เข้าสู่ระบบBima mengambil kotak P3K dari lemari kecil lalu melajukan kursi rodanya ke luar dari kamar.
"Ikut saya!" Nila mengikuti pria itu menuju kursi di ruang tamu. "Duduk!" Bima menunjuk kursi di depannya. "Eh .... " Nila sedikit gugup dan ragu. Bima berdecak. "Duduk!" titahnya pada Nila yang diam seperti patung. "Gimana saya mau obati luka kamu kalau kamu berdiri begitu?" "Tapi Mas ... nggak usah, ngga apa-apa. Nanti juga luka saya sembuh sendiri. Lagian ini cuma lebam." "Cepat duduk!" Bima meninggikan suaranya. Mau tak mau Nila menurut, daripada ia dipecat oleh suami tetangganya itu, bisa-bisa Yuni marah besar padanya. Belum lagi Yanto sangat mengharapkan gaji bulanan Nila untuk memperbaiki keuangan mereka. Dengan perasaan takut-takut Nila duduk di depan Bima. Ia menatap pria di depannya sesaat, lalu menundukkan kepala. "Angkat kepalamu," pinta Bima. Nila mengikuti, menegakkan kepala, menatap pria itu. Kalau boleh jujur, wajah Bima sangat tampan meski dilihat dari dekat. Pria itu juga kelihatan baik, perhatian dan penyayang. Entah apa kurangnya Bima hingga membuat Yuni keukeh ingin dia menggoda Bima. Bahkan, menyewanya untuk melayani pria itu. Untungnya ia masih waras. Mana mungkin ia mau menggoda suami orang. "Bagian mana saja yang sakit?" tanya Bima sambil mengoleskan obat ke luka lebam Nila. "Cuma pipi aja Mas," jawab Nila pelan, gugup. Bima melirik ke arah lengan, melihat luka goresan yang masih basah. "Dengan apa suamimu memukulmu?" Nila mengangkat kedua alisnya, "C-cuma pakai tangan Mas." Ia semakin gugup. Bima mengangguk sedikit. "Setelah memukulmu, dia akan memintamu memuaskannya. Kemungkinan suamimu itu memiliki kelainan seksual." Deg! Nila terdiam saat mendengar ucapan Bima tentang Yanto. Ia menatap pria di depannya penuh tanya. Darimana Bima mengetahui semua itu? Apa mungkin Bima bisa membaca pikiran orang lain? "Maaf, tapi Mas tahu darimana tentang semua itu?" Wajah Nila memerah, malu. Ia tak menyangka ada orang lain yang tahu tentang rahasia dapurnya dengan Yanto. Memang selama menikah dengan Yanto. Suaminya itu sering melakukan kekerasan sebelum minta dilayani. Terkadang Nila diminta membenturkan kepala ke dinding agar Yanto mendapatkan kepuasan tersendiri. Namun, anehnya sang suami tidak pernah mau menyentuhnya dengan alasan jijik. Saat malam pertama setelah menikah, Yanto mengatakan ia tidak ingin melakukan hubungan suami-istri dengannya setelah melihat tanda lahir hitam di area selangkangan. Itu sebabnya Nila tidak pernah merasakan kenikmatan bercinta dengan sang suami, yang hanya ingin menggunakan mulutnya saja. Hingga saat ini ia masih perawan ting-ting. "Mas tahu semua itu dari cerita Mas Yanto ya?" tanya Nila penasaran. Bima menggeleng pelan. "Tidak penting aku tahu darimana," jawabnya datar. "Tapi semua yang aku katakan, benar 'kan?" Ia menatap Nila lekat. Nila hanya diam, membalas tatapan Bima. Sekian detik saling tatap, Nila memalingkan wajah sambil memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang, gugup. "Kamu tidak pernah merasakan kebahagiaan dari pernikahan kalian, kenapa masih bertahan?" tanya Bima. Nila menaikan kedua alisnya, kaget mendengar pertanyaan itu. "Apa yang membuatmu bertahan?" Bima mengulang pertanyaannya. "Bukannya Mas juga nggak pernah merasakan kebahagiaan di rumah tangga Mas dan Mbak Yuni? Kenapa Mas masih bertahan?" Bima tersenyum kecil, hambar. Tak menyangka wanita muda itu akan membalik pertanyaannya dengan lantang. "Maaf Mas, saya mau melanjutkan pekerjaan saya," ucap Nila lalu berdiri. Melihat Nila akan pergi, dengan cepat Bima memegang lengan wanita itu dan menariknya. Nila terhenyak kaget. "Mas!" "Duduk!" "Saya mau membersihkan dapur, Mas!" Bima berdecak, "Bukannya tugas utamamu merawatku dan menyiapkan keperluanku?" Nila terdiam saat mendengar ucapan Bima. Mengingat ... tugas utamanya memang merawat pria lumpuh