PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU

PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU

last updateHuling Na-update : 2026-06-12
By:  Kirrun kiyyun In-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
15Mga Kabanata
6views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Jasmine perempuan yang suka kebebasan, ia menikah dengan seorang duda tampan dan kaya raya bernama Zen, akan tetapi pernikahannya terasa hambar, karena Zen selalu sibuk dengan pekerjaan, suaminya juga sulit punya anak. Karena itulah, Jasmine membayar seorang pemuda tampan yang sedang butuh uang, untuk menjadi pemuas nafsu dan juga menemaninya saat bersenang-senang, semua itu Jasmine lakukan secara diam-diam. Hingga pada akhirnya sebuah kenyataan terungkap, membawa mereka pada takdir yang berbeda.

view more

Kabanata 1

1. Tawaran yang merubah segalanya

Jasmine duduk sendirian di sudut ruangan sambil menatap gelas di tangannya. Cairan berwarna keemasan di dalamnya sudah hampir habis, tetapi ia masih belum berniat pulang. Sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.

Ia baru saja meninggalkan pesta perusahaan suaminya, Zen. Di mata banyak orang, Zen adalah pria sempurna—kaya, tampan, sukses, dan berasal dari keluarga terpandang. Banyak wanita iri pada kehidupan yang dimiliki Jasmine, tetapi mereka tidak pernah tahu bagaimana kenyataannya. Zen selalu sibuk. Pekerjaan lebih penting daripada keluarga. Bahkan ketika mereka berada di ruangan yang sama, rasanya seperti ada jarak yang tak terlihat di antara mereka. Tak ada perhatian, tak ada percakapan hangat, tak ada pelukan yang membuatnya merasa dicintai. Rumah megah yang mereka tinggali terasa lebih seperti hotel mewah daripada tempat pulang.

"Suamimu tidak datang lagi?" tanya salah satu temannya sebelum meninggalkan pesta tadi.

Jasmine hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia sudah terlalu lelah menjelaskan.

Belum lagi tekanan dari keluarga suaminya yang terus menuntut keturunan. Setiap kali ada acara keluarga, pertanyaan yang sama selalu muncul. Kapan punya anak? Apa ada masalah? Kenapa belum hamil? Yang lebih menyakitkan, mereka selalu menyalahkannya, padahal hasil pemeriksaan dokter sudah jelas menunjukkan bahwa masalah itu bukan berasal darinya. Namun tidak ada yang peduli pada fakta. Mereka hanya membutuhkan seseorang untuk disalahkan, dan orang itu adalah dirinya.

Sesak memenuhi dadanya. Karena itulah ia memilih bertahan di kafe dua puluh empat jam itu daripada kembali ke rumah yang terasa dingin dan kosong.

Saat hendak berdiri, kepalanya mendadak berputar. Pandangannya mengabur.

Bruk!

Tubuhnya hampir jatuh, tetapi seseorang dengan cepat menangkapnya.

"Hati-hati."

Suara itu rendah dan tenang.

Jasmine mengangkat wajah perlahan. Seorang pemuda berdiri di hadapannya. Jaket hitam yang dikenakannya sedikit basah oleh hujan. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata tajam yang sulit diabaikan. Untuk sesaat, Jasmine hanya menatapnya.

"Aku tidak apa-apa," gumamnya.

"Kau mabuk."

"Mungkin."

Pemuda itu membantu mengambil tas yang terjatuh di lantai lalu menyerahkannya.

"Rumahmu di mana? Aku bisa memesankan taksi."

Jasmine menerima tasnya dan menatap pria itu beberapa saat.

"Apa kau selalu menolong orang asing?"

Pria itu tersenyum tipis.

"Hanya yang terlihat membutuhkan bantuan."

Jawaban sederhana itu membuat hati Jasmine terasa hangat. Sudah lama tidak ada seseorang yang memperhatikannya tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasan.

"Aku Raiden," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan.

"Jasmine."

Mereka berjabat tangan singkat. Tak lama kemudian, Raiden membantu mengantarnya keluar menuju mobil. Hujan masih turun deras dan udara malam terasa dingin. Namun ketika pintu mobil dibuka, Jasmine justru menahan lengan Raiden.

"Jangan antar aku pulang."

Raiden menatapnya bingung.

"Lalu?"

Jasmine menundukkan pandangan sesaat sebelum menjawab.

"Aku belum ingin kembali ke sana."

Ada kesedihan yang begitu jelas dalam suaranya.

Raiden terdiam beberapa saat.

"Kalau begitu, kau ingin ke mana?"

"Antar aku ke hotel."

"Kau yakin?"

Jasmine tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih pahit daripada bahagia.

"Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah."

Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar di antara mereka. Akhirnya Raiden mengangguk.

"Baik."

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Jasmine menyandarkan kepala ke jendela sambil memandangi lampu-lampu kota yang berlalu seperti bayangan samar. Pikirannya melayang jauh. Ia teringat malam-malam panjang yang dihabiskan sendirian, meja makan besar yang hampir selalu kosong, dan bagaimana Zen sering pulang larut malam tanpa sempat bertukar lebih dari beberapa kalimat dengannya. Pernikahan mereka masih utuh di atas kertas, namun hatinya sudah lama merasa sendirian.

"Kenapa kau mau menolongku?" tanyanya pelan.

Raiden tetap fokus pada jalan di depan.

"Mungkin karena aku tidak suka melihat orang sendirian dalam keadaan seperti ini."

Jasmine tersenyum tipis. Jawaban itu terdengar tulus, tidak dibuat-buat dan tidak penuh kepentingan.

"Kalau begitu..." Ia menarik nafas pelan. "Malam ini temani aku."

Tangan Raiden yang memegang setir sedikit menegang. Namun ia tidak menjawab.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah. Lampu-lampu bangunan tinggi itu memantulkan cahaya ke jalanan yang basah oleh hujan.

Begitu turun dari mobil, langkah Jasmine kembali goyah.

"Pelan."

Refleks Raiden menahan tubuhnya.

Jasmine menatap wajah pria itu dari jarak dekat. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar diperhatikan.

"Aneh ya?" gumamnya.

"Hm?"

"Aku baru mengenalmu, tapi rasanya lebih nyaman dibanding berada di rumahku sendiri."

Raiden tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya membantu Jasmine masuk ke dalam hotel dan mengantarnya menuju kamar.

Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan hujan dari luar jendela yang terdengar samar. Raiden mengambil sebotol air mineral lalu menuangkannya ke dalam gelas.

"Minumlah dulu."

Jasmine menerima gelas itu.

"Terima kasih."

Setelah memastikan wanita itu duduk dengan baik di tepi ranjang, Raiden melangkah mundur.

"Aku pergi dulu."

"Tunggu."

Jasmine tiba-tiba menarik tangannya. Gerakan itu membuat jarak mereka seketika menjadi sangat dekat.

Raiden langsung mundur beberapa langkah.

"Maaf," katanya cepat. "Aku bukan pria yang kau pikirkan."

Tatapan Jasmine tidak bergeser sedikit pun.

"Tapi kau berbeda, Raiden."

Nada suaranya tidak terdengar menggoda. Terdengar rapuh, seperti seseorang yang terlalu lama memendam kesepian.

"Aku tidak bisa."

Raiden berusaha menjaga jarak. Namun Jasmine hanya tersenyum pahit.

“Aku akan membayarmu.”

Raiden membeku.

“Berapa yang kau minta?” lanjut Jasmine pelan.

“Asal kau mau melayaniku.."

Ruangan itu mendadak terasa sesak. Raiden tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Takdir macam apa ini?

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
15 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status