LOGINHari pertama bekerja Nila diminta memandikan Bima_suami tetangganya yang lumpuh. Ia terpaksa menerima pekerjaan itu karena terdesak kebutuhan ekonomi. Selama bekerja, Nila baru mengetahui ternyata rumah tangga tetangganya sedang tidak baik-baik saja. Istri Bima menggugat cerai pria itu karena lumpuh, dan dianggap tidak berguna. Namun siapa sangka, ternyata Bima menyimpan rahasia besar yang hanya diketahui oleh Nila.
View More"Mas, beras di rumah kita udah habis." Nila menundukkan kepala. Berdiri di depan suaminya yang tengah duduk bersandar di kursi kayu.
Pria bernama Yanto itu langsung melotot, menatap Nila dengan wajah penuh amarah. "Gila, masa bisa habis sih? Uang dua puluh ribu kemarin kemana? Kamu nggak beli beras?" Mendengar itu, Nila mengangkat kepalanya dan membalas tatapan tajam sang suami. "Uang dua puluh ribu cukup apa Mas? Untuk beli lauk aja aku harus utang ke warung Bu Ika." "Alasan aja! Dasar Istri boros!" Nila hanya bisa menarik napas panjang setiap kali mendengar omelan suaminya. Setiap kali ia meminta uang belanja, selalu saja ocehan, makian, dan bentakan yang ia dengar. Hidup bersama pria bernama Yanto itu membuatnya merasa tersiksa. Bukan hanya kasar Yanto juga sangat pelit. Setiap harinya ia hanya diberi jatah uang dua puluh ribu saja. Uang itu harus digunakan sebaik mungkin. Bahkan, tak jarang Yanto meminta makanan enak yang harus tersedia di atas meja makan. Lelah rasanya hidup bersama laki-laki kasar dan pelit yang maunya menang sendiri. Kalau bukan karena ia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, mana sudi ia bertahan hidup dengan pria itu. "Nih uangnya, beli beras sana!" Yanto melempar uang lembaran berwarna coklat yang hanya senilai lima ribu rupiah. Nila hanya diam, menatap uang yang perlahan jatuh ke atas lantai. Dengan uang itu, apa yang bisa dibeli olehnya? "Sana beli beras!" bentak Yanto dengan tatapan tajam. Nila membungkukkan tubuh, meraih lembaran uang yang jatuh di bawah kakinya dengan malas. "Uang segini mana cukup beli beras, Mas," keluh Nila sambil melebarkan uang kertas itu ke depan mata Yanto. Pria itu melotot. "Biasanya juga cukup. Jangan manja deh. Kamu itu harus pintar puter otak. Usahakan uang dari suami cukup. Jadi Istri cuma bisa nuntut aja. Lihat tuh Yuni, tetangga sebelah kita, suaminya lumpuh tapi dia nggak tinggal diam. Dia kerja cari duit buat kehidupan mereka. Kamu apa?" Nila terdiam sambil menghela napas jengah. Setiap kali mereka bertengkar, ia selalu dibandingkan dengan Istri orang lain yang membuatnya merasa semakin rendah. Hari ini Yuni_tetangga sebelah rumahnya yang dipuji. Kemarin Dara_janda di kampung sebelah dibanggakan. Besok siapa lagi? Apa pernah Yanto melihat pengorbanannya selama dua tahun mereka berumah tangga? Padahal ia tidak pernah menuntut apapun, hanya ingin dicukupkan uang belanja saja, tetapi sepertinya semua itu berat bagi Yanto. "Kenapa kamu ngeliatin aku begitu? Nggak terima?" Yanto menatap nyalang ke arah Nila, padahal wanita berusia dua puluh tiga tahun itu hanya diam saja. Wajar ia menatap suaminya karena punya mata. Namun, di dalam pikiran Yanto berbeda. Sebagai Istri, mana boleh ia menentang suaminya, atau sekedar membela diri. Nila menelan ludah. Buru-buru memalingkan wajahnya. "Aku beli beras dulu," katanya pelan lalu melangkah pergi. "Hmm," sahut Yanto datar. Matanya melirik ke arah pintu memastikan istrinya ke luar dari rumah sederhana itu. Setelah Nila tak terlihat lagi, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang. "Nanti malam jangan lupa kumpulin semua anak-anak di tongkrongan. Bawa duit banyak-banyak. Aku yakin malam ini aku menang lagi." Yanto menghembus napas kasar, dengan tatapan angkuh. "Oke, tenang aja soal itu. Kalau mau taruhan, tinggal siapin aja duitnya." "Sip!" Yanto mengakhiri telepon dan memasukan benda pipih hitam itu ke dalam saku celana. Kelakukan minusnya selain kasar, ia juga hobi bermain judi dan minum-minuman keras. Entah apa yang bisa dibanggakan dari seorang Yanto. *** Nila menarik napas panjang. Langkah kakinya mendadak pelan setelah ia berada di dekat warung kecil milik Bu RT. Tiba-tiba saja telapak tangan dan kakinya terasa dingin. Ia gugup, karena lagi-lagi ia harus berhutang pada pemilik warung. Sudah sering ia dibantu Bu RT, yang mengajukan permohonan bantuan dari Pemerintah, tetapi setiap dapat bantuan uang dan kebutuhan rumah tangga, semua itu selalu dihabiskan Yanto, entah untuk apa. Sekarang ... masa iya harus berhutang lagi? Padahal tiga bulan lalu ia baru mendapatkan bantuan beras satu karung dari Pemerintah. Namun, demi mengenyangkan perut suaminya ... apa boleh buat. Dengan sekuat tenaga ia mengangkat kaki yang terasa berat. Menyeimbangkan tubuh yang limbung dan mengatur napasnya yang tertahan di tenggorokan. Saat ia semakin dekat dengan warung kecil itu, ia mendengar suara seseorang dari ujung gang yang dilewati tadi. "Nila!" Suara itu semakin jelas. Awalnya ia pikir itu hanya suara gesekan angin di udara. Namun, ternyata itu benar-benar suara orang. Ia pun menoleh ke asal suara dan melihat tetangga yang tadi dibicarakan suaminya sedang berjalan cepat menghampiri. "Nil, saya mau ngomong sama kamu sebentar," seru Yuni, yang menghentikan langkah kaki di depan Nila. "Mau bicara apa Mbak?" tanya Nila, menatap wanita yang usianya lebih tua darinya itu. Yuni mengatur napas yang terengah-engah. "Bicara di sana saja, yuk." Ia menunjuk kursi di bawah pohon. Tempat biasanya tukang bubur berjualan di pagi hari. Nila mengangguk saja, meski hatinya masih diselimuti tanda tanya. Apa yang ingin dibicarakan wanita yang terkenal jutek itu? Biasanya Yuni tidak pernah menyapa. Sudah satu tahun mereka bertetangga, dan baru pertama kali ia diajak bicara oleh Yuni. Apa gerangan yang membuat wanita itu mendadak ramah? Keduanya melangkah ke kursi yang ditunjuk tadi. Di seberang jalan, di bawah pohon Mangga. "Duduk," kata Yuni sambil menunjuk kursi. Nila menurut, masih dengan wajah yang terlihat bingung. "Ada apa Mbak? Mbak mau ngomong apa sama saya?" Yuni menatap Nila dari ujung kepala sampai kaki, lalu mengatakan, "Kamu mau nggak kerja di rumah saya? Tugas kamu membersihkan rumah, masak, nyuci baju dan ngurusin anak perempuan saya yang berusia tujuh tahun." Nila terdiam. Kedua alis matanya yang terbentuk indah sejak lahir itu, naik tinggi-tinggi. "Mau nggak? Saya tahu kamu lagi butuh uang. Iya 'kan?" lanjut Yuni. "Iya Mbak," angguk Nila, menundukkan kepalanya agak malu