Início / Romansa / Step Brother Next Door / Bab (3) : Mobil Kakak

Compartilhar

Bab (3) : Mobil Kakak

Autor: Anya Kiss
last update Data de publicação: 2026-09-20 18:45:19

Sialnya aku sudah menunggu di depan garasi hampir sepuluh menit.

Tas kuliah yang menggantung di bahuku semakin terasa berat, sementara kanvas besar di tanganku berkali-kali diterpa angin. Seandainya ayah mengizinkan, sejak tadi aku sudah memesan Uber dan berangkat sendiri.

Sayangnya, ia bersikeras meminta Hades mengantarku.

Pintu menuju rumah akhirnya terbuka. Hades muncul dengan kunci mobil di tangan dan ekspresi seolah baru saja dipaksa meninggalkan urusan yang jauh lebih penting.

Aku berdiri lebih tegak. "Maaf merepotkan," ucapku yang sebenarnya menahan ngeri.

Dasar galak.

Hades tidak menjawab. Tatapannya turun menuju kanvas dan tas yang kubawa, kemudian ia berjalan melewatiku menuju garasi.

Aku menghela napas sebelum mengekor di belakang punggung tegapnya.

Garasi keluarga Visconti jauh lebih besar daripada flat lama ibu. Beberapa mobil terparkir berjajar, Hades memilih Merces keluaran terbaru, yang berada di sudut.

Mobil pribadinya.

"Berikan," katanya tanpa menoleh.

Aku mengangkat kanvas sedikit. "Ini?" tanyaku ragu.

"Semuanya," jawabnya singkat tanpa minat.

Belum sempat aku membantah, Hades sudah mengambil kanvas dan tas dari tanganku. Benda-benda yang membuat kedua lenganku pegal itu dibawanya dengan mudah menuju bagasi.

Ia meletakkannya dengan hati-hati, memastikan sisi kanvas tidak tertekan barang lain sebelum menutup pintu bagasi.

"Terima kasih," ucapku pelan.

Hades hanya membuka pintu pengemudi.

Seekor burung gagak di kandang dekat garasi tiba-tiba berkaok keras. Hades menghentikan langkah dan meliriknya dengan tatapan tajam.

"Diam," tegurnya.

Burung itu justru semakin berisik.

Aku menahan tawa sambil masuk ke kursi penumpang. Begitu pintu tertutup, suara burung tersebut teredam.

Sayangnya, keheningan di dalam mobil terasa jauh lebih menegangkan.

Hades menyalakan mesin tanpa mengatakan apa pun.

Aku melirik ke kursi belakang. Sebuah jaket lapangan tergantung rapi, ditemani tas taktis, sepatu bot, dan helm yang diletakkan di kompartemen khusus. Tidak ada satu pun barang yang berserakan.

Mobil itu dipenuhi aroma kulit, kopi, dan sisa asap rokok yang samar.

Dingin, kering, dan terlalu mirip dengan pemiliknya.

Hades mulai menjalankan mobil. Satu tangannya memegang kemudi, sedangkan tangan lainnya berpindah menuju tuas transmisi.

Mataku tanpa sadar mengikuti gerakan lengannya.

Kaus hitam yang dikenakannya memperlihatkan otot serta urat yang menegang setiap kali ia membelokkan kemudi. Bahkan dengan pakaian sederhana, laki-laki itu tetap terlihat seperti seseorang yang seharusnya kuhindari.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Aku mencoba menyandarkan kepala ke kursi dan memaksa pandanganku tetap mengarah ke jendela. Deretan bangunan Jenewa bergerak melewati kami, tetapi tak satu pun benar-benar masuk ke kepalaku.

Masalah di rumah itu ternyata bukan hanya Hades yang terlalu dingin.

Akulah yang semakin sulit membedakan rasa ingin tahu, kebutuhan akan perhatian, dan perasaan lain yang seharusnya tidak tumbuh terhadap kakak tiriku sendiri.

Mobil akhirnya memasuki kawasan kampus. Mahasiswa berlalu-lalang menuju gedung fakultas dengan laptop, map, dan kanvas di tangan.

