MasukLuna terbunuh oleh salah satu pria dalam haremnya. Namun, alih-alih mati, jiwa Luna, sang permaisuri agung, mendadak terlempar ke dunia modern dan masuk ke dalam tubuh seorang gadis desa jelek yang dijodohkan pada 4 tuan muda penguasa. Meski tampak menjanjikan, Luna menolak! Ia hanya ingin hidup tenang, berbeda dengan hidup dia sebelumnya. Namun, apa yang bisa ia lakukan ketika empat pria tampan yang sebelumnya menghinanya justru berbalik mengejarnya?
Lihat lebih banyak“Apakah jalang itu masih mengurung diri?”
“Pintunya masih terkunci dari dalam.” “Ini sudah dua hari. Bagaimana kalau Tuan datang mengecek dan dia masih keras kepala?” “Kurang ajar! Sepertinya kita masih terlalu baik padanya sampai-sampai dia berani berulah.” Luna menoleh ke arah pintu kamarnya yang terkunci. Wajahnya tetap datar meski obrolan penuh kebencian itu terdengar jelas dari balik dinding. Ia berada di sebuah paviliun milik keluarga Laventin, salah satu keluarga paling berkuasa di negara ini. Luna dibawa ke tempat itu atas perintah kepala keluarga, seorang wanita tua baik hati yang mengaku sahabat mendiang kakek dan neneknya. Beliau berkata bahwa Luna akan diurus selayaknya cucu sendiri. Namun, niat baik itulah yang justru membawa Luna ke neraka kecil ini. Sejak kepindahannya, hidup Luna tak pernah tenang. Di hari pertama, Luna diseret ke kolam ikan di taman belakang dan didorong jatuh. Tidak hanya itu. Pelayan-pelayan yang sama memberinya makanan basi, memukulinya tanpa ragu, bahkan menghinanya terang-terangan. Ia dicap perempuan aji mumpung, jalang, dan sebutan keji lainnya. Tidak sanggup dengan itu semua, selama dua hari terakhir Luna memilih mengurung diri tanpa makan dan minum. Dulu, Luna tak mengerti mengapa mereka begitu membencinya. Ia berharap, kakek dan neneknya membawa serta Luna bersama mereka. Namun, itu dulu. Sekarang– “Hei! Wanita tidak tahu diuntung! Buka pintunya sebelum kami adukan ke Tuan!” teriak seseorang dari luar. Suara gedoran pintu terdengar kasar. “Aku hitung sampai tiga. Satu!” Luna menghela napas pelan. “Berisik sekali,” gumamnya datar. Perempuan itu bangkit berdiri, melangkah menuju pintu, lalu memutar kunci dan membukanya lebar-lebar. Beberapa pelayan berseragam hitam putih langsung menatapnya penuh aura permusuhan. Salah satu dari mereka, yang jelas paling berkuasa, melangkah maju dengan dagu terangkat tinggi. “Ah, akhirnya keluar juga. Masih hidup rupanya. Dasar wanita kampung,” bentak Bela. Wajah kotaknya tampak angkuh dan penuh percaya diri saat menatap Luna. “Oh, aku kira kamu akan mendadak jadi kurus setelah tidak makan dua hari. Ternyata sama aja.” Ucapan itu mengundang tawa dari beberapa pelayan yang turut ada di sana. “Kenapa sampai mengurung diri? Malu? Sama tubuhmu yang kayak bola jelek ini?” lanjut Bela sebelum alisnya berkerut dan ia mengendus bau kamar Luna secara dramatis. “Astaga … bau apa ini?” Ia mengibaskan tangan di depan wajah penuh cemooh. Padahal tidak ada bau apa-apa dari dalam kamar Luna. “Luna, Luna. aku tahu kamu sebelumnya tinggal di kampung. Tapi bukan berarti kamu bisa menjadikan kamarmu kandang sapi.” Tawa terdengar lebih keras dari para pelayan yang sedang bersama Bela. Penuh penghinaan. Bagi mereka, gadis desa seperti Luna memang tidak layak diperlakukan seperti nona rumah di sini. Namun, di sisi lain, Luna tetap diam. Sepasang mata ungunya menatap lurus, dingin, tanpa gentar. “Lihat apa, hah?” Bela mendengus. Ia tampaknya kesal karena provokasinya tidak memancing reaksi dari Luna. “Kenapa? Tidak terima? Memang kenapa kalo tidak teri–” “Bela.” Suara Luna memotongnya. “Apakah begini sikapmu menghadapi tamu majikanmu?” Hening. Udara di sekitar mereka seolah membeku. Para pelayan saling berpandangan, jantung mereka berdetak tak nyaman. Ada sesuatu yang berbeda dan terasa salah. Sejak kapan Luna Martino berani memotong ucapan orang? Namun, Bela tidak memikirkan itu. Setelah ia pulih dari keterkejutannya, ia naik pitam. Berani-beraninya gadis kampungan ini memotong ucapannya! “Berani kamu bilang begitu!?” bentak Bela. “Berengsek! Wanita jelek kampungan sepertimu ini cuma sampah yang dipungut keluarga Laventin! Dasar jalang–” Plak! Sebuah tamparan jatuh menghantam sisi wajah Bela, menjatuhkan wanita itu dalam sekali pukul. Luna Martino bertubuh besar, setiap anggota tubuhnya berdaging, sehingga tamparan ringannya bisa berubah menjadi pukulan mematikan bagi wanita sekurus Bela. “Bela, ketahui batasanmu sebagai pelayan. Serendah-rendahnya posisiku, aku adalah tamu majikanmu. Nyonya tidak membawaku ke sini untuk kamu ganggu.” Semuanya kembali terdiam. Bahkan Bela pun merasa ketakutan. Luna yang mereka kenal akan gemetar, meminta maaf, menunduk ketakutan hanya karena bentakan kecil. Kenapa Luna yang sekarang justru seperti tidak punya rasa takut!? Mereka tidak tahu– Wanita yang berdiri di hadapan mereka kini bukan lagi Luna Martino. Ia adalah Luna Emeros, wanita paling berkuasa kedua setelah Kaisar Agung di Kerajaan Emeros–seorang permaisuri yang entah bagaimana terlempar ke masa modern. Dan seorang permaisuri, sejatinya, tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak seperti ini. Luna melangkah maju. Namun, sebelum dirinya sempat melakukan apa pun, sebuah suara menghentikannya. “Luna Martino, siapa yang memberimu wewenang untuk memukuli pekerja Laventin?”“Tuan sulung memanggil anda untuk apa, nona?” Anna bertanya penasaran usai menutup pintu. Ia membawa dirinya ke sisi Luna. Mata hazel bulatnya menyala menantikan gosip terbaru asmara majikannya. “Tidak sopan,” dengus Luna menjetik dahi lebar Anna main-main. Sudut bibirnya tertarik alami. “Kau itu sudah seperti penggosip kecil.”Anna tertawa pongah, kedua tangannya menutupi bekas sentilan Luna. “Nona, ampuni saya,” pintanya bersikap menyedihkan. Luna terkekeh pelan dan membiarkan Anna membereskan ruangan sedangkan ia bersiap memulai siaran langsung. Ruangan live itu seketika meledak dibanjiri ratusan komentar selang satu menit siaran langsung dimulai. Luna membaca barisan komentar yang bergulir ke atas setiap komentar baru ditambahkan. Semua orang berkata mereka merindukan suara indahnya. “Maaf, belakangan ini kesehatan saya kurang bagus. Berkat dukungan dan kasih sayang kalian saya bisa kembali melakukan siaran. Terima kasih semuanya.” Alibinya dengan mulus. [ Ya ampun, ahh! Be
Luna duduk berseberangan dari sofa Marios. Ia senantiasa menunggu pria itu membuka mulut dan berbicara. Tetapi lima menit berlalu hampa. Marios belum terlihat akan membuka suaranya. “Tatapan intens anda terasa tidak nyaman, tuan muda.” Luna berkata apa adanya. “Anda membuat saya gugup. Bisakah kita langsung ke intinya saja?”Pria di sofa seberang membuang napas pendek, melepas kacamata kerja dari pangkal hidung tingginya. “Nenek pernah menelfonmu?” Marios akhirnya bersedia berbicara setelah sekian lama. Luna terdiam, memilah ingatan si pemilik tubuh asli. “Ya, beliau menelefon saya satu kali melalui telefon paviliun. Tuan muda butuh informasi tertentu?”Marios memutuskan bersikap jujur karena meski ia bukan pria baik yang hangat dan riang, setidaknya ia tidak suka memberi harapan kosong. “Kau pasti tahu nenek menjelaskan posisimu sebagai calon menantu Laventin. Kandidat terkuat adalah aku, tapi aku tidak bisa menikahimu.”“Oh, saya mengerti. Sebenarnya anda tidak usah repot menga
“Sebelum kakak menginterogasiku, sudahkah kakak bertanya kekacauan apa yang dia perbuat?”Marios menajamkan tatapannya. “Aku sudah tahu.”“A-apa?” Luca tercengang. Marios tahu segalanya tapi tetap memarahinya. “Kalau begitu kenapa kakak memarahi aku!”“Aku memarahimu karena tindakanmu tidak tahu sopan santun saat membalas Liena dan Eva. Apa aku pernah mengajarimu berperilaku tak tahu malu dan kurang ajar?”Suara keras Luca melembek seperti kapas yang dihantam tekanan besar. Lirih dan lembut. “Tidak pernah, kakak selalu mengajariku bersikap sopan sebagai seorang Laventin.”“Bagus karena kau masih mengingat siapa dirimu.” Marios menghentikan omelannya sebentar. “Sekarang tahukah kamu di mana letak kesalahannya?”Luca mengangguk patuh. Didepan Marios, ia hanyalah seorang adik laki-laki yang patuh dan penurut. “Seharusnya aku menyikapi Liena dengan lebih dewasa. Tidak masalah untuk membalas perbuatannya, tapi tindakanku malam ini terlalu impulsif.”“Jangan membuat orang meremehkan morali
“Sejak kapan tuan muda tertarik dengan hadiah yang saya terima dari tuan sulung?” Luna merasakan pembatas dingin dari tatapan teduh Zeron. Insting kuatnya berkata bahwa niat pria itu tidaklah baik. Meskipun seluruh orang di dunia mengatakan sosok Zeron adalah tuan muda lembut berhati malaikat. Bagi Luna yang terbiasa dengan kehidupan yang penuh sandiwara, orang-orang seperti Zeron Laventin justru berpotensi menjadi sosok paling berbahaya. “Anda mewaspadai saya,” kalimat Zeron bukanlah jawaban melainkan tuduhan sepihak. Walau benar adanya karena Luna memang menaruh curiga. Bibir indah pria itu melengkung ke atas, manik mata caramel lembutnya berbinar polos. “Tolong jangan salah paham pada saya, Nona Martino. Saya bertanya santai karena penasaran.” “Penasaran?” Luna memiringkan kepalanya ke kiri, surai pirang panjangnya yang bergelombang jatuh indah tersampir di bahunya. “Bukan hanya aku, tapi Leon dan Luca mungkin juga merasakan ketertarikan serupa padamu. Sejauh ini belum ad






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.