MasukSakitku boleh sembuh, tapi hatiku tak semudah itu untuk sembuh. Kalian boleh tertawa sepuasnya, suamiku boleh menasehatiku, tapi tekadku tak ada yang bisa menghalangi. Aku tak kan tenang, sebelum mereka merasakan kehancuran
Lihat lebih banyak"Apa-apaan ini Narendra? Kenapa baju mama dan kakak iparmu ada di dalam koper?"
Wanita paruh baya berpenampilan sosialita dengan rambut di sanggul itu menatap penuh tanya serta penuh amarah kepada menantunya yang ia panggil Narendra. Paula namanya, wanita itu sungguh tak mengerti kenapa seluruh pakaiannya berada di dalam koper dan di letakkan di depan kamar yang selama ini ditempatinya dan kamar itu sudah terkunci, keadaan itu sama persis dengan kamar sebelah yang di tempati putrinya.
"Mama masih bertanya kenapa? Yang jelas mulai saat ini mama dan anak mama itu silahkan pergi dari sini sekarang juga sebelum aku mengusir kalian secara paksa!"
Jawab Narendra dengan penuh penekanan. Lelaki jangkung berkumis tipis serta memiliki jambang di kedua sisi wajahnya itu mati-matian menahan emosinya agar tak meledak. Ia masih memberikan keduanya kesempatan untuk angkat kaki dari rumahnya sebelum dirinya benar-benar meluapkan emosinya jika mereka berani membantah.
"Apa maksud kamu, Nak? Mama sungguh bingung dan tak mengerti kenapa mama di usir? Mama sungguh terkejut kamu tiba-tiba berubah kasar begini!"
Paula begitu kebingungan dengan sikap menantunya yang tiba-tiba berubah. Narendra yang selama ini begitu hormat dan sopan kepada dirinya kini berubah menjadi menantu jahat dan tak memiliki hati. Ada apa di balik semua ini?
"Tak usah banyak tanya, yang jelas sekarang silahkan kalian pergi dari sini!"
"Jelaskan dulu apa kesalahan kami sehingga kami tiba-tiba di usir!"
"Tak ada yang perlu di jelaskan! Kalian cukup keluar dari sini maka semuanya akan selesai!"
"Narendra, apa kamu kerasukan sehingga kamu tiba-tiba jadi orang jahat seperti ini?"
"Pergilah! Sebentar lagi taksi akan datang menjemput kalian!"
"Naren! Beginikah balasan kamu kepada mama yang sudah dengan suka rela merawat istri lumpuhmu itu? Bahkan aku tak tahu apa kesalahanku sehingga kau begitu kejam dan tega mengusir kami!" dengan wajah melasnya, Paula berkata sambil menatap penuh permohonan kepada menantunya tersebut.
"Apa salah kami adik ipar sehingga kau tiba-tiba mengusir kami? Kami akan tinggal di mana?" Sasmitha, kakak ipar Narendra turut memelas berharap Narendra iba kepada mereka.
"Pergi sekarang juga!" kata Narendra dengan penuh penekanan dan berlalu begitu saja meninggalkan kedua wanita yang tampak emosi karena diusir tanpa penjelasan.
"Dasar mantu kurang ajar, mantu gila! Gak tahu terimakasih! Udah di bantu malah menendang! Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba ngusir."
Umpat Paula yang tentunya masih di dengar jelas oleh Narendra, tapi di abaikan oleh lelaki itu. Ia terus melangkah menuju kamar wanita yang sudah empat tahun menemani dirinya.
"Kita harus bagaimana ini, Ma?" tanya sasmitha sambil melangkah menuju kursi ruang keluarga yang semula di duduki Narendra.
"Mama juga gak tahu, Tha. Mama masih syok ini kenapa Naren tiba-tiba ngusir kita." jawab Paula yang ikut duduk di samping Sasmitha.
"Maaf, Nyonya, Nona, silahkan, taksi sudah menunggu kalian di luar. Tuan Naren juga memerintahkan agar kalian segera pergi dari sini!"