itu, bahkan lebih dari sekedar perawatan. Namun, ia tidak akan melakukan pekerjaan memalukan itu. Tidak mungkin ia mengkhianati suaminya. Ia hanya akan merawat rumah dan merawat pria lumpuh itu sewajarnya. "Mas mau saya melakukan apa? Mas mau makan?" tanya Nila. Bima menggeleng pelan, "Saya mau mandi." Kedua mata Nila membulat sempurna, "Mandi? Saya mandiin Mas gitu?" "Biasanya Yuni melakukan itu," jawab Bima sambil menarik sudut bibirnya sedikit. Kehadiran Nila di rumahnya menjadi hiburan tersendiri ... bukannya itu yang diinginkan Yuni? "Emang Mas nggak bisa mandi sendiri? Perasaan Mbak Yuni nggak pernah bilang soal itu." Bima berdecak. Matanya melirik kedua kaki yang tak bisa digerakkan, kemudian menoleh ke arah Nila. "Oh iya, Mas lumpuh," gumam Nila pelan. Baru ingat suami tetangganya tak berdaya. "Kita mandi di mana Mas?" "Di kamar tamu ada kamar mandi. Bawa saya ke sana." "Oke." Nila mendorong kursi roda Bima, membawanya ke kamar tamu dan masuk ke dalam kamar mandi.Bima melangkah naik ke lantai dua rumahnya. Setibanya di depan pintu kamar, ia mengetuk pintu itu dengan perlahan.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban, hanya isakan kecil yang terdengar dari balik pintu. Tanpa menunggu ijin, Bima memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci.Bima menghela napas panjang, saat melihat di atas tempat tidur bernuansa merah muda itu, Nabila sedang meringkuk di bawah selimut, memeluk boneka beruang pemberian Bima tahun lalu."Sayang .... " Panggilan yang biasa dijawab dengan suara ceria, kini diabaikan begitu saja oleh Nabila."Papa mengerti perasaan kamu Nak." Perlahan Bima melangkah mendekati ranjang kemudian duduk di tepi. "Kamu pasti sedih dan kecewa, itu wajar Sayang, tapi kamu harus tahu satu hal .... ""Papa pergi aja!" teriak Nabila dengan suara parau.Bima menghela napas panjang, mengusap punggung kecil yang bergetar itu. "Kakak Nabila ...."Isakan itu semakin kencang. "Papa pergi aja! Cepat pergi! Papa urus aja bayi laki-laki itu. Papa 'kan suka
Pada jam makan malam, Nila dan Bima sudah menyiapkan diri untuk memberitahu kabar bahagia kehamilan itu pada Nabila.Setelah makanan spesial terhidang di atas meja, Nila memanggil anak sambungnya yang masih berada di dalam kamar.Kedatangan Nabila disambut senyum manis sang ayah ... Bima, melebarkan kedua tangan, menyambut pelukan anak Kesayangan."Kesayangan Papa. Kamu sedang apa di kamar tadi? Kok baru keluar?" "Aku lagi belajar matematika Pa. Besok kan ada ujian harian. Aku mau dapat nilai bagus, biar bisa dapat hadiah dari Mami Nila." Tatapan Nabila tertuju pada wanita cantik_sang Ibu sambung. Nila selalu bisa mengambil hati Nabila, memanjakan gadis kecil itu dengan memberikan hadiah-hadiah kecil atas pencapaian yang diraihnya. "Kalau begitu, kamu tunjukkan kamu bisa menjadi anak yang pintar dan membanggakan ya." Bima melepas pelukan, mengecup lembut kening Nabila. "Oke, aku janji aku bakal jadi anak yang pintar dan membanggakan untuk kalian berdua. Dan untuk Mama juga," senyu
Sebulan berlalu begitu cepat. Pagi hari seperti biasa, Nila bangun lebih pagi dari ayam tetangga.Saat beranjak dari tempat tidur, Nila merasakan kepalanya pusing, dan perutnya agak mual.Nila terdiam sejenak. Matanya beralih pada kalender duduk yang ada di atas meja.Di sana lingkaran merah yang terlihat, sudah terlewat beberapa hari. Di tanggal 10 hari terakhir ia datang bulan, tetapi sudah hampir tanggal 15 ia belum juga kedatangan tamu bulanan."Apa mungkin?" Tak ingin menebak-nebak, Nila mengambil testpack dari dalam laci meja dan masuk ke dalam kamar mandi.Setelah mengikuti semua arahan dalam kartu panduan itu, Nila menunggu beberapa menit sebelum membukanya.Nila menatap benda persegi panjang di tangannya dengan jantung yang bertalu hebat.Dua garis merah terlihat jelas saat ia membuka alat tes kehamilan it
