Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris

Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris

last updateLast Updated : 2026-01-07
By:  Dita SYUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
7Chapters
207views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

(Novel Khusus Dewasa) "Layani Suamiku, aku akan memberimu uang yang banyak." Demi bisa mengenyangkan perut suami pelitnya, Nila terpaksa melayani Bima_suami tetangganya yang kesepian. Bima digugat cerai oleh Yuni setelah mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan kakinya lumpuh. Namun, tanpa sepengetahuan istrinya, ternyata Bima memiliki rahasia besar ... ia mendapatkan warisan dari Kakek yang berhasil diselamatkan. Selama ini Bima mempertahankan rumah tangga dengan Yuni hanya demi anak semata wayang mereka. Namun, setelah kehadiran Nila, masihkah Bima tetap mempertahankan pernikahan toxic itu? Atau, istrinya yang meminta kembali saat tahu Bima memiliki harta tersembunyi?

View More

Chapter 1

1. Tawaran Pekerjaan

"Mas, beras di rumah kita udah habis." Nila menundukkan kepala. Berdiri di depan suaminya yang tengah duduk bersandar di kursi kayu.

Pria bernama Yanto itu langsung melotot, menatap Nila dengan wajah penuh amarah. "Gila, masa bisa habis sih? Uang dua puluh ribu kemarin kemana? Kamu nggak beli beras?"

Mendengar itu, Nila mengangkat kepalanya dan membalas tatapan tajam sang suami. "Uang dua puluh ribu cukup apa Mas? Untuk beli lauk aja aku harus utang ke warung Bu Ika."

"Alasan aja! Dasar Istri boros!"

Nila hanya bisa menarik napas panjang setiap kali mendengar omelan suaminya. Setiap kali ia meminta uang belanja, selalu saja ocehan, makian, dan bentakan yang ia dengar.

Hidup bersama pria bernama Yanto itu membuatnya merasa tersiksa. Bukan hanya kasar Yanto juga sangat pelit.

Setiap harinya ia hanya diberi jatah uang dua puluh ribu saja. Uang itu harus digunakan sebaik mungkin. Bahkan, tak jarang Yanto meminta makanan enak yang harus tersedia di atas meja makan.

Lelah rasanya hidup bersama laki-laki kasar dan pelit yang maunya menang sendiri.

Kalau bukan karena ia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, mana sudi ia bertahan hidup dengan pria itu.

"Nih uangnya, beli beras sana!" Yanto melempar uang lembaran berwarna coklat yang hanya senilai lima ribu rupiah.

Nila hanya diam, menatap uang yang perlahan jatuh ke atas lantai. Dengan uang itu, apa yang bisa dibeli olehnya?

"Sana beli beras!" bentak Yanto dengan tatapan tajam.

Nila membungkukkan tubuh, meraih lembaran uang yang jatuh di bawah kakinya dengan malas.

"Uang segini mana cukup beli beras, Mas," keluh Nila sambil melebarkan uang kertas itu ke depan mata Yanto.

Pria itu melotot. "Biasanya juga cukup. Jangan manja deh. Kamu itu harus pintar puter otak. Usahakan uang dari suami cukup. Jadi Istri cuma bisa nuntut aja. Lihat tuh Yuni, tetangga sebelah kita, suaminya lumpuh tapi dia nggak tinggal diam. Dia kerja cari duit buat kehidupan mereka. Kamu apa?"

Nila terdiam sambil menghela napas jengah. Setiap kali mereka bertengkar, ia selalu dibandingkan dengan Istri orang lain yang membuatnya merasa semakin rendah.

Hari ini Yuni_tetangga sebelah rumahnya yang dipuji. Kemarin Dara_janda di kampung sebelah dibanggakan. Besok siapa lagi?

Apa pernah Yanto melihat pengorbanannya selama dua tahun mereka berumah tangga?

Padahal ia tidak pernah menuntut apapun, hanya ingin dicukupkan uang belanja saja, tetapi sepertinya semua itu berat bagi Yanto.

"Kenapa kamu ngeliatin aku begitu? Nggak terima?" Yanto menatap nyalang ke arah Nila, padahal wanita berusia dua puluh tiga tahun itu hanya diam saja.

Wajar ia menatap suaminya karena punya mata. Namun, di dalam pikiran Yanto berbeda.

Sebagai Istri, mana boleh ia menentang suaminya, atau sekedar membela diri.

Nila menelan ludah. Buru-buru memalingkan wajahnya. "Aku beli beras dulu," katanya pelan lalu melangkah pergi.

"Hmm," sahut Yanto datar. Matanya melirik ke arah pintu memastikan istrinya ke luar dari rumah sederhana itu.

Setelah Nila tak terlihat lagi, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang.

"Nanti malam jangan lupa kumpulin semua anak-anak di tongkrongan. Bawa duit banyak-banyak. Aku yakin malam ini aku menang lagi." Yanto menghembus napas kasar, dengan tatapan angkuh.

"Oke, tenang aja soal itu. Kalau mau taruhan, tinggal siapin aja duitnya."

"Sip!" Yanto mengakhiri telepon dan memasukan benda pipih hitam itu ke dalam saku celana.