Dari kejauhan, aku melihat Liana, Kattie, dan Bella berdiri di dekat rektorat.

Hades menghentikan mobil di tepi jalan. Aku segera membuka sabuk pengaman agar perjalanan canggung ini lekas berakhir.

Namun, Hades lebih dahulu keluar.

Beberapa mahasiswa langsung menoleh ketika ia berjalan menuju bagasi. Ia memang hanya mengenakan kaus hitam dan celana kasual, tetapi posturnya yang tinggi serta cara berjalannya membuatnya tetap mencolok.

Aku turun dari sisi penumpang.

"Aku bisa membawanya sendiri," ujarku sambil mengulurkan tangan ke arah kanvas.

Hades dengan mudah mengeluarkan kanvas, lalu menggantungkan tas kuliahku pada satu bahu.

Tukang pamer.

Aku mengerutkan kening. "Itu karena berat," sangkalku kesal.

"Itulah sebabnya aku membawanya," jawabnya.

Jawabannya membuatku terdiam. Ia menyerahkan kanvas terlebih dahulu, kemudian membantu menyampirkan tali tas ke bahuku agar tidak menghantam lukisan.

Gerakannya singkat dan tanpa kelembutan berlebihan. Namun, jarinya sempat menyentuh bahuku. Kontak kecil itu kembali membuat jantungku kehilangan irama.

"Terima kasih, kak," ucapku pelan.

Hades hanya mengangguk. Tatapannya sempat tertahan padaku selama satu detik sebelum ia berbalik dan masuk kembali ke mobil.

Aku masih berdiri ketika kendaraan hitam itu meninggalkan area kampus.

"Cherry!"

Suara Liana membuatku menoleh. Ia berlari kecil menghampiriku bersama Kattie dan Bella.

"Kau baru turun dari mobil siapa?" tanyanya dengan mata membesar.

Bella masih menatap mobil yang semakin menjauh. Tubuhnya bahkan sedikit condong ke depan, seolah berharap bisa memastikan sosok yang baru saja turun dari mobil itu untuk terakhir kalinya.

"Pria... itu mirip Hades Visconti?" tanyanya, matanya masih mengikuti arah mobil yang mulai menghilang di ujung jalan.

Aku mengerutkan kening.

"Itu kakakku," jawabku santai.

Ketiganya mendadak diam.

Aku memandang mereka satu per satu sebelum akhirnya menambahkan, "Kakak tiriku," ucapku malas, merasa perlu menjelaskan.

Liana langsung meraih lenganku dan menariknya sedikit agar aku berhenti berjalan.

"Sejak kapan ia menjadi kakak tirimu? Dan kau tidak pernah bercerita?" tanyanya dengan mata membesar.

Aku mengangkat bahu kecil tanda acuh, sangat berbanding terbalik dengan suasana hatiku.

"Aku tidak merasa itu penting," jawabku, lalu kembali melangkah.

Kattie menatapku seperti aku baru saja mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Alisnya bahkan terangkat tinggi.

"Cherry, itu Hades Visconti!" serunya tidak percaya.

Aku menoleh kepadanya.

"Lalu?" tanyaku polos.

Liana menyenggol sikutku pelan. Bibirnya melengkung membentuk senyum penuh rasa ingin tahu.

"Kau tahu siapa dia?" tanyanya.

Spanramnya berat, aku menggeser kanvas agar lebih nyaman dibawa, lalu menggeleng kecil.

"Kita bahkan baru berbicara dan bertemu sebentar," jawabku.

Bella terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.

"Dia letnan di satuan elit. Keluarga Visconti juga memiliki beberapa bisnis besar, meskipun mereka hampir tidak pernah muncul di media," jelasnya yang anehnya bersemangat.

Langkahku langsung melambat, aku menoleh kepada Bella.

"Oh... ya?" sahutku, nyaris tanpa ekspresi.

Liana memicingkan mata, seolah sulit percaya aku benar-benar tidak mengetahui hal itu.

"Kau tinggal bersama mereka dan baru mengetahuinya sekarang?" tanyanya heran.

Aku mengangguk kecil.

