Mag-log inLuna terbunuh oleh salah satu pria dalam haremnya. Namun, alih-alih mati, jiwa Luna, sang permaisuri agung, mendadak terlempar ke dunia modern dan masuk ke dalam tubuh seorang gadis desa jelek yang dijodohkan pada 4 tuan muda penguasa. Meski tampak menjanjikan, Luna menolak! Ia hanya ingin hidup tenang, berbeda dengan hidup dia sebelumnya. Namun, apa yang bisa ia lakukan ketika empat pria tampan yang sebelumnya menghinanya justru berbalik mengejarnya?
view moreMakau, Pukul 02:15 AM
Makau tidak pernah benar-benar tertidur. Bahkan di jam-jam di mana hantu seharusnya berkeliaran. Namun, di lantai 55 The Elysium, dunia terasa berbeda, begitu sepi dan menakutkan. Lorong yang panjang, berlapis marmer yang dipoles begitu licin hingga Kiara Larasati bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di sana yang pucat, berkeringat dingin, dan ketakutan setengah mati. "Bodoh. Ini ide paling bodoh dalam sejarah umat manusia, Kiara." Gadis berusia dua puluh dua tahun itu merapatkan punggungnya ke dinding dingin, napasnya tertahan di pangkal tenggorokan. Kakinya terasa perih. Sepatu kets yang ia pakai sudah menggesek tumitnya sejak ia mulai menyusup dari pintu dapur tiga jam lalu. Seragam pelayan curian yang melekat di tubuhnya terasa salah di segala sisi; roknya terlalu pendek, kemejanya terlalu ketat di bagian dada, dan baunya begitu menyesakkan. Kiara memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir rasa mual yang menggulung perutnya. Bayangan wajah adiknya, Sari, melintas di benaknya. Sari yang ceria, naif dan sudah dua minggu tidak membalas pesan W******p dan teleponnya. Jejak digital terakhir adiknya, adalah sebuah unggahan I*******m Story yang dihapus lima menit setelah diposting yang menunjukkan pemandangan dari balkon hotel ini, menurut tag lokasi I*******m yang ia lihat. Pria itu baru saja masuk ke lift VIP sepuluh menit yang lalu. Kiara membuka matanya. Tekadnya kembali mengeras. Ia bukan mata-mata profesional. Ia hanyalah mahasiswi tingkat akhir jurusan Akuntansi yang seharusnya sedang merevisi skripsi di kost-kostan Jakarta. Tapi rasa bersalah adalah bahan bakar yang lebih kuat daripada bensin. Jika ia tidak menemukan Sari, tidak ada orang lain yang akan peduli. Polisi setempat hanya menganggapnya sebagai kasus "turis muda yang kabur dengan pacar barunya". Tangannya yang gemetar terulur ke panel pintu ganda di ujung lorong. Ukirannya rumit, berbentuk naga kembar yang saling membelit. Kiara menempelkan kartu akses yang ia curi dari saku manajer lantai saat pria itu sedang mabuk. Bip. Lampu indikator berubah hijau. Jantung Kiara serasa berhenti berdetak. Berhasil. Ia mendorong pintu berat itu dan menyelinap masuk secepat bayangan. Ruangan di balik pintu itu bukan sekadar kamar hotel. Itu adalah definisi kekuasaan. Langit-langitnya menjulang dihiasi lampu chandelier kristal raksasa. Meski lampu utama dimatikan, cahaya kota yang masuk dari dinding kaca raksasa memberikan penerangan remang-remang yang dramatis. Aroma ruangan itu langsung menyergap indra penciuman Kiara. Maskulin, berat, dan mengintimidasi. Kiara melangkah hati-hati di atas karpet tebal yang menelan suara langkah kakinya. Matanya menyapu sekeliling dengan cepat. Meja kerja besar di sudut, rak buku yang menjulang tinggi, dan bar pribadi yang dipenuhi botol-botol wiski berusia lebih tua dari umur Kiara. "Cari ponsel, cari dokumen, cari apa saja," bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar. Ia baru saja hendak melangkah menuju meja kerja ketika suara bip pintu terdengar lagi. Kali ini dari pintu utama tempat ia masuk tadi. Darah Kiara membeku. Pintu terbuka. Suara langkah kaki terdengar. Bukan satu orang, tapi rombongan. Langkah sepatu kulit yang tegas menghantam lantai di area foyer. Panik meledak di kepala Kiara. Tidak ada waktu untuk lari ke balkon atau lemari untuk bersembunyi. Matanya menangkap tirai beludru merah marun yang menjuntai berat dari langit-langit hingga ke