ログインTerhimpit masalah finansial membuat Aluna terpaksa menerima tawaran Tuan Henry. Dia harus bersandiwara menjadi Acitra, putri Tuan Henry yang telah meninggal, demi mengobati luka batin istrinya. Namun, menjadi Acitra ternyata tak semudah yang Aluna bayangkan. Tinggal di rumah keluarga Tuan Henry membuatnya harus berhadapan dengan Galandra, putra sulung Tuan Henry yang sejak awal menolak kehadirannya dan berulang kali berusaha menyingkirkannya dari rumah. Satu hal yang tidak pernah Aluna perhitungkan adalah jatuh cinta kepada seseorang yang sejak awal tahu bahwa dirinya hanyalah seorang penipu. Namun, semakin keras mereka saling menolak, semakin sulit pula perasaan yang tumbuh di antara keduanya untuk diabaikan. Namun, bagaimana jika suatu hari penyamarannya sebagai Acitra terbongkar? Akankah kebohongan yang menyatukan mereka justru berakhir menjadi alasan yang memisahkan mereka?
もっと見る"Papa bawa orang asing ke rumah?"
Ucapan yang terlontar dari mulut lelaki di depannya membuat Aluna tertegun. Tatapan tajam lelaki bermanik cokelat di hadapannya begitu menusuk, membuatnya merasa seperti seseorang yang tidak seharusnya berada di sana. "Jangan banyak protes! Papa melakukan ini demi mama kamu juga!" Tuan Henry, ayah lelaki itu, membalas dengan suara keras. "Papa sadar apa yang papa lakukan?" Lelaki itu hampir berteriak, suaranya bergetar oleh kemarahan yang sulit ditahan. "Membawa orang asing ke rumah untuk berpura-pura menjadi Acitra? Ini gila! Kita sudah membahas ini sebelumnya, kan?" Aluna menelan ludah dengan gugup. Dia bisa melihat dengan jelas urat-urat yang tegang di leher lelaki itu ketika melontarkan setiap kata. Mata lelaki itu menyala dengan kemarahan, tatapan tajamnya tak pernah lepas dari sang ayah, seolah meminta penjelasan lebih dari sekadar kata-kata. Aluna yang berdiri di antara mereka merasa terpojok, tetapi dia tahu dia tak bisa lari. Dia yang terbiasa tinggal di rumah sederhana dengan suasana yang jauh lebih tenang, kini harus berdiri di tengah rumah besar yang bahkan terasa asing baginya. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar sadar bahwa mulai hari ini, dirinya akan tinggal di lingkungan yang sama sekali berbeda dari kehidupannya selama ini. Tuan Henry telah membawanya ke sini untuk satu tujuan: memainkan peran sebagai Acitra, putrinya yang sudah meninggal dalam kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Aluna tentu sudah berusaha keras untuk menolak permintaan Tuan Henry. Namun, biaya berobat sang nenek, utang yang menggunung, dan biaya sekolah Gio, adiknya, membuat hatinya goyah. Uang itu bisa menjadi penyelamat, meski dengan resiko yang mengancam kewarasannya. "Kalau kondisi mama semakin memburuk karena kedatangan dia ... siapa yang tanggung jawab?" sembur lelaki itu, telunjuknya mengarah ke Aluna seolah gadis itu adalah penyebab semua masalah ini. Bukannya menanggapi perkataan putranya, Tuan Henry malah beralih pada Aluna. "Aluna, kamu bersiap-siaplah dulu, ya," kata Tuan Henry lembut, membungkukkan tubuhnya sedikit agar sejajar dengan tinggi Aluna. Senyumannya hangat, tetapi Aluna bisa merasakan ketegangan yang terus menguat. "Pa! Papa membiarkan orang asing menggunakan fasilitas rumah ini begitu saja?" Suara lelaki itu menggelegar membuat jantung Aluna berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Gadis itu tersentak dan refleks menundukkan kepala, matanya terpaku pada lantai marmer di bawah kakinya. Dia memilin jemarinya dengan perasaan tidak nyaman yang merayap dalam dirinya. Aluna merasa seperti penyusup di rumah mewah ini. Mengabaikan seruan putranya, Tuan Henry memanggil salah satu pembantu untuk membantu Aluna bersiap. Gadis itu hanya bisa mengangguk kecil, meskipun dalam hatinya dia merasa semakin tidak nyaman. "Pa, bagaimana kalau dia mencuri?" pekik lelaki itu, suaranya tajam