LOGINKing Tarzan hates her more than anything in the world and beyond, because she is the daughter of the king who enslaved him when he was just a helpless young lad. He owns her, and he will pay her back in spades for those years when she sat back and watched her people mistreat him and for everything her father did to him. And her father did a lot. He was scarred into being the powerful but terrifyingly damaged monster king he is. A king who battles insanity as the day breaks every day. A king who hates to be touched. A king whose presence sends tremors of fear among the people. King Tarzan is not only traumatized with the painful past he had; he is enraged with the thoughts of the secret only he knows about. He is unable to produce an heir to his throne. Oh, I will make Leilani pay. But then again, Princess Leilani is nothing like her people. She is different from her father and the rest of them who made life miserable for him. And when he was finally in a position to make her pay for those painful years, he was bound to find out just how different and special she is. A love story that began with a deep-rooted hatred and a burning passion for revenge!
View More[Aku tidak pulang malam ini, sebaiknya jangan menghubungiku. Pekerjaan di kantor sangat banyak.]
Seorang wanita tersenyum getir di balkon kamar usai membaca pesan menyakitkan pada layar ponsel. Tangan mulusnya kemudian meraih sebotol minuman beralkohol dari atas meja kecil.Alih-alih belaian lembut nan hangat sang suami yang menemaninya setiap malam, ia justru ditemani air matanya sendiri. Ia menghela napas panjang dan menatap miris pada penampilannya saat ini.Livyata Ervina Fabregas mengenakan gaun tidur tipis minim bahan. Sejak mengunjungi konselor pernikahan, dirinya mencoba berubah demi menyenangkan hati suami tercinta. Sial, dua bulan ini berakhir sia-sia. Segala upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil.Saat kesadaran dirinya sudah sepenuhnya hilang karena minuman tersebut, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia meringkuk di atas ranjang dingin sendirian, masih berharap sang suami pulang dan memberinya hadiah ulang tahun pernikahan.Tidak lama, wanita itu sayup-sayup mendengar suara berisik. Pintu kamar Livy terbuka dan seseorang berjalan mendekat. Meskipun minim cahaya, sosok itu tampak tersenyum sembari melepas jas dan kemeja, melempar dengan asal.Belum sempat Livy membalas senyuman, bibirnya dibungkam liar oleh pria yang baru saja masuk. Jujur saja Livy merindukan belaian ini, ia begitu menikmati hingga mengalungkan lengannya di leher pria itu.“Aku pikir kamu tidak ada di rumah. Puaskan aku malam ini!” Lelaki itu berkata dengan suara serak.Dua orang dewasa itu sama-sama tahu, mereka telah dikuasai gairah.“Tentu saja Sayang. Aku juga merindukan sentuhanmu,” bisik Livy sensual.Tanpa banyak kalimat lagi, pria itu kemudian meloloskan sebuah kain tipis yang menutupi tubuh mulus Livy. Berulang kali Livy dibuat melambung tinggi terbang ke angkasa oleh sentuhan yang dirindukan.Kamar yang semula sunyi, senyap dan dingin, sekarang berubah bising oleh lenguhan dua anak manusia. Hawa panas menyerang menyebabkan peluh bercucuran, akibat saling mengejar titik puncak. Entah berapa lama berlangsung karena Livy merasakan hal berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.Usai mendapatkan kepuasan, Livy menatap sayup-sayup ke arah pria itu dan berkata, "Aku mencintaimu. Tolong tetap seperti ini."Setelahnya, ia bahkan tertidur nyenyak dalam pelukan hangat ini. Malam ini, pelukan pria itu rasanya begitu menyamankan. Perlakuan lembut pria itu bahkan membuat ia benar-benar merasa dimanjakan sebagai seorang wanita.Bahkan, hingga pagi hari … Livy yang sudah lebih dulu bangun, enggan membuka mata. Dia justru semakin menempelkan kepalanya ke dada bidang di depan mata, bibir ranumnya melengkungkan kebahagiaan.Kalau bisa, ia berharap hari ini tidak berakhir, dan bisa mengulang kegiatan panas semalam. Ia juga berharap bisa sesegera mungkin mengandung janin hasil buah cinta mereka. Namun, saat ia sedang hanyut dalam angannya yang indah … tiba-tiba ia mengerutkan dahi.