ANMELDENTerhimpit masalah finansial membuat Aluna terpaksa menerima tawaran Tuan Henry. Dia harus bersandiwara menjadi Acitra, putri Tuan Henry yang telah meninggal, demi mengobati luka batin istrinya. Namun, menjadi Acitra ternyata tak semudah yang Aluna bayangkan. Tinggal di rumah keluarga Tuan Henry membuatnya harus berhadapan dengan Galandra, putra sulung Tuan Henry yang sejak awal menolak kehadirannya dan berulang kali berusaha menyingkirkannya dari rumah. Satu hal yang tidak pernah Aluna perhitungkan adalah jatuh cinta kepada seseorang yang sejak awal tahu bahwa dirinya hanyalah seorang penipu. Namun, semakin keras mereka saling menolak, semakin sulit pula perasaan yang tumbuh di antara keduanya untuk diabaikan. Namun, bagaimana jika suatu hari penyamarannya sebagai Acitra terbongkar? Akankah kebohongan yang menyatukan mereka justru berakhir menjadi alasan yang memisahkan mereka?
Mehr anzeigenMendengar suara tersebut dari balik telepon, Aluna langsung mengenali siapa yang menjawab panggilannya.Tubuh Aluna seketika menegang. Kalau tadi dia terus berbicara, bisa dipastikan semuanya akan berantakan dan entah bagaimana dia harus menjelaskan semuanya.Namun, di sisi lain dia merasa lega karena belum sempat mengutarakan tujuannya. "Eh, Acit, ada apa, Sayang?" tanya Nyonya Livia lembut dari balik telepon."Eh, Mama. Apa ada Papa di sana?" tanyanya, berusaha terdengar biasa."Ada, sedang ke toilet," jawab Nyonya Livia. "Ada apa, Acit?"Aluna terdiam sejenak. Dia segera memutar otak."Sebenarnya ... ada sesuatu yang mau aku bicarakan dengan Papa," kata Aluna."Oh, begitu ...." Belum sempat Nyonya Livia melanjutkan, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan."Siapa yang menelepon?" suara Tuan Henry terdengar."Acit," jawab Nyonya Livia santai.Aluna langsung menahan napas."Berikan ponselnya sebentar," pinta Tuan Henry.Terdengar suara benda berpindah tangan. Sesaat kemudian, su
Motor yang awalnya tersendat-sendat tiba-tiba berhenti. Pak Ahmad menoleh ke belakang dan berkata, "Waduh, kayaknya bensinnya habis."Aluna langsung panik.Dia menoleh ke depan. Rumah sakit yang mereka tuju sudah terlihat, tetapi masih berjarak sekitar seratus lima puluh meter.Gadis itu menggigit bibir. Seratus lima puluh meter bukan jarak yang terlalu jauh, tetapi dalam keadaan seperti ini, rasanya terlalu lama jika harus menunggu.Dia segera mengambil keputusan."Pak, aku mau lari ke rumah sakit dan minta bantuan petugas. Tolong jaga Nenek, ya." Tanpa menunggu jawaban, Aluna langsung turun dari bak motor dan berlari menuju rumah sakit.Dia bahkan tidak mempedulikan permukaan trotoar yang bergelombang. Namun, baru beberapa meter dia berlari, kakinya tersandung."Ah!"Aluna terjatuh. Sikut dan lututnya terasa perih, tetapi Aluna tidak punya waktu untuk memeriksanya.Dia buru-buru bangkit dan kembali berlari. Nyawa Nenek jauh lebih penting saat ini.Begitu tiba di depan rumah sakit,
"Bagaimana perasaanmu menjalani sandiwara di hari pertama." Aluna terdiam sejenak. "Aku pikir ini akan sulit, tapi Nyonya sangat baik dan aku pun ... jadi tidak terlalu merasa sedang berpura-pura." Tuan Henry tertawa pelan. "Jangan terlalu formal. Panggil Mama saja, jangan Nyonya." "Hehe. Baik, Pa," balas Aluna tertawa pelan. Mereka berdua pun tiba di depan lift, menunggu pintu terbuka. Pria paruh baya itu menoleh ke arahnya, kemudian berkata, "Terima kasih ya untuk hari ini. Setelah sekian lama dia murung, akhirnya dia bisa tersenyum lagi." Aluna menoleh dan mengangguk kecil. "Tidak apa-apa. Sudah menjadi tugasku melakukan ini, Pa." Tuan Henry mengangkat tangannya dan mengelus pucuk kepala gadis itu. Hati Aluna menghangat mendapatkan perlakuan itu.Ting!Pintu lift terbuka. Mereka masuk bersama.Sepanjang perjalanan turun, Aluna kembali memikirkan semua kejadian hari itu. Rasanya terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini.Sesampainya di bawah, mereka langsung menuju
Gerakan tangannya yang memotong apel semakin melambat. Gadis itu berusaha mengabaikan langkah kaki yang semakin mendekat, tetapi itu justru semakin mengusik pikirannya.Belum sempat terjadi apa-apa, suara Tuan Henry sudah lebih dulu terdengar."Galandra, Papa ingin bicara sebentar."Suara langkah kaki yang terdengar pun mendadak menghilang. Aluna diam-diam mengembuskan napas lega."Sekarang?" tanya Galandra singkat."Iya, ikut Papa sebentar."Tanpa Aluna sadari, Galandra menatap dirinya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kepada ayahnya."Oke," jawabnya singkat.Tuan Henry memberi isyarat agar putranya mengikutinya. Keduanya kemudian berjalan keluar dari ruangan dan menutup pintunya. Kini, hanya ada dirinya dan Nyonya Livia di sini."Syukurlah," gumamnya pelan.Nyonya Livia yang berada di sampingnya langsung menoleh."Kenapa, Acit?" tanyanya."Eh? Gapapa kok, Ma," jawab Aluna cepat sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya pada apel yang tengah dipotong.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen