Share

Apa yang Terjadi?

Varo pun mengucapkan kalimat ijab itu dengan tenang dan tegas.

Setelah mengucapkan itu, pandangan Varo pun lalu beralih pada Tasya yang dari tadi nampak memandang nya.

Namun, saat Varo mengarahkan pandangannya, Tasya pun segera memalingkan wajahnya ke arah samping.

Varo pun hanya tersenyum sekilas karenanya dan kembali melanjutkan proses itu.

Setelah melafalkan doa, kini tibalah pemberkasan. Beruntung, tak ada masalah saat melakukan pemberkasan itu meskipun nama mempelai prianya berganti.

Setelah melakukan pemberkasan, kini tiba saat keduanya pun menyematkan kedua cincin mereka.

Dengan perasaan yang berdebar, Varo pun menggapai lengan kanan Tasya dan mulai memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Tasya pun melakukan hal yang serupa, memakaikan cincin di jari manis Varo dan kemudian menyalami lengan lelakinya itu.

"Makasih, Mas," ucap Tasya sambil tersenyum tulus dan hanya dibalas sebuah kecupan hangat di pucuk kepala Tasya.

Mendapat perlakuan seperti itu, sungguh membuat wajah Tasya nampak sedikit merona karenanya.

Setelah acara jab kabul selesai, kini mulailah beralih ke acara selanjutnya ala adat sunda.

Dimulai dari acara nyawer beras dan uang koin, lalu diteruskan dengan sungkeman kepada kedua orangtua mempelai.

Di prosesi sungkeman ini, ada sedikit yang berbeda diantara mereka. Dimana Varo yang saat itu statusnya yatim piatu, jadi ia pun sungkem kepada Oom dan juga Tantenya. Sedangkan Tasya, ibundanya sudah lama meninggal, dan proses sungkeman itu dilakukan kepada Pak Ega dan juga Kakaknya, Revan. Acara ini pun di warnai sedikit haru.

Setelah proses sungkeman kelar, dilanjutkan acara injak telur dan berakhir dengan saling menyuap ayam bekakak.

Semua rangkaian acara pun dilakukan dengan penuh suka cita oleh Varo dan juga Tasya. Seakan mereka lupa bahwa saat itu Varo hanyalah peran pengganti dari Bagas.

Setelah rangkaian acara adat itu selesai, barulah tamu undangan satu persatu di persilahkan untuk menyalami kedua mempelai itu untuk memberikan ucapan selamat menempuh hidup baru kepada keduanya.

Namun, tak hanya ucapan itu yang keluar dari mulut para tamu. Beberapa kata maaf pun terucap dari beberapa orang, terutama ibu-ibu yang dulu menghinanya di acara rewang itu.

"Mbak Tasya, maafin ucapan ibu kemarin ya, rupanya, meskipun cuma penyanyi cafe tapi cuannya banyak yah. Pantes aja kalau nekat selingkuh," ucap Ibu itu dengan sedikit meledek.

Tasya pun menyalami tangan wanita itu dengan sedikit meremasnya seolah ia kesal akan perkataan ibu yang tadi menghinanya itu.

Setelah Ibu itu turun dari atas pelaminan, Varo pun mengambil tangan Tasya dan langsung membelai dengan lembut.

"Apa karena orang itu kemarin minta mahar yang sama kek Bagas?" tanya Varo memastikan dan mendapat anggukan dari Tasya.

"Eh tapi, yang ada malah berkali-kali lipatnya. Puas aku sekarang bikin dia diem. Eh tapi tetep aja dia bikin aku kesel lag," gerutu Tasya kepada sang suami.

Varo pun hanya diam saja sambil menggelengkan kepalanya pelan.

Tak lama, Bagas dan Kesya pun mulai bergerak menuju atas pelaminan. Saat Tasya melihat itu, perasaannya tiba-tiba menjadi kalut dan sedikit kacau.

"Sans, jangan sedih, tunjukkan wajah bahagiamu," bisik Varo lembut di telinga Tasya.

Sungguh hal itu mampu membuat bulu kuduk Tasya nampak sedikit meremang dan membuat wajahnya merona.

"Diabetes aku lama-lama liat muka mu merah mulu," gerutu Varo dan hanya mendapat kekehan dari Tasya saja.

Saat Bagas tiba di atas pelaminan, Tasya dan Varo pun segera berdiri menyambut mereka. Keduanya pun nampak salaman dan hanya tersenyum saja. Tak ada percakapan diantara keduanya, seakan mereka semua tak saling kenal satu sama lain.

Setelah turun dari atas pelaminan, nampak Keysa yang sedikit merenggut kesal kepada suaminya itu.

"Heran, bukannya Varo itu cuma penyanyi cafe? Kok bisa, dia ngasih mahar segede itu buat Tasya?" tanya Keysa sedikit penasaran kepada sang suami.

Bagas pun hanya menggeleng pelan tanda tak paham.

"Duh, kalau tau kek gitu, mending kemaren aku godain Varo aja dibanding godain kamu," gerutu Keysa kembali.

"Apa maksud kamu bilang begitu?!" seru Bagas sedikit kesal karena tingkah istrinya itu.

"Pikir aja sendiri!" seru Keysa balik setelah itu berjalan dengan langkah yang sedikit menghentak karena menahan kekesalan yang ada.

Tasya dan Varo pun nampak memperhatikan tingkah kedua orang itu dari atas pelaminan dan keduanya pun langsung terkekeh geli.

"Mampus! Rasain tuh, emang enak,"ucap Tasya sambil terkekeh geli.

"Keknya seneng banget dia liat besti-nya menderita," sindir Varo sambil bersidekap dada.

"Dih, mana ada bestie rebut calon suami orang? Bestai iya," gerutu Tasya kesal.

Varo pun tak menanggapi ucapan Tasya dan hanya terkekeh saja dan menggelengkan kepalanya pelan.

Tasya pun kembali tersenyum apalagi saat menyambut beberapa teman dari tempat mereka bekerja itu.

"Cie selamat ya, Var, akhirnya kesampean juga nikah sama bidadarinya," ucap salah satu teman musik Varo.

Mendengar ucapan itu, sontak Varo pun menginjak kaki temannya itu hingga mengaduh kesakitan.

"Makannya disana ya, jangan banyak-banyak ntar abis haha," ledek Varo kepada teman-temannya itu sambil tersenyum.

Tak lama, mereka pun segera pergi meninggalkan pelaminan dan menuju tempat prasmanan yang ada.

Tasya pun menatap tajam ke arah Varo, seolah bertanya apa maksud perkataan temannya tadi namun Varo malah membuang mukanya ke sembarang arah.

Tak lama, terdengar sayup-sayup seorang ibu yang menghampiri Pak Ega dan memberitahu soal makanan yang ada disana.

Varo pun hanya mengernyitkan dahinya saja seolah mengerti ada sesuatu yang tak beres di sana.

"Sya, bikin acara sampe jam berapa?" tanya Varo kepada sang istri.

"Jam 4-an, Mas. Tapi gimana ya, temen-temen sekolah ku belum pada datang. Mereka datangnya pada malam semua, dan aku rasa juga beberapa makanan udah abis," jawab Tasya dengan sedikit sayu dan bingung.

Hening pun kembali melanda mereka berdua. Keduanya pun nampak tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

Hingga akhirnya, lamunan mereka pun sedikit buyar saat melihat Revan yang lewat dihadapan mereka berdua.

Varo pun seakan menemukan sebuah ide dan segera meninggalkan pelaminan dan menghampiri Revan.

"Mas," panggil Tasya kepada Varo namun tak digubris sama sekali.

Dari atas pelaminan, Tasya jelas melihat Varo dan Revan yang sedang berbicara cukup serius setelah itu mereka berdua pergi entah kemana.

Selang 15 menit kemudian, barulah Varo kembali lagi kesana disusul oleh MUA yang tadi meriasnya.

"Teh, nanti kita ganti baju lagi jam 5an ya," ucap MUA itu yang sontak membuat Tasya sedikit bingung.

"Gi -- gimana maksudnya, Teh? Bukannya cuma sampai jam 4 doang saya pesannya? Dan ini udah mau kelar kan?" tanya Tasya bingung dan mendapat gelengan dari Sang MUA.

"Awalnya iya, Teh, tapi tadi A Revan udah perpanjang sampai malem jam 8, jadi nanti kita ganti baju lagi ya jam 5," ucap MUA itu.

Setelah itu, Sang MUA pun segera pergi dari atas pelaminan itu, meninggalkan sejuta tanya di dalam benak Tasya.

"Mas?" tanya Tasya kepada Varo penuh selidik.

"Apa?" jawab Varo singkat.

Ingin rasanya Tasya bertanya lebih jauh, namun saat melihat raut wajah Varo langsung di urungkannya.

Rasa penasaran Tasya pun semakin besar kala ada beberapa orang yang datang dengan seragam sebuah resto dan langsung masuk ke dalam rumahnya.

"Kok aku kepo ya, ada apa?" tanya Tasya sambil memegangi kepalanya.

Tasya pun nampak memperhatikan sang suami yang ada disampingnya itu dan hanya mengangguk ke arah orang berseragam restoran itu.

Setelah sepersekian detik ia pun akhirnya bisa memahami, bahwa itu pasti adalah kelakuan dari sang suami.

Tasya pun tersenyum lalu menarik wajah Varo ke dekatnya dan ...

Cup!

"Eh?"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status