‘Tunggu dulu. Aroma ini ….'Aroma ini terasa janggal untuk Livy. Seingatnya, Sergio –suami Livy, tidak memiliki aroma parfum seperti ini.Seketika, matanya terbuka lebar. Jantung Livy berdetak lebih cepat, napasnya tidak lagi normal setelah melihat seseorang yang tengah mendekapnya erat.“Astaga, Kak El!”Ia pun segera mendorong lelaki itu dari atas ranjang, membuat tubuh polos lelaki itu membentur lantai.Erangan kesakitan terdengar jelas ke telinga Livy, tak mampu untuk menjelaskan situasi membingungkan.“Kamu mendorong suamimu sendiri?" Lelaki itu berhenti bicara setelah melihat wajah tegang Livy. Muncul kerutan di keningnya kemudian. “Livyata? Apa yang kamu lakukan di kamarku?” “I-ini k-kamarku, Kak. Kenapa Kakak ada di sini?” Livy mendekap selimut yang menutupi tubuhnya.“Apa kamu bilang?”Mata biru safir pria itu mengamati seluruh isi kamar. Tak lama, ia terbelalak. El tidak ingat bagaimana ia berakhir di kamar Livy, adik iparnya. Yang ia ingat adalah ia mabuk dengan hasrat yang menggebu karena diduga dijebak oleh rekan kerja yang baru saja ditemuinya semalam.El sadar, seseorang itu baru saja menaruh obat perangsang dalam minumannya. Namun, karena ia bukan pria yang mudah gonta-ganti wanita, ia lantas memilih pulang untuk menyalurkan hasratnya pada sang istri. Namun, siapa sangka … ia malah berakhir bersama Livy—adik angkat sang istri dan sama-sama tidak memakai sehelai pun pakaian pagi ini.“J-jadi, semalam Kakak yang menyentuhku?” Mata Livy merambang, sungguh pagi yang mendung, padahal angannya sudah tinggi karena sentuhan pria yang ia kira suaminya semalam.“Livy, dengarkan aku!” El beranjak dari lantai, ia tidak peduli tubuhnya dilihat kembali oleh sang adik ipar. Kini El duduk di sisi Livy, menggenggam kedua tangan mungil wanita itu di atas kasur. “Sungguh aku tidak berniat melecehkanmu. Ini terjadi di luar kuasaku. Aku mabuk Livy, maafkan aku.”Sedangkan Livy tidak bisa berkata apa pun. Ia memaki diri sendiri karena terlarut dalam buaian alkohol hingga tidak menyadari lebih awal kejanggalan yang terjadi semalam.Sergio bahkan telah mengiriminya pesan bahwa pria itu tidak pulang, tetapi Livy yang mabuk masih saja mengira pria itu mengerjainya dan memilih pulang untuk memberikannya kejutan. Karena itu jugalah ia tidak mengunci kamarnya semalam.“A-aku juga mabuk semalam, Kak.” Livy menundukkan kepalanya. Sedikitnya, ia merasa bersalah. Takut jikalau kesalahan semalam diketahui oleh suaminya, terlebih keluarga angkatnya. Andai ia tidak mabuk, tentu bisa menghindar dari kejadian memalukan ini.Namun, semua telah terjadi. Livy melakukan kesalahan besar, berhubungan dengan kakak iparnya, padahal mereka berdua sama-sama memiliki pasangan. Meski pernikahan Livy dan Sergio tidak didasari cinta, tetapi untuk membalas budi ayah angkatnya, ia berusaha menghormati dan mencintai sang suami.Kepala Livy menggeleng, dan ia tiba-tiba berujar, “Tidak. Kesalahan ini harus dirahasiakan, Kak.” Di hadapannya, El termangu. “Semalam adalah kesalahan yang tidak disengaja. Untuk itu, ayo kita lupakan saja,” ujarnya lagi, kali ini sambil memohon ke arah El.“Melupakannya?” Terlihat, kening lelaki itu mengerut. “Tapi, Livy … semalam itu—”Cepat, Livy menggeleng. “Kita sama-sama punya pasangan, Kak. Lagipula, aku tidak ingin mengecewakan ayah, juga Kak Sonia.”