had become somewhat of a mini version of Lucas, always on the phone with him, discussing everything from his homework to his favorite video games. It was almost surreal to watch, and I couldn’t help but admire the connection they had. Lucas would be on video calls with Henry, helping him with his assignments while Jason hovered around, getting in on the action too.“Henry doesn’t even have time for me anymore,” Jane said with a sigh as she laid down the last dish in the kitchen. I was right beside her, but as usual, she wouldn’t let me do anything. She always insisted on taking care of everything herself.“I know, right?” I said with a soft chuckle, watching Jane put away the last of
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.