bagaikan belati yang menusuk. "Galandra! Papa tidak pernah sembarangan memilih siapa yang boleh masuk ke rumah ini!" seru Tuan Henry, nadanya dingin dan tajam. Matanya menyipit, menandakan kekecewaan yang mendalam. "Apa kamu meragukan penilaian Papa?" "Galandra ...." Aluna mencerna nama itu dalam hati, kini tahu siapa lelaki yang begitu keras menolaknya. Tanpa sepatah kata, Galandra pergi begitu saja. Langkah kakinya menggema memenuhi indra pendengaran. Aluna menarik napas panjang, mencoba meredakan ketegangan yang melilit hatinya. Namun, bayangan wajah marah Galandra tetap terbesit di benaknya, menyisakan perasaan tak nyaman. "Kamu tidak perlu pikirkan dia. Fokus saja pada tugasmu. Mengerti?" Tuan Henry berkata dengan lembut, tetapi tegas. Aluna mengangguk pelan. "Iya, aku mengerti, Tuan." "Panggil 'papa' jika di rumah, terutama di depan istriku. Kita sudah sepakat, kan?" ucapnya dengan nada yang ramah, mencoba membuat Aluna merasa lebih nyaman. Panggilan 'papa' masih terasa asing, terlebih lagi Tuan Henry bukan siapa-siapanya, tetapi Aluna tahu ini bagian dari kesepakatan dan tugas yang harus dijalaninya. "Maaf ... Papa," kata Aluna dengan senyum canggung, mencoba mengikuti permintaan Tuan Henry. Tuan Henry menepuk bahu Aluna dengan lembut. "Bagus. Setelah kamu siap, kita bertemu lagi di sini, ya." Aluna hanya bisa mengangguk. Tugas ini terlihat semakin menantang, tetapi setidaknya Tuan Henry bersikap lebih bersahabat daripada anaknya. Akhirnya Aluna pun diajak ke sebuah kamar, ditemani oleh salah satu pembantu yang tadi dipanggil oleh Tuan Henry. Ketika memasuki kamar, gadis itu langsung merasakan suasana yang berbeda. Kamar bernuansa pastel lembut ini sukses memanjakan indra penglihatannya, dan dekorasi di kamar ini penuh dengan sentuhan pribadi seorang gadis, membuat kamar ini terasa lebih hidup. Di sisi tempat tidur, terdapat sebuah nakas yang memajang foto seorang gadis muda di atasnya. Wajahnya tersenyum manis, penuh kehidupan. "Itu pasti Acitra," batin Aluna. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Membayangkan dirinya harus berpura-pura menjadi gadis itu, seseorang yang telah tiada. "Kalau begitu, mari kita bersiap." Suara Bi Asri, pembantu yang berada di sampingnya, membuat Aluna tersadar dari lamunannya. Dia menoleh dan mengangguk pelan. Pembantu itu mulai mendandani Aluna dengan riasan yang lembut, tetapi mempertegas kemiripannya dengan Acitra. Rambut panjang Aluna dibiarkan terurai, persis seperti yang terlihat dalam foto. Pakaian yang dia kenakan, meski sederhana, tampak sempurna untuk menyulapnya menjadi sosok Acitra. Semakin lama Aluna menatap bayangannya di cermin, dia merasa gadis di hadapannya bukan lagi dirinya. "Ternyata benar kata Tuan. Mirip sekali dengan Nona Acitra. Sebenarnya, tanpa riasan pun sudah mirip sekali lho," ujar Bi Asri dengan nada kagum, matanya meneliti setiap inci wajah Aluna dari cermin. Aluna terdiam, terkejut dengan komentar itu. Ada rasa asing yang menyelinap dalam dirinya, seperti mengenakan topeng yang bukan miliknya. Acitra .... Nama itu bergema dalam pikirannya. "Apakah aku ... benar-benar mirip?" lirihnya sambil menatap pembantu di sebelahnya dari pantulan cermin. "Mirip seratus persen, Non!" Bi Asri menjawab dengan semangat, senyum lebar menghiasi wajahnya seolah dia baru saja menyaksikan keajaiban. Aluna tersentak ketika wanita itu memanggilnya dengan sebutan 'non', gadis itu buru-buru menggeleng dan berkata, "Jangan panggil begitu, Bi. Aku di sini—" Belum sempat Aluna menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras hingga membuat keduanya terkejut."Ada urusan lain yang perlu kuselesaikan di luar kota. Sekalian aku akan mengajak Acit menemaniku, siapa tahu ingatannya akan pulih meski sedikit," jawab Tuan Henry.Aluna yang sedang meraih gelas hampir saja tersedak mendengar