بيت / Romansa / Step Brother Next Door / Bab (2) : Kasih Sayang Ayah

مشاركة

Bab (2) : Kasih Sayang Ayah

مؤلف: Anya Kiss
last update تاريخ النشر: 2026-09-20 18:45:13

Pagi di rumah Visconti selalu dimulai dengan ketenangan yang nyaris terlalu sempurna.

Pembantu rumah tangga datang setiap pagi dan pulang sebelum sore. Dan Mattheo, ayah tiriku tidak pernah menyukai orang asing tinggal di rumahnya, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia militer.

Kebiasaan menjaga rumah, jadwal, dan segala sesuatu di bawah kendalinya rupanya tidak ikut pensiun bersamanya.

Aku duduk di meja makan dengan punggung tegak, berusaha terlihat biasa saja.

Hades mengenakan kaus gelap dengan lengan panjang yang digulung sampai siku. Ototnya terlihat padat, sementara urat-urat halus tampak jelas di punggung tangannya setiap kali ia mengangkat cangkir.

Sialnya, pikiranku tidak mau bekerja sama. Karena beberapa detik kemudian, mataku kembali mencuri pandang.

Sebagai mahasiswi seni yang terbiasa mengamati sesuatu yang menarik secara visual, aku tetaplah gadis normal yang akan panas dingin melihat pria seksi.

Namun buru-buru, aku segera mengalihkan pandangan setelah mengamati pria itu. 

Kemarin masih terlalu jelas di kepala.

Cara laki-laki itu berdiri di belakangku. Dan… tangannya yang besar.

Aku menggeleng kecil, cepat-cepat memasukkan sepotong sosis ke mulut untuk mengusir pikiranku sendiri. Di sebelahku, Roseline, ibuku sedang merapikan rambutnya sambil membaca pesan di ponsel.

Aku memperhatikannya. Dulu ibu hampir selalu punya waktu untukku.

Sekarang sejak menikah dengan ayah tiriku, rasanya seperti ada jarak.

"Cherry." suara ayah membuatku mengangkat wajah.

Pria tua itu sudah selesai membaca sesuatu di tabletnya. Meski telah pensiun, kebiasaan membaca laporan sambil sarapan rupanya masih melekat kuat. Terlebih masih saja sibuk dengan bisnisnya.

"Ya?" jawabku seraya meletakkan garpu.

Ayah melirik jam di pergelangan tangannya, "Kelasmu mulai pukul berapa?"

Lalu aku menyeka sudut bibirku dengan serbet sebelum menjawab, "Jam satu siang."

"Kalau begitu aku masih punya waktu,"

Aku mengambil cangkir kopi, kemudian menatapnya lagi dengan ekspresi tenang yang selalu terasa sedikit terlalu serius untuk percakapan sederhana, "Ayah bisa mengantarmu."

Aku terdiam sebentar.

Ada sesuatu yang selalu membuatnya kikuk ketika ayah tiriku menawarkan hal-hal kecil seperti itu.

Diantar, dijemput, ditanya sudah makan atau belum.

Hal-hal yang terdengar biasa bagi orang lain, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari masa kecilku.

Asing.

Tanganku kembali menyentuh piring, menatap tanpa berkedip, "Tidak merepotkan?"

Ayah mengangkat sebelah alis, "Kau anakku." katanya tanpa ragu.

Kalimat itu… Tak pernah aku dengar. 

Aku menunduk sebentar, menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa izin, "Kalau begitu... aku mau, ayah."

Ayah mengangguk puas, "Bagus. Bersiap sebelum pukul sebelas tiga puluh."

"Baik."

Mungkin seperti inilah rasanya memiliki seorang ayah yang benar-benar memperhatikan hal-hal kecil.

Kemudian ponselnya berdering. Nada dering itu membuat ekspresinya berubah seketika. Ia melirik layar, lalu meletakkan cangkirnya.

Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar rendah, lalu kembali ke ruang makan menatapku sendu.

"Cherry." ia kemudian mengambil jaket dari sandaran kursi. Tatapannya kemudian beralih kepadaku. “Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu.”

“Tidak apa-apa, Yah. Aku bisa naik Uber.”

Ayah tidak menanggapi bantahanku. Ia justru menoleh kepada Hades yang bernain dengan garpu. “Hades, antarkan adikmu ke kampus.”

Gerakan Hades berhenti. Kata adikmu membuat tatapan Hades berhenti sesaat padaku.

Ia tidak tampak menyukai sebutan tersebut.

“Aku ada urusan.”

Ayah menatap putranya tanpa meninggikan suara. Namun, suasana meja makan seketika dingin.

“Kau menggunakan salah satu mobilku, tinggal di rumahku, dan sedang tidak bertugas hari ini,” ujar Ayah tenang. “Aku hanya meminta satu.”

Keheningan bertahan cukup lama sebelum Hades akhirnya meraih cangkir kopinya.

“Jam berapa?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Step Brother Next Door   Bab (6) : Ruang Kerja Ayah

    Kepusinganku belum berakhir. Hari itu ayah memintaku mengambil sebuah map dari ruang kerjanya."Map biru tua yang ada di laci paling atas," ujar ayah lalu menyeruput kopi yang katanya diimport dari York."Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan. Ayah membutuhkannya sebelum makan siang." lanjut ayah sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. Ku tinggalkan sebentar tugas sketsa anatomiku."Baik." sahutku sambil merapikan ujung kertas sketsa yang sedikit terlipat."Jangan lupa bawa semuanya." ujar ayah sambil mengangkat telunjuknya sebagai pengingat."Iya, ayah." jawabku sambil mengangguk sekali.Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada di ujung lorong.Aku membuka pintu perlahan.Ruangan kosong menyambutku, juga banyaknya barang-barang sentimental seorang mantan jenderal satuan elit.Aku menutup pintu di belakangku, kemudian berjalan menuju meja kerja besar yang memenuhi hampir separuh ruangan.Laci pertama, kosong. Laci kedu

  • Step Brother Next Door   Bab (5) : Saling Membantu

    Hades tidak berada di rumah pagi itu.Ayah sudah memintanya membawa mobil lamanya ke bengkel. Bukan karena mobil itu bermasalah, justru sebaliknya.Mobil tua berwarna hitam itu sudah bertahun-tahun berada di garasi keluarga dan masih terawat seperti benda yang terlalu berharga untuk diganti."Ganti oli saja sekalian periksa mesinnya," ujar ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Hades. "Jangan sampai kau baru sadar ada masalah setelah mobilnya berhenti di tengah jalan."Hades menerima kunci tersebut tanpa banyak bicara. Ia memutar benda itu sekali di antara jemarinya sebelum memasukkannya ke saku celana."Aku bisa mengurusnya sendiri, Ayah," ucap Hades sambil mengangkat sebelah alis."Aku tahu," jawab ayah tenang sambil menatap putranya. "Itulah sebabnya aku menyuruhmu."Hades tidak menjawab.Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang sedang duduk di meja makan. Hanya sepersekian detik sebelum kembali kepada ayah.Aku pura-pura tidak melihat."Aku pergi," ujar Hades sambil merapikan

  • Step Brother Next Door   Bab (4) : Kesalahan

    Sepanjang perjalanan pulang kemarin, cerita Kattie terus berputar di kepalaku.Ayah pernah melumpuhkan seorang penembak dalam acara amal. Hades bertugas di satuan elite. Sementara aku tinggal bersama mereka tanpa mengetahui apa pun selain nama keluarga Visconti yang terpasang di gerbang depan.Pantas saja suasana rumah ini terkadang terasa seperti markas jajahan. Konyol.Keesokan paginya, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Ibu sudah bekerja di ruang baca, sedangkan Ayah pergi sejak pagi. Hades juga sempat mengatakan bahwa ia memiliki urusan di luar.Karena mengira tidak akan bertemu siapa pun, aku keluar kamar hanya dengan tanktop tipis dan celana pendek rumah.Aku baru berjalan beberapa langkah ketika pintu kamar ayah dan ibu terbuka.Hades muncul sambil membawa kotak perkakas.Langkahku langsung terhenti.Kaus hitamnya lembab di bagian dada dan punggung, sementara kedua lengannya digulung asal hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru beberapa kali diusap menggu

  • Step Brother Next Door   Bab (3) : Mobil Kakak

    Sialnya aku sudah menunggu di depan garasi hampir sepuluh menit. Tas kuliah yang menggantung di bahuku semakin terasa berat, sementara kanvas besar di tanganku berkali-kali diterpa angin. Seandainya ayah mengizinkan, sejak tadi aku sudah memesan Uber dan berangkat sendiri. Sayangnya, ia bersikeras meminta Hades mengantarku. Pintu menuju rumah akhirnya terbuka. Hades muncul dengan kunci mobil di tangan dan ekspresi seolah baru saja dipaksa meninggalkan urusan yang jauh lebih penting. Aku berdiri lebih tegak. "Maaf merepotkan," ucapku yang sebenarnya menahan ngeri. Dasar galak. Hades tidak menjawab. Tatapannya turun menuju kanvas dan tas yang kubawa, kemudian ia berjalan melewatiku menuju garasi. Aku menghela napas sebelum mengekor di belakang punggung tegapnya. Garasi keluarga Visconti jauh lebih besar daripada flat lama ibu. Beberapa mobil terparkir berjajar, Hades memilih Merces keluaran terbaru, yang berada di sudut. Mobil pribadinya. "Berikan," katanya tanpa men

  • Step Brother Next Door   Bab (2) : Kasih Sayang Ayah

    Pagi di rumah Visconti selalu dimulai dengan ketenangan yang nyaris terlalu sempurna.Pembantu rumah tangga datang setiap pagi dan pulang sebelum sore. Dan Mattheo, ayah tiriku tidak pernah menyukai orang asing tinggal di rumahnya, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia militer.Kebiasaan menjaga rumah, jadwal, dan segala sesuatu di bawah kendalinya rupanya tidak ikut pensiun bersamanya.Aku duduk di meja makan dengan punggung tegak, berusaha terlihat biasa saja.Hades mengenakan kaus gelap dengan lengan panjang yang digulung sampai siku. Ototnya terlihat padat, sementara urat-urat halus tampak jelas di punggung tangannya setiap kali ia mengangkat cangkir.Sialnya, pikiranku tidak mau bekerja sama. Karena beberapa detik kemudian, mataku kembali mencuri pandang.Sebagai mahasiswi seni yang terbiasa mengamati sesuatu yang menarik secara visual, aku tetaplah gadis normal yang akan panas dingin melihat pria seksi.Namun buru-buru, aku segera mengalihkan pandangan setelah mengama

  • Step Brother Next Door   Bab (1) : Pintu Kamar Sebelah

    Kamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.Tampan.Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status