LOGIN21++⚠️⚠️ Bukan bacaan di bawah umur!Pertunangan Mirna dengan Erlangga berjalan dengan lancar. Erlangga adalah putra dari keluarga kaya raya, dia memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Awalnya Erlangga sengaja mengacaukan saham di perusahaan Mirna dengan begitu Mirna tidak akan memiliki pilihan lain kecuali menuruti keinginan Erlangga. Semenjak menjadi tunangan Erlangga, perusahaan Mirna juga berjalan dengan lancar seperti biasa. Selang lima tahun kemudian, Erlangga yang awalnya Mirna kira hanya bermain-main saja dengannya malah memutuskan untuk menikah dengan Mirna. Sebelumnya Erlangga juga sudah bilang kalau pertunangan mereka bisa dibatalkan kapan saja mengingat Erlangga sudah memiliki wanita lain yang diinginkan. Mirna juga sudah setuju mereka sebelumnya sudah sepakat tidak akan terlibat dalam kehidupan pribadi masing-masing kecuali menyangkut urusan pekerjaan. Keputusan Erlangga untuk berlanjut ke jenjang pernikahan tentu saja membuat Mirna terkejut karena Erlangga dan Mirna sebelumnya sama sekali tidak pernah terlibat hubungan asmara. Mereka hanya rekan bisnis, pertunangan yang mereka lakukan juga karena keterikatan kerja semata bukan karena cinta. Mirna tidak yakin, mereka awalnya hanya teman dekat dan rekan kerja antar perusahaan semata. Menurut Mirna tidak mungkin Erlangga sungguh-sungguh jatuh cinta padanya. “Apakah Erlangga sedang memainkan kartu baru? Tapi kenapa? Pernikahan? Sesuatu yang sangat sakral bagiku bahkan dijadikan kartu baru oleh Erlangga dan dimainkan sesuka hati olehnya. Apakah dia sungguh sudah bosan dengan mainannya yang lain?”
View More"Namaku Fardan, semenjak kedua orangtuaku meninggal dalam kebakaran, aku yang masih berusia sembilan belas tahun tinggal bersama adik tiri Mamaku, namanya Mirna. Tante Mirna dan aku berselisih usia sepuluh tahun. Selama ini aku selalu mencurigainya, semenjak Papa dan Mama meninggal ternyata aset yang ditinggalkan oleh mendiang Papa dan Mama malah tertulis nama Tante Mirna. Aku sangat dendam dan marah, aku pikir Tante Mirna lah yang sudah mencelakai Papa dan Mama demi mengambil harta yang dimiliki oleh keluargaku. Pertama kali menginjakkan kaki di rumah Tante Mirna, pelayan di rumah Tante Mirna menyambutku dengan hangat.”
“Mereka sudah menyiapkan kamar untukku di ruangan utama dengan ukuran cukup besar, perlengkapan juga sudah disiapkan, meja belajar dan semua yang aku butuhkan. Tante Mirna memperlakukan diriku dengan sangat baik bahkan sangat peduli dan menyayangiku." Tiga bulan kemudian. Pada suatu pagi .... Fardan masih terlelap di dalam kamar. Mirna turun dari lantai atas, wanita itu melihat hidangan di meja makan sudah disiapkan. Mata Mirna melirik ke arah jam di dinding ruang makan. Waktu masih belum menunjukkan pukul setengah enam pagi. Mirna kembali naik ke lantai atas menuju kamarnya, suara langkah kakinya yang sedikit tergesa-gesa membuat Fardan mendengar telapak kaki telanjangnya memukul anak tangga menuju ke lantai atas. Fardan membuka selimutnya kemudian keluar dari kamar ruangan utama menuju ke lantai atas. Langkah Fardan begitu pelan, dalam hati Fardan muncul banyak pertanyaan. Pikirnya terjadi sesuatu sampai Mirna berlari dengan tergesa-gesa. Apa yang membuat Tante Mirna begitu tergesa-gesa? Padahal masih sepagi ini? Fardan terus berjalan hingga sampai di pintu kamar Mirna. Saat menyentuh gagang pintu kamar, Fardan mendengar suara yang tidak biasa. Fardan sudah menginjak usia orang dewasa, meski tidak melihat apa yang terjadi di balik pintu dari suara desahan nikmat dari bibir Mirna yang dia dengar membuat