INICIAR SESIÓNDi sisi lain, Monata masih tetap menaruh dendam terhadap Mirna bahkan meski dalam benaknya Mirna sudah tidak hidup lagi, Monata masih terus membencinya. Pada saat ini Monata hanya tahu kalau Erlangga sekarang sudah menjadi pria gila yang tidak waras lagi. Seperti yang dilihatnya terakhir kali, Erlangga hampir membunuhnya dan pasti akan membunuhnya jika Erlangga menemukan dirinya.
Monata awalnya merasa cemas dan dia juga takut pulang ke rumah pribadinya. Tapi beberapa kali perusahaaSetelah beberapa bulan tinggal di luar negeri, Mirna dan Erlangga memutuskan untuk pulang. Mirna melakukan pemeriksaan dan dia telah hamil beberapa bulan berjalan semenjak keguguran waktu itu. Erlangga sangat bahagia, dan dia tidak ingin kehilangan lagi. Dia menjaga Mirna dengan lebih baik dari sebelumnya dan tidak melibatkan Mirna ketika mengikuti acara-acara di luar kota. Setelah Mirna pulang selama beberapa bulan lamanya, Fardan ingin bertemu dengan Mirna, Fardan merasa sangat rindu sekali. Fardan mengunjungi Mirna di kediaman pribadi Mirna. Saat tiba di sana, ternyata Erlangga menugaskan beberapa orang untuk menjaga Mirna. Saat baru sampai di depan pintu gerbang, mobil Fardan ditahan dan tidak diberikan izin untuk masuk ke dalam. “Maaf, tanpa persetujuan Presdir, Anda tidak bisa masuk!” Penjaga pintu menatap Fardan dengan tatapan garang. Fardan segera turun dari dalam mobil dan memarkirnya di luar gerbang tepi jalan. “Aku kepon
Leher Anyu tiba-tiba bergerak secara otomatis ke posisinya semula, dia melakukannya hanya untuk menghindar dari tatapan mata Erlangga. Melihat kakeknya masih asyik mengobrol dengan Mirna, Anyu segera menarik lengannya. “Kakek, di sini adalah tempat para Nona dan Nyonya berkumpul. Sepertinya kita akan salah jalur jika terus berdiri di sini!” ujarnya sambil menarik lengan Wusan pergi dari tempat itu menuju ke arah pebisnis pria di depan sana. Ketika Wusan dan Anyu berjalan pergi, tatapan Mirna dan Erlangga bertemu. Atmosfer dari kedua mata itu seolah-olah terhubung satu sama lain. Mirna menatap Erlangga dengan sedikit terkejut pada awalnya tapi setelah beberapa saat berlalu dia mengerti kenapa Moreno memberikan undangan tersebut padanya hari ini. Jika dilihat dengan lebih cermat lagi semua wanita yang berkumpul di dalam gedung sebelah kanan itu adalah Nyonya dari para pebisnis di sebelah kiri. Dan semua orang yang hadir adalah orang-orang terhormat.
Hal itu terbukti ketika Anyu datang bersama Wusan, mereka berangkat bersama dan turun dari dalam mobil bersama-sama. Ketika tiba di dalam ruangan, begitu melihat Mirna sedang berdiri di antara para tamu Anyu tidak bisa menahan diri untuk tidak menyapanya. “Nona!” sapanya. Sebaliknya, Mirna malah terkejut dan tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya sendiri. Mirna merasakan firasat yang tidak begitu baik karena Anyu menyapanya seolah keduanya adalah teman dekat. Semua wanita yang hadir melihatnya dengan takjub. Wusan di samping Anyu bisa melihat kedua mata cucunya, dia merasa Anyu tertarik dengan wanita yang ditemuinya tapi wanita terhormat dan cantik itu tidak menanggapinya. Jika terus begini maka Anyu bisa dipermalukan dan dianggap telah ditolak! Wusan tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada cucunya, jadi dia segera bertanya pada Mirna. “Nona Muda? Anda dari keluarga mana?” Mirna menelan ludahny