lantai di sisi kanan ruangan, menutupi sebagian dinding kaca. Tanpa pikir panjang, Kiara menyelipkan tubuh rampingnya di antara dinginnya kaca jendela dan beratnya kain beludru. "Bawa dia masuk." Itu bukan suara bentakan. Itu adalah bariton rendah, tenang, namun memiliki otoritas absolut yang membuat suhu ruangan menjadi dingin seketika. Suara seseorang yang terbiasa perintahnya dipatuhi tanpa pertanyaan. Bruk! Terdengar suara tubuh yang dihempaskan kasar ke lantai, diikuti rintihan kesakitan. "Tuan Gan... Tuan Gan, saya bersumpah... saya tidak tahu..." Suara pria yang merintih itu terdengar parau, basah oleh air mata dan mungkin darah. "Saya hanya perantara! Mereka menekan saya! Mereka mengancam akan membakar toko ibu saya!" Kiara menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat di balik tirai. Tuan Gan. Nama yang disebut-sebut oleh staf dapur dengan nada hormat sekaligus ngeri. Darius Gan. Pemilik tempat ini. Sang Raja Judi. "Menekanmu?" Suara bariton itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Kiara bisa membayangkan pria itu sedang berjalan santai. Bunyi klink terdengar, es batu yang dijatuhkan ke dalam gelas kristal, diikuti suara cairan yang dituangkan. Pria itu sedang menuang minum di tengah interogasi, seolah tangisan di belakangnya hanyalah musik latar yang membosankan. "Kau bekerja untukku selama lima tahun, Lau. Kau tahu satu-satunya aturan di The Elysium," ujar Darius. Nadanya santai, nyaris seperti sedang mengobrol soal cuaca. "Loyalitas dibayar dengan kemakmuran. Pengkhianatan dibayar dengan darah." "Ampun, Tuan! Saya punya anak istri..." "Dan kau mempertaruhkan masa depan mereka demi dua juta dolar Hong Kong? Murah sekali hargamu." Suara langkah sepatu itu mendekat ke arah pria yang menangis. Iramanya lambat, terukur. Tidak ada keragu-raguan. Kiara memberanikan diri untuk mengintip sedikit melalui celah tirai yang tidak rapat. Pemandangan di depannya membuatnya takut. Dua orang pengawal bertubuh kekar, mengenakan setelan jas hitam yang seolah mau meledak karena otot mereka, berdiri patuh di dekat pintu. Di tengah ruangan, seorang pria paruh baya dengan wajah lebam berlutut. Dan di depannya, berdiri sosok itu. Darius Gan. Dia jauh lebih menakutkan daripada foto di majalah bisnis yang pernah Kiara riset. Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan, memancarkan aura kematangan yang berbahaya. Tubuhnya tinggi tegap, dibalut setelan jas warna charcoal buatan penjahit terbaik. Lengan kemeja putihnya digulung sedikit, memperlihatkan jam tangan mahal dan urat-urat tangan yang menonjol. Darius menyesap gelas wiskinya perlahan. "Bawa dia ke gudang bawah," perintah Darius datar. Dia bahkan tidak melihat ke arah korban lagi. "Pastikan dia menyebutkan nama siapa saja yang terlibat sebelum matahari terbit. Gunakan metode lama. Jangan bunuh dia sebelum dia bicara." "Baik, Tuan." Kedua pengawal itu menyeret pria bernama Lau yang terus meraung. Lau mencoba meraih kaki celana Darius, tapi Darius hanya memundurkan kakinya sedikit dengan ekspresi jijik, seolah menghindari kotoran. Pintu tertutup. Suara teriakan Lau terpotong oleh kedap suara yang sempurna. Hening kembali menyelimuti Penthouse. Tapi kali ini, keheningan itu terasa lebih mencekam. Kiara merasa kakinya lemas. Ia harus menunggu sampai pria itu pergi tidur, atau masuk ke kamar mandi. Barulah ia bisa menyelinap keluar. Darius berjalan menuju meja kerjanya yang besar. Dia meletakkan gelasnya yang masih setengah penuh. Lalu, dia terdiam. Dia tidak duduk. Dia tidak membuka laptop. Dia berdiri mematung di tengah ruangan, punggungnya menghadap ke arah tirai tempat Kiara bersembunyi. Kepalanya sedikit miring, seolah singa yang mendengar patahnya ranting di tengah hutan. Jantung Kiara berdetak begitu keras hingga rasanya tulang rusuknya sakit. "Jangan berbalik. Kumohon, jangan berbalik."Guman Kiara dalam hati.