Fardan tahu bahwa Mirna di balik pintu mungkin sedang melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria. "Kenapa Tante Mirna melakukan hubungan badan tanpa menikah terlebih dahulu? Padahal Tante Mirna wanita yang berprestasi dan bisa mendapatkan pria yang diinginkan?" Fardan bertanya pada dirinya sendiri. Saat mendengar suara pekikan dan suara aneh seperti benda basah yang dimainkan entah didorong dengan begitu keras, Fardan hanya mendengar desahan Mirna, Fardan mulai mengernyitkan keningnya. Dia tahu Mirna hanya seorang diri di dalam kamarnya. Tidak ada suara pria hanya ada suara Tante Mirna! Tubuh Fardan gemetar, namun rasa ingin tahu di dalam kepalanya tidak bisa dia tahan. Fardan terpaksa mengintipnya. Saat melihat ke dalam kamar Mirna, Fardan mendapati Mirna dengan sehelai gaun tidur berbahan sangat tipis sudah berantakan. Fardan bisa melihatnya dengan jelas, tubuh Mirna menggeliat sambil mengerjap nikmat, bibir ranumnya terus mendesah-desah dan bergumam tidak jelas. Penampilannya membuat suhu tubuh Fardan menjadi panas dingin, tidak lama setelah itu tubuh Mirna menggelepar di atas ranjang. Fardan menelan ludahnya sendiri lalu menatap sesuatu di tubuhnya sendiri yang ikut menegang di balik piyamanya. Bagaimana mungkin? Aku ikut bergairah saat melihat Tante Mirna melakukan itu? Sialan! Fardan mengumpat di dalam hati, dia sendiri tidak mampu menahannya. Fardan terus membayangkannya sampai tubuhnya tidak terkendali, dia lupa di mana dia berada, semuanya berakhir lalu dia pergi dari depan pintu kamar Mirna dan kembali ke lantai bawah untuk mandi. *** Satu jam kemudian, Mirna sudah mandi dan mengenakan pakaian rapi. Saat keluar dari pintu kamarnya, Mirna melihat cairan lengket di lantai luar pintu kamarnya. Mirna menutup bibirnya sendiri dengan telapak tangan kanannya. Di kediamannya itu hanya ada satu pria, sisanya hanya pelayan wanita yang bekerja mengurus dapur juga membersihkan rumah. Tukang kebun juga tidak datang setiap hari kecuali hari Minggu. "Fardan? Apa jangan-jangan dia melihatku ketika aku melakukannya?!" Wajah Mirna langsung memucat. Mirna yang selama ini selalu terlihat sempurna dan baik perilakunya ternyata diam-diam memiliki gairah yang berada di atas rata-rata! Mirna berniat menjelaskannya pada Fardan, tapi dia tidak akan mengatakannya sekarang. Ketika sarapan di ruang makan, Mirna dan Fardan duduk bersebelahan seperti biasa. Fardan juga sudah siap dengan seragam sekolah. Mirna beberapa kali melihat ekspresi wajah Fardan, dia cemas jika Fardan tiba-tiba bertanya tentang peristiwa memalukan yang Mirna lakukan di dalam kamar pagi ini. Untungnya Fardan tidak mengatakan apa-apa dan hanya duduk tenang menikmati sarapannya. "Makanlah yang banyak Fa, kamu pulang siang hari ini." Ujarnya pada Fardan. "Tante juga, Tante akan pulang sore dari kantor?" Tanyanya. Mirna menganggukkan kepalanya. "Ya, ada meeting nanti siang." Jawabnya singkat. Setelah sarapan, Fardan ikut pergi bersama Mirna untuk berangkat ke sekolah sementara Mirna pergi ke kantornya. Mirna menurunkan Fardan di dekat gerbang sekolah. "Tante, aku masuk dulu," pamitnya pada Mirna. Mirna tiba-tiba menggenggam tangan Fardan untuk menghentikannya. "Ada apa Tante?" Tanyanya, Fardan cemas kalau pelayan rumah tahu tentang dirinya yang sudah mengintip Mirna pagi tadi lalu melaporkannya pada Mirna, Fardan lebih takut kalau Mirna mengusirnya keluar dari rumahnya. "Sebenarnya hak waris yang ditulis oleh Papa dan Mama mu, adalah namamu, ada berkas lain yang belum aku tunjukkan padamu, sepertinya kamu begitu marah padaku belakangan