INICIAR SESIÓNAurelia mengangkat cangkir teh di hadapannya dan menyesapnya pelan sebelum tersenyum tipis. "Ini adalah perselisihan bisnis antara Grup Anandita dan Grup Wiraatmadja. Pak Reynald datang menemuiku, apa tidak salah orang? Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."Tentu saja, Aurelia tidak mungkin mengakui apa pun.Jangan sampai pria itu kembali menusuknya dari belakang.Misalnya, dengan mengadu kepada Tuan Haryo.Kalau dia berpura-pura patuh di depan tetapi bertindak lain di belakang seperti ini, sang kakek pasti akan merasa tidak senang.Untuk apa dia semakin memperlebar jarak dengan keluarga terdekatnya, meskipun hubungannya dengan sang kakek memang sudah lama tidak harmonis."Kamu tidak tahu?"Jawaban Aurelia yang begitu enteng membuat Reynald terdiam sesaat. Tanpa sadar dia langsung berkata, "Siapa yang tidak tahu hubungan Lucien dan Rivaldi? Dia menyerang Keluarga Anandita tepat di saat seperti ini. Kamu berani bilang ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu?""Pak
Hubungi Neira untuk mengatur waktunya.Siapa Neira?Dia adalah tangan kanan Aurelia yang paling tajam, sekretaris tegas yang selama bertahun-tahun telah menghalau entah berapa banyak orang yang ingin mengganggunya.Menyuruhnya menghubungi Neira untuk membuat janji, terus terang saja, berarti Aurelia bahkan tidak mau repot-repot menghadapinya sendiri.Jari-jari Reynald yang menggenggam ponsel semakin mengencang. Wajahnya pun perlahan berubah semakin muram.Dulu, sebelum hubungannya dengan Aurelia memburuk sampai seperti sekarang, setiap kali ingin menemuinya, dia selalu langsung pergi ke Vila Brisa Alam atau menelepon nomor pribadinya.Sesibuk apa pun Aurelia, dia selalu menyempatkan waktu untuknya.Namun sekarang, Aurelia justru menyuruhnya menghubungi seorang sekretaris.Seolah-olah dia hanyalah orang biasa yang perlu dimasukkan ke dalam jadwal Aurelia.Dia menekan semua emosinya, lalu melirik Alan yang duduk di kursi penumpang depan. Pikirannya tetap jernih. "Cari tahu soal dokter pr
Reynald tahu dia tidak akan mendapatkan informasi apa pun dari Nayla.Dia perlahan berdiri, merapikan ujung jasnya, lalu mengangguk tipis kepada Nayla. "Kalau begitu, tolong sampaikan pada Pak Lucien lain kali aku akan datang berkunjung lagi.""Hati-hati di jalan, Pak Reynald."Nayla mengantarnya sampai ke depan lift, lalu menekan tombol turun.Begitu pintu lift menutup, senyum profesional di wajahnya akhirnya memudar. Dia menggeleng pelan.Orang ini, sudah sampai seperti ini masih saja berpikir untuk datang lagi lain kali.Dalam perjalanan kembali ke mejanya, Nayla sekalian mengirim pesan pada Lucien.[Pak Lucien, orangnya sudah pergi.]Lucien tidak membalas.Nayla juga tidak berharap dia akan membalas. Dia meletakkan ponselnya ke samping dan kembali melanjutkan pekerjaannya.Saat Reynald masuk ke mobil, wajahnya sudah muram sekali.Alan yang duduk di kursi penumpang depan meliriknya melalui kaca spion, lalu bertanya dengan hati-hati, "Pak Reynald, kita kembali ke kantor cabang?""Ya.
Keesokan paginya, meski tidak perlu pergi ke klinik, Shanaya tetap terbangun karena jam biologisnya. Karena sudah bangun, dia sekalian membersihkan diri lalu turun untuk sarapan.Saat dia menunduk menyantap bubur, Karlina duduk di sebelahnya. Sambil memasukkan sepotong hakau udang ke mangkuknya, dia berkata, "Makan yang banyak. Akhir-akhir ini kamu cepat lapar. Bi Rina juga sedang memasakkan sup bebek untukmu. Nanti kalau lapar, kamu bisa langsung makan.""Baik."Shanaya merasa geli sekaligus tak berdaya. Sarapan ini saja belum sempat dia habiskan, tetapi wanita tua itu sudah mengatur makanan untuk waktu berikutnya.Lucien duduk di seberang, dengan tenang membaca surel di tabletnya. Sesekali dia mengangkat pandangan ke arah Shanaya, memastikan wanita itu benar-benar makan dengan baik.Baru saja dia mengalihkan pandangan, ponselnya tiba-tiba bergetar.Lucien melirik nama penelepon. Tanpa menghindar dari mereka, dia langsung menyalakan pengeras suara. "Nayla.""Pak Lucien, Pak Reynald da
Apa maksudnya anggap saja ucapannya benar?Shanaya membuka mulut, hendak bertanya lebih lanjut. Namun, Lucien sudah berdiri dan hanya meninggalkan satu kalimat sebelum berjalan menuju kamar mandi."Sudah waktunya tidur. Tunggu aku di ranjang."Shanaya memandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Dia masih merasa tidak puas. Sambil menunduk dan mengusap perutnya, dia bertanya lembut kepada bayi di dalam kandungannya, "Sayang, hati Ayah sebenarnya sangat lembut, bukan?"Sejak dulu, dia memang berhati lembut.Sedikit ketulusan saja sudah cukup untuk membuatnya membalas dengan sepenuh hati.Seperti dulu, Shanaya hanya memberinya dua butir permen lemon, tetapi Lucien melindunginya selama bertahun-tahun dan membukakan jalan baginya hingga bisa berada di titik ini.…Dalam perjalanan kembali ke Vila Brisa Alam, Aurelia yang mengemudikan mobil.Rivaldi minum sedikit alkohol saat makan malam. Kini dia duduk di kursi penumpang sambil menunduk memainkan ponselnya, lalu tiba-
Setelah makan malam, Aurelia dan Rivaldi baru berpamitan.Shanaya berdiri di bawah beranda, memandangi lampu belakang mobil yang menghilang di tikungan. Dia lalu memeluk lengan Lucien. "Aku mau mandi air hangat yang nyaman.""Ayo."Lucien meremas jemarinya yang terasa agak dingin, lalu mengajaknya berbalik dan naik ke lantai atas.Saat Shanaya selesai mandi, Lucien sudah menunggunya di sofa dengan pengering rambut di sampingnya. Begitu melihatnya keluar, Lucien melambaikan tangan. "Kemarilah."Shanaya menghampirinya, lalu duduk bersila seperti biasa di atas bantalan empuk di depan Lucien, membelakanginya.Jari-jari panjang Lucien menyusup di antara rambutnya yang basah. Hembusan angin hangat membuat kulit kepalanya terasa nyaman dan rileks.Gerakannya sudah sangat terampil. Hanya saja, ujung jarinya sesekali menyentuh daun telinga Shanaya, menimbulkan sensasi geli yang samar.Beberapa menit kemudian, Lucien mematikan pengering rambut dan memeriksa kelembapan ujung rambutnya dengan jema







