Início / Romansa / Step Brother Next Door / Bab (4) : Kesalahan

Compartilhar

Bab (4) : Kesalahan

Autor: Anya Kiss
last update Data de publicação: 2026-09-20 18:45:22

Sepanjang perjalanan pulang kemarin, cerita Kattie terus berputar di kepalaku.

Ayah pernah melumpuhkan seorang penembak dalam acara amal. Hades bertugas di satuan elite. Sementara aku tinggal bersama mereka tanpa mengetahui apa pun selain nama keluarga Visconti yang terpasang di gerbang depan.

Pantas saja suasana rumah ini terkadang terasa seperti markas jajahan.

Konyol.

Keesokan paginya, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Ibu sudah bekerja di ruang baca, sedangkan Ayah pergi sejak pagi. Hades juga sempat mengatakan bahwa ia memiliki urusan di luar.

Karena mengira tidak akan bertemu siapa pun, aku keluar kamar hanya dengan tanktop tipis dan celana pendek rumah.

Aku baru berjalan beberapa langkah ketika pintu kamar ayah dan ibu terbuka.

Hades muncul sambil membawa kotak perkakas.

Langkahku langsung terhenti.

Kaus hitamnya lembab di bagian dada dan punggung, sementara kedua lengannya digulung asal hingga siku.

Rambutnya sedikit berantakan seperti baru beberapa kali diusap menggunakan tangan yang basah.

Hades ikut menghentikan langkah, tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Ekspresinya tetap datar dan dingin, seolah kemunculanku hanya menjadi gangguan lain yang harus dilewatinya pagi ini.

Aku hendak bertanya kenapa dia berada di kamar orang tua kami ketika mataku menangkap sesuatu yang lain.

Darah menetes dari telunjuknya.

"Jari kakak kenapa?" tanyaku kalut. Suaraku terdengar lebih panik daripada yang kuinginkan, sementara kedua alisku langsung bertaut.

Tapi Hades tak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menurunkan pandangan pada jarinya sendiri, lalu mengangkatnya sedikit seolah luka itu sama sekali bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Aku memperhatikan luka itu lebih saksama.

"Itu berdarah," kataku kemudian dengan kecemasan yang peduli.

Aku langsung berjalan mendekat. Hades tidak bergerak, lalu aku mengulurkan tangan hendak memeriksa lukanya.

Namun sebelum aku menyentuh tangannya, Hades menarik tangannya sendiri.

"Jangan sentuh," Tangannya segera turun ke sisi tubuhnya, sementara sorot matanya beralih kepadaku dengan peringatan yang sulit disalahartikan.

Aku langsung berhenti. "Aku cuma mau lihat," bantahku pelan. Kedua telapak tanganku terangkat sedikit, menunjukkan bahwa aku tidak bermaksud memaksanya.

Hanya kekhawatiran seorang adik.

"Aku bisa mengurusnya sendiri," jawab Hades tanpa nada. Ia menggeser kotak perkakas di tangannya, kemudian kembali menatap lukanya sekilas.

"Tapi lukanya—"

Kalimatku disanggah, sementara rahangnya mengeras.

"Cherry." Suara itu rendah, bukan keras. Hades menyebut namaku dengan penekanan yang membuatku merinding. "Jangan menyentuhku."

Hades menatapku keras. Lalu tatapan pria itu turun sekilas. Urat-urat di leher Hades mulai tegang, kemudian alisnya menukik.

Aku hendak bertanya, tetapi tiba-tiba sesuatu mengganggu pikirannya dari jarak sedekat ini.

"K—kenapa kakak marah?" tanyaku terbata. Jemariku saling bertaut di depan tubuh, sementara aku berusaha memahami amarahnya.

Namun tiba-tiba ia maju, melangkah mendekat, hingga aku harus mundur. Sampai Hades berhenti tepat di depannya.

"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Hades pelan yang jelas tersinggung, alisnya berkerut. Nada suaranya tetap terkendali, tetapi rahangnya terlihat semakin mengeras.

Aku menelan ludah sebelum menjawab, "Kenap—"

"Kau selalu begini?" potong Hades. Ia mengangkat sedikit dagunya, tatapan kerasnya tidak lepas dariku.

Aku mengerutkan kening, jemariku mengepal semakin gugup, "Begini bagaimana?" tanyaku dengan suara yang semakin kecil dan mulai gemetar.

Hades menatapku dari atas, karena tinggi mereka kontras.

