Share

5. Perhatian

Author: Dita SY
last update Huling Na-update: 2025-12-07 13:03:27

Bima mengambil kotak P3K dari lemari kecil lalu melajukan kursi rodanya ke luar dari kamar.

"Ikut saya!"

Nila mengikuti pria itu menuju kursi di ruang tamu.

"Duduk!" Bima menunjuk kursi di depannya.

"Eh .... " Nila sedikit gugup dan ragu.

Bima berdecak. "Duduk!" titahnya pada Nila yang diam seperti patung. "Gimana saya mau obati luka kamu kalau kamu berdiri begitu?"

"Tapi Mas ... nggak usah, ngga apa-apa. Nanti juga luka saya sembuh sendiri. Lagian ini cuma lebam."

"Cepat duduk!" Bima meninggikan suaranya.

Mau tak mau Nila menurut, daripada ia dipecat oleh suami tetangganya itu, bisa-bisa Yuni marah besar padanya.

Belum lagi Yanto sangat mengharapkan gaji bulanan Nila untuk memperbaiki keuangan mereka.

Dengan perasaan takut-takut Nila duduk di depan Bima. Ia menatap pria di depannya sesaat, lalu menundukkan kepala.

"Angkat kepalamu," pinta Bima.

Nila mengikuti, menegakkan kepala, menatap pria itu.

Kalau boleh jujur, wajah Bima sangat tampan meski dilihat dari dekat.

Pria itu juga kelihatan baik, perhatian dan penyayang.

Entah apa kurangnya Bima hingga membuat Yuni keukeh ingin dia menggoda Bima. Bahkan, menyewanya untuk melayani pria itu.

Untungnya ia masih waras. Mana mungkin ia mau menggoda suami orang.

"Bagian mana saja yang sakit?" tanya Bima sambil mengoleskan obat ke luka lebam Nila.

"Cuma pipi aja Mas," jawab Nila pelan, gugup.

Bima melirik ke arah lengan, melihat luka goresan yang masih basah. "Dengan apa suamimu memukulmu?"

Nila mengangkat kedua alisnya, "C-cuma pakai tangan Mas." Ia semakin gugup.

Bima mengangguk sedikit. "Setelah memukulmu, dia akan memintamu memuaskannya. Kemungkinan suamimu itu memiliki kelainan seksual."

Deg!

Nila terdiam saat mendengar ucapan Bima tentang Yanto. Ia menatap pria di depannya penuh tanya.

Darimana Bima mengetahui semua itu? Apa mungkin Bima bisa membaca pikiran orang lain?

"Maaf, tapi Mas tahu darimana tentang semua itu?" Wajah Nila memerah, malu.

Ia tak menyangka ada orang lain yang tahu tentang rahasia dapurnya dengan Yanto.

Memang selama menikah dengan Yanto. Suaminya itu sering melakukan kekerasan sebelum minta dilayani.

Terkadang Nila diminta membenturkan kepala ke dinding agar Yanto mendapatkan kepuasan tersendiri.

Namun, anehnya sang suami tidak pernah mau menyentuhnya dengan alasan jijik.

Saat malam pertama setelah menikah, Yanto mengatakan ia tidak ingin melakukan hubungan suami-istri dengannya setelah melihat tanda lahir hitam di area selangkangan.

Itu sebabnya Nila tidak pernah merasakan kenikmatan bercinta dengan sang suami, yang hanya ingin menggunakan mulutnya saja.

Hingga saat ini ia masih perawan ting-ting.

"Mas tahu semua itu dari cerita Mas Yanto ya?" tanya Nila penasaran.

Bima menggeleng pelan. "Tidak penting aku tahu darimana," jawabnya datar. "Tapi semua yang aku katakan, benar 'kan?" Ia menatap Nila lekat.

Nila hanya diam, membalas tatapan Bima.

Sekian detik saling tatap, Nila memalingkan wajah sambil memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang, gugup.

"Kamu tidak pernah merasakan kebahagiaan dari pernikahan kalian, kenapa masih bertahan?" tanya Bima.

Nila menaikan kedua alisnya, kaget mendengar pertanyaan itu.

"Apa yang membuatmu bertahan?" Bima mengulang pertanyaannya.

"Bukannya Mas juga nggak pernah merasakan kebahagiaan di rumah tangga Mas dan Mbak Yuni? Kenapa Mas masih bertahan?"

Bima tersenyum kecil, hambar. Tak menyangka wanita muda itu akan membalik pertanyaannya dengan lantang.

"Maaf Mas, saya mau melanjutkan pekerjaan saya," ucap Nila lalu berdiri.

Melihat Nila akan pergi, dengan cepat Bima memegang lengan wanita itu dan menariknya.

Nila terhenyak kaget. "Mas!"

"Duduk!"

"Saya mau membersihkan dapur, Mas!"

Bima berdecak, "Bukannya tugas utamamu merawatku dan menyiapkan keperluanku?"

Nila terdiam saat mendengar ucapan Bima. Mengingat ... tugas utamanya memang merawat pria lumpuh itu, bahkan lebih dari sekedar perawatan.

Namun, ia tidak akan melakukan pekerjaan memalukan itu. Tidak mungkin ia mengkhianati suaminya.

Ia hanya akan merawat rumah dan merawat pria lumpuh itu sewajarnya.

"Mas mau saya melakukan apa? Mas mau makan?" tanya Nila.

Bima menggeleng pelan, "Saya mau mandi."

Kedua mata Nila membulat sempurna, "Mandi? Saya mandiin Mas gitu?"

"Biasanya Yuni melakukan itu," jawab Bima sambil menarik sudut bibirnya sedikit.

Kehadiran Nila di rumahnya menjadi hiburan tersendiri ... bukannya itu yang diinginkan Yuni?

"Emang Mas nggak bisa mandi sendiri? Perasaan Mbak Yuni nggak pernah bilang soal itu."

Bima berdecak. Matanya melirik kedua kaki yang tak bisa digerakkan, kemudian menoleh ke arah Nila.

"Oh iya, Mas lumpuh," gumam Nila pelan. Baru ingat suami tetangganya tak berdaya. "Kita mandi di mana Mas?"

"Di kamar tamu ada kamar mandi. Bawa saya ke sana."

"Oke." Nila mendorong kursi roda Bima, membawanya ke kamar tamu dan masuk ke dalam kamar mandi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Zahura W's ZN
Lanjutin kak
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   11. Salah Tingkah

    17:00 WIB. Setelah seharian berjibaku di rumah tetangganya, Nila memutuskan untuk pulang karena jam kerjanya sudah habis. Tugas terakhir pun sudah selesai. Semua piring sisa makan siang tadi sudah dicuci bersih dan disusun di dalam lemari.Nila tersenyum bangga pada hasil kerjanya. Semua terlihat rapih, dan bersih.Namun, seketika senyum itu memudar saat ia mengingat ia harus berpamitan pulang pada Bima. Sejak kejadian ciuman tadi, ia berusaha menghindari pria tampan itu, bahkan tak mau datang saat Bima memanggil. Namun sekarang, mau tidak mau ia harus berpamitan pulang.Nila menelan ludah keras, menghentikan langkah kaki di pembatas ruang tamu. Dari jarak beberapa meter ia melihat Bima sedang duduk di kursi roda sambil termenung, menatap jam dinding. Pakaian pria itu terlihat basah, entah oleh keringat atau tumpahan air, yang jelas pakaian Bima tampak lepek.Nila membuang napas panjang. Ragu untuk melangkah, bahkan u

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   10. Tangisan Nabila

    "Yuni, mau ke mana?" Pria berjas hitam itu berdiri di ambang pintu restoran, berteriak memanggil teman SMA-nya. Yuni memutar tubuh, "Kita tunda pertemuan. Besok pagi aku ke kantor kamu!" Dengan terburu-buru Yuni kembali berlari mengejar anaknya.Sementara pria bernama Aris itu berdecak, lalu masuk ke restoran. Langkah kakinya tertahan saat mendengar suara notifikasi dari ponsel. Ia melihat satu pesan dari Yuni yang langsung dibaca. [Maaf Ris, besok aku ke kantor kamu. Anakku ngambek, dia mau ngajak Papanya makan di restoran yang sama. Nggak mungkin 'kan aku ngajak Mas Bima di saat kita mau membahas soal perceraian]Aris membalas chat itu dengan malas. Agak kesal karena waktunya terbuang percuma. Kalau bukan karena Yuni teman baiknya saat SMA, ia tidak akan mau mengurus perceraian yang rumit seperti ini. Yuni keukeh menggugat Bima yang lumpuh, tetapi ingin terlihat baik. Wanita itu tak mau jika ada orang yang mengang