Malam itu Mirna kembali dihukum Erlangga dan tidak bisa turun dari atas ranjang sampai pada keesokan paginya. Pada pagi hari Erlangga kembali sibuk dengan segudang jadwal di luar. Semalam Erlangga tidak sibuk dan hanya menghabiskan waktunya untuk menemani Mirna di atas kasur. Mirna dibuatnya terus mendesah sampai menggelepar karena kelelahan. Erlangga sangat puas melihat Mirna menikmati setiap sentuhannya. Setelah sarapan pagi bersama dengan Mirna Erlangga memberikan kecupan pada kening Mirna lalu berpamitan dan dia berjanji tidak akan pulang terlalu larut. Mirna sebenarnya juga memiliki jadwal untuk pergi tapi dia tidak ingat untuk mengatakannya pada Erlangga, lagi pula sudah ada sopir yang ditugaskan untuk mengantarkannya jika ada keperluan mendesak. Erlangga sudah pergi, Mirna segera berganti baju dengan gaun yang sangat cantik. Mirna tidak pernah ikut dalam acara seperti itu. Sebelumnya Moreno me
Anyu hanya menghela napas lalu mengambil gelas dan meneguk anggurnya. Wusan melihat reaksi cucunya tidak terlihat bahagia sebagaimana mestinya. Wusan tahu ada ganjalan besar di hati Anyu, jika tidak maka wajah tampan cucunya tidak akan memiliki ekspresi seperti sekarang. “Anyu, Kakek sudah sangat bangga dan senang padamu, kamu tidak perlu mengusahakan proyek ini jika kamu merasa tertekan.” Ujarnya kemudian. Wusan hendak berdiri dari kursinya dan pergi, Anyu tentu saja tidak tega melihat Wusan sedih dan merasa kecewa padanya. Meski Anyu tahu Wusan sangat licik dan semuanya yang ditunjukkan di depannya terkadang hanya sandiwara semata. Masalah Wusan benar-benar tulus terhadapnya atau hanya berpura-pura saja dia tidak lagi memedulikannya. Walau bagaimana pun dia memang cucu sah Wusan dan harus meneruskan perjuangan Jimi. Memenuhi tugas-tugasnya sebagai penerus keluarga An. Anyu langsung berdiri dan dengan suara lantang dia segera berkata pada
Saat tiba di kediaman Wusan, Anyu segera masuk ke dalam rumah dan pria itu hanya meletakkan berkas yang diberikan Mohan di meja lalu pergi mandi. Asisten Wusan yang ditugaskan untuk membantu Anyu di sisinya melihat Anyu meletakkan berkas itu di meja segera memeriksanya lalu memberikan pada Wusan.“Tuan besar, ini berkas yang dibawa Tuan muda sore ini.”Wusan membetulkan kacamatanya lalu menerima berkas tersebut dan mulai memeriksanya. Dia melihat kontrak sudah disetujui, dia sangat senang dan tertawa dengan perasaan bangga.“Dia memang cucuku yang unggul! Hahahaha! Dia mewarisi semuanya milik Jimi!” “Ya, Tuan muda berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan Tuan Erlangga hal ini patut untuk dirayakan.”“Ya, panggil Anyu untuk makan malam bersamaku!”“Baik, Tuan besar.”***Di kediamannya, Anyu baru saja mandi. Asisten pribadi Wusan datang dan masuk ke dalam kediamannya.Anyu sedang berdiri di ruang santai, pria itu masih memakai baju mand
Setelah meletakkan ponsel Mirna, Fardan melihat meja di kamar Mirna berantakan jadi dia segera merapikannya. Beberapa baju Mirna juga diletakkan sembarangan di kasur, Fardan mengambil baju-baju tersebut lalu dia masukkan ke dalam keranjang tempat menaruh pakaian kotor. Mirna baru saja selesa
Mohan mengiyakannya dari seberang sana, setelah itu Mirna menutup panggilan. Mirna menoleh ke samping, tangan kirinya dalam genggaman Erlangga dan Erlangga memeluk tangannya dengan sangat erat. Mirna duduk di samping sambil berusaha menariknya dari genggaman Erlangga tapi Erlangga teta
Perasaan di dalam hati yang sebelum perceraian dirasanya baik-baik saja, Erlangga selalu berkata dalam hati bahwa perceraian antara dirinya dengan Mirna tidak seharusnya terjadi. Sebanyak apa pun orang berusaha menjauhkannya dengan pernikahan atau sesuatu yang lain namun dalam hatinya tetap sama.
Erlangga masih memeluk tubuh Mirna dengan sangat erat. Mirna sudah kehabisan kata-kata dan hanya terdiam dalam pelukan Erlangga. Tidak lama kemudian terdengar suara derap langkah memasuki ruangan, tatapan mata keduanya langsung tertuju ke arah pintu. Mirna melihat Monata masuk ke dalam ruangan de