Seorang satpam bernama Juki menghampiri Paula dan Sasmita. Kedua wanita itu terkejut dengan kedatangan satpam yang menyuruh mereka untuk segera keluar dari rumah ini.
"Kita gak mau pergi! Kita gak berbuat salah apapun! Ingat, putriku istri dari tuanmu, jadi aku masih berhak tinggal disini karena ini juga rumah putriku. Selama Arnita masih jadi istri Narendra, selama itu pula aku punya hak tinggal di sini!"
"Maaf, Nyonya, saya hanya menjalankan tugas dari tuan saya. Mari saya bantu bawakan koper nyonya dan Nona,"
Pak Juki sudah meraih koper yang masih tergeletak di depan kamar. Ia hendak menarik kedua koper tersebut, tapi gegas Paula dan sasmitha menarik koper milik mereka masing-masing hingga pak Juki hampir saja terjungkal kebelakang.
"Jangan kurang ajar, Juki! Kamu hanya pekerja disini!" kata Sasmitha menghina pak Juki.
"Oleh karena itu, Nona. Karena saya hanya pekerja jadi saya hanya berusaha menjalankan perintah majikan saya agar tuan saya tak marah." jawab pak Juki tegas tanpa ada rasa takut sedikitpun, karena Narendra sudah berpesan agar tak perlu menghormati kedua wanita di depannya ini.
"Naren! Naren! Keluar kamu! Kurang ajar kamu ya! Mantu tak punya hati! Tak tahu terimakasih! Tega-teganya ngusir mertua sendiri setelah apa yang aku lakukan untuk istrimu selama ini! Apa maksud kamu mengusir aku dan Sasmitha tanpa penjelasan? Kamu ingin menjauhkan aku dari putriku yang kondisinya sangat membutuhkan aku? Kamu punya niatan jahat pada putriku hingga kamu menyingkirkan kami agar tak mengganggu niat jahatmu itu?"
Paula melangkah menuju kamar yang selama ini di tempati oleh Anita, putrinya.
"Narendra! Kau tuli? Kalau kau ada niat jahat pada putriku, aku tak akan pernah tinggal diam. Aku akan membawa Arnita pergi dari sini!"
Narendra hanya tersenyum sinis mendengar perkataan ibu mertuanya tersebut. Ia tak menanggapi, tangan kanannya sibuk mengusap pipi tirus Arnita, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Arnita yang terkulai lemah.
"Pergi atau aku akan berbuat kasar padamu!"
"Hiks, putriku Arnita, lihatlah suamimu! Beginikah sikapnya pada wanita tua yang sudah melahirkanmu ini?" adu Paula pada Arnita yang hanya menatapnya datar tanpa mau berniat menanggapi ucapan Paula.
"Arnita, jangan diam saja, Nak. Suamimu memiliki niat jahat padamu! Suamimu sudah mengusir mama dari sini. Mama takut terjadi apa-apa padamu, Nak,"
Narendra merasa muak dengan drama yang di tampilkan oleh mertuanya tersebut. Ia lantas menelpon scurity meminta untuk menyeret paksa Paula agar keluar dari rumahnya.
Setelah Paula diseret paksa untuk keluar, Narendra segera menuju pintu dan menguncinya dari dalam. Ia mengabaikan teriakan Paula dan sasmitha yang meminta di lepaskan diiringi cacian serta umpatan yang keluar dari mulut keduanya kepada scurity yang menyeret mereka keluar.
"Lepaskan! Kalian kurang ajar padaku! Aku pastikan Arnita akan memecat kalian!"
"Lepaskan kami brengsek! Tuan kalian itu gila! Jangan ikut gila seperti dia! Lepaskan!"
"Aku mau bantu putriku! Aku mau menyelamatkan Arnita dari Narendra yang berubah jadi monster! Aku tak ingin anakku kenapa-kenapa!"
"Lepaskan! Kalau terjadi apa-apa pada adikku aku tak akan pernah membiarkan kalian hidup tenang! Aku akan membuat kalian membusuk di penjara!"
"Lepaskaaaaan!!!"
Paula dan Sasmitha berusaha melepaskan cekalan tangan mereka dari dua lelaki berbadan besar yang membuat kedua tangan mereka kesakitan. Paula dan Sasmitha terus berontak dengan berusaha menendang tulang kering kedua scurity tersebut. Bahkan si Otong pun jadi sasaran tendangan dua wanita yang tampilannya sudah tak karuan itu.
Setelah mengunci pintu, Narendra kembali melangkah mendekati ranjang sang istri. Ia tersenyum penuh arti menatap tepat di kedua manik coklat milik Arnita.
"Halo sayang,"
*****
Jam tujuh pagi, suara motor CBR sudah meraung di depan rumah petak Arnita.Darius datang tepat waktu. Memakai kemeja batik yang kebesaran, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan memakai sepatu pantofel yang ujungnya sudah mengelupas. Ia terlihat berusaha tampil meyakinkan sebagai sopir profesional.Narendra yang sedang menyapu halaman menghentikan sapunya. Tatapannya masih tidak suka, tapi kali ini ia tidak langsung marah."Darius sudah datang, Mas," kata Arnita dari dalam rumah sambil memakai jilbab. "Aku pergi dulu ya. Titip rumah.""Mau kemana lagi, Sayang? Kemarin kamu belum cerita jelas," Narendra berbisik pelan, menarik lengan Arnita ke sudut teras agar tidak didengar Darius.Arnita menatap suaminya. Wajah Narendra terlihat lelah. Sejak perusahaannya diambil, ia belum mendapatkan pekerjaan tetap. Janggutnya mulai tumbuh tidak rapi."Mas percaya sama aku nggak?" Arnita balik bertanya."Mas selalu percaya sama kamu.""Kalau Mas percaya, izinkan aku pergi hari ini. Aku nggak akan
"Loh, mama Mbak? Mama yang mana?"Pertanyaan itu meluncur dari mulut perempuan muda yang berdiri di depan pintu dengan daster bermotif bunga dan rambut yang masih basah. Di sampingnya, seorang lelaki dengan kaos oblong putih menatap Arnita dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan curiga.Arnita menelan ludah. Tenggorokannya kering. Perjalanan empat jam di atas motor dengan jok belakang yang tinggi, di bawah terik matahari yang menyengat, membuat bibirnya pecah-pecah. Tapi bukan itu yang membuat napasnya memburu."Paula. Yang jual rumah ini namanya Paula? Perempuan paruh baya, kulitnya putih, rambutnya diwarnai cokelat?"Perempuan berdaster itu mengangguk."Iya, Mbak. Tante Paula. Katanya ini rumah warisan anaknya yang sudah meninggal. Jadi dijual murah ke kami karena butuh uang buat biaya haji. Katanya anaknya kecelakaan. Kami juga kasihan, makanya kami beli. Surat-suratnya lengkap kok, Mbak. Ada sertifikat, ada akta jual beli. Tante Paula juga bawa pengacara waktu itu."Set
20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D
19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s
7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya
3"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang
2"Tuan, semua pekerja sudah berkumpul di halaman belakang!"Salah satu pekerja di rumah Narendra menginformasikan bahwa semuanya sudah berkumpul sesuai perintah Narendra. Sang tuan yang masih berada di dalam kamar Arnita gegas keluar, ia mengunci pintu kamar tersebut dari luar dan menyimpan kuncin
"Apa-apaan ini Narendra? Kenapa baju mama dan kakak iparmu ada di dalam koper?"Wanita paruh baya berpenampilan sosialita dengan rambut di sanggul itu menatap penuh tanya serta penuh amarah kepada menantunya yang ia panggil Narendra. Paula namanya, wanita itu sungguh tak mengerti kenapa seluruh pak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.