Share

Pengakuan yang Sebenarnya

Penulis: Azzurra
last update Tanggal publikasi: 2026-07-11 20:49:22

Tanpa membuang waktu lagi, Bastian langsung merengkuh tubuh Fariska ke dalam pelukannya. Dia mendekap erat wanita itu, membiarkan istrinya menumpahkan segala rasa sesak dan air mata yang selama puluhan tahun ini menyumbat dada. Bastian mengusap punggung Fariska perlahan, mencoba menyalurkan ketenangan yang dia punya.

Setelah tangis Fariska mulai sedikit mereda, Bastian melonggarkan pelukannya, namun kedua tangannya tetap bertumpu di bahu sang istri. Dia menatap wajah Fariska yang sembap dengan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suamiku Menikahiku Hanya Untuk Balas Dendam   Berdamai dengan Diri Sendiri

    Bastian menghela napas panjang, menatap Fariska yang masih mematung di sampingnya. Pria itu menyentuh lembut pundak sang istri, berusaha meredakan kepanikan yang kian liar di kepala Fariska. "Riska, tenang dulu," bisik Bastian parau. Tangannya meremas pelan bahu wanita itu. "Kita tidak bisa langsung menyimpulkan yang buruk. Zia sudah dewasa, dan bagaimanapun Rendra itu suaminya sekarang. Kita tidak bisa terus mencampuri urusan ranjang atau dinamika rumah tangga mereka kalau Zia sendiri sudah menyatakan dirinya baik-baik saja.""Tapi Zia itu putriku, Mas!" sanggah Fariska dengan mata berkaca-kaca. "Kemarin dia menangis histeris ketakutan, sekarang mendadak manis dan membela Rendra mati-matian. Kamu tidak merasa ada yang janggal? Bagaimana kalau anak kita dipaksa pura-pura bahagia di bawah ancaman?""Kalau Rendra mengancamnya, suara Zia tidak akan terdengar seringan tadi," potong Bastian tegas namun bernada lelah. "Sekarang fokus kita terbagi, Riska. Urusan Zia biar berjalan dulu. Ada

  • Suamiku Menikahiku Hanya Untuk Balas Dendam   Perubahan Zia

    Usai badai gairah di kamar mandi menyurut, Zia melangkah keluar dengan piyama sutra lembut yang membungkus tubuhnya. Wajahnya merona merah alami, tak lagi pucat atau tegang seperti hari-hari sebelumnya. Kulitnya masih menyimpan kehangatan sentuhan Rendra yang menjatuhkan sekaligus memanjakannya. Di meja makan, Zia sibuk menata sarapan. Jemarinya yang biasa dihiasi kuku rapi tanpa pernah menyentuh alat dapur, kini cekatan menuangkan kopi hitam panas kesukaan Rendra dan menata piring berisi nasi goreng aroma mentega. Rendra turun dari lantai atas dengan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi hingga siku. Aura dominan dan tegas masih melekat kuat pada pria itu. Begitu Rendra melangkah mendekati meja makan, Zia refleks menghentikan aktivitasnya, lalu berdiri tegak dengan kepala sedikit menunduk— masih terbiasa seperti ini seperti sebelum Rendra menyentuhnya. "Selamat pagi, Mas Rendra," sapa Zia lembut. Suaranya halus, tak ada lagi nada ketus atau keangkuhan yang dulu selalu ia perl

  • Suamiku Menikahiku Hanya Untuk Balas Dendam   Kepatuhan Zia

    Kecupan Rendra di bibir Zia mendadak berubah menuntut, membangunkan kembali gairah yang semalam baru saja mereka cecap. Rendra tak memberi ruang bagi Zia untuk berpikir. Dengan sekali gerakan perlahan, ia menyibak selimut, lalu membopong tubuh polos istrinya langsung menuju kamar mandi berlantai marmer yang hangat. Zia tersentak kecil, refleks melingkarkan kedua lengannya di leher Rendra. Rasa malu dan desir hangat menyatu di dadanya. Mata mereka bertemu rona merah bersemburat di wajah Zia. Dia benar-benar malu. Karna begitu menikmati kebersamaan ini. Begitu melihat wajah malu Zia Rendra semakin gemas sesekali dia mencium pipi wanita yang sangat dia cintai. Rendra mendudukkan Zia di tepi bathtub, lalu menyalakan air untuk mengisi bathtub. Suara gemericik air mengiringi detak jantung Zia yang kembali bertalu. Bayangan intim melintas di kepalanya. Walau Rendra sudah memiliki seutuhnya, namun sungguh Zia masih merasa berdebar. Setelah air penuh, Rendra menetesi dengan aroma terapi, wa

  • Suamiku Menikahiku Hanya Untuk Balas Dendam   Kita Ulang Lagi.