mengakui kesulitan hidup pada orang lain. "Gimana? Kamu mau?" tanya Yuni lagi. "Saya mau," jawab Nila tanpa berpikir lagi. Takut Yuni berubah pikiran. Yang dikatakan wanita itu memang benar, ia sangat butuh uang. Namun, seingat Nila tetangganya itu tidak kaya. Rumah mereka juga sederhana. Apalagi beberapa bulan lalu suami Yuni mengalami kecelakaan mobil dan membuat kakinya lumpuh. Sejak Bima tak berdaya, Yuni yang akhirnya bekerja siang-malam. Lalu, darimana tetangganya itu membayar jasa pembantu? Apa mungkin gaji Yuni sangat besar? pikir Nila. "Saya akan membayar kamu lima juta sebulan, gimana?" tanya Yuni sambil tersenyum kecil. Nila membulatkan kedua mata lebar. Uang lima juta rupiah bukan sedikit. Ia saja tidak pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidupnya. Tentu saja ia mau, tapi lagi-lagi pikirannya tertuju pada ... Yuni kerja apa? "Saya mau Mbak, tapi ... apa benar Mbak bisa membayar saya sebanyak itu? Dibayar lima ratus ribu sebulan saja saya mau kok Mbak. Nggak usah memaksakan," ucap Nila, berhati-hati, takut menyinggung. "Kamu nggak usah takut, saya pasti bayar kamu sesuai perjanjian asal kamu mau juga melayani suami saya di ranjang. Saya ingin kamu membuat dia puas, sampai dia nggak kepikiran minta dilayani sama saya lagi." Nila tercengang. Matanya membulat lebar hingga nyaris keluar dari kelopak.Bima melangkah naik ke lantai dua rumahnya. Setibanya di depan pintu kamar, ia mengetuk pintu itu dengan perlahan.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban, hanya isakan kecil yang terdengar dari balik pintu. Tanpa menunggu ijin, Bima memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci.Bima menghela napas panjang, saat melihat di atas tempat tidur bernuansa merah muda itu, Nabila sedang meringkuk di bawah selimut, memeluk boneka beruang pemberian Bima tahun lalu."Sayang .... " Panggilan yang biasa dijawab dengan suara ceria, kini diabaikan begitu saja oleh Nabila."Papa mengerti perasaan kamu Nak." Perlahan Bima melangkah mendekati ranjang kemudian duduk di tepi. "Kamu pasti sedih dan kecewa, itu wajar Sayang, tapi kamu harus tahu satu hal .... ""Papa pergi aja!" teriak Nabila dengan suara parau.Bima menghela napas panjang, mengusap punggung kecil yang bergetar itu. "Kakak Nabila ...."Isakan itu semakin kencang. "Papa pergi aja! Cepat pergi! Papa urus aja bayi laki-laki itu. Papa 'kan suka
Pada jam makan malam, Nila dan Bima sudah menyiapkan diri untuk memberitahu kabar bahagia kehamilan itu pada Nabila.Setelah makanan spesial terhidang di atas meja, Nila memanggil anak sambungnya yang masih berada di dalam kamar.Kedatangan Nabila disambut senyum manis sang ayah ... Bima, melebarkan kedua tangan, menyambut pelukan anak Kesayangan."Kesayangan Papa. Kamu sedang apa di kamar tadi? Kok baru keluar?" "Aku lagi belajar matematika Pa. Besok kan ada ujian harian. Aku mau dapat nilai bagus, biar bisa dapat hadiah dari Mami Nila." Tatapan Nabila tertuju pada wanita cantik_sang Ibu sambung. Nila selalu bisa mengambil hati Nabila, memanjakan gadis kecil itu dengan memberikan hadiah-hadiah kecil atas pencapaian yang diraihnya. "Kalau begitu, kamu tunjukkan kamu bisa menjadi anak yang pintar dan membanggakan ya." Bima melepas pelukan, mengecup lembut kening Nabila. "Oke, aku janji aku bakal jadi anak yang pintar dan membanggakan untuk kalian berdua. Dan untuk Mama juga," senyu
Sebulan berlalu begitu cepat. Pagi hari seperti biasa, Nila bangun lebih pagi dari ayam tetangga.Saat beranjak dari tempat tidur, Nila merasakan kepalanya pusing, dan perutnya agak mual.Nila terdiam sejenak. Matanya beralih pada kalender duduk yang ada di atas meja.Di sana lingkaran merah yang terlihat, sudah terlewat beberapa hari. Di tanggal 10 hari terakhir ia datang bulan, tetapi sudah hampir tanggal 15 ia belum juga kedatangan tamu bulanan."Apa mungkin?" Tak ingin menebak-nebak, Nila mengambil testpack dari dalam laci meja dan masuk ke dalam kamar mandi.Setelah mengikuti semua arahan dalam kartu panduan itu, Nila menunggu beberapa menit sebelum membukanya.Nila menatap benda persegi panjang di tangannya dengan jantung yang bertalu hebat.Dua garis merah terlihat jelas saat ia membuka alat tes kehamilan it
"Ahhh!"Suara desahan panjang terdengar di ruang kamar bercahaya temaram itu. Suara yang lolos dari mulut Nila, memecah keheningan kamar. "Mas! Ahhh!" Nila memejamkan kedua mata sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.Khawatir wanitanya melukai bibir sendiri, Bima menghentikan kegiatan gilanya yang tengah menjilat bagian V sang Istri."Nikmati Sayang. Malam ini aku akan membuatmu merasakan apa yang tidak pernah kamu dapatkan dari Yanto," ucap Bima dengan senyuman mesum."Cukup ahhh Mas .... " rengek Nila di sela napasnya yang memburu. Bulir bening menetes di sudut matanya.Bukan karena sakit, melainkan karena rasa syukur yang meluap. Penghinaan Yanto di masa lalu tentang kekurangan fisiknya seketika lebur oleh cara Bima memujanya.Bima menegakkan kepala, wajahnya kemerahan dengan peluh yang membasahi dahi.Ia berpindah posisi, merangkak naik hingga wajahnya sejajar dengan Nila, lalu mengecup lembut air mata di pipi istrinya. "Kenapa menangis, Sayang? Apa aku terlalu kasar?"Nila
"Mas ... Mas Bima, tolong jangan beritahu Nabila Mas, dia masih kecil. Jangan rusak mental anak kita Mas. Maafin aku, aku khilaf. Aku tahu aku salah, tapi tolong jangan biarkan Nabila tahu. Dia nggak harus tahu tentang ini Mas." Yuni memohon sambil menangis, meratapi nasibnya yang bahkan jauh lebi
Setelah Nabila tenang dan kembali tidur, Nila melangkah pelan-pelan keluar dari kamar, menemui Bima yang duduk termenung di ruang tamu.Tatapan pria itu kosong, dengan wajah muram. Sesekali Bima menghela napas panjang, sambil memutar jam yang melingkar di pergelangan tangannya.Nila menghentikan la
"Dia selingkuhanmu 'kan? Hampiri dia, peluk dia seperti dulu. Abaikan saja keberadaanku bukannya dulu kamu juga melakukan itu?" Bima tersenyum sinis, senyum dengan seribu arti. Yuni menggeleng berkali-kali. Memalingkan wajahnya. Mana sudi ia melihat Robby yang ternyata lebih miskin dari Bima yang
Di dalam ruang kerjanya, Robby mengemasi meja dengan tergesa-gesa. Matanya mengamati pintu, takut tiba-tiba istrinya datang. Sesekali ia mengusap keringat di kening. Bulir bening itu terus mengalir, meski di dalam ruangan yang sejuk.Detak jantungnya berdebar kian cepat dengan tangan dan kaki yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews