MasukPart 24
Malam itu sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah rumah yang di dalamnya menyimpan begitu banyak gejolak.Revan melangkah masuk ke kamar Aruna dengan perasaan yang tak karuan.Sudah lebih dari sebulan ia tak menyentuh istrinya—bukan karena tak mau, tapi karena Aruna terus menolak dengan alasan hamil muda.Aruna terbaring di ranjang, memunggunginya. Matanya terbuka, namun pikirannya jauh melayang. Ia sebenarnya belum tidur—hatinya terlalu penuh untuk terlelap.“Arunaa…” panggil Revan pelan.“Iya, Mas…” jawab Aruna tanpa menoleh.“Kamu belum tidur?”Aruna hanya menggeleng pelan.Revan naik ke ranjang, berbaring di sampingnya.Tangannya meraih tubuh Aruna, memeluknya dari belakang.Pelukan itu terasa berat—bukan hangat seperti dulu, melainkan menekan, seolah menuntut sesuatu.“Mas pengen kamu…” bisiknya di telinga Aruna, suaranya rendah dan penuh keinginan.TubBau antiseptik masih menjadi hal pertama yang menyergap indera Revan setiap kali ia membuka mata. Bau itu menusuk, dingin, dan terlalu jujur—seolah mengingatkannya bahwa tubuhnya memang masih hidup, tapi sesuatu di dalam dirinya telah runtuh dan belum bangkit kembali.Ia terbaring diam, menatap langit-langit putih rumah sakit yang terasa lebih asing dibanding malam tergelap yang pernah ia lalui. Bunyi mesin monitor berdetak stabil, kontras dengan pikirannya yang terus berputar tanpa arah.Sudah tiga hari berlalu sejak ia sadar dari rumah sakit itu. Tiga hari, dan satu hal tidak berubah sama sekali.Aruna tidak datang.Tidak ada langkah kaki yang ia kenal. Tidak ada suara lembut yang biasanya memanggil namanya dengan nada khawatir. Tidak ada tangan kecil yang menggenggam jemarinya sambil berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.Revan menghela napas pelan, meski rasa sakit langsung menyambar dadanya. Setiap tarikan napas seolah mengingatkannya pada benturan keras malam itu—pada
Mobil Revan melesat melewati jalan raya yang sepi, lampu mobilnya menyinari jalan depan dengan terang. Pukulan di pipinya masih terasa sakit, dan darahnya masih menetes perlahan ke bajunya. Tapi dia tidak peduli—semua yang ada di pikirannya hanyalah Aruna, dan janji untuk "mengurungnya" yang membuat hatinya berdebar dengan ganas.Hari sudah benar-benar gelap. Langit penuh awan, tidak ada bintang sama sekali. Saat melewati persimpangan kecil, Revan melihat cahaya api yang menyala di kejauhan—seperti api unggun di tengah hutan. Dia menginjak rem perlahan, matanya memandang itu dengan curiga."Siapa yang ada di situ?" gumamnya pelan.Tanpa berpikir panjang, dia memