로그인Anya Maheswari, seorang desainer grafis berbakat, berada di titik terendah dalam hidupnya. Bisnis butik peninggalan ibunya terancam bangkrut karena utang yang menumpuk. Di tengah keputusasaannya, datanglah tawaran tak terduga dari Revan Adhitama, seorang CEO muda yang terkenal arogan dan tidak berperasaan. Revan membutuhkan seorang istri dalam waktu singkat untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat kakeknya dan mengamankan posisi pimpinan perusahaan. Ia menawarkan Anya sebuah pernikahan kontrak selama satu tahun. Imbalannya: dana tak terbatas untuk menyelamatkan bisnis keluarga Anya. Syaratnya: mereka harus tampil sebagai pasangan yang sempurna di depan umum, tinggal serumah, dan yang terpenting, dilarang keras melibatkan perasaan. Anya yang terdesak pun setuju. Awal kehidupan pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran sengit dan perang dingin. Namun, kedekatan yang dipaksakan (forced proximity) membuat mereka perlahan melihat sisi lain dari satu sama lain. Anya menemukan kerapuhan di balik topeng dingin Revan, sementara Revan terpesona oleh ketulusan dan keteguhan hati Anya. Ketika mantan kekasih Revan muncul kembali untuk mengacaukan segalanya dan rahasia di balik kesulitan bisnis Anya mulai terungkap, perjanjian mereka diuji. Mereka dipaksa untuk memilih: tetap berpegang pada kontrak yang menguntungkan atau menyerah pada perasaan tulus yang tak pernah mereka rencanakan.
더 보기Pagi terakhir di Bali terasa seperti pengkhianatan. Langit masih biru cemerlang, ombak masih berdebur dengan irama yang menenangkan, dan bunga kamboja masih menebarkan aroma manisnya di udara pagi yang jernih. Tapi bagi Anya, semua keindahan itu terasa hampa, sebuah ejekan kejam yang tertutupi oleh gema dingin dari dua kata yang diucapkan Revan semalam: Kita tidak bisa.Ia tidak tidur semalaman. Ia hanya berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, pikirannya terus memutar ulang momen di tepi kolam. Sentuhan lembut Revan di pipinya, tatapannya yang penuh kerinduan, kehangatan yang nyaris ia rasakan di bibirnya... lalu penolakan yang tiba-tiba dan brutal itu. Rasa sakitnya terasa aneh, lebih dalam dari sekadar kekecewaan. Ini bukan tentang ciuman yang gagal terjadi. Ini tentang sebuah pintu yang baru saja terbuka, memperlihatkan secercah harapan, lalu dibanting tertutup tepat di depan wajahnya.Ia sengaja datang terlambat ke meja sarapan, berharap Revan sudah selesai dan ia bisa me
Pagi setelah momen matahari terbenam terasa seperti fajar di dunia yang baru. Saat Anya melangkah ke teras sarapan yang terbuka, ia mendapati Revan sudah di sana, duduk sendirian menghadap ke lautan biru yang tak berujung. Pria itu tidak sedang membaca berita di tabletnya atau menelepon. Ia hanya duduk diam, secangkir kopi di tangannya, menatap cakrawala. Sebuah pemahaman tanpa kata melintas di antara mereka saat ia mendongak dan melihat Anya. Tidak ada lagi kecanggungan yang kaku, hanya kesadaran bersama bahwa sesuatu telah bergeser secara fundamental."Pagi," sapa Revan, suaranya tenang, senyum kecil yang tulus tersungging di bibirnya."Pagi," balas Anya, hatinya terasa ringan. "Sudah lama menunggu?""Baru saja. Aku ingin menikmati ini sebelum yang lain bangun," katanya, menunjuk ke arah pemandangan dengan cangkirnya.Tak lama kemudian, Eyang Suryo dan Rania bergabung dengan mereka. Eyang Suryo menatap mereka berdua dengan senyum puas, sementara Rania hanya mengaduk-aduk jus jerukny
Perjalanan ke Bali dimulai dalam keheningan yang berbeda. Bukan lagi keheningan dingin yang memisahkan, atau keheningan canggung yang menekan. Ini adalah keheningan yang penuh dengan pertanyaan, sebuah ruang kosong yang menunggu untuk diisi. Di dalam kabin jet pribadi yang mewah, dengan kursi kulit berwarna krem dan aksen kayu yang mengilap, Anya menatap hamparan awan putih di luar jendela, merasa seperti melayang di antara dua dunia—dunia nyata yang rumit dan dunia palsu yang akan segera ia masuki. Kesepakatan mereka untuk pergi "tanpa naskah" terasa seperti lompatan dari tebing tanpa tahu apakah ada air di bawahnya. Itu membebaskan sekaligus menakutkan.Di seberang lorong, Revan tampak fokus pada laptopnya. Namun, Anya bisa melihat pria itu tidak benar-benar bekerja. Jarinya hanya melayang di atas keyboard, dan tatapannya kosong, sesekali melirik ke arah jendela seolah mencari jawaban di langit yang tak berujung. Anya bertanya-tanya apa yang ada di pikirannya. Apakah ia menyesali ke
Pagi setelah pengakuan Revan terasa seperti keheningan aneh yang datang setelah badai besar. Udaranya jernih, tetapi pemandangannya penuh dengan puing-puing emosional yang tak terucapkan. Tembok di antara mereka telah runtuh, dan kini mereka berdiri di ruang terbuka yang canggung, tidak yakin bagaimana cara melangkah maju atau bahkan sekadar saling menatap.Revan kembali menjadi bayangan. Ia menghindari mata Anya, menjawab pertanyaannya dengan gumaman singkat, dan menyibukkan diri dengan tabletnya seolah itu adalah satu-satunya benda di dunia. Anya mengerti. Pria itu telah menunjukkan celah di baju zirahnya, sebuah kerentanan yang begitu dalam, dan sekarang ia mati-matian berusaha menambalnya kembali. Ia panik. Ia takut. Anya tidak mendorong, tidak bertanya. Ia hanya memberikan Revan ruang yang sepertinya sangat pria itu butuhkan.Namun, Anya melakukan pemberontakan kecilnya sendiri. Pagi itu, sebelum Bu Lastri datang, ia masuk ke dapur yang sunyi. Alih-alih hanya membuat kopi, ia mem
Ciuman itu terasa seperti sambaran petir di tengah badai yang sunyi. Itu bukan ciuman yang lembut dan penuh sandiwara untuk kame
Pagi setelah malam soto ayam terasa aneh. Keheningan di penthouse itu tidak lagi terasa memusuhi, melainkan canggung dan penuh dengan hal-hal yang tak terucapkan. Saat Anya keluar dari kamarnya, ia berpapasan dengan Revan yang baru saja selesai berolahraga, mengenakan kaus abu-abu yang memeluk tubu
Hari-hari berikutnya terasa seperti hidup dalam sebuah lukisan surealis yang indah namun tak bernyawa. Anya menghabiskan sebagian besar waktunya di Kainara, menenggelamkan diri dalam satu-satunya dunia yang terasa nyata. Di sana, di antara gulungan kain sutra dan benang warna-warni, ia adalah dirin
Keesokan siangnya, Anya mendapati dirinya duduk di dalam mobil yang sama, di samping pria yang sama, menuju ke neraka versi lain: sebuah pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta. Jika kemarin ia merasa seperti debu di lobi Adhitama Tower, hari ini ia merasa seperti barang palsu di tengah etalase












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.