LOGINDi mata Universitas Garuda, Arkan dan Nara adalah dua kutub magnet yang mustahil bersatu. Mereka adalah rival abadi di Jurusan Hukum, berebut IPK sempurna, beradu argumen di ruang sidang dan ketika berada di satu ruang akademik yang sama, mereka akan selalu berdebat dengan sangat sengit. Karena itu, semua orang di kampus mengira mereka saling membenci. Bagi Nara, mengalahkan Arkan di kampus adalah satu-satunya cara untuk membuktikan diri bahwa dia bukan sekadar "benalu" yang menumpang hidup di keluarga Arkan sebagai status saudara tiri. Namun bagi Arkan, Nara bukanlah rival atau pun adik tirinya. Perasaannya jauh lebih dalam dari sekedar rival maupun saudara tiri. Saat topeng persaudaraan itu pecah, Nara dipaksa memilih tetap berpura-pura menjadi adik yang penurut, atau tenggelam dalam perasaan terlarang yang ditawarkan oleh rival terbesarnya sendiri.
View MoreBab 1
"Ajukan keberatanmu sekarang Nara, atau biarkan aku memenangkan mosi ini dalam tiga puluh detik!" Suara berat itu memotong keheningan ruang simulasi sidang Fakultas Hukum Universitas Garuda. Dingin, datar, dan sarat akan intimidasi. Nara Anindita mengepalkan tinjunya di bawah meja kayu mahoni. Dia mendongak, menatap langsung ke arah pria yang berdiri di podium seberang. Arkananta Dewangga, senior semester tujuh, bintang debat kampus dan musuh bebuyutannya. "Saya belum selesai, Pimpinan sidang!" tukas Nara, suaranya naik satu oktav. Dia berdiri menatap Arkan dengan kilat amarah. "Dasar hukum yang digunakan Saudara Arkan cacat logika. Pasal 1365 KUHPerdata tentang perbuatan melawan hukum tidak bisa diterapkan begitu saja tanpa pembuktian kerugian yang nyata!" Arkan tidak berkedip, ia hanya menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis yang sangat menyebalkan muncul di sudut bibirnya. "Nyata?" Arkan melangkah maju, mengetukkan ujung pulpennya ke meja. Tok. Tok. "Kerugiannya ada di depan matamu, Nara. Hanya saja ambisimu terlalu besar sampai membuat analisismu buta." "Apa kamu bilang?" jawab Nara penuh amarah. "Sudah, sudah! Cukup!" Dosen pembimbing di kursi tengah mengetukkan palu sidang dua kali. "Nara, Arkan, ini cuma simulasi kelas mandiri, bukan sidang pidana korupsi. Tensi kalian berdua selalu saja membuat ruangan ini mau meledak." Seisi ruangan menghela napas lega. Citra, yang duduk di sebelah Nara berbisik lirih, "Gila Nar, Kamu kalau menatap Kak Arkan seperti mau menelan orang hidup-hidup." "Dia yang mulai duluan, Cit," desis Nara. Matanya masih mengawasi Arkan yang kini sedang merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas kulit hitam dengan sangat tenang. "Tapi harus kuakui, dia sangat tampan kalau lagi arogan begitu," goda Citra lagi. Nara hanya mendengus, langsung menyambar tas ranselnya dan berjalan keluar ruangan tanpa mempedulikan Arkan lagi. Tiga jam kemudian, badai berlangsung hingga malam. Hujan deras mengguyur area parkir luar kampus. Nara berdiri di bawah lobi gedung fakultas, menatap langit dengan frustrasi. Sialnya, Nara tidak membawa payung dan ojek daring selalu membatalkan pesanannya. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan lobi. Kaca jendela kiri depan diturunkan perlahan. "Masuk!" ucap pria di dalam mobil. Nara menoleh dan mendapati bahwa pria itu adalah Arkan. Wajahnya yang diterangi lampu dasbor mobil terlihat sama dinginnya dengan saat di kelas tadi. "Enggak perlu! Aku bisa naik taksi," jawab Nara ketus sambil membuang muka. "Jangan keras kepala! Ini sudah jam delapan malam, jalanan banjir." Arkan membuka kunci pintu mobil dari dalam. "Masuk Nara! Atau aku harus turun dan menyeretmu?" “Kamu gak punya hak buat mengaturku, Arkan!" "Aku punya," sahut Arkan cepat, suaranya mendadak berubah berat dan dalam. "Masuk sekarang, Papa dan mamamu sudah menunggu di meja makan." Nara menggigit bibir bawahnya. Kata Papa dan Mama selalu berhasil menjadi skakmat yang melumpuhkan egonya. Dengan hentakan kaki kesal, Nara membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang samping Arkan. Dia membanting pintu agak keras."Bisa rusak kalau kamu banting begitu," komentar Arkan tenang, sambil melajukan mobilnya membelah rintik hujan. "Biarin, biar tahu rasa," gumam Nara, menatap lurus ke kaca depan. Ia menolak untuk menoleh ke samping. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi, hanya menyisakan suara wiper dan ketukan air hujan. Jantung Nara mendadak berdegup lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena atmosfer di dalam mobil ini terasa terlalu sempit dan intim. Sangat kontras dengan ruang sidang kampus tadi. "Analisis hukummu tadi sebenarnya bagus," suara Arkan memecah keheningan setelah sepuluh menit perjalanan. Nara menoleh cepat, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa? Kamu lagi mengejekku?" tanya Nara tidak percaya. "Aku memujimu." Arkan tetap fokus pada jalanan di depan. "Tapi kamu terlalu emosional, kamu menyerangku secara personal, bukan argumenku," lanjut Arkan. "Karena kamu memancingku! Kamu selalu menyudutkanku di depan dosen!" saut Nara marah. "Kalau aku tidak menyudutkanmu, kamu tidak akan berkembang, Nara. Kamu terlalu manja dengan nilai-nilai sempurnamu itu." Nara tertawa sarkas. "Manja? Kamu gak tau apa-apa tentang aku, Arkan. Aku harus belajar sampai jam tiga pagi setiap malam cuma buat meraih nilai yang sama sepertimu! Aku gak mau dianggap numpang hidup di rumah keluargamu!" Mobil mendadak mengerem sedikit tajam saat berbelok memasuki gerbang sebuah perumahan elite. Arkan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah megah berlantai dua. Dia mematikan mesin, namun tidak segera membuka kunci pintu. Arkan memutar tubuhnya menghadap Nara. Tatapan matanya yang tadi dingin kini berubah menjadi gelap dan intens. "Numpang hidup?" Arkan mengulang kata-kata Nara dengan nada rendah yang berbahaya. "Siapa yang menganggapmu begitu?" ucap Arkan penuh penekanan. "Semua orang! Papamu dekan, kamu bintang kampus. Sementara aku dan ibuku cuma…" "Nara." Arkan memotong kalimat gadis itu. Dia memajukan tubuhnya, membuat Nara terdesak hingga punggungnya menempel pada pintu mobil. Jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Sehingga Nara bisa merasakan deru napas hangat Arkan di kulit wajahnya. "K-kamu mau apa? Buka kuncinya, aku mau turun," bisik Nara mendadak gugup setengah mati. Jantungnya berpacu liar. "Dengar baik-baik," Arkan berbisik tepat di depan bibir Nara, matanya terkunci pada manik mata gadis itu yang bergetar. "Jangan pernah sebut rumah ini bukan tempatmu. Dan berhenti memikirkan apa kata orang kampus." "Kenapa kamu peduli? Kamu kan cuma kakak tiriku!" Nara menggunakan kata 'kakak tiri' sebagai benteng terakhirnya yang telah gemetar hebat. Seringai Arkan runtuh, matanya menatap tajam sarat akan rasa frustrasi yang mendalam. Jari-jemarinya yang panjang bergerak, mencengkeram dagu Nara dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatapnya lebih dalam. "Itu masalahnya Nara," desis Arkan, suaranya serak. "Aku tidak pernah sedetik pun menganggapmu sebagai adikku dan aku muak mendengar kata itu keluar dari bibirmu." Nara tertegun, nafasnya tertahan di tenggorokan. Sebelum dia bisa mencerna arti kalimat itu, lampu teras rumah mendadak menyala terang. Pintu utama rumah terbuka, menampilkan sosok Ibu kandung Nara yang melambaikan tangan ke arah mobil. Arkan langsung melepaskan cengkeramannya, kembali ke posisi duduknya semula dengan sangat cepat seolah tidak terjadi apa-apa. Klik … Bunyi kunci pintu mobil terbuka. "Turun!" ucap Arkan, suaranya kembali dingin dan datar, seolah badai intensitas di antara mereka beberapa detik lalu hanyalah ilusi, "Mama sudah menunggumu." Nara mematung di tempatnya, memegang dadanya yang bergemuruh hebat, menatap Arkan dengan rasa syok yang luar biasa. Nara melangkah turun dari mobil dengan lutut yang terasa lemas, mengabaikan seruan hangat ibunya yang menyambut di teras rumah. Namun, tepat sebelum dia melangkah masuk ke dalam rumah, sebuah notifikasi pesan masuk bergetar di