“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu minta, Livy?” Lagi, El bertanya dengan wajah tanpa ekspresi. “Bagaimana jika kamu—”Livy yang tahu ke mana arah pembicaraan kakak iparnya cepat-cepat berujar. “Kakak tidak perlu khawatir, aku selalu meminum pil KB.”Ada sedikit ketakutan yang kembali Livy rasakan. Namun, ia kembali meyakinkan diri … hanya sekali berhubungan tidak mungkin akan berakibat fatal dan langsung membuatnya hamil.Livy bisa melihat jelas, jika raut wajah El masih tampak belum menerima. Namun, ia terus menunjukkan wajah memohon juga sikap keras kepalanya. Bagaimana pun, jika rahasia ini terbongkar, bukan hanya pernikahannya dan Sergio saja yang hancur, tetapi juga pernikahan El dan Sonia, ditambah memburuknya hubungan Livy dan keluarga angkatnya.El mengangguk. “Baiklah jika itu maumu.” El kemudian turun dari ranjang masih dengan tubuh polosnya.Livy menundukkan kepala, enggan melihat tubuh kakak iparnya lagi. “T-terima kasih, Kak.”El tidak menjawab kalimat Livy, ia dengan gerakan cepat memungut dan memakai kembali pakaiannya yang telah berserakan di lantai.Namun, sebelum keluar dari kamar adik iparnya itu, El kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Livy yang masih duduk di ranjang dengan selimut yang mengelilingi tubuhnya.“Sekali lagi, maafkan aku.” Mata pria itu memancarkan ketulusan. Suaranya dingin, tetapi ada kesan lembut dan rasa bersalah yang amat dalam. “Jika sesuatu terjadi padamu karena kejadian semalam, jangan ragu datang padaku, Livy. Aku pasti akan bertanggung jawab.”Setelahnya, pria itu langsung keluar dan menutup rapat pintu kamar Livy.Setelah kakak iparnya melewati pintu kamar, ia kemudian berlari mengunci pintu karena khawatir Sergio pulang dan melihat kekacauan dalam kamar. Diliputi perasaan gundah, Livy membersihkan dan merapikan jejak percintaan panasnya semalam. Bahkan ia menggunakan pewangi menyengat agar parfum El tidak tercium lagi.Saat tengah mengamati keadaan kamar yang telah kembali rapi, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia telah berbohong pada El tadi. Keinginan untuk hamil membuat Livy tidak lagi mengkonsumsi pil KB seperti awal pernikahannya dulu. Namun sayang, Upaya Livy tersebut tidak didukung oleh sang suami yang justru tidak pernah lagi menyentuhnya.Namun, setelahnya ia kembali menekankan pada dirinya sendiri, ‘Tidak. Aku tidak mungkin hamil hanya karena sekali berhubungan.’Untuk memutus pikiran negatifnya, akhirnya Livy memutuskan untuk keluar kamar guna menyiapkan sarapan.Namun, ketika Livy keluar dari kamar, ia terkejut melihat kakak angkatnya, Sonia, baru saja menaiki anak tangga. Keduanya berpapasan dan tatapan Sonia tertuju kepadanya.“Heh, Livy, tunggu!” panggil wanita cantik itu setengah berteriak.Livy mematung dengan perasaan terkejut dan takut luar biasa. Ia bagai seorang wanita yang berselingkuh, lalu tertangkap basah. Kedua telapak tangannya berkeringat dingin, ia berusaha menyembunyikan ketakutan. Senyuman pada wajahnya pun berubah kaku serta terpaksa.“Ada yang bisa aku bantu, Kak?”“Kamu lihat suamiku tidak? Pagi ini aku tidak menemukan dia di kamar.” Sonia mengerutkan dahinya dan menatap Livy dengan sengit. “Semalam dia bilang mau pulang ke rumah karena membutuhkanku.”Livy menelan air liur, dan terus mengepalkan tangan. Setelah semalam ketiban ‘sial’, pagi ini ia sungguh sial karena bertemu Sonia. Tentu, Livy menggelengkan kepalanya.“A-aku tidak melihat Kak El.”Kini, wajah Sonia semakin gusar. Wanita yang berprofesi sebagai model itu terlihat marah sekarang. “Apa jangan-jangan dia tidur dengan wanita lain?”The sounds came again and Leilani moved further into the room. Her heart was beating so fast against her chest and yet, she couldn't turn and run out. "Help...me...help..." Leilani gasped sharply immediately she heard the faint voice. She stopped abruptly, straining her neck, trying to see anything in the dark."Who could be here?" She mumbled to herself, walking slowly.She heard a noise from behind and turned sharply. The door behind her was opening! She could hear the clicking from behind. QHastily and blindly, she ran into a corner, crouched down on her knees, panting noisily but trying so hard to control herself.She saw a figure walk around the room and few minutes later, it left. Leilani breathed in heavily, her hand on her chest. She thought she was going to get caught. Although the room was dark and she couldn't see the face of the man that had entered, Leilani knew who it was.King Tarzan. Slowly, she got up on her feet, traced her steps to the door and left the room a
Tarzan's hand dropped down, still glaring at her. He moved away from her, his anger and fury boiling. "Stand up on your feet."Leilani shivered as she slowly stood, her eyes glued to the floor. She knew she was in trouble. A deep one."Once it is eight PM tomorrow, I want to see you waiting at the palace hall." Tarzan said, staring out of the window. Leilani nodded vigorously, hoping she would be save from being whipped."Get out." Tarzan's voice was dangerously low and without wasting a second, Leilani bowed and fled the room.Tarzan groaned in pure torment as he stared down at his erection. It was impossible for him to stay that way. He need something to get him back to normal."Roman." He called sharply.The door opened and Roman stepped in. "Yes my king." "Get me Nikita." He ordered and Roman left the room immediately.Tarzan walked to the bed and sat, his angry mind on Leilani. He would teach her just exactly what she needed to know.Few minutes later, Nikita walked into the ro
The pregnant young lady moved forward, her hands on the surface of her bulging tummy. "You almost died. What are you doing in my house? I ask again."Luca swallowed hard, still moving backwards on the ground. "I was attacked." The girl nodded, still coming nearer. "Or are you one of those who has been sent to kill me?" Luca frowned. "No. You said it yourself that I almost died and besides, why would anyone want to kill you? Who are you and what is a girl in your condition doing in a terrible place like this?""So much questions. Are you a spy? I was right after all. I saved your life so it would be really ungrateful if you do anything to me."Luca forced himself on his feet, holding on to one of his sides. "Why would anyone want you dead? Who are you?" He asked again."Leave me the hell alone and get out of my house. I don't want you here. Get..ahhh!!" She suddenly screamed, her hands gripping under her bulging tummy. It was obvious she was in pain and ijln labor."Are you okay?" Lu
The cranky old bed made some sounds as the woman on it moved, her back still turned against the world. Tarzan stood behind her, glaring down at her, his hatred showing in his blue eyes. "The shadow, wolf... everything. What's happening? Why am I suddenly seeing these things?" "She's here." The unsteady voice sounded from the woman on the bed. Her voice sounded old. Weak. Dry. "Who's here?" Tarzan asked with a snort, his eyes having that look of deep hatred. "She's here. Your special abilities are finally coming to you." Tarzan stared on, expecting her to say more. When he heard nothing more from her, he walked to the door. "Tarzan." The trembling voice called again. Tarzan stopped at the door, slowly turned to take a look. "Get me out of here." "Not even in your dreams is that gonna happen." With that, he opened the door and left the dark room. He walked back into his chambers, took off his clothes and had another shower before walking to the table to uncover his dishes. He






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.