"Kupikir mereka hanya keluarga kaya yang agak menyeramkan," jawabku jujur.

"Mereka memang menyeramkan," sahut Kattie cepat. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ayah tirimu mantan jenderal. Hades juga tentara, kan?"

Aku belum sempat menjawab ketika Liana kembali menyikut lenganku. Kali ini senyumnya jauh lebih nakal.

"Dan dia masih lajang," godanya dengan mengedipkan sebelah matanya.

Aku langsung menatapnya tajam.

"Kenapa informasi itu penting?" tanyaku, mengernyit.

"Karena dia tampan," kekehnya.

Bella dan Kattie langsung tertawa.

Aku hampir tersandung langkah sendiri karena tidak menyangka jawabannya sesederhana itu.

"Bella!" seruku sambil menatap mereka bergantian.

Bella hanya mengangkat kedua tangannya, masih menahan tawa.

"Tunggu!" pekik Kattie tiba-tiba.

Aku, Bella, dan Liana menoleh bersamaan.

Kattie menatapku dengan ekspresi seolah baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar fakta bahwa Hades adalah kakak tiriku.

"Jika Hades kakak tirimu, maka Mattheo ayah tirimu?!" tanyanya.

Aku menatapnya kikuk. Tanganku terangkat untuk menggaruk pelan tengkuk yang sebenarnya tidak terasa gatal.

"Iya," jawabku singkat.

Kattie berdeham. Ekspresinya berubah lebih serius.

"Berarti kau juga tidak tahu soal kejadian beberapa tahun lalu?" tanyanya.

“Tunggu!” pekikan Kattie membuat aku, Bella, dan Liana menoleh. “Jika Hades kakak tirimu, maka Mattheo ayah tirimu?!”

Aku menatapnya kikuk, menggaruk pelan tengkuk yang tak gatal.

Kattie berdeham. "Berarti kau juga tidak tahu soal kejadian beberapa tahun lalu?"

.. Tahun lalu? Kami bahkan baru pindah kesini! Aku mengerutkan kening, "Kejadian apa?"

"Acara amal yang dihadiri wali kota," jawab Kattie. "Waktu itu ada percobaan penembakan. Ayah tirimu yang menembak pelakunya.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Step Brother Next Door   Bab (6) : Ruang Kerja Ayah

    Kepusinganku belum berakhir. Hari itu ayah memintaku mengambil sebuah map dari ruang kerjanya."Map biru tua yang ada di laci paling atas," ujar ayah lalu menyeruput kopi yang katanya diimport dari York."Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan. Ayah membutuhkannya sebelum makan siang." lanjut ayah sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. Ku tinggalkan sebentar tugas sketsa anatomiku."Baik." sahutku sambil merapikan ujung kertas sketsa yang sedikit terlipat."Jangan lupa bawa semuanya." ujar ayah sambil mengangkat telunjuknya sebagai pengingat."Iya, ayah." jawabku sambil mengangguk sekali.Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada di ujung lorong.Aku membuka pintu perlahan.Ruangan kosong menyambutku, juga banyaknya barang-barang sentimental seorang mantan jenderal satuan elit.Aku menutup pintu di belakangku, kemudian berjalan menuju meja kerja besar yang memenuhi hampir separuh ruangan.Laci pertama, kosong. Laci kedu

  • Step Brother Next Door   Bab (5) : Saling Membantu

    Hades tidak berada di rumah pagi itu.Ayah sudah memintanya membawa mobil lamanya ke bengkel. Bukan karena mobil itu bermasalah, justru sebaliknya.Mobil tua berwarna hitam itu sudah bertahun-tahun berada di garasi keluarga dan masih terawat seperti benda yang terlalu berharga untuk diganti."Ganti oli saja sekalian periksa mesinnya," ujar ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Hades. "Jangan sampai kau baru sadar ada masalah setelah mobilnya berhenti di tengah jalan."Hades menerima kunci tersebut tanpa banyak bicara. Ia memutar benda itu sekali di antara jemarinya sebelum memasukkannya ke saku celana."Aku bisa mengurusnya sendiri, Ayah," ucap Hades sambil mengangkat sebelah alis."Aku tahu," jawab ayah tenang sambil menatap putranya. "Itulah sebabnya aku menyuruhmu."Hades tidak menjawab.Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang sedang duduk di meja makan. Hanya sepersekian detik sebelum kembali kepada ayah.Aku pura-pura tidak melihat."Aku pergi," ujar Hades sambil merapikan