Kelakukan minusnya selain kasar, ia juga hobi bermain judi dan minum-minuman keras. Entah apa yang bisa dibanggakan dari seorang Yanto.

***

Nila menarik napas panjang. Langkah kakinya mendadak pelan setelah ia berada di dekat warung kecil milik Bu RT.

Tiba-tiba saja telapak tangan dan kakinya terasa dingin. Ia gugup, karena lagi-lagi ia harus berhutang pada pemilik warung.

Sudah sering ia dibantu Bu RT, yang mengajukan permohonan bantuan dari Pemerintah, tetapi setiap dapat bantuan uang dan kebutuhan rumah tangga, semua itu selalu dihabiskan Yanto, entah untuk apa.

Sekarang ... masa iya harus berhutang lagi? Padahal tiga bulan lalu ia baru mendapatkan bantuan beras satu karung dari Pemerintah.

Namun, demi mengenyangkan perut suaminya ... apa boleh buat.

Dengan sekuat tenaga ia mengangkat kaki yang terasa berat. Menyeimbangkan tubuh yang limbung dan mengatur napasnya yang tertahan di tenggorokan.

Saat ia semakin dekat dengan warung kecil itu, ia mendengar suara seseorang dari ujung gang yang dilewati tadi.

"Nila!"

Suara itu semakin jelas. Awalnya ia pikir itu hanya suara gesekan angin di udara. Namun, ternyata itu benar-benar suara orang.

Ia pun menoleh ke asal suara dan melihat tetangga yang tadi dibicarakan suaminya sedang berjalan cepat menghampiri.

"Nil, saya mau ngomong sama kamu sebentar," seru Yuni, yang menghentikan langkah kaki di depan Nila.

"Mau bicara apa Mbak?" tanya Nila, menatap wanita yang usianya lebih tua darinya itu.

Yuni mengatur napas yang terengah-engah. "Bicara di sana saja, yuk." Ia menunjuk kursi di bawah pohon. Tempat biasanya tukang bubur berjualan di pagi hari.

Nila mengangguk saja, meski hatinya masih diselimuti tanda tanya. Apa yang ingin dibicarakan wanita yang terkenal jutek itu? Biasanya Yuni tidak pernah menyapa.

Sudah satu tahun mereka bertetangga, dan baru pertama kali ia diajak bicara oleh Yuni. Apa gerangan yang membuat wanita itu mendadak ramah?

Keduanya melangkah ke kursi yang ditunjuk tadi. Di seberang jalan, di bawah pohon Mangga.

"Duduk," kata Yuni sambil menunjuk kursi.

Nila menurut, masih dengan wajah yang terlihat bingung.

"Ada apa Mbak? Mbak mau ngomong apa sama saya?"

Yuni menatap Nila dari ujung kepala sampai kaki, lalu mengatakan, "Kamu mau nggak kerja di rumah saya? Tugas kamu membersihkan rumah, masak, nyuci baju dan ngurusin anak perempuan saya yang berusia tujuh tahun."

Nila terdiam. Kedua alis matanya yang terbentuk indah sejak lahir itu, naik tinggi-tinggi.

"Mau nggak? Saya tahu kamu lagi butuh uang. Iya 'kan?" lanjut Yuni.

"Iya Mbak," angguk Nila, menundukkan kepalanya agak malu mengakui kesulitan hidup pada orang lain.

"Gimana? Kamu mau?" tanya Yuni lagi.

"Saya mau," jawab Nila tanpa berpikir lagi. Takut Yuni berubah pikiran. Yang dikatakan wanita itu memang benar, ia sangat butuh uang.

Namun, seingat Nila tetangganya itu tidak kaya. Rumah mereka juga sederhana. Apalagi beberapa bulan lalu suami Yuni mengalami kecelakaan mobil dan membuat kakinya lumpuh.

Sejak Bima tak berdaya, Yuni yang akhirnya bekerja siang-malam. Lalu, darimana tetangganya itu membayar jasa pembantu?

Apa mungkin gaji Yuni sangat besar? pikir Nila.

"Saya akan membayar kamu lima juta sebulan, gimana?" tanya Yuni sambil tersenyum kecil.

Nila membulatkan kedua mata lebar. Uang lima juta rupiah bukan sedikit. Ia saja tidak pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidupnya.

Tentu saja ia mau, tapi lagi-lagi pikirannya tertuju pada ... Yuni kerja apa?

"Saya mau Mbak, tapi ... apa benar Mbak bisa membayar saya sebanyak itu? Dibayar lima ratus ribu sebulan saja saya mau kok Mbak. Nggak usah memaksakan," ucap Nila, berhati-hati, takut menyinggung.

"Kamu nggak usah takut, saya pasti bayar kamu sesuai perjanjian asal kamu mau juga melayani suami saya di ranjang. Saya ingin kamu membuat dia puas, sampai dia nggak kepikiran minta dilayani sama saya lagi."

Nila tercengang. Matanya membulat lebar hingga nyaris keluar dari kelopak.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Dita SY
Dita SY
Selamat datang di buku ke tujuh aku... semoga sukaaaa yaaaa
2026-01-06 17:49:51
0
0
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status