PEREMPUAN DI BALIK LENTERA

PEREMPUAN DI BALIK LENTERA

last updateLast Updated : 2026-01-02
By:  Y. RsUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
26Chapters
28views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sejak kecil, hidupnya dibentuk oleh kehilangan dan pengabaian. Ia dilahirkan dari seorang ibu yang mati dalam cinta yang tidak membahagiakan, dan seorang ayah yang menolaknya hanya karena ia perempuan. Terabaikan oleh ibu, terluka oleh ayah, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaan adalah kemewahan yang tidak dimiliki orang sepertinya. Ia dibesarkan oleh nenek dari pihak ibu—seorang perempuan tua yang lembut dan penyayang—yang mengajarkannya untuk tetap menjadi manusia, meski dunia tidak pernah adil. Dari kehidupan keras itulah ia belajar membaca keadaan, memahami orang, dan mengasah kecerdasannya secara diam-diam. Bukan lewat sekolah, melainkan dari lingkungan, percakapan, dan pengamatan yang tajam. Ketika ia bekerja sebagai pelayan di rumah seorang bangsawan muda, ia membawa prinsip sederhana: tidak berharap, tidak melanggar batas, dan tidak jatuh cinta. Ia sadar sepenuhnya akan rendahnya posisi sosialnya. Ia dingin bukan karena tak punya hati, melainkan karena terlalu memahami risiko. Namun ketenangan dan kecerdasannya justru mengusik sang tuan—seorang pewaris bangsawan yang terikat adat, kuasa, dan rencana pernikahan politik. Hubungan mereka tumbuh perlahan, berjarak, dan penuh rintangan. Bukan kisah cinta yang gegabah, melainkan pertarungan batin antara realitas sosial dan perasaan yang tak pernah diminta. Di tengah intrik istana, gosip, hukuman, dan rahasia masa lalu yang perlahan terbuka, ia dipaksa menghadapi pilihan berat: tetap bertahan sebagai perempuan yang aman dalam keterbatasan, atau mempertaruhkan dirinya pada cinta yang mungkin—atau mungkin tidak—akan menghormatinya sebagai setara.

View More

Chapter 1

BAB 1 - Tempat untuk Bertahan

Ia belajar satu hal sejak kecil:

perempuan sepertinya tidak boleh berharap terlalu tinggi.

Bukan karena ia bodoh, melainkan karena hidup telah mengajarinya untuk membaca batas—batas yang tidak tertulis, tapi selalu terasa. Batas antara mereka yang memiliki nama dan mereka yang hanya memiliki tenaga. Antara yang dipanggil dengan gelar dan yang cukup menjawab dengan tunduk.

Pagi itu, embun masih menggantung di halaman rumah bangsawan tempat ia bekerja. Bangunan besar dengan tiang-tiang kayu tua berdiri anggun, seolah waktu tidak pernah berani menyentuhnya dengan kasar. Di sinilah ia sekarang—seorang pelayan perempuan, berdiri rapi dengan kepala sedikit menunduk, tangan terlipat tenang di depan perut.

Ia tidak gugup. Tidak pula berdebar seperti pelayan baru lainnya.

Ia hanya mengamati.

Suara langkah para abdi dalem terdengar teratur. Bisikan-bisikan kecil beredar, tentang kedatangan tuan muda yang baru kembali dari wilayah seberang. Tentang wajahnya, tentang wataknya, tentang bagaimana seharusnya mereka bersikap.

Ia mendengarkan semuanya tanpa menanggapi. Dari neneknya, ia belajar bahwa kata-kata sering kali lebih berbahaya daripada diam.

Neneknya—satu-satunya manusia yang pernah memeluknya tanpa syarat.

Perempuan tua itu membesarkannya setelah ibunya mati dalam cinta yang tidak pernah memberinya kebahagiaan. Ibunya mencintai seorang laki-laki yang keras, egois, dan merasa dunia harus tunduk pada kehendaknya hanya karena ia lelaki. Dari cinta itulah ia lahir—bukan sebagai anugerah, melainkan sebagai sesuatu yang diabaikan.

Ayahnya tidak pernah benar-benar menganggapnya ada. Anak perempuan, baginya, bukan warisan. Bukan penerus. Bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan. Ia tumbuh di antara tatapan kosong dan keheningan yang lebih menyakitkan daripada bentakan.

Dari situlah hatinya mendingin.

Bukan membeku—hanya belajar untuk tidak mudah hangat.

Namun neneknya mengajarkan satu hal yang tidak pernah ia lepaskan:
Jangan biarkan dunia merampas kelembutanmu, meski ia tak pernah lembut padamu.

Itulah sebabnya, hingga kini, ia masih bisa tersenyum.

Senyum kecil. Sopan. Tidak mengundang. Tidak berharap.

“Pelayan baru,” suara kepala abdi memanggil, sedikit tajam. “Kau ikut ke dalam.”

Ia melangkah maju tanpa tergesa. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Ia tahu ritme ini. Tahu kapan harus terlihat, kapan harus menjadi bayangan.

Di dalam pendapa, udara terasa lebih dingin. Beberapa bangsawan berdiri berbincang, pakaian mereka rapi, bahasa mereka terukur. Di tengah ruangan itu, berdiri seorang laki-laki yang tidak perlu dikenalkan untuk diketahui siapa dia.

Tuan muda itu tidak banyak bergerak. Posturnya tegak, sorot matanya tenang namun tajam—mata seseorang yang terbiasa dipatuhi. Wajahnya tidak menunjukkan emosi berlebihan, seolah dunia ada pada jarak yang aman darinya.

Ia menunduk seperti yang seharusnya. Tidak terlalu dalam, tidak ceroboh. Satu detik terlalu lama bisa dianggap kurang ajar. Terlalu cepat bisa dianggap tidak hormat.

“Namamu?” suara itu bertanya.

Nada datar. Bukan kasar. Bukan ramah.

Ia menjawab dengan jelas. Tanpa gemetar.

“Sejak kapan kau bekerja di sini?”

“Baru beberapa hari, Tuanku.”

Ia tidak menambahkan apa pun. Tidak merasa perlu menjelaskan asal-usulnya. Hidup telah mengajarkannya bahwa cerita tentang luka hanya menarik bagi mereka yang ingin menggunakannya.

Tuan muda itu menatapnya sejenak lebih lama dari yang diperlukan. Bukan tatapan seorang lelaki pada perempuan, melainkan tatapan seseorang yang sedang menilai—sesuatu yang anehnya sudah biasa baginya.

“Baik,” kata laki-laki itu akhirnya. “Lanjutkan tugasmu.”

Ia menunduk lagi, lalu melangkah pergi.

Namun ia merasakan sesuatu yang tidak ia rencanakan:

tatapan itu masih tertinggal di punggungnya.

Bukan tatapan lapar.

Bukan tatapan meremehkan.

Lebih seperti… penasaran.

Ia mengabaikannya.

Cinta, perhatian, atau rasa ingin tahu dari seorang tuan bukanlah hadiah. Itu adalah bahaya. Dan ia telah bersumpah, sejak lama, untuk tidak jatuh ke lubang yang sama seperti ibunya.

Ia tidak ingin diselamatkan.

Tidak ingin dicintai oleh orang yang salah.

Ia hanya ingin satu hal—

sebuah tempat untuk bertahan.

Dan sejauh yang ia tahu, perasaan tidak pernah menjadi tempat yang aman bagi perempuan sepertinya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
26 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status