  • Step Brother Next Door   Bab (4) : Kesalahan

    Sepanjang perjalanan pulang kemarin, cerita Kattie terus berputar di kepalaku.Ayah pernah melumpuhkan seorang penembak dalam acara amal. Hades bertugas di satuan elite. Sementara aku tinggal bersama mereka tanpa mengetahui apa pun selain nama keluarga Visconti yang terpasang di gerbang depan.Pantas saja suasana rumah ini terkadang terasa seperti markas jajahan. Konyol.Keesokan paginya, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Ibu sudah bekerja di ruang baca, sedangkan Ayah pergi sejak pagi. Hades juga sempat mengatakan bahwa ia memiliki urusan di luar.Karena mengira tidak akan bertemu siapa pun, aku keluar kamar hanya dengan tanktop tipis dan celana pendek rumah.Aku baru berjalan beberapa langkah ketika pintu kamar ayah dan ibu terbuka.Hades muncul sambil membawa kotak perkakas.Langkahku langsung terhenti.Kaus hitamnya lembab di bagian dada dan punggung, sementara kedua lengannya digulung asal hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru beberapa kali diusap menggu

  • Step Brother Next Door   Bab (3) : Mobil Kakak

    Sialnya aku sudah menunggu di depan garasi hampir sepuluh menit. Tas kuliah yang menggantung di bahuku semakin terasa berat, sementara kanvas besar di tanganku berkali-kali diterpa angin. Seandainya ayah mengizinkan, sejak tadi aku sudah memesan Uber dan berangkat sendiri. Sayangnya, ia bersikeras meminta Hades mengantarku. Pintu menuju rumah akhirnya terbuka. Hades muncul dengan kunci mobil di tangan dan ekspresi seolah baru saja dipaksa meninggalkan urusan yang jauh lebih penting. Aku berdiri lebih tegak. "Maaf merepotkan," ucapku yang sebenarnya menahan ngeri. Dasar galak. Hades tidak menjawab. Tatapannya turun menuju kanvas dan tas yang kubawa, kemudian ia berjalan melewatiku menuju garasi. Aku menghela napas sebelum mengekor di belakang punggung tegapnya. Garasi keluarga Visconti jauh lebih besar daripada flat lama ibu. Beberapa mobil terparkir berjajar, Hades memilih Merces keluaran terbaru, yang berada di sudut. Mobil pribadinya. "Berikan," katanya tanpa men

  • Step Brother Next Door   Bab (2) : Kasih Sayang Ayah

    Pagi di rumah Visconti selalu dimulai dengan ketenangan yang nyaris terlalu sempurna.Pembantu rumah tangga datang setiap pagi dan pulang sebelum sore. Dan Mattheo, ayah tiriku tidak pernah menyukai orang asing tinggal di rumahnya, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia militer.Kebiasaan menjaga rumah, jadwal, dan segala sesuatu di bawah kendalinya rupanya tidak ikut pensiun bersamanya.Aku duduk di meja makan dengan punggung tegak, berusaha terlihat biasa saja.Hades mengenakan kaus gelap dengan lengan panjang yang digulung sampai siku. Ototnya terlihat padat, sementara urat-urat halus tampak jelas di punggung tangannya setiap kali ia mengangkat cangkir.Sialnya, pikiranku tidak mau bekerja sama. Karena beberapa detik kemudian, mataku kembali mencuri pandang.Sebagai mahasiswi seni yang terbiasa mengamati sesuatu yang menarik secara visual, aku tetaplah gadis normal yang akan panas dingin melihat pria seksi.Namun buru-buru, aku segera mengalihkan pandangan setelah mengama

  • Step Brother Next Door   Bab (1) : Pintu Kamar Sebelah

    Kamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.Tampan.Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status