jawaban itu. Dia buru-buru menunduk, menyembunyikan ekspresi terkejutnya."Wah, Papa pintar juga mencari alasan," batinnya."Oh, begitu." Nyonya Livia mengangguk kecil, lalu menoleh kepada Aluna. "Kalau begitu, jangan lupa makan dengan teratur ya, Sayang. Kalau sudah selesai, kalian langsung pulang. Mama tidak mau kamu kelelahan.""Iya, Ma. Tenang saja." Aluna menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Jangan lupa kabari Mama kalau ada apa-apa," pinta wanita itu.Aluna mengangguk patuh. "Iya, Ma!"Percakapan itu berlanjut dengan obrolan ringan hingga mereka selesai sarapan. Setelah berpamitan kepada Nyonya Livia, Aluna mengikuti Tuan Henry menuju mobil sambil membawa tas kecil yang sudah disiapkannya sejak pagi.Begitu pintu mobil tertutup, gadis itu langsung me
Tuan Henry mengangkat alis. "Apa itu?""Aku ingin Papa janji untuk tetap tenang dan mendengarkan ceritaku sampai selesai, oke?"Tuan Henry memperhatikan wajah Aluna selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Aku janji. Ceritakan saja."Aluna mengusap telapak tangannya yang mulai berkeringat ke pakaian yang dikenakannya."Setelah Papa pergi ke kantor, Kak Galandra membawa dua temannya. Namanya Sagara dan Abimanyu." Aluna mulai bercerita.Ekspresi Tuan Henry perlahan berubah serius, tetapi dia tidak menyela. Pria itu mendengarkan tanpa memotong satu kata pun.Kemudian Aluna menceritakan tentang sebuah paper bag yang diberikan kepada dirinya."Aku gak tahu apa isinya, tapi setelah dipaksa untuk membuka, ternyata ada sebuah kotak berisi beberapa foto." Aluna menatap kedua tangannya. "Ternyata itu foto rumahku, nenek, dan adikku.""Apa?" Tuan Henry seketika menegakkan tubuh, tangannya terkepal di atas lutut. "Bocah itu benar-benar keterlaluan!""Pa, tolong jangan marahi Kak Galand
Setelah makan malam selesai, Tuan Henry segera bangkit dari kursinya."Ayo, ikut Papa," katanya sambil berjalan meninggalkan ruang makan.Aluna dan Galandra menyusul di belakangnya. Gadis itu terus memikirkan alasan mengapa Tuan Henry memanggil mereka, sedangkan Galandra berjalan dengan wajah datar.Baru beberapa langkah meninggalkan ruang makan, Galandra tiba-tiba mencengkeram lengan Aluna.Aluna tersentak dan menoleh. Galandra tidak berkata apa pun. Lelaki itu hanya menatapnya tajam, seolah hendak menyampaikan sesuatu tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun.Aluna tentu memahami maksud tatapan tersebut. Dia segera menepis tangan Galandra dari lengannya.Galandra mengerutkan kening, jelas tidak senang Aluna melawannya. Akan tetapi, lelaki itu tidak melakukan apa pun lagi.Sesampainya di ruang kerja, Tuan Henry berjalan menuju meja kerjanya, sedangkan Aluna dan Galandra berdiri di hadapannya.Tuan Henry membuka sebuah map yang tergeletak di atas meja, lalu mengangkat wajah untuk me
Aluna segera mengambil ponselnya, lalu mencari nama Adnan di daftar kontak. Tanpa berpikir panjang, dia menekan tombol panggilan. Tut ... tut ... tut ... Tidak lama kemudian, panggilan tersebut tersambung. ["Hai, Lun. Kebetulan banget, baru aja aku mau telepon kamu."] "Oh, ya? Ada apa, Adnan?" Aluna langsung menaikkan volume ponselnya agar suara Adnan terdengar lebih jelas. ["Aku mau ngabarin soal Nenek."] "Nenek kenapa? Nenek gapapa, kan?" tanya Aluna cemas. ["Hei, tenang, Lun. Nenek gapapa kok. Aku mau ngabarin kalo Nenek udah boleh pulang. Dokter bilang kondisinya cukup stabil, jadi gak perlu dirawat di rumah sakit lagi."] "Serius?" Mata Aluna langsung berbinar. ["Iya. Nenek juga kelihatannya udah lebih seger."] "Syukurlah." Senyum kecil muncul di wajah Aluna. "Aku kira ada apa." ["Tapi Nenek belum pulang hari ini. Katanya besok baru boleh pulang. Aku sama Gio sekarang lagi beres-beres rumah dulu. Biar nanti pas Nenek pulang, rumahnya udah rapi dan bersih."] "Oh, begitu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー