LOGINReynald mengernyit. Namun, sebelum dia sempat bicara, Aurelia kembali melanjutkan dengan tenang, "Shanaya sedang hamil besar. Kondisinya tidak boleh terganggu. Aku akui, aku memang tidak berani mengambil risiko. Tapi kalau rahasia itu sampai terbongkar dari mulutmu, apa pun yang terjadi pada Shanaya nanti, aku dan Lucien tidak akan punya alasan lagi untuk takut padamu."Seolah khawatir Reynald tidak memahami maksudnya, Aurelia menatapnya lekat-lekat dan menegaskan setiap kata. "Dan sejak saat itu, kamu akan selamanya menjadi musuh Keluarga Wiraatmadja dan Wirantara."Sekilas, ucapan itu terdengar seperti nasihat, tetapi sebenarnya lebih menyerupai ancaman.Raut wajah Reynald berubah. Dia nyaris kehilangan ketenangannya."Rahasia itu paling-paling hanya bisa kamu gunakan untuk mengancamku sampai Shanaya melahirkan. Hari perkiraan lahirnya sudah dekat. Bahkan kalau kamu membocorkannya sekarang, Keluarga Wirantara tetap akan mengakui Shanaya sebagai bagian dari keluarga mereka. Lucien tet
Dugaan Aurelia ternyata benar. Reynald memang datang mencarinya.Keesokan paginya, Neira baru saja meletakkan secangkir teh di dekat tangan Aurelia ketika ponselnya berdering.Dia melirik layar, lalu melapor, "Nona, Pak Reynald datang. Sekarang dia ada di lobi bawah. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan langsung dengan Anda."Seolah sudah menduga hal itu akan terjadi, Aurelia tetap mengangkat cangkir tehnya tanpa sedikit pun terkejut. "Suruh dia naik.""Tidak perlu."Aurelia menyesap tehnya. "Dia belum punya nyali untuk macam-macam denganku di ruang kerjaku sendiri."Neira mengiyakan lalu keluar, meski hatinya masih diliputi kegelisahan.Dia tahu betul Reynald sudah berada di ujung tanduk. Orang yang terdesak bisa nekat melakukan apa saja.Saat Reynald masuk, wajahnya tampak jauh lebih buruk dibandingkan dua pertemuan sebelumnya.Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, sementara janggut tipis mulai tumbuh di dagunya. Sepertinya dia hampir tidak tidur.Dia masuk dan menut
Jawaban itu membuat Reynald tercekat. Amarahnya langsung memuncak."Caleb, sebenarnya apa maumu? Keluarga Anandita dan Grup Maheswari tidak punya masalah apa pun. Kamu sengaja membatalkan proyek-proyekku karena ingin cari gara-gara?""Tidak punya masalah?"Caleb mengulangi kata-kata itu dengan nada dingin. "Kamu sendiri tahu apa saja yang sudah kamu lakukan beberapa hari ini. Aku cuma membatalkan proyek-proyekmu. Itu saja sudah termasuk murah hati."Jari-jari Reynald yang menggenggam ponsel sedikit mengerat.Apa Caleb sudah tahu bahwa dia memegang rahasia yang bisa digunakan untuk mengancam Aurelia?Namun, Reynald segera menenangkan diri dan mencoba memancing informasi. "Apa yang Aurelia katakan padamu?""Kak Aurelia tidak mengatakan apa pun."Caleb tertawa kecil. "Tapi aku sudah terlalu mengenal orang sepertimu."Mendengar itu, Reynald sedikit lega.Ternyata Caleb tidak tahu ancaman apa yang sebenarnya dia gunakan. Pria itu hanya bisa menebak garis besarnya.Reynald tetap memasang sik
Rony mengira dirinya salah dengar. "Hah?""Grup Maheswari yang bertindak, kenapa kamu malah melapor padaku?"Lucien mengembalikan ponsel itu kepada Rony, lalu kembali menunduk membaca dokumen dengan nada santai. "Aku kan bukan CEO Grup Maheswari."Rony tertegun selama beberapa detik. Setelah memahami maksud Lucien, bukannya lega, dia justru semakin cemas. "Tapi, Pak, Anda baru saja berjanji kepada Nona Aurelia untuk memulihkan proyek-proyek Keluarga Anandita. Sekarang Grup Maheswari malah langsung membatalkannya. Bagaimana kalau Reynald mengira kita yang bermain di belakang layar, lalu kembali membuat masalah dengan Nona Aurelia?"Lucien membalik satu halaman dokumen, lalu menjawab dengan santai. "Kalau kita saja bisa tahu Keluarga Maheswari yang melakukannya, masa Reynald tidak bisa? Dia juga punya anak buah untuk menyelidikinya, 'kan?""Tapi bagaimana kalau setelah tahu, dia marah dan malah mengganggu Nona Shanaya ....""Dia tidak akan melakukannya."Lucien menutup dokumen, lalu bers
Sementara itu, di lantai teratas gedung Grup Maheswari.Saat asistennya, Chris, membuka pintu dan masuk, Caleb sedang duduk bersandar di kursinya menghadap jendela besar, sambil memainkan sebuah pena."Pak Caleb, ada kabar dari kediaman utama."Chris berdiri di depan meja kerja. "Nona Aurelia memang datang ke kediaman utama Keluarga Anandita. Acara makan bersama berlangsung hampir dua jam sebelum dia pulang. Selama acara, Tuan Abimana sempat beberapa kali mencoba mencari tahu sikapnya. Nona Aurelia tidak memberikan jawaban pasti, hanya mengatakan akan melihat bagaimana perkembangan ke depannya. Tapi melihat situasinya, sepertinya perceraian mereka akan ditunda untuk sementara."Jari Caleb yang sedang memutar-mutar pena seketika berhenti."Tidak mungkin."Mendengar itu, Chris tertegun. "Tapi orang-orang di kediaman utama melihatnya sendiri. Nona Aurelia naik mobil Pak Reynald, lalu setelah makan bersama, dia juga diantar pulang dengan mobil yang sama.""Aku bukan bilang mereka tidak mak
Saat Reynald tersadar, Aurelia sudah berjalan jauh dengan langkah lebar.Dia mengertakkan gigi, lalu bergegas menyusulnya. Dengan suara rendah, dia berkata, "Aurelia, Kakek sudah menunggu di dalam. Setidaknya jangan permalukan aku di depan keluarga saat makan nanti.""Mempermalukanmu?"Aurelia terus berjalan tanpa berhenti. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. "Reynald, waktu kamu menjadikan keselamatan Shanaya sebagai alat tawar-menawar, apa kamu pernah memikirkan soal rasa malu?"Ucapan itu bagaikan jarum yang menusuk Reynald, membuat raut wajahnya sedikit berubah.Benar juga.Dia bahkan sudah tega melakukan hal serendah itu. Wajar saja jika wanita sekelas Aurelia, yang sejak lahir hidup sebagai putri keluarga terpandang, semakin memandang rendah dirinya.Baru saja Reynald hendak bicara lagi, pintu ruang utama terbuka dari dalam. Yuliana keluar menyambut mereka dengan senyum ramah. "Akhirnya kalian datang! Ayo, cepat masuk. Di luar anginnya kencang."Ekspresi