ponselnya dari nomor tidak dikenal, menampilkan sebaris kalimat yang membuat jantungnya seketika berdegup kencang. "Aku tahu rahasia besar tentang apa yang terjadi antara kamu dan Kakak tirimu di parkiran kampus tadi siang, Nara pilihannya cuma dua, mundur dari seleksi Beasiswa London atau foto-foto ini menyebar ke grup angkatan besok pagi."Bab 102 "Susu untukmu bisa menunggu, Nara. Tapi memeluk istriku di pagi hari adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Pria tegap itu justru mempererat kuncian lengannya, menundukkan wajahnya untuk mengecup bahu Nara yang terbuka dengan kecupan mesra. Nara tertawa kecil, memutar tubuhnya di dalam kekangan lengan Arkan agar bisa menghadap suaminya seutuhnya. "Kamu ini tidak berubah ya, Pak Pengawas. Selalu saja suka memaksakan kehendak." "Itu hanya berlaku khusus untukmu, sayang," bisik Arkan lembut tepat di depan bibir Nara. Baru saja Arkan hendak menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Nara, suara tangisan bayi yang nyaring mendadak terdengar dari arah kamar sebelah lewat perangkat monitor bayi di meja rias. Oeeek ... Oeeek ... Nara seketika menahan dada bidang Arkan sambil tersenyum menggoda. "Nah, dengar itu? Pangeran kecilmu, Elang Arkananta Dewangga, sudah bangun. Tugas pengawas pribadiku sekarang adalah menggend
Bab 101 Brak! Pintu ganda ya g terdapat pada klinik di pinggiran Den Haag itu didobrak dengan sangat keras. Arkananta Dewangga berdiri di ambang pintu dengan nafas memburu dan tatapan mata gelap yang sangat mengerikan. Setelan jas hitamnya yang berantakan justru menambah pekat aura intimidasi yang memancar dari tubuh tegapnya. Adrian Vance langsung berdiri tegak di depan ranjang rawat Nara, ia memasang badan untuk melindungi Nara dengan ekspresi tegang. "Mr.Dewangga jaga sikap anda! Anda tidak boleh merusak fasilitas medis!" "Menyingkir dari hadapanku, Vance, sebelum aku benar-benar menghancurkan kariermu!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar. Adrian tidak mundur satu inci pun. "Aku tidak akan membiarkanmu membawa Nara pergi dalam kondisi rapuh seperti ini! Kamu egois, Arkan! Kamu hampir mengorbankan keselamatan bayimu demi egomu!" Bugh! Satu pukulan kuat dari kepalan tangan kokoh Arkan mendarat telak di rahang Adrian, membuat pria baik-baik itu terhuyu
Bab 100 Wajah Felicia seketika pucat pasi, tangannya gemetar hebat karena tidak menyangka Nara yang sedang lemas di atas ranjang masih bisa melayangkan serangan balik yang sangat presisi dan mematikan. Menyadari dirinya kalah telak, Felicia menyambar tas mewahnya dan berbalik berlari cepat keluar dari kamar dengan rasa malu yang pekat. Setelah Felicia pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Nara dengan tatapan takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Nara. Bahkan dalam kondisi seperti ini." Nara perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata pria baik-baik itu dengan senyuman yang teramat manis. "Terima kasih, Adrian. Kamu adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat menghargai bantuanmu hari ini. Tapi ... aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk tinggal di sini," ucap Nara tegas. Adrian tertegun, matanya meredup karena kecewa. "Kenapa, Nara? Arkan sudah membuatmu terluka." "Karena sekeras apa pun Arkan mend
Bab 99 Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya. Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen menggunakan keahlian digitalnya sendiri. Sang pengawas yang biasanya selalu bersikap percaya diri dan memiliki kendali penuh, kini benar-benar didera kebingungan dan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Brak. Pintu depan terbuka, Thomas masuk dengan wajah pucat. "Mr.Dewangga! Tim keamanan sudah memeriksa seluruh stasiun dan bandara di Den Haag, tapi nama Nyonya Nara tidak terdaftar di mana pun!" "Cari lagi, Thomas!" bentak Arkan, suaranya meninggi karena frustrasi hingga urat-urat di lehernya menegan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore