Share

Duh, Wati!

Author: Lian Nai
last update Last Updated: 2022-12-17 13:11:32

"Astaghfirullah, Bulek Murni, sudah benar tindakan Adam membela Nita. Jangan jadi orang tua yang hasad," tegur Mpok Faridah-- tetangga samping rumah Mbak Wati. "Seharusnya 'sampean' itu bangga punya keponakan yang sayang istri, tidak mudah terpengaruh omongan orang lain. Kalau Adam jadi menantuku, sudah kubangga-banggakan seantero kampung."

Bulek Murni mencebik. "Jangan ikut campur kamu, Dah! Ini urusan keponakan sama Buleknya!" hardik Bulek Murni kesal.

"Tau nih, pulang sana, Mpok! Kenapa para pendatang di kampung ini suka sekali mencampuri urusan orang lain sih, hah?"

"Lah, kalau gak mau tetangga tau masalah kalian, gak mau dapat komentar dari tetangga, ya jangan ribut di depan rumah dong. Gak tau malu!"

Mpok Faridah menggerutu sambil berlalu meninggalkan halaman rumah Nita yang masih memanas. 

"Tuh kan, Dam, gara-gara tindakan kamu yang berat sebelah ini jadinya para tetangga sudah gak menghargai Bulek lagi!" 

"Bulek, dengarkan aku!" pinta Adam, "Nita adalah istriku, aku memintanya di depan pusara Ibu dan Bapaknya dengan berjanji akan membahagiakan putri mereka. Semua yang berkaitan denganku, tentu juga berkaitan dengan Nita. Kalau istriku sudah memutuskan untuk menghentikan membantu biaya sekolah Farhan, ya sudah aku ikuti. Dia punya hak penuh atas semua uangku!"

"Mana ada seperti itu, Dam," sela Mbak Wati, "Farhan juga punya hak atas uang Omnya, lagipula kalian belum punya anak ...."

"Berhenti mengatakan hal itu, Mbak Wati!" bentak Adam lantang. Mbak Wati dan Bulek Murni berjingkat kaget. "Aku mencoba meredam marah ketika melihat istriku terluka dengan ucapan pedas kamu, Mbak. Tapi hari ini ... kamu sudah melewati batas!"

"Selama ini aku dan Nita menghargai kalian dengan sangat baik. Tidak peduli apakah penghasilan Mas Hadi lebih banyak dariku, aku dan Nita tetap membantu sekolah Farhan karena memang kami ingin. Memang kenapa kalau kami belum punya anak? Apa Mbak Wati pikir kami tidak memiliki pengeluaran lain karena hidup kami hanya berdua, begitu?"

Mbak Wati menggeleng ragu. Melihat kemarahan di wajah Adam seketika membuat nyalinya menciut. Apalagi Bulek Murni yang tiba-tiba bungkam dan tidak lagi berani menyanggah semua ucapan Adam.

"Tentang sawah peninggalan Ibu yang Bulek kelola, aku dan Nita mengalah karena kami pikir tidak ada salahnya memberi kesempatan Bulek untuk mengelola sawah itu. Tapi apa selama ini Bulek pernah memberi kami uang sewa padahal dulu Bulek berjanji setiap panen akan membayar pada kami? Tidak kan? Lalu kenapa harus marah kalau Nita meminta sawah itu? Itu sawahku, hak istriku juga!'

"Ta-- tapi, Dam ...." 

"Kalian berdua yang memilih keributan di depan rumah. Aku tidak peduli bagaimana tanggapan tetangga padaku yang jelas ... mulai sekarang semua keputusan aku serahkan pada Nita. Bulek dan Mbak Wati harus ingat, dia istriku ... pemegang tahta tertinggi dalam hidupku selagi dia berada di jalan yang tidak salah. Paham?"

Nita hampir tertawa melihat wajah Bulek Murni dan Mbak Wati yang tak ubahnya seorang anak kecil yang tengah ketahuan mencuri. Keduanya menunduk dan saling sikut. 

"Ehm, Dam, bagaimana kalau kita bicarakan ini baik-baik di dalam rumah. Malu kalau didengar tetangga ...." 

"Sejak tadi aku menawarkan hal itu pada Bulek, tapi kalian memaksaku untuk bertindak tegas di depan semua tetangga. Nasib baik semua tetangga sudah pulang, kalian berdua tidak terlalu malu untuk ini. Tapi istriku ... sudah berapa banyak cibiran dan cacian yang kalian lontarkan pada Nita?"

Bulek Murni bergerak gusar. Kakinya digesek di atas tanah untuk menghilangkan rasa takutnya akibat suara Adam yang makin meninggi.

"Anu, Dam ... itu, kita masuk ke dalam rumah saja ya, kita bicarakan semuanya baik-baik," nego Mbak Wati gugup. "Tadi ... anu ... tadi Mbak cuma bercanda. Lagipula tidak baik menghentikan sedekah apalagi pada keponakan sendiri. Selama ini Mbak sudah menganggap bantuan kalian sebagai sedekah agar pahala bisa mengalir deras di hidup kalian berdua."

"Bercanda?" tanya Adam sinis. "Mbak Wati bercanda mengatakan kalau istriku itu mandul, iya?"

Mbak Wati mengangguk ragu. Kedua tangannya berkeringat dingin sementara pokok permasalahan yang tak lain adalah Farhan entah sudah pergi kemana anak kecil itu tadi.

"Mbak Wati juga wanita, apa tidak bisa sedikit saja merasa iba atas penantian kami berdua? Mbak pikir Nita tidak terluka dengan semua hinaan mandul yang Mbak lontarkan, begitu? Istriku ini manusia, Mbak, bukan malaikat!" hardik Adam makin dongkol. "Beruntung selama ini Nita bisa menutupi semua sakit hatinya, Mbak, andai saja sejak awal istriku ini bukan wanita baik, dia pasti sudah merampas semua yang sebenarnya adalah haknya! Sawah peninggalan Ibu, biaya sekolah Farhan, Nita bisa saja mengambil kembali semua kebaikannya itu tanpa bicara terlebih dulu padaku!"

"Ka-- kami minta maaf, Dam. Mbak tidak bermaksud membuatmu marah dengan menyinggung soal anak. Mbak paham, pasti kamu sangat tertekan ...."

"Ck! Sungguh banyak kalimat yang aku lontarkan, ternyata otak Mbak Wati masih saja belum paham dengan apa yang aku bicarakan. Bebal!"

Kedua mata Mbak Wati mendelik lebar sedangkan Bulek Murni memilih bungkam karena kini otaknya dipenuhi dengan cara bagaimana agar Adam dan Nita tidak mengambil sawah yang sudah sekian lama ia kelola. 

"Bu-- bukan begitu, Dam ...."

"Wat, pantas dari tadi aku panggil-panggil ternyata malah berkumpul disini. Ada apa ini?" Hadi, kakak Adam datang setelah meletakkan motor di halaman rumahnya. "Ada apa, Dam?"

"Maaf, Bang, aku dan Nita sepakat untuk tidak lagi membantu biaya sekolah Farhan, dan juga mengambil alih sawah yang sudah Bulek kelola."

"Mas, nanti aku jelaskan. Sekarang kita pulang dulu, kamu pasti capek. Iya kan?" Mbak Wati terlihat panik. Lengan suaminya ia tarik cukup kuat agar segera meninggalkan halaman rumah Adam.

"Tunggu! Biaya sekolah Farhan?" tanya Hadi bingung. "Sejak awal Abang menolak kamu membantu biaya sekolah Farhan, Dam. Ini ... gimana maksudnya?"

Hadi menatap istrinya cukup tajam sementara Adam dan Nita saling pandang kebingungan.

"Wat, kamu ....?"

"Tidak, Mas. Anu ... itu ... aku sudah jelaskan sama Adam dan Nita kalau Mas menolak bantuan mereka. Tapi ...."

"Mbak Wati gak pernah bilang kalau Mas Hadi menolak loh," sela Nita, "Malah setiap tanggal lima awal bulan Mbak selalu bilang kalau Mas Hadi minta uang sekolah Farhan segera dibayarkan."

"Hah?!"

"Itu, ehm ... Mas, aku bisa jelaskan ini di rumah. Tolong jangan percaya omongan orang lain, Adam saja sangat percaya sama istrinya, masa Mas gak percaya sama aku istrimu sendiri, Mas," kata Wati semakin panik.