“Tuan sulung memanggil anda untuk apa, nona?” Anna bertanya penasaran usai menutup pintu. Ia membawa dirinya ke sisi Luna. Mata hazel bulatnya menyala menantikan gosip terbaru asmara majikannya. “Tidak sopan,” dengus Luna menjetik dahi lebar Anna main-main. Sudut bibirnya tertarik alami. “Kau itu sudah seperti penggosip kecil.”Anna tertawa pongah, kedua tangannya menutupi bekas sentilan Luna. “Nona, ampuni saya,” pintanya bersikap menyedihkan. Luna terkekeh pelan dan membiarkan Anna membereskan ruangan sedangkan ia bersiap memulai siaran langsung. Ruangan live itu seketika meledak dibanjiri ratusan komentar selang satu menit siaran langsung dimulai. Luna membaca barisan komentar yang bergulir ke atas setiap komentar baru ditambahkan. Semua orang berkata mereka merindukan suara indahnya. “Maaf, belakangan ini kesehatan saya kurang bagus. Berkat dukungan dan kasih sayang kalian saya bisa kembali melakukan siaran. Terima kasih semuanya.” Alibinya dengan mulus. [ Ya ampun, ahh! Be
Luna duduk berseberangan dari sofa Marios. Ia senantiasa menunggu pria itu membuka mulut dan berbicara. Tetapi lima menit berlalu hampa. Marios belum terlihat akan membuka suaranya. “Tatapan intens anda terasa tidak nyaman, tuan muda.” Luna berkata apa adanya. “Anda membuat saya gugup. Bisakah kita langsung ke intinya saja?”Pria di sofa seberang membuang napas pendek, melepas kacamata kerja dari pangkal hidung tingginya. “Nenek pernah menelfonmu?” Marios akhirnya bersedia berbicara setelah sekian lama. Luna terdiam, memilah ingatan si pemilik tubuh asli. “Ya, beliau menelefon saya satu kali melalui telefon paviliun. Tuan muda butuh informasi tertentu?”Marios memutuskan bersikap jujur karena meski ia bukan pria baik yang hangat dan riang, setidaknya ia tidak suka memberi harapan kosong. “Kau pasti tahu nenek menjelaskan posisimu sebagai calon menantu Laventin. Kandidat terkuat adalah aku, tapi aku tidak bisa menikahimu.”“Oh, saya mengerti. Sebenarnya anda tidak usah repot menga
“Sebelum kakak menginterogasiku, sudahkah kakak bertanya kekacauan apa yang dia perbuat?”Marios menajamkan tatapannya. “Aku sudah tahu.”“A-apa?” Luca tercengang. Marios tahu segalanya tapi tetap memarahinya. “Kalau begitu kenapa kakak memarahi aku!”“Aku memarahimu karena tindakanmu tidak tahu sopan santun saat membalas Liena dan Eva. Apa aku pernah mengajarimu berperilaku tak tahu malu dan kurang ajar?”Suara keras Luca melembek seperti kapas yang dihantam tekanan besar. Lirih dan lembut. “Tidak pernah, kakak selalu mengajariku bersikap sopan sebagai seorang Laventin.”“Bagus karena kau masih mengingat siapa dirimu.” Marios menghentikan omelannya sebentar. “Sekarang tahukah kamu di mana letak kesalahannya?”Luca mengangguk patuh. Didepan Marios, ia hanyalah seorang adik laki-laki yang patuh dan penurut. “Seharusnya aku menyikapi Liena dengan lebih dewasa. Tidak masalah untuk membalas perbuatannya, tapi tindakanku malam ini terlalu impulsif.”“Jangan membuat orang meremehkan morali
“Sejak kapan tuan muda tertarik dengan hadiah yang saya terima dari tuan sulung?” Luna merasakan pembatas dingin dari tatapan teduh Zeron. Insting kuatnya berkata bahwa niat pria itu tidaklah baik. Meskipun seluruh orang di dunia mengatakan sosok Zeron adalah tuan muda lembut berhati malaikat. Bagi Luna yang terbiasa dengan kehidupan yang penuh sandiwara, orang-orang seperti Zeron Laventin justru berpotensi menjadi sosok paling berbahaya. “Anda mewaspadai saya,” kalimat Zeron bukanlah jawaban melainkan tuduhan sepihak. Walau benar adanya karena Luna memang menaruh curiga. Bibir indah pria itu melengkung ke atas, manik mata caramel lembutnya berbinar polos. “Tolong jangan salah paham pada saya, Nona Martino. Saya bertanya santai karena penasaran.” “Penasaran?” Luna memiringkan kepalanya ke kiri, surai pirang panjangnya yang bergelombang jatuh indah tersampir di bahunya. “Bukan hanya aku, tapi Leon dan Luca mungkin juga merasakan ketertarikan serupa padamu. Sejauh ini belum ad












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.