ini. Aku menunggu setelah kamu lulus kuliah dan kamu bisa sedikit demi sedikit belajar untuk mengurus perusahaan. Setelah itu aku akan mengembalikan urusan perusahaan padamu, termasuk posisi Presdir." Tutur Mirna dengan sungguh-sungguh. "Jadi, selama itu Tante harap kamu tidak membenci Tante," lanjut Mirna dengan wajah menunduk dalam-dalam. Papa dan Mama Fardan memang menitipkan Fardan pada Mirna, juga semua urusan perusahaan pada Mirna tapi sebenarnya pemilik sah perusahaan memang Mirna karena Nanda - Ibu Mirna lah yang memiliki saham terbesar sekaligus pendiri perusahaan JNM. Gagan - ayah dari Aura sekaligus kakek Fardan, menikahi Nanda sebagai istri ke dua.. Dari pernikahan ke dua Gagan dan Nanda dikaruniai seorang putri yaitu Mirna. Nanda mendirikan JNM. Pada saat Nanda meninggal dunia, Gagagn juga sudah terlalu tua, waktu itu usia Mirna masih belum dewasa dan tidak tahu cara mengurus masalah perusahaan jadi sementara perusahaan dikelola oleh kedua orang tua Fardan, Aura dan Hermansah. Fardan sama sekali tidak tahu apa-apa, dan berpikir Mirna yang mencelakai kedua orangtuanya untuk merebut posisi tertinggi di JNM. Pengacara sudah menyiapkan berkas asli jika suatu hari Fardan berkeras bahwa perusahaan JNM adalah miliknya, akan tetapi Mirna tidak ingin melukai hati Fardan. Mirna pikir Fardan sudah sangat terluka akibat kehilangan kedua orangtuanya dan Mirna tidak ingin Fardan merasa Mirna yang sudah mengambil milik kedua orangtuanya. "Tante sudah berpikir berlebihan, kapan aku membenci Tante?" Tanya Fardan seraya menyentuh punggung telapak tangan Mirna yang sedari tadi menggenggam dan menahan Fardan untuk tidak keluar dari dalam mobilnya. "Fardan, Tante serius! Kamu sangat membenciku dan selalu bilang aku sudah mencelakai Kakak ku," Mirna mengerutkan keningnya, sebelumnya Fardan memang selalu menuding Mirna bahwa Mirna sudah membuat kedua orang tua Fardan celaka. Fardan mengukir senyumnya lalu mengulurkan tangannya dan menyibakkan rambut Mirna dari pelipis ke belakang telinga. Tubuh Mirna bergetar, dadanya tiba-tiba berdegup kencang. Mirna mulai gugup hanya karena sentuhan kecil tersebut. "Tante kurang sehat? Sepertinya Tante kelelahan karena mengurus perusahaan, wajah Tante memerah." Mirna sangat terkejut ketika mengangkat wajahnya, bibir tipis Fardan berbisik di sisi telinga Mirna dan bibir lembut itu menyentuh pipinya. Memang tidak seperti seseorang yang berniat melecehkannya. Mirna tidak bisa mengartikan perlakuan dari putra kakak tirinya tersebut. "Aku-aku baik-baik saja! Kamu belajarlah dengan rajin! Tante akan berangkat ke kantor!"Karena sudah mencoba mendekati dan gagal berulang kali akhirnya Heru memutuskan untuk berhenti mendekati Mirna. Dia merasa tidak punya muka lagi karena dia merasa dirinya adalah pria terhormat dan tidak perlu terus-menerus mengemis cinta pada wanita yang sama sekali tidak memiliki perasaan sedikit pun padanya.Jesika mendengar keputusan Heru dan langsung memarahinya. “Heru! Kamu pria macam apa? Sebentar lagi kamu berhasil mendapatkan wanita yang kamu cintai tapi kamu memutuskan untuk berhenti di tengah jalan? Apa kamu pikir Mirna akan bertahan dengan Erlangga selama-lamanya? Hah? Omong kosong! Mirna dulu pernah mencintai pria lain dan dia dipaksa menikah dengan Erlangga! Pernikahan mereka berdua sama sekali bukan karena cinta!”Heru sedang duduk di kursi ruang tengah, dia merasa tidak nyaman didesak oleh Jesika untuk terus mencoba merayu Mirna. Kemarin-kemarin dirinya malah dipukuli oleh Erlangga dan dia enggan menerima pukulan lagi hanya karena seorang wanita.