"Tapi istriku bicara yang sebenarnya, Mbak," imbuh Adam. "Bagaimana Mbak bisa mengatakan agar Mas Hadi tidak percaya omongan orang lain sementara ucapan Nita ini benar adanya. Mbak mau bilang kalau istriku membual?"

"Kita bicarakan ini di dalam, Dam," ajak Hadi sambil mencekal lengan Wati dengan cukup kuat.

Bersambung 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Status WhatsApp Ipar   Extra Part

    "Mas ...."Nita merintih ketika perutnya dirasa semakin mulas. Keningnya mengkerut. Bibirnya meringis sambil sesekali kedua tangannya meremas seprai dengan cukup kuat."Mas Adam!" teriak Nita. Entah kemana Adam, malam ini Nita tidak mendapati suaminya tidur di ranjangnya. "Mas!" teriaknya lagi.Nita menangis. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat agar rasa sakit sedikit berkurang. "Mas Adam ...."Nita mencoba berdiri. Sejak sore dia memilih tidur karena perutnya terasa tidak nyaman. Berulang kali kandung kemihnya terasa penuh. Bahkan Nita merasa jika intensitas buang air kecilnya semakin sering. Nita terlalu awam. Dia berpikir jika mendekati hari persalinan maka semua hal yang ia rasakan adalah wajar. Malam ini, tepat pukul dua belas malam, dia meraba bagian belakang tubuhnya dan ...."Basah?" gumam Nita sambil sesekali meringis. "Apa iya aku ngompol?" imbuhnya. Nita meremas ujung dasternya. Sakit yang ia rasakan semakin terasa sering. Dia memindai kamar, namun sosok Adam tidak ia temu

  • Status WhatsApp Ipar   Tamat

    Nita terpingkal-pingkal menceritakan kejadian pagi tadi pada Adam. Pun dengan Wati, ipar beradik itu sangat bersemangat membahas betapa kerennya Bulek mengusir Mesaroh beserta kedua orang tuanya jug Hafsah dan suaminya."Masa Bulek bilang begitu?" tanya Adam sambil tersenyum. "Bulek bilang mau mengirim tai-tai Paklik ke rumah Mesaroh, begitu? Serius?"Nita berulang kali mengangguk membenarkan. Tidak lupa pula tawa renyah menghiasi bibirnya yang ranum. "Badas emang Bulek," ucap Adam kemudian. "Baik-baik kalian, Bulek sudah gak punya siapapun selain kita."Tawa Nita berhenti. Dia mengangguk sendu dan berkata. "Tentu, Mas. Sejak awal kita menikah bukankah ini yang aku harapkan? Aku ingin kita semua akur selayaknya keluarga."Adam mengusap pucuk kepala Nita lembut. Harapan yang istrinya miliki ternyata dapat terwujud. Jika dulu hari-hari Nita dipenuhi dengan isak tangis dan rasa kesal karena selalu mendapat perlakuan buruk, lain dengan sekarang ... dia sudah mendapatkan kasih sayang dari

  • Status WhatsApp Ipar   Menjelang Tamat

    "Wanita serakah! Kembalikan hak anakku! Licik, culas!" teriak Mesaroh.Berta dan Seila saling sikut. Tiba-tiba dua wanita itu tertawa lebar dan Berta berteriak. "Lagi ngaca ya, Mbak? Kok pas banget ucapan sama kelakuan. Pasti ada kaca transparan ya?"Mesaroh menoleh. Lagi-lagi dia mencak-mencak dan kembali masuk ke dalam rumah Bulek membawa sisa-sisa dongkol akibat sikap Hafsah. "Jadi bagaimana ini, Bu Murni?" tanya Mesaroh gusar. "Seharusnya anakku dapat bagian ....""Kalau begitu kita urus saja masalah ini ke ranah hukum. Bagaimana?"Bu Murni dan suaminya saling pandang. "hu-- hukum? Untuk apa?""Ya, kalau Mesaroh masih belum yakin kalau semua yang aku miliki ini murni milikku, kita bisa usut ini ke ....""Eng-- enggak perlu," sela Bu Minah. "Kami ... percaya kalau tidak ada harta yang Kusni miliki di rumah ini. Kalau begitu ... kami permisi!"Bu Murni dan suaminya menarik tangan Mesaroh cukup kuat. Putrinya itu meronta-ronta dan menolak pergi karena calon bayinya belum mendapatkan

