LOGINAda perasaan yang terlambat diucapkan ketika janji lama mulai menuntut kejelasan. Crystal berdiri di tengah-tengah dua pewaris yang memberinya perhatian dengan cara yang berbeda. Akankah dia mendengar kata hatinya untuk bersama Kenzo, ataukah dia dengan sadar mengikat diri seperti yang keluarganya inginkan bersama Edward?
View More“Tunangan?” Crystal berdiri dari duduknya, ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya, lalu sesaat kemudian, dia tertawa, “Ibu kau kenapa?”
Crystal kembali duduk di pinggir ranjang, mengikat rambutnya ke atas dengan asal-asalan. “Aku mungkin tidak akan kembali selama dua hari. Besok, ada pertunjukkan lukisan di luar kota.” Wanita itu melirik ibunya perlahan, menunggu wanita yang sudah melahirkannya mengatakan sesuatu untuk ucapan tadi, “Ibu, kau tidak sedang bercanda padaku, kan?” Wanita itu mencoba untuk tersenyum, ia mendekat dan duduk di sebelah putrinya. “Minggu depan, keluarganya mengundang kita makan makan bersama. Ibu berharap selama seminggu ini, kamu tidak kemana pun.” Tubuh Crystal membeku, ia tatap ibunya lekat. berharap kata-kata tadi tak pernah dikeluarkan oleh ibunya. Dua puluh tahun yang lalu, ibunya ditinggalkan oleh ayahnya demi wanita lain, saat itulah, dia berjanji pada dirinya untuk tidak akan menikah dengan siapa pun. “Bu, jangan bercanda,” kata Crystal mencoba tersenyum, “aku belum berpikir untuk menikah. Usiaku baru saja menginjak dua puluh tahun, perjalananku masih panjang.” “Crystal!” seru Ratna mendesah, ia memelankan suaranya, “ini permintaan mendiang nenekmu. Penyatuan dengan keluarga Kingsley adalah satu-satu harapan yang harus kita wujudkan.” Kepala Crystal mendadak pening, “Oh, ayolah, Ibu,” tukas Crystal tak percaya, “aku tidak peduli dengan perjanjian nenek dengan keluarga mereka. Ini adalah hidupku, kenapa harus diserahkan pada mereka?” Sebelum ibunya kembali mengatakan sesuatu, Crystal menarik napas pelan sambil berdiri dari duduknya, ia menatap ibunya dengan lekat. “Bu, jangan khawatirkan apa pun. Janji nenek pada mereka pasti bisa kita bayar dengan cara lain.” Ratna terdiam, ia tak berdaya melihat tatapan memohon putrinya. Jika saja dia tahu cara membalas balas budi itu, pasti sudah dilakukannya. Melihat jam di pergelangan tangan, Crystal menepuk jidatnya. “Sudah tidak ada waktu. Bu, aku pergi dulu, nanti aku sendiri yang mencari jalan keluarnya.” Gerakannya begitu cepat, mengecup lembut wajah ibunya, lalu keluar dari kamar dengan tergesa-gesa sebelum ditahan kembali dengan alasan yang berbeda. “Janji apa sampai harus bertunangan,” katanya tak habis pikir dengan pikiran neneknya. Sepanjang jalan, ia terus saja membayangkan wajah lelah ibunya. Entah sejak kapan, ibunya menyimpan beban itu sendiri sampai berani mengutarakan padanya. Kepalanya penuh dengan banyak pertanyaan yang tiba-tiba, sampai tak menyadari di depannya ada mobil hitam melaju ke arahnya. Untungnya dalam situasi seperti itu, Crystal masih mampu mengendalikan motornya, memutarnya ke samping dengan tajam. Napas Crystal terengah, jantungnya berdegup kencang, hampir saja dia berpindah alam. Mengusap keringat di kening, ia menggeleng pelan. “Ya ampun, apa aku berdosa karena mengumpat nenekku?” “Nona, Anda tidak terluka?” Seorang pria yang diperkirakan berusia lima puluh tahun tergesa memeriksa keadaannya. Melirik ke samping, “Tak apa,” jawabnya masih mengatur napas, “Paman lain kali hati-hati, untung saja tidak terjadi hal buruk pada kita semua,” katanya terengah. Ia memperhatikan mobil mewah di depan yang diketahui salah satu mobil langka. “Aku sudah terlambat.” Crystal kembali menutup wajahnya, lalu dengan kecepatan penuh berlalu dengan motornya. Pria tua tadi mendesah, “Anak muda sekarang tak ada takutnya. Semoga saja dia tetap selamat.” Tidak membutuhkan waktu banyak, Crystal sudah sampai di tempat tujuan. Seorang pria menyambutnya dengan senyuman. “Ada apa?” “Tidak apa-apa,” jawabnya singkat, “aku hanya terkejut karena tiba-tiba ada mobil melaju begitu kencang di depanku.” Pria tadi, langsung panik, ia memeriksakan tubuh Crystal untuk memastikan tak ada luka. “Tidak perlu diperiksa,” tukasnya menepis tangan Kenzo, “mobil itu berhenti lebih cepat seperti yang diharapkan.” Kenzo bernapas lega, “Untunglah, kalau terjadi hal buruk padamu, entah bagaimana caraku bertahan hidup.” “Manis sekali,” balas Crystal memutar mata malas, “tidak perlu berlagak romantis dan lembut, jujur itu membuatku geli.” Terkekeh kecil, Kenzo mengusap puncak kepala Crystal pelan, lalu meminta sahabatnya duduk menunggu. “Duduk dulu, aku akan mengambil minuman untukmu.” Menurut, Crystal langsung mengambil tempat ternyaman. Melepaskan tas miliknya, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mendesah pelan ketika membaca pesan dari ibunya. “Ada apa?” Kenzo memberikan minuman dingin buatannya, lalu duduk tak jauh dari Crystal. “ Ada masalah?” “Bukan apa-apa,” jawabnya singkat, “tentang besok–” Crystal menjeda beberapa saat ucapannya. Ia meraih minuman yang Kenzo buatkan. Pesan singkat ibunya membuatnya ragu untuk meninggalkan kota. Ini bisa dikatakan permintaan pertama dari ibunya setelah sekian lama memilih untuk diam. Crystal menghela napas pelan, kali ini ia merasa situasinya berat dan sulit untuk dijelaskan. “Kamu baik-baik saja kan?” Suara Kenzo terdengar khawatir. “Sepertinya … aku tidak bisa pergi,” jelas Crystal akhirnya. Ia menatap wajah sahabatnya yang tersirat kekecewaan di sana. Melihat pertunjukan lukisan adalah impian Kenzo sejak lama. “Ada apa?” tanya Kenzo penasaran, “jelaskan pelan-pelan, oke. Aku di sini, selalu mendengar keluhanmu.” Lagi-lagi Crystal hanya bisa menarik napas. Entah kenapa, dia tak ingin menceritakan apa pun pada Kenzo karena tak ingin merusak liburan temannya. “Ibu ingin aku bertemu dengan pria pilihan nenekku.” Crystal tertawa lucu. “Entah kenapa wanita-wanita itu ingin aku menikah, sementara mereka berdua berakhir tak bahagia bersama pasangannya.” Kenzo membeku. Ada rasa aneh yang tak bisa dijelaskan tiba-tiba merasuk dalam dada. Namun, ia dengan sekuat hati mengabaikan rasa itu, bibirnya tersenyum. “Pria? Maksudmu, bagaimana?” tanyanya ingin lebih jelas, “kalian dijodohkan?” Menarik napas panjang, Crystal meraih tasnya kembali dan berdiri. Entah kenapa, sejak meninggalkan rumah, wajah ibunya tak pernah bisa lepas dari ingatannya. “Kau ingin kembali?” Kenzo ikut berdiri dan tak melepas tatapan dari wajah tak senang temannya. Apalagi, mereka baru bertemu setelah libur terakhir. “Ya, aku harus menemui ibuku dan memastikan bahwa ini tidak seperti yang kupikirkan,” beonya seraya mendesah pelan, “entah kenapa, aku merasa ini harus segera diluruskan.” Tak ada pilihan bagi Kenzo, ia menepuk pelan pundak temannya, memberinya kekuatan untuk selesaikan masalahnya. “Pergilah!” Tersenyum kecil, Crystal mengangguk. “Maaf karena tak bisa menemanimu. Tolong kirimkan saja foto terbaikmu nanti sebagai kenangan, ya.” Tersenyum paksa, Kenzo mengangguk. Ia melepas tangannya dari pundak Crystal, lalu mengantar temannya sampai di teras depan. Seorang pria mendekat, setelah memastikan Crystal sudah menjauh. Ia berdiri setia tanpa suara. “Cari tahu pria yang dijodohkan dengan Crystal. Malam nanti, semua datanya sudah harus ada di meja kerjaku.” “Saya mengerti Tuan.” Setelah lama berdiri di sana, Kenzo memutuskan untuk menyerah. Ia berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah tanpa berniat melakukan apa-apa. Melihat Crystal datang dengan wajah tak senang, cukup mengusik hatinya. “Kamu sudah dewasa Ta, apa pun keputusanmu nanti, aku selalu–”Semua orang termasuk Kenzo menoleh pada pelayan yang menghadap. Pria itu sampai meminta izin pada dokter untuk menunda pemeriksaan didinya.“Siapa yang datang?” Kenzo ikut bertanya.“Ikut saja jika ingin tahu.” Crystal melangkah keluar, melihat sendiri tamunya.Kenzo melirik gadis di sebelahnya, “Siapa yang datang? Wajahmu terlihat tegang.” Kenzo berjalan sambil bertanya-tanya di dalam hati.Sementara itu, di halaman depan, sudah berdiri seorang pria berpakaian rapi, membawa bunga di tangan dan beberapa hadiah lain yang berada di tangan asistennya.Keduanya cukup tenang, berdiri menunggu tuan rumah menyambut mereka suka cita.Sampai akhirnya senyum Edward semakin terlihat lebar dan penuh karismatik.Matanya menangkap dua sosok tak asing berjalan bersamaan menghampiri mereka. Sesaat, Sam sempat berpikir aneh untuk pemandangan ini.Sampai akhirnya, Crystal dan Kenzo sudah berdiri di hadapan mereka. Tatapan kedua pria itu sempat saling beradu, tetapi tak berlangsung lama, karena fokus Ed
Mengembalikan jas pada pemilik, Crystal bergegas keluar. Ia menutup pintu, lantas menunduk melihat ke dalam.“Ibuku sudah tidur. Mungkin lain kali Tuan Ed bisa berkunjung.”Pria itu menatap ke dalam rumah yang memang sebagian lampunya sudah padam. “Baiklah. Jika ada waktu, aku berkunjung bertemu ibumu.”Di bawah langit gelap bertaburan bintang-bintang, dua anak muda yang baru dipertemukan masih saling diam membisu dengan posisinya masing-masing.Namun sesaat, Edward kembali berkata pelan, “Masuklah. Titip salam pada ibumu.”“Saya berpikir, kita tidak akan lama lagi menjadi keluarga, jadi tidak ada salahnya bertamu di rumah calon tunangan.” Edward menahan napas saat mengatakannya.Tersenyum canggung, Crystal menegakkan tubuhnya. Ia mundur memberi jarak antara dirinya dan mobil di depannya.“Selamat malam. Terima kasih sudah meluangkan waktu.”Wanita itu berbalik, melangkah pelan ke dalam rumah. Ia masih bisa mendengar suara mobil itu meninggalkan halaman rumahnya dengan pelan.“Kebetu
Ratna menghela napas, ia menatap punggung Crystal yang semakin menjauh meninggalkannya. Gadis kecilnya kini sudah tumbuh lebih tinggi dan cantik.“Sebentar lagi, dia akan menjadi milik orang lain,” ucap Rata lirih penuh kebimbangan.Mendadak hatinya merasa gelisah, ketika mengingat kembali bagaimana Crystal yang semangat ketika menyebut nama Kenzo, sahabatnya. Ia juga tahu, persahabatan mereka berdua sudah terbilang begitu lama.Tak ingin membuang banyak waktu, Ratna segera berdiri untuk menemui putrinya dan memastikan hubungan keduanya sebelum benar-benar terlambat. Ia tahu, Kenzo bukan pria biasa, dia juga tak kalah berkuasa dari Edward yang dijodohkan.“Semoga saja mereka tidak memiliki hubungan seperti yang kupikirkan,” guman Ratna gelisah. Ia meremas kedua tangan dengan langkah terburu ingin menemui putrinya.Namun, langkahnya terhenti ketika melihat putrinya sudah siap dengan penampilan baru.Sebagai seorang ibu, ia jelas gelisah, apalagi mereka baru saja kembali dalam pertemuan
Sampai di depan kolam, Edward berdehem pelan, ia melirik Crystal yang masih setia membisu, “Maaf karena harus memaksamu,” katanya jelas tak menambah lagi.Crystal mendongak, tatapan mereka saling bertemu tetapi itu hanya sebentar. Wanita bergaun hitam itu cepat memalingkan wajah.“Ada apa? Malu?” tanya Edward mencoba memecahkan kecanggungan.. Ia menarik napas pelan, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Tangannya berada di kantong celana, seraya menatap air kolam yang tenang.Ia kembali melirik Crystal yang memeluk tubuhnya.Refleks, Edward langsung melepaskan jas miliknya, lalu menyampirkan di tubuh ramping calon tunangannya.“Eh,” katanya terkejut, “tidak perlu-”“Jangan dilepas. Udara memang lagi dingin, aku tidak mau, kau sakit sebelum acara pertunangan berlangsung.”Tubuh Crystal membeku, ia menatap Edward yang kembali menegakkan tubuhnya. Mendesah pelan, ia merapikan jas yang berada di tubuhnya, memegang kuat agar tak jatuh.“Tentang perjodohan kita, aku tahu jika kau menolaknya,”


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.