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   9. Kecupan Basah

    "Mas tahu semuanya?" Suara Nila tertahan, nyaris tak dapat keluar dari mulutnya.Bima mengangguk dengan senyuman kecil terlukis di wajah. Memang selama ini ia selalu memperhatikan tetangganya. Sejak mengetahui Nila sering disiksa, diam-diam Bima menaruh rasa iba.Dari beberapa bulan lalu, hampir setiap malam Bima selalu duduk di dapur hanya untuk melihat aktivitas Nila walau hanya bayangannya saja.Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh. Perasaan yang lama-lama lebih dari sekedar kasihan.Sekarang ... wanita yang sering ia perhatikan dari kejauhan itu ada di dekatnya. Sangat dekat, bahkan sedang duduk di atas pangkuan."Aku sering memperhatikanmu dari dapur." Bima melanjutkan. Suaranya terdengar pelan, tapi sangat merdu bagi Nila. Tangannya membelai pipi Nila dengan sangat lembut, lalu merengkuh jenjang leher wanita pemilik bulu mata lentik itu. Nila hanya diam saat Bima mendekatkan bibirnya, lalu mengecup lembut, dan melumat habis hingga ia kehabisan napas."Mas .... " Nila melepas

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   8. Melayani

    Pekerjaan memandikan suami orang, selesai. Nila mengira semua tugas mengurus pria itu berakhir, tapi ternyata Bima masih memberi pekerjaan lain. Bima yang lapar, meminta Nila mengambil makanan di dapur. Kebetulan pagi tadi Yuni membeli lauk di warung dekat rumah. Setelah berganti pakaian, Nila mengambil makanan untuk Bima, dan kembali ke kamar tamu. "Ini makanannya, Mas." Nila meletakkan piring berisi makanan ke atas meja kecil di samping ranjang.Bima mengangguk, lalu mengalihkan pandangan pada Nila. "Mau ke mana kamu?" Nila yang baru saja ingin keluar dari kamar itu, menghentikan langkah kakinya di ambang pintu. "Saya mau bersihin rumah Mas.""Tugas kamu merawatku belum selesai. Aku mau makan."Nila mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia lalu menunjuk ke arah piring, "Itu makanannya Mas udah saya ambilin. Mas tinggal makan. Yang sakit kaki Mas 'kan? Bukan tangan?"Bima megembus napas sambil tersenyum kecut. "Iya aku tahu, tapi aku tidak biasa makan sendirian. Temani aku makan."Ni

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   7. Lebih Baik dari Istri Sah

    Nila berusaha mengabaikan ucapan ngelantur Bima. Tak perduli pria itu terus menatapnya, ia tetap melanjutkan pekerjaan sebagai pengasuh pria lumpuh.Dengan perlahan ia mengarahkan selang shower ke tubuh kekar Bima. Matanya tak lepas memandang pahatan sempurna dada kotak-kotak itu.Perasaan kagum pada sosok di depannya merayap, membuatnya semakin gugup dan gelisah.Namun, sebisa mungkin Nila menyembunyikan perasaan aneh yang bercampur aduk seperti gado-gado jualannya Bu Jalal.Nila menarik napas panjang. Dengan gerakan lembut ia mengusap lengan berotot Bima.Ada yang janggal dari bentuk tubuh pria itu. Bukannya Bima sudah berbulan-bulan duduk di kursi roda? Kenapa bentuk tubuhnya seperti orang yang selalu berolahraga setiap hari? Lagi-lagi Nila menepis semua pemikiran yang menyelinap. Rasa penasaran yang kadang di luar logika. "Aku belum tahu alasan Yuni memperkerjakanmu di rumah ini." Bima memulai pembicaraan. Memecah keheningan kamar mandi yang tadi hanya dipenuhi suara gemericik a

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   6. Tugas Pertama

    Pekerjaan pertama yang harus Nila lakukan adalah memandikan Bima? Tak pernah terbayangkan seumur hidup ia akan mengurus dan melayani pria lumpuh, yang tak lain suami tetangganya sendiri. Sekarang, tepat hari pertama ia bekerja, ia sudah diminta memandikan pria yang wajahnya cukup tampan itu. Nila mendadak gugup saat melihat Bima membuka pakaian satu per satu. Ia menelan ludah dan langsung memalingkan wajah ke samping. Diam-diam Bima memperhatikan wanita muda itu. "Buka celanaku," katanya memerintah. Nila membulatkan kedua mata. Pandangannya beralih pada celana jeans panjang yang dikenakan Bima. Pria itu tampak kesulitan menurunkan celana jeans biru tua yang terhimpit bokong dan kursi roda. Mata Bima menyempit menatap Nila. Wanita di depannya hanya diam seperti patung. "Cepat buka celanaku!" "Bu-buka .... " Nila tercengang hingga sulit mengeluarkan kata. Mulutnya terbuka lebar dengan tatapan polos tanpa dosa. "Ya, buka celanaku. Tidak mungkin aku mandi dengan celana masih m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status