    Lampu kamar redup berpendar temaram, menciptakan bayangan samar di atas ranjang king size. Rendra menatap Zia yang terbaring kaku. Napas wanita itu memburu saya tanag. Rendra terus bermain di dua aset milik Zia. Matanya terus terpejam rapat dengan jemari mencengkeram sprei erat-erat. Ketakutan dan sisa ego tinggi masih membayangi paras cantiknya. Rendra terkekeh pelan, suara beratnya membelah keheningan kamar. Ia merayap naik, mengungkung tubuh Zia di bawah bayangannya. Tangannya yang kokoh menangkup kedua rahang Zia, memaksa wanita itu membuka mata dan menatap lurus ke arahnya. "Buka matamu, Zia. Tatap suamimu," bisik Rendra dingin namun sarat kehangatan yang mengintimidasi. "Malam ini, singkirkan semua gengsi dan kesombonganmu. Kamu milikku sepenuhnya." Zia membuka matanya perlahan. Tatapan penuh dominasi dari Rendra membuat pertahanannya goyah. Tepat saat bibir Rendra menyapu bibirnya, sentuhan itu tidak lagi dingin seperti biasanya, melainkan begitu

  • Suamiku Menikahiku Hanya Untuk Balas Dendam   Runtuhnya Pertahanan Zia

    Malam ini suasana di rumah besar Rendra terasa hening. Di dalam kamar utama, Zia duduk di tepi ranjang, menunduk dalam-dalam sambil meremas jemarinya sendiri. Dia mengingat kata-kata Rendra tadi pagi sebelum berangkat kerja. Pintu kamar terbuka. Rendra melangkah masuk seraya melepas jas dan melonggarkan ikatan dasinya. Pandangannya langsung tertuju pada sang istri yang kini tampak begitu ringkih dan tak berdaya. "Zia," panggil Rendra pelan, namun sanggup membuat tubuh wanita itu terperanjat kaget. "I-iya, Mas ... Maaf aku nggak denger kamu sudah pulang." cicit Zia cepat. Ia langsung bangkit berdiri, melangkah ragu menghampiri Rendra. Dengan tangan gemetaran, Zia terulur mengambil jas yang dilepas suaminya, lalu meletakkannya dengan rapi di gantungan—persis seperti tugas seorang istri yang penurut. Tak ada lagi bantahan, tak ada lagi tatapan benci. Isolasi total dan ancaman Rendra terhadap keluarganya benar-benar berhasil meruntuhkan seluruh benteng kesombongan Zia. Rendra me

  • Suamiku Menikahiku Hanya Untuk Balas Dendam   Kebenaran.

    Tiga Hari Kemudian...Suasana ruang tunggu VIP Rumah Sakit Utama kembali membeku. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba—amplop cokelat bersegel resmi dari laboratorium genetika sudah berada di tangan dokter spesialis.Rayan duduk berdampingan dengan Ayla yang menggenggam erat jemari suaminya untuk memberikan kekuatan. Di seberang mereka, Bastian duduk menunduk dengan wajah yang kian tirus ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sedangkan Arlan berdiri di sudut ruangan, mengawasi dengan tatapan tajam.Dokter membuka segel amplop tersebut secara perlahan, menarik selembar kertas hasil analisis kromosom dan indeks paternalis."Berdasarkan hasil pengujian DNA dengan tingkat akurasi 99,99%..." Dokter mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sebelum berfokus pada Rayan dan Bastian. "...menyatakan bahwa Saudara Rayan dan Bapak Bastian memiliki hubungan darah biologis sebagai Ayah Kandung dan Anak."Deg.Keheningan seketika menyergap ruangan. Bastian mendongak pelan, air matanya menetes begit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status