Tatapannya kemudian turun lagi pada dadaku. "Tidak tahu malu." Kalimat itu diucapkannya datar, tanpa sedikit pun perubahan pada ekspresinya.

Aku menahan nafas, entah mengapa orang ini jauh lebih menakutkan daripada kemarin.

Dengan responnya yang terlambat, semakin membuat salah paham. Lenganku bersilang menutupi kaus.

Hades maju satu langkah lagi, membuatku mau tidak mau kembali mengambil langkah mundur. "Masih tidak tahu salahmu?" tanyanya dingin, kepalanya sedikit menunduk untuk menatapku.

"Maksud kakak—" bantahku, mulai merasa tersudut. Tatapannya benar-benar membuatku ngeri.

Hades tak sengaja menyenggolku saat ingin berbalik badan, kali ini lebih kasar daripada kemarin. Tubuhku hampir terdorong ke belakang sampai tumitnya kehilangan pijakan.

Tapi, pria itu menangkap lenganku secara refleks sebelum tubuhku benar-benar menyentuh lantai.

Perbedaan ukuran jemari pria itu terasa lebar, kontras kami terasa lebih menyakitkan dalam jarak sedekat itu. Tanpa bisa dicegah, aku menatap kebawah saat pahaku menekan sesuatu.

Mataku spontan membulat dengan keterkejutan, rona merah menampar terang dari pipi sampai leher milikku.

Beberapa detik sampai lamunanku pecah saat tangan Hades mengurung lenganku, membuat mau tak mau aku harus mendongak dan Hades kembali menatap.

Kemudian segera melepaskannya seolah sentuhan itu sendiri membuatnya dosa.

"Belajar pakai pakaian yang benar." Kalimat itu keluar begitu datar sehingga justru terasa lebih kejam. Hades merapikan kembali posisi kotak perkakas di tangannya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Hades tidak menaikkan suara. Ia hanya menatapku seolah sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya berada di hadapannya.

Aku tidak mampu menjawab sampai Hades melewatiku. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti.

Tanpa menoleh, suaranya terdengar rendah, "Kau bukan anak kecil yang harus berlarian di rumah orang lain tanpa pakaian, Cherry."

Ia pergi saat aku termenung mendengar perkataannya di lorong.

Rumah.. orang lain?

Aku memandangi punggungnya hingga menghilang di ujung tangga.

Memang benar, aku baru beberapa minggu tinggal di rumah ini. Nama Visconti juga bukan nama yang kubawa sejak lahir. Namun, Ayah sendiri sudah mengatakan bahwa aku adalah putrinya.

Lalu, mengapa Hades masih memperlakukanku seperti orang asing yang tidak seharusnya berada di sini?

Aku kembali menatap lorong yang telah kosong. Satu pikiran kasar terus menamparku mentah-mentah.

Hades Visconti adalah kakak tiriku. Dan mungkin, menjadi adiknya adalah kesalahan pertama yang aku lakukan di rumah ini.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Step Brother Next Door   Bab (6) : Ruang Kerja Ayah

    Kepusinganku belum berakhir. Hari itu ayah memintaku mengambil sebuah map dari ruang kerjanya."Map biru tua yang ada di laci paling atas," ujar ayah lalu menyeruput kopi yang katanya diimport dari York."Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan. Ayah membutuhkannya sebelum makan siang." lanjut ayah sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. Ku tinggalkan sebentar tugas sketsa anatomiku."Baik." sahutku sambil merapikan ujung kertas sketsa yang sedikit terlipat."Jangan lupa bawa semuanya." ujar ayah sambil mengangkat telunjuknya sebagai pengingat."Iya, ayah." jawabku sambil mengangguk sekali.Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada di ujung lorong.Aku membuka pintu perlahan.Ruangan kosong menyambutku, juga banyaknya barang-barang sentimental seorang mantan jenderal satuan elit.Aku menutup pintu di belakangku, kemudian berjalan menuju meja kerja besar yang memenuhi hampir separuh ruangan.Laci pertama, kosong. Laci kedu

  • Step Brother Next Door   Bab (5) : Saling Membantu

    Hades tidak berada di rumah pagi itu.Ayah sudah memintanya membawa mobil lamanya ke bengkel. Bukan karena mobil itu bermasalah, justru sebaliknya.Mobil tua berwarna hitam itu sudah bertahun-tahun berada di garasi keluarga dan masih terawat seperti benda yang terlalu berharga untuk diganti."Ganti oli saja sekalian periksa mesinnya," ujar ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Hades. "Jangan sampai kau baru sadar ada masalah setelah mobilnya berhenti di tengah jalan."Hades menerima kunci tersebut tanpa banyak bicara. Ia memutar benda itu sekali di antara jemarinya sebelum memasukkannya ke saku celana."Aku bisa mengurusnya sendiri, Ayah," ucap Hades sambil mengangkat sebelah alis."Aku tahu," jawab ayah tenang sambil menatap putranya. "Itulah sebabnya aku menyuruhmu."Hades tidak menjawab.Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang sedang duduk di meja makan. Hanya sepersekian detik sebelum kembali kepada ayah.Aku pura-pura tidak melihat."Aku pergi," ujar Hades sambil merapikan

  • Step Brother Next Door   Bab (4) : Kesalahan

    Sepanjang perjalanan pulang kemarin, cerita Kattie terus berputar di kepalaku.Ayah pernah melumpuhkan seorang penembak dalam acara amal. Hades bertugas di satuan elite. Sementara aku tinggal bersama mereka tanpa mengetahui apa pun selain nama keluarga Visconti yang terpasang di gerbang depan.Pantas saja suasana rumah ini terkadang terasa seperti markas jajahan. Konyol.Keesokan paginya, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Ibu sudah bekerja di ruang baca, sedangkan Ayah pergi sejak pagi. Hades juga sempat mengatakan bahwa ia memiliki urusan di luar.Karena mengira tidak akan bertemu siapa pun, aku keluar kamar hanya dengan tanktop tipis dan celana pendek rumah.Aku baru berjalan beberapa langkah ketika pintu kamar ayah dan ibu terbuka.Hades muncul sambil membawa kotak perkakas.Langkahku langsung terhenti.Kaus hitamnya lembab di bagian dada dan punggung, sementara kedua lengannya digulung asal hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru beberapa kali diusap menggu

  • Step Brother Next Door   Bab (3) : Mobil Kakak

    Sialnya aku sudah menunggu di depan garasi hampir sepuluh menit. Tas kuliah yang menggantung di bahuku semakin terasa berat, sementara kanvas besar di tanganku berkali-kali diterpa angin. Seandainya ayah mengizinkan, sejak tadi aku sudah memesan Uber dan berangkat sendiri. Sayangnya, ia bersikeras meminta Hades mengantarku. Pintu menuju rumah akhirnya terbuka. Hades muncul dengan kunci mobil di tangan dan ekspresi seolah baru saja dipaksa meninggalkan urusan yang jauh lebih penting. Aku berdiri lebih tegak. "Maaf merepotkan," ucapku yang sebenarnya menahan ngeri. Dasar galak. Hades tidak menjawab. Tatapannya turun menuju kanvas dan tas yang kubawa, kemudian ia berjalan melewatiku menuju garasi. Aku menghela napas sebelum mengekor di belakang punggung tegapnya. Garasi keluarga Visconti jauh lebih besar daripada flat lama ibu. Beberapa mobil terparkir berjajar, Hades memilih Merces keluaran terbaru, yang berada di sudut. Mobil pribadinya. "Berikan," katanya tanpa men

  • Step Brother Next Door   Bab (2) : Kasih Sayang Ayah

    Pagi di rumah Visconti selalu dimulai dengan ketenangan yang nyaris terlalu sempurna.Pembantu rumah tangga datang setiap pagi dan pulang sebelum sore. Dan Mattheo, ayah tiriku tidak pernah menyukai orang asing tinggal di rumahnya, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia militer.Kebiasaan menjaga rumah, jadwal, dan segala sesuatu di bawah kendalinya rupanya tidak ikut pensiun bersamanya.Aku duduk di meja makan dengan punggung tegak, berusaha terlihat biasa saja.Hades mengenakan kaus gelap dengan lengan panjang yang digulung sampai siku. Ototnya terlihat padat, sementara urat-urat halus tampak jelas di punggung tangannya setiap kali ia mengangkat cangkir.Sialnya, pikiranku tidak mau bekerja sama. Karena beberapa detik kemudian, mataku kembali mencuri pandang.Sebagai mahasiswi seni yang terbiasa mengamati sesuatu yang menarik secara visual, aku tetaplah gadis normal yang akan panas dingin melihat pria seksi.Namun buru-buru, aku segera mengalihkan pandangan setelah mengama

  • Step Brother Next Door   Bab (1) : Pintu Kamar Sebelah

    Kamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.Tampan.Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status