  • Status WhatsApp Ipar   Hafsah dan Mesaroh

    "Permisi," kata Mesaroh ketus. "Aku boleh masuk ke rumah suamiku kan?"Mesaroh bersedekap dada sementara Emak dan Bapaknya berdiri di belakang dengan wajah yang tak kalah ketus."Suamimu?" Ulang Hafsah bingung. "Ini rumah Mbak Murni sama Mas Kusni, kamu salah alamat?""Dia memang istri Masmu," sahut Bulek. Hafsah terkejut. Dia menganga melihat wanita yang berusia lebih muda darinya rela menjadi istri Paklik. "Dia juga sedang hamil keponakan kamu, Haf.""Apa?!" pekik Hafsah. "Ha-- hamil?"Bulek mengangguk. Dia mempersilahkan Mesaroh dan kedua orang tuanya untuk masuk dan duduk bersama dengan Hafsah dan suaminya."Kalau boleh tau, untuk apa datang ke rumahku, sudah tau kan kalau suamimu itu ada penjara?" tanya Bulek sarkas. "Oh ya, ingat baik-baik, Mesaroh, ini rumahku bukan rumah suamimu. Paham?"Mesaroh melengos namun tidak dengan Bu Minah. Wanita yang usianya sepadan dengan Bulek itu menatap sengit ke arah Nita dan Wati bergantian. "Astaga ... sejak kapan Mas Kusni punya istri, Mbak

  • Status WhatsApp Ipar   Kedatangan Keluarga Paklik

    Dua hari setelah Bulek dirawat di Rumah Sakit, hari ini keadaannya sudah semakin membaik dan diperbolehkan pulang oleh dokter yang bertugas. Nita dan Wati membantu mengemas barang-barang sementara Adam menyelesaikan biaya administrasi dan Hadi membantu Bulek berjalan menuju parkiran mobil. "Bulek bisa jalan sendiri," kata Bulek pada Hadi. "Bulek sudah sembuh, Hadi.""Jangan banyak bicara, Bulek!" hardik Hadi dingin. "Kalau ada keponakan mau bermanja-manja begini, Bulek diam saja!"Bulek tersenyum tipis. Hadi memang berbeda dengan Adam. Suami Wati ini sedikit kesulitan beramah tamah. Namun hatinya sangat baik dan semua orang paham karakter Hadi."Maafkan Bulek ya ....""Sekali lagi Bulek minta maaf, aku yakin pasti dapat hadiah piring," cibir Hadi. Bulek terkekeh. Hatinya menghangat mendapat perlakuan istimewa dari keponakannya yang selama ini terkesan menjaga jarak."Bulek buruk sekali dulu ....""Ya, memang," sahut Hadi gamblang. "Kalau sampai setelah ini Bulek belum juga berubah m

  • Status WhatsApp Ipar   Ngerjain Mesaroh

    "Boleh ya, Mas Adam, aku harus menuntut hak buat calon bayiku."Adam hendak bangkit, namun Hadi mencekal pergelangan tangan adiknya dan menggeleng samar. "Duduk!"Dengan terpaksa suami Nita itu kembali duduk setelah menyentak napas kasar. "Ngelunjak!" desis Adam geram.Hadi bangkit. Dia berjalan dan mendekati Mesaroh yang terlihat sudah bersiap dengan tas selempang di pundaknya. "Ayo, Mas! Aku ini Bulek muda kalian, tolong lah kerja samanya!""Kita balik sekarang ya, Wat?" tanya Hadi pada istrinya. Wati mengangguk, Bu Asih dan Pak Panijo memahami keadaan anak menantunya. Senyum lega terbit di bibir Mesaroh, dia merapikan rambut dan bajunya saat Adam dan Hadi berjalan mendekati mobil mereka. Wati mendapat giliran terakhir mencium punggung tangan Emak dan Bapak sambil sejenak memeluk pasangan tua yang sudah membesarkannya selama ini. "Kalau Farhan sudah libur, kami kesini lagi, Mak.""Jangan pikirkan Emak dan Bapak, urus suami dan anakmu dengan baik. Hati-hati di jalan."Wati menganggu

