Se connecterIleana Risjad adalah sekretaris Davendra Pramadana di siang hari dan kekasih rahasianya di malam hari. Hingga suatu hari, Davendra memutus semua kesepakatan mereka secara sepihak, tanpa penjelasan. Ileana baru mengerti ketika mengetahui bahwa Davendra bertunangan dengan adik tirinya. Bukan hanya pria yang ia cintai meninggalkannya, keluarganya pun kembali menginjak harga dirinya. Untuk pertama kalinya, Ileana ingin melawan. Namun sebelum sempat melangkah, Davendra berdiri di hadapannya dan menariknya ke dalam pelukan. “Jangan kotori tanganmu untuk mereka,” bisiknya. “Biarkan aku yang membuat mereka menderita untukmu.”
Voir plusTidak lama Davendra merokok di luar. Setelah habis satu batang, pria itu kembali masuk ke kamar. Langkahnya tenang menuju sisi sebelah kanan ranjang.“Tidurlah,” kata Davendra pelan, sambil menyibak selimut dan merebahkan tubuh di samping Ileana. “Sebelum aku berubah pikiran dan menidurimu lagi.” Nada suaranya sangat lembut, sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu.Ileana hanya bisa mengangguk kecil sambil memegang selimut dan membawanya naik sampai sebatas lehernya. Lalu, Ileana merebahkan tubuhnya memunggungi Davendra, karena Ileana tidak ingin Davendra tahu bahwa ia sedang menahan tangis.***Senin pagi, semua berjalan normal.Ileana tetap melakukan rutinitasnya, tiba di kantor satu jam lebih awal daripada Davendra. Memasang diffuser dan memastikan suhu ruangan kerja Davendra diatur dengan tepat, memeriksa ulang dokumen kontrak yang butuh tanda tangan segera, dan memverifikasi kembali jadwal harian dan minggu ini yang telah ia susun sejak minggu lalu.Tidak ada yang berubah da
Sepuluh jari Ileana mencakar punggung lebar Davendra saat gelombang menghantam Ileana. Tubuhnya terangkat untuk memeluk Davendra dan Davendra membalas, membawa Ileana ke dalam pangkuannya.Tubuh mereka bergerak, mengangkat dan menghentak penuh dorongan. Desahan dan erangan menggema di kamar itu, saling tumpang tindih ketika akhirnya mereka mencapai puncak. Setelah keduanya berhenti bergerak, Davendra tetap menahan posisinya, memeluk Ileana dan menaruh kepalanya di pundak wanita itu. Ileana pun tetap melingkarkan kedua tangannya di leher Davendra.Setelah napas Ileana teratur, Ileana juga bisa merasakan deru napas Davendra yang berangsur normal, tapi Davendra tetap tidak bergerak.Khawatir jika Davendra langsung tertidur di pelukannya, Ileana berniat untuk membangunkan Davendra, tapi urung ketika mendengar Davendra berbisik, “Biarkan seperti ini.”Lalu, Ileana bisa merasakan pelukan Davendra mengerat di punggungnya.Sekarang, perasaan Ileana menjadi tidak karuan.Sejak awal mereka berc
Untuk beberapa waktu keheningan menyelimuti kabin mobil itu.Mobil sudah bergerak sejak tadi, tetapi Davendra tetap diam. Tidak membalas ucapan Ileana sama sekali.Karena Ileana merasa sesak, akhirnya Ileana kembali bertanya tapi nada suaranya kini lebih lembut. “Pak Davendra, jika tidak ada yang ingin dikatakan, tolong turunkan saya di halte bis terdekat.”Davendra tetap diam. Satu tangannya ia angkat untuk mengusap alisnya lalu memejamkan mata. Seolah kejadian hari ini telah memberinya beban yang berat.Ileana akhirnya mengalihkan tatapannya, melihat Davendra karena pria itu tetap tidak memberikan respon sama sekali.Saat melihat Davendra dari samping, fitur wajahnya yang tampan, terbayang mata indah pria itu saat menatapnya lembut di atas ranjang, hidung bangirnya yang bersentuhan dengan wajahnya ketika ia mencium Ileana dengan bergairah, dalam perasaan yang tidak menentu ini, membuat hati Ileana sakit.Ia menyesal membiarkan perasaannya pada Davendra berkembang. Seandainya ia tahu
Miranda adalah orang pertama yang menangkap maksud ucapan Davendra. Senyum tipisnya mengembang, meskipun tadi ia sempat dilanda panik. Namun, melihat tatapan Davendra yang tajam pada Ileana, Miranda yakin Davendra tidak menyukai anak itu. “Maafkan kami, Tuan Davendra,” ujar Miranda lembut. “Anak ini memang tidak kami perhitungkan. Kami akan segera menyelesaikannya.” Miranda menoleh pada Ileana, tatapannya berubah tajam. “Kamu sudah dengar sendiri. Pergilah. Jangan merusak suasana makan malam ini.” Pramudya ikut membenarkan. Tidak ada keraguan sama sekali dari nada suaranya. “Keluar,” katanya singkat, seolah Ileana bukan darah dagingnya sendiri. Ileana menatap mereka bergantian, lalu dengan sadar kembali menatap Davendra. Tetapi, pria itu tidak melihat ke arahnya. Wajah Davendra tetap dingin, rahangnya mengeras, seolah keberadaan Ileana sama sekali tidak penting. Itu sudah cukup. Ileana menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil. Sekali lagi menatap mereka dengan sedikit keben






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.