"Ahhh!"Suara desahan panjang terdengar di ruang kamar bercahaya temaram itu. Suara yang lolos dari mulut Nila, memecah keheningan kamar. "Mas! Ahhh!" Nila memejamkan kedua mata sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.Khawatir wanitanya melukai bibir sendiri, Bima menghentikan kegiatan gilanya yang tengah menjilat bagian V sang Istri."Nikmati Sayang. Malam ini aku akan membuatmu merasakan apa yang tidak pernah kamu dapatkan dari Yanto," ucap Bima dengan senyuman mesum."Cukup ahhh Mas .... " rengek Nila di sela napasnya yang memburu. Bulir bening menetes di sudut matanya.Bukan karena sakit, melainkan karena rasa syukur yang meluap. Penghinaan Yanto di masa lalu tentang kekurangan fisiknya seketika lebur oleh cara Bima memujanya.Bima menegakkan kepala, wajahnya kemerahan dengan peluh yang membasahi dahi.Ia berpindah posisi, merangkak naik hingga wajahnya sejajar dengan Nila, lalu mengecup lembut air mata di pipi istrinya. "Kenapa menangis, Sayang? Apa aku terlalu kasar?"Nila
Satu minggu berlalu dengan sangat cepat. Hari ini adalah hari pernikahan Bima dan Nila.Bima berdiri di depan cermin, merapikan dasi putihnya. Nabila, yang mengenakan gaun mungil berwarna senada, berlari masuk dan memeluk kaki sang ayah."Papa! Mami Nila cantik sekali! Seperti bidadari!" seru Nabila riang.Bima berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Nabila, mengusap pipi putrinya dengan lembut. "Iya, sayang. Mulai hari ini, Nabila punya Mami yang sah. Nabila senang?""Senang banget! Nabila janji nggak akan nakal lagi dan nangis lagi."Pak Hermawan masuk ke ruangan, terlihat jauh lebih segar dan bahagia. "Sudah siap, Cucuku? Semua tamu penting sudah menunggu. Para kolega dari luar negeri pun sudah hadir."Bima berdiri tegak, menggenggam tangan kakeknya. "Siap, Kek. Terima kasih sudah mengembalikan harga diri keluarga kita."Ija
Sama seperti Yuni yang tenggelam dalam penyesalan, di dinding penjara yang lembap dan berbau pesing menjadi saksi bisu hancurnya hidup Yanto.Pria yang dulunya merasa paling berkuasa saat melayangkan tangan ke wajah Nila itu, kini meringkuk seperti tikus di sudut sel yang gelap.Hukuman lima belas tahun penjara bukan hanya sekadar angka di atas kertas vonis.Baginya, setiap detik di dalam sana adalah neraka yang nyata. Di dalam sel nomor 402 itu, Yanto bukanlah siapa-siapa. Dia berada di kasta terendah.Narapidana kasus KDRT. Di dunia hitam penjara, penyiksa wanita dianggap lebih rendah daripada kotoran sapi."Woi, Tukang Pukul Perempuan! Bangun!" teriak sebuah suara parau yang menggelegar.Seorang pria bertubuh raksasa dengan tato naga yang melilit lehernya, yang biasa dipanggil Bang Jalu, menendang tulang kering Yanto dengan sepatu botnya yang keras.
Yuni tidak menyangka, kedatangan Yanto ke rumah karena ada niat terselubung.Setelah Yanto mengatakan itu, Yuni langsung melangkah mendekati pria yang duduk di sofa dengan gaya tak tahu diri.Yuni mengembus napas kasar. Matanya membulat lebar, nyaris keluar dari kelopak. "Kau dan Nila ingin memeras
Saat masih berada di atas panggung, Bima menyaksikan anak buahnya sedang menyeret seorang laki-laki. Kemudian, pria tinggi kekar yang berdiri di belakang, melangkah mendekati Bima dan membisikkan, "Laki-laki itu provokator Pak. Dia sengaja datang ke sini untuk menyebarkan berita bohong, dan menjel
Malam indah Nila dan Bima berakhir. Pesta meriah semalam menyisakan kenangan yang tidak akan bisa dilupakan seumur hidup.Saat terbangun dari tidur nyenyaknya, Nila tersenyum cerah sambil melihat cincin berlian yang tersemat di jari manisnya.Tanda ia benar-benar sudah dipersunting Bima untuk menja
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Tepat pada malam ini, dunia akan mengetahui siapa sebenarnya Bima.Laki-laki yang dulu hanya dikenal sebagai supir dan anak yatim-piatu. Kini, hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.Malam ini, gedung megah m