  • Status WhatsApp Ipar   Keanehan

    "Janggal ya, dua tahun Mesaroh hilang tapi baru dicari beberapa hari belakangan kan? Mana langsung ketemu pula, kan aneh?" kata tetangga Mey. "Apalagi sampai bisa renovasi rumah, padahal suami Bu Minah gak kerja. Dapat uang darimana coba?""Iya, baru dicari sudah langsung ketemu, kenapa gak dicari dari dulu saja?" celetuk yang lain. "Janggal ya, aneh!"Kasak-kusuk tetangga santer terdengar. Mesaroh kesal, dia menghentak-hentakkan kaki dan melangkah masuk ke dalam kamar dengan perasaan dongkol."Tau apa kalian, jangan menuduh sembarangan! Sana pergi!" hardik Bu Minah. "Tetangga gak punya akhlak!"Para tetangga membubarkan diri sementara di rumah Bu Minah, wanita paruh baya itu marah-marah karena rencananya gagal total."Kamu seharusnya bisa gerak cepat, Saroh! Kalau sudah begini, sia-sia dua tahun kamu berpura-pura gila!" Bu Minah marah-marah dengan suara tertahan. Khawatir para tetangganya mendengar apa yang mereka ributkan. "Harusnya rumah Kusni bisa jadi milik kamu! Bodoh!"Mesaroh

  • Status WhatsApp Ipar   Rahasia Mesaroh

    "Kenapa, Mak?" Mesaroh datang dan menatap satu per satu orang yang ada di ruang tamu rumahnya. "Mas Kusni mau menikah ulang hari ini, Mak?" tanya Mesaroh sambil tersenyum malu. "Mana dia, kenapa gak manggil aku?"Bu Minah menunduk dalam. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini karena bagaimanapun kehamilan Mesaroh tanpa suami tentu menjadi aib untuknya."Nak, kasihan Mesaroh ... setidaknya beri sedikit harta gono-gini untuk calon bayinya," ucap Bu Minah memelas. Sangat berbeda dengan sikapnya beberapa menit yang lalu. Sungguh, Ibu Mesaroh ini adalah wanita yang pandai mengubah air muka dengan cepat. "Anu ... itu ... kalian ini kan keponakan istrinya Pak Kusni, setidaknya berikan sedikit bagian untuk Maesaroh. Anak yang dia kandung ini sepupu kalian loh."Hadi terkekeh sinis sementara Adam melengos mendengar suara Bu Minah yang mendadak berubah lembut. "Bu ... astaghfirullah," gumam Hadi sambil geleng-geleng. "Kami ini keponakan Bu Murni istri Pak Kusni. Jadi, semua yang berurusan d

  • Status WhatsApp Ipar   Mati Kutu

    Wati geleng-geleng. Bu Minah yang dia lihat sekarang seperti bukan Bu Minah yang datang ke rumah Bulek tempo hari. Sangat berbeda. "Bagaimanapun pernikahan anakku sama Paklik kalian itu gak sah! Dan besok aku mau Mesaroh dinikahi secara resmi, maharnya sertifikat rumah karena setelah menikah Mesaroh akan tinggal bersama suaminya." Bu Minah berbicara panjang lebar. "Harusnya begini sejak kemarin-kemarin, kenapa kalian sebagai keponakan ini gak peka sama sekali? Paklik kalian seharusnya diarahkan buat menikahi anakku secara resmi, bukan malah dilarang apalagi sampai diancam segala. Hei, sadar diri kalian ini, itu rumah punya Paklik kalian, kenapa kalian berdua justru marah-marah kalau Mesaroh minta mahar yang fantastis?!" Adam dan Hadi berusaha menahan emosinya. Kedua adik beradik itu saling pandang sambil menghela napas panjang. Bibir Wati hendak terbuka, namun Hadi menggenggam jemari istrinya memberikan isyarat agar diam.Wati menelan ludahnya kasar. Hampir saja mulutnya yang tajam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status