LOGIN"Kalau mimpi jangan ketinggian Mas, pake ngomong sama Nabila segala. Nggak malu kamu kalau Nabila cerita sama teman-temannya nanti!" cecar Yuni sambil berkacak pinggang. Menatap tajam ke arah suaminya.Malas meladeni wanita itu. Apalagi menanggapi ocehan yang tak berujung. Dijelaskan pun percuma karena Yuni tidak akan percaya pada omongannya lagi. Bima memilih pergi dari ruang tamu. Melajukan kursi rodanya menuju kamar dan masuk. Sementara Yuni, kembali masuk ke kamar dan membanting pintu.Suara 'Bank' yang terdengar nyaring sama sekali tidak membuat Bima kaget. Ia justru terkejut saat mendengar suara teriakan dari arah rumah Nila. "Mas! Nyari apa sih kamu?"Suara itu mengundang rasa ingin tahu Bima. Dengan cepat ia keluar dari kamar dan melajukan kursi rodanya menuju dapur. Dari jendela ... tempat biasa ia duduk termenung, ia melihat bayangan Nila dan Yanto yang berada di dapur. Seperti biasa, Nila dan Yanto kembali bertengkar hebat. Entah karena apa.Bima membuka tirai jendela,
"Papa kok nggak ikut kita makan di restoran?" Nabila bersandar manja di atas pangkuan sang Ayah. Bima terdiam. Matanya langsung tertuju pada kamar Utama ... kamar yang dulu menjadi tempat paling nyaman untuk berduaan dengan Yuni. Namun sekarang berubah, kenangan manis itu sudah malas untuk diingat lagi. Kalau bisa semua kenangan itu ingin ia hapus dari kepalanya. "Kok Papa diam?" Nabila mengerutkan kening, menunggu jawaban sang Ayah. Sementara pria di depannya malah diam termenung. "Papa .... " Tangan mungil Nabila mengipas-ngipasi wajah ayahnya. Bima menghela napas panjang, mengalihkan pandangan pada gadis kecilnya. "Memang kamu sama Mama makan di restoran? Sama siapa?" tanyanya menyelidik. Siapa tahu dari kesaksian Nabila, ia mendapatkan sedikit titik terang tentang sikap Yuni yang kian lama kian memuakkan. "Aku cuma makan berdua sama Mama. Awalnya aku nggak mau, tapi aku jadi mau soalnya a
17:00 WIB. Setelah seharian berjibaku di rumah tetangganya, Nila memutuskan untuk pulang karena jam kerjanya sudah habis. Tugas terakhir pun sudah selesai. Semua piring sisa makan siang tadi sudah dicuci bersih dan disusun di dalam lemari.Nila tersenyum bangga pada hasil kerjanya. Semua terlihat rapih, dan bersih.Namun, seketika senyum itu memudar saat ia mengingat ia harus berpamitan pulang pada Bima. Sejak kejadian ciuman tadi, ia berusaha menghindari pria tampan itu, bahkan tak mau datang saat Bima memanggil. Namun sekarang, mau tidak mau ia harus berpamitan pulang.Nila menelan ludah keras, menghentikan langkah kaki di pembatas ruang tamu. Dari jarak beberapa meter ia melihat Bima sedang duduk di kursi roda sambil termenung, menatap jam dinding. Pakaian pria itu terlihat basah, entah oleh keringat atau tumpahan air, yang jelas pakaian Bima tampak lepek.Nila membuang napas panjang. Ragu untuk melangkah, bahkan u
"Yuni, mau ke mana?" Pria berjas hitam itu berdiri di ambang pintu restoran, berteriak memanggil teman SMA-nya. Yuni memutar tubuh, "Kita tunda pertemuan. Besok pagi aku ke kantor kamu!" Dengan terburu-buru Yuni kembali berlari mengejar anaknya.Sementara pria bernama Aris itu berdecak, lalu masuk ke restoran. Langkah kakinya tertahan saat mendengar suara notifikasi dari ponsel. Ia melihat satu pesan dari Yuni yang langsung dibaca. [Maaf Ris, besok aku ke kantor kamu. Anakku ngambek, dia mau ngajak Papanya makan di restoran yang sama. Nggak mungkin 'kan aku ngajak Mas Bima di saat kita mau membahas soal perceraian]Aris membalas chat itu dengan malas. Agak kesal karena waktunya terbuang percuma. Kalau bukan karena Yuni teman baiknya saat SMA, ia tidak akan mau mengurus perceraian yang rumit seperti ini. Yuni keukeh menggugat Bima yang lumpuh, tetapi ingin terlihat baik. Wanita itu tak mau jika ada orang yang mengang
"Mas tahu semuanya?" Suara Nila tertahan, nyaris tak dapat keluar dari mulutnya.Bima mengangguk dengan senyuman kecil terlukis di wajah. Memang selama ini ia selalu memperhatikan tetangganya. Sejak mengetahui Nila sering disiksa, diam-diam Bima menaruh rasa iba.Dari beberapa bulan lalu, hampir setiap malam Bima selalu duduk di dapur hanya untuk melihat aktivitas Nila walau hanya bayangannya saja.Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh. Perasaan yang lama-lama lebih dari sekedar kasihan.Sekarang ... wanita yang sering ia perhatikan dari kejauhan itu ada di dekatnya. Sangat dekat, bahkan sedang duduk di atas pangkuan."Aku sering memperhatikanmu dari dapur." Bima melanjutkan. Suaranya terdengar pelan, tapi sangat merdu bagi Nila. Tangannya membelai pipi Nila dengan sangat lembut, lalu merengkuh jenjang leher wanita pemilik bulu mata lentik itu. Nila hanya diam saat Bima mendekatkan bibirnya, lalu mengecup lembut, dan melumat habis hingga ia kehabisan napas."Mas .... " Nila melepas
Pekerjaan memandikan suami orang, selesai. Nila mengira semua tugas mengurus pria itu berakhir, tapi ternyata Bima masih memberi pekerjaan lain. Bima yang lapar, meminta Nila mengambil makanan di dapur. Kebetulan pagi tadi Yuni membeli lauk di warung dekat rumah. Setelah berganti pakaian, Nila mengambil makanan untuk Bima, dan kembali ke kamar tamu. "Ini makanannya, Mas." Nila meletakkan piring berisi makanan ke atas meja kecil di samping ranjang.Bima mengangguk, lalu mengalihkan pandangan pada Nila. "Mau ke mana kamu?" Nila yang baru saja ingin keluar dari kamar itu, menghentikan langkah kakinya di ambang pintu. "Saya mau bersihin rumah Mas.""Tugas kamu merawatku belum selesai. Aku mau makan."Nila mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia lalu menunjuk ke arah piring, "Itu makanannya Mas udah saya ambilin. Mas tinggal makan. Yang sakit kaki Mas 'kan? Bukan tangan?"Bima megembus napas sambil tersenyum kecut. "Iya aku tahu, tapi aku tidak biasa makan sendirian. Temani aku makan."Ni







