Home / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 32. Pacaran dengan Suami

Share

Bab 32. Pacaran dengan Suami

Author: Liani April
last update Last Updated: 2026-01-19 11:00:00

Sejak Kairan mengabulkan permintaannya untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah, Liora merasa hidupnya jauh lebih tenang. Tidak ada lagi tamu yang datang mendadak dengan dalih proyek, tidak ada lagi kecemasan kalau Niro akan muncul tanpa aba-aba.

Rumah kembali menjadi ruang aman baginya. Tempat ia bisa bernapas tanpa rasa waswas.

Kairan juga menepati janjinya pulang tepat waktu. Sesibuk apa pun pekerjaannya, lelaki itu selalu mengusahakan agar sore hari bisa ia habiskan di rumah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Duda Bisu   Extra Part : Niro (Bagian 1)

    Meski sejak awal Niro telah sesumbar mengatakan ia tahu ke mana harus membawa foto pernikahan Kairan dan Anais, pagi itu justru ia mengurungkan niatnya.Mobilnya terparkir di pinggir jalan, mesin sudah mati, sementara foto berbingkai besar itu tergeletak diam di jok belakang.Niro menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun.Ia tahu, satu-satunya tempat yang pantas bagi foto itu hanyalah rumah keluarga Anais. Bukan rumah Kairan, bukan pula rumahnya sendiri. Namun, mengetahui ke mana harus pergi tidak serta-merta membuat langkahnya ringan.Bagaimana ia harus menjelaskan semuanya pada keluarga Anais?Sejak perpisahannya dengan Anais, yang kemudian berujung pada pernikahan perempuan itu dengan Kairan, Niro tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah tersebut.Pertemuan terakhir mereka hanyalah di pemakaman Anais, dalam suasana duka yang terlalu pekat untuk menyisakan ruang bagi percakapan apa pun.Tak ada sapaan, tak ada penj

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 101. Harus Kuat

    “Semua orang bersedih atas kehilangan bayi kalian. Terlebih kamu dan Kairan. Aku paham itu.”Niro tak berhenti bicara, seolah ia datang sebagai perwakilan suara Kairan. Kata-kata yang tak pernah benar-benar mampu disampaikan lelaki itu.“Liora, aku nggak membela siapa pun dalam hal ini. Tapi aku memohon atas nama Kairan, kamu harus lebih kuat. Jika Kairan saja nggak bisa membuatmu kuat, lalu siapa lagi yang bisa melakukannya selain kamu sendiri?”Sorot mata Niro tampak nanar. Padahal ini bukan masalahnya. Namun kepeduliannya begitu nyata, terhadap apa pun yang terjadi pada Liora maupun Kairan.Bukankah ia memang selalu seperti itu? Menjadi penengah bagi mereka berdua, seolah tak ada satu pun masalah rumah tangga Liora dan Kairan yang luput dari perhatiannya.“Aku mengerti kamu terluka karena kehilangan bayi kalian. Tapi ada seseorang yang jauh lebih terluka karena ia terus kehilangan sepanjang hidupnya.”Air mata Liora jatuh. Ia tahu maksud

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 100. Pola yang Sama

    Nyatanya, perjalanan ke resort itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Alih-alih meredakan luka, jarak antara Liora dan Kairan justru semakin merenggang.Mereka memutuskan pulang lebih awal. Malam terakhir di resort dihabiskan dengan saling membelakangi di atas ranjang, tanpa percakapan, tanpa sentuhan.Keesokan paginya, mereka pulang menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun dialog terucap. Keheningan menggantung begitu pekat di dalam kabin.Mata Kairan terlihat sembab. Ia menangis semalam. Tangisan yang selama ini ia tahan karena tak ingin tampak lemah di hadapan istrinya. Namun sekuat apa pun ia berusaha, Kairan tetap manusia yang tak kebal dari duka.Hari itu menjadi hari paling sunyi yang pernah mereka lalui sebagai suami istri.Satu-satunya kalimat yang keluar dari bibir Kairan hanyalah pertanyaan tentang tujuan mereka pulang. Ia tahu Liora belum sanggup kembali ke rumah besar itu. Belum sebelum ia bisa berdamai dengan kamar

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 99. Sampai Kapan?

    Keadaan Liora kembali kacau.Kamar bayi itu telah dibersihkan sampai tak menyisakan apa pun. Boks, pakaian mungil, mainan kecil, semuanya lenyap. Kairan sendiri yang membuangnya, melakukannya atas permintaan Liora, meski setiap langkah terasa seperti mencabut sesuatu dari dadanya.Namun kehilangan itu tak ikut pergi.Liora tetap menangis. Setiap hari. Setiap waktu. Seolah mereka kembali ke titik paling awal, saat dunia Liora runtuh dan yang tersisa hanyalah air mata. Ia terpuruk, tak melakukan apa pun selain menangis.Berhari-hari berlalu, dan Liora tak juga membaik.Kairan kembali mengambil cuti. Ia tak bisa meninggalkan Liora sendirian, tak meski hanya untuk beberapa jam. Perkataannya tempo hari bahwa ia baik-baik saja terbukti hanya kebohongan yang dipaksakan. Ia sama rapuhnya.Kairan kebingungan. Ia tak lagi tahu bagaimana menghadapi Liora yang kerap meracau di sela tangisnya. Tak ada nasihat yang bisa ia ucapkan. Tak ada solusi yang ter

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 98. Pembunuh

    Liora sudah diperbolehkan pulang.Bersama Paman dan Tante, ia kembali ke rumah megah itu. Mereka berniat menginap sampai kondisi Liora benar-benar membaik. Keputusan itu tentu telah mendapat izin Kairan. Ia tak ingin Liora sendirian dalam keadaan seperti sekarang.Kembali berada di rumahnya sendiri, Liora lebih banyak beristirahat di kamar, menuruti saran dokter agar pemulihannya berjalan cepat.Keluarga Kairan datang bergantian menjenguk. Oma menjadi yang pertama, disusul para bibi. Seperti kebanyakan pelayat, mereka datang membawa rasa penasaran akan kronologi kejadian, sekaligus menitipkan ucapan belasungkawa atas duka yang menimpa Liora dan Kairan.Hingga hari keempat, kunjungan tak juga surut. Bukan hanya keluarga, rekan kerja Kairan pun berdatangan. Itu terjadi karena Kairan mengajukan cuti panjang. Ia ingin berada di sisi Liora, menemani masa-masa tersulit istrinya, memastikan Liora tak larut sendirian dalam kehilangan mereka.Selama itu, Li

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 97. Vitamin

    “Niro… bagaimana kalau Kairan membenciku karena aku menggugurkan anaknya?”Niro terdiam beberapa saat. Berbanding terbalik dengan Liora yang justru semakin terisak, seolah kalimat itu membuka pintu bagi semua ketakutannya.“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya Niro akhirnya.Wajar ia heran. Sejak awal, semua orang mengkhawatirkan kondisi fisik dan mental Liora, namun perempuan itu justru sibuk mencemaskan kemungkinan dibenci oleh Kairan. Bahkan itulah kalimat pertamanya setelah berpuasa bicara selama empat puluh delapan jam.“Liora, dengarkan aku,” ucap Niro serius. “Aku dan semua orang sama sekali nggak berpikir kalau ini salahmu. Apalagi Kairan.”Liora mengangkat wajahnya, matanya basah, seolah memprotes keyakinan itu.“Kairan sangat menunggu anak ini lahir,” suaranya bergetar. “Dia nggak sabar bertemu dengan anak kami. Tapi aku malah—”Kalimat itu terputus oleh tangisnya sendiri.Niro mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Lio

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status