تسجيل الدخولBangku-bangku kehormatan bergetar hebat oleh kemampuan medis Jason yang mustahil dilakukan oleh tabib lainnya.Seorang bangsawan Kerajaan Genma berdiri terlalu cepat sampai kursinya terjungkal ke belakang. Jubah kebesarannya berkibar, napasnya tertahan di tenggorokan. Dari sisi lain tribun, utusan Widyaloka ternganga tanpa sadar—mata mereka membelalak, mulut setengah terbuka, seolah baru saja menyaksikan hukum alam dipatahkan di depan mata.Di sudut-sudut arena bawah tanah, para agen intelijen saling bertukar pandang. Jari-jari bergerak cepat di balik lengan baju, kode-kode rahasia berpindah dalam kedipan mata. Informasi ini… terlalu berbahaya untuk dibiarkan tinggal di satu tempat.Di lantai atas, Ratu Athena bangkit dari singgasananya.Gaunnya berdesir pelan saat ia berdiri, namun wajahnya memucat—bukan karena takut, melainkan karena keterkejutan yang begitu murni hingga menusuk tulang. Matanya yang biasanya tenang kini bergetar, terpaku pada sosok Jason di bawah sana.“Teknik… apa
Sorakan di tribun khusus—yang hanya diisi bangsawan tinggi dan utusan kerajaan—mendadak tercekik di tenggorokan mereka sendiri. Udara arena bawah tanah terasa menegang, seolah batu-batu kuno ikut menahan napas.“Tidak mungkin…” “Itu jelas korban Kutukan Roh Maut…” “Bahkan sepuluh tabib kerajaan digabung pun tak akan sanggup menyentuh kasus seperti itu!”Bisik-bisik panik merambat seperti api di rumput kering.Vardos Atmaja melangkah maju lebih dulu.Langkahnya tenang, nyaris anggun. Ia berlutut di sisi tubuh pasien—atau apa pun yang tersisa darinya—lalu mengangkat satu tangan. Aura hijau gelap membungkus jemarinya, berdenyut pelan seperti denyut racun yang menunggu mangsa.Ia menyentuh dada korban, lalu leher, lalu meridian yang hancur.“Hm.”Suara kecil itu terdengar jelas di arena yang senyap.Bibir Vardos melengkung membentuk senyum tipis, senyum orang yang merasa berada di atas angin.“Kerusakan jiwa total,” katanya datar, seolah membaca daftar belanja. “Meridian kiri dan kanan
Napas tertahan berdesir di antara penonton terbatas—para bangsawan tinggi, tetua medis, dan utusan kerajaan yang diberi izin menyaksikan duel terlarang ini. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada bisikan kagum. Hanya ada ketakutan yang merambat pelan, seperti hawa dingin merayapi tulang punggung.“Tidak mungkin…” “Itu korban Kutukan Roh Maut…” “Bahkan sepuluh tabib kerajaan bekerja bersama pun tak akan sanggup...”Suara-suara itu terputus satu per satu, seolah takut mengucapkannya terlalu keras akan mengundang kematian itu sendiri.Vardos Atmaja bergerak lebih dulu.Langkahnya tenang, nyaris santai, sepatu kulitnya beradu lembut dengan lantai batu. Ia berlutut di samping tubuh pasien, telapak tangannya bersinar kehijauan—warna aura medis yang pekat, gelap, dan sarat niat tersembunyi. Jari-jarinya menelusuri dada, leher, lalu dantian yang hancur.“Hmph.”Satu dengusan kecil keluar dari bibirnya, diikuti senyum tipis yang tak pernah menyentuh matanya.“Kerusakan jiwa total,” katanya datar,
Sorakan kemenangan masih terdengar di udara Arena Tabib Dunia, bergetar seperti gema yang belum menemukan tempat untuk runtuh. Namun perlahan, hiruk-pikuk itu terkikis oleh sesuatu yang jauh lebih pekat—sunyi yang menekan dada, dingin yang merambat dari balik tulang.Arena yang barusan melahirkan legenda… kini bersiap menjadi kuburan reputasi.Beberapa tabib muda masih meneriakkan nama Jason dengan mata berbinar. Sebagian bangsawan masih berdiri memberi hormat, seolah ingin menempelkan diri pada cahaya kemenangan itu.Namun semua suara itu memudar ketika satu kalimat Jason—dingin, tegas, tanpa ruang tawar—terpantul ke setiap sudut arena:“Tiga babak. Tabib melawan tabib. Taruhannya—nyawa.”Tak ada sorak setelah itu. Hanya napas tertahan. Dan firasat buruk yang merayap ke kulit setiap orang yang mengerti arti kata nyawa dalam dunia tabib.Dan kini…babak pertama dimulai.*****Malam menelan siang tanpa ampun.Atas perintah Ratu Athena, Arena Utama ditutup. Penonton disingkirkan. Para
Sorak kemenangan Duel Tabib belum sepenuhnya sirna ketika gelombang lain—lebih sunyi, lebih berat, lebih beracun—mulai merembes ke seluruh Arena Tabib Dunia.Bukan suara, bukan teriakan, melainkan aura yang merayap seperti bayangan ular di bawah permukaan air.Jason Winata merasakannya lebih dulu.Bukan dengan mata.Bukan dengan telinga.Tapi lewat naluri yang ditempa dari puluhan pengkhianatan, serangan gelap, dan masa lalu yang tidak pernah berhenti mengejar.Sistem Medis berdenyut pelan di dalam kesadarannya.[Deteksi Aura Asing][Sumber : Non-Medis][Catatan : Pola Mata-Mata]Jason berdiri di tepi arena kehormatan. Angin membawa bau darah kering, debu obat-obatan, dan dupa penyembuhan yang terbakar untuk merayakan kemenangan sebelumnya. Namun di antara semuanya… ada sesuatu yang tidak selaras.Tatapannya menyapu barisan tabib yang baru saja mendaftarkan diri untuk babak lanjutan Turnamen Tabib Dunia.Dan di sana—di antara kerumunan tabib residen Atlas—mereka berdiri.Seorang pria
Kata-kata Jason tidak menggema—namun justru karena itulah terasa mematikan.“Waktumu hampir habis, Tabib Naga.”Evan Gunawan tersentak.Tubuhnya bergetar hebat—bukan oleh luka, bukan pula oleh kelelahan—melainkan oleh rasa takut yang akhirnya tak bisa lagi ia sangkal.Alun-alun Kota Tirtajaya, yang beberapa jam lalu memujanya seperti dewa medis, kini berubah menjadi panggung kehancuran. Sorak sorai yang pernah mengangkat namanya telah membusuk menjadi ejekan. Tawa sinis, desisan, dan bisikan tajam menusuk telinganya dari segala arah.Bangsawan-bangsawan yang dulu berebut berdiri di sisinya kini memalingkan wajah, seakan Evan adalah noda yang bisa menular. Para tabib asing dari benua lain—mereka yang datang dengan rasa ingin tahu dan ambisi mulai menatapnya dingin, objektif, kejam.Penilaian telah dijatuhkan.Bukan oleh satu orang, melainkan oleh dunia.Dari singgasana tinggi di balkon istana, Ratu Athena bangkit.Gaun kerajaannya berkibar ditiup angin pagi. Kulitnya masih pucat, baya