Setelah Mirna tenang barulah dia melepaskan ciumannya. Erlangga membawanya pulang ke rumah. Dilihatnya Mirna masih muram. Ketika mereka berdua tiba di dalam kamar, Erlangga langsung menariknya ke ranjang untuk melakukan hubungan intim. Pada awalnya Mirna tidak bereaksi tapi semakin lama Erlangga berpacu di atasnya tubuh Mirna mulai merespon. Mirna mengangkat pahanya lalu membukanya lebih lebar dan cairannya keluar sangat banyak. “Aaaahhh, aaahh! Er,” “Mirna, aku tahu aku pasti berhasil memuaskanmu! Siapa bilang aku tertarik dengan wanita lain! Jika benar demikian mana mungkin aku begitu marah padamu saat kamu bersama Heru? Mirna kamu hanya akan melayaniku sampai kapan pun! Ah, ah, ah, Mirna aku hanya mencintaimu!” “Er,” Mirna memanggil namanya dengan mesra lalu memeluknya dengan manja. Sampai tengah malam Erlangga baru turun dari atas tubuh telanjang Mirna lalu dia menciumi bagian intimnya, Mirna merasa senang diperlakukan Erlangga
Hatinya terasa dicabik-cabik dan terasa sangat sakit, Mirna menyeka pipinya beberapa kali. Dia menghela napas berat, masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dalam pesan barusan. “Sebenarnya kenapa bisa begini? Apakah hubunganku dengan Erlangga sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi? Setelah bertahun-tahun lamanya kita bersama dan aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Kenapa badai kembali datang dan berusaha menghancurkan masa depan keluarga kami?”Sampai di lokasi pameran Mirna tidak bisa menikmati acara itu. Heru diam-diam mengamatinya, dari ekspresi wajah Mirna hari ini dia bisa melihat wanita itu sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Heru tahu Jesika sudah berulah hari ini dan kali ini mungkin serangan yang dilakukannya lebih berat dari kemarin-kemarin. Heru tidak pernah melihat wajah Mirna bisa begitu kusut seperti sekarang. Wanita itu bahkan sama sekali tidak mengukir senyumnya sejak tiba di sana, keningnya terus berkerut dan alisnya hampir bertaut. A
Hubungan Mirna dengan Erlangga sudah membaik, mereka tidak bercerai bahkan semakin mesra setelah bertengkar. Erlangga mengajaknya untuk kembali pulang ke rumah. Mirna memeluknya dengan manja, sampai di rumah mereka kembali memadu cinta hingga berjam-jam lamanya di dalam kamar. Romansa panas itu tidak kunjung selesai sampai sehari penuh. Tubuh telanjang Mirna terus ditekan di atas ranjang, napas wanita itu terengah-engah sambil menatap Erlangga di atasnya yang kini berusaha untuk memberikan kepuasan untuk Mirna. “Mirna, sayangku, ah, ah, aku sangat mencintaimu, oukh!” “Er, berikan aku kepuasan sayang! Berikan aku sekali lagi, akh, akh,” Mirna memeluknya dengan mesra. Erlangga menciumi lehernya dan melumat kedua buah dadanya yang kencang dan kenyal. Dia sangat ingin menikmati tubuh Mirna, meski sudah berulang kali melakukannya dia merasa masih ingin melakukannya lagi. Puas melakukannya, petang hari Erlangga turun dari ranjang lalu perg
Setelah meletakkan ponsel Mirna, Fardan melihat meja di kamar Mirna berantakan jadi dia segera merapikannya. Beberapa baju Mirna juga diletakkan sembarangan di kasur, Fardan mengambil baju-baju tersebut lalu dia masukkan ke dalam keranjang tempat menaruh pakaian kotor. Mirna baru saja selesa
Mohan mengiyakannya dari seberang sana, setelah itu Mirna menutup panggilan. Mirna menoleh ke samping, tangan kirinya dalam genggaman Erlangga dan Erlangga memeluk tangannya dengan sangat erat. Mirna duduk di samping sambil berusaha menariknya dari genggaman Erlangga tapi Erlangga teta
“Aku memang sibuk, tapi setelah menyelesaikan pekerjaan aku langsung pergi menemuimu.” Ujar Erlangga tanpa melepaskan pelukannya. “Ya,” jawab Mirna singkat.“Tapi kamu malah pergi ke kantor Tedja?”“Ah, itu, Tedja menelepon untuk membahas pekerjaan.” Jawabnya berbohong.Erlangga
Ketika tiba di kantor Tedja Lesmana, Mirna diantarkan oleh seorang asisten dan langsung menuju ke ruangan Tedja. “Silakan, Bu Mirna!” Pintu ruangan dibuka, Mirna melihat Tedja duduk di kursi ruangan kerjanya dengan ekspresi tidak begitu baik. Mirna semakin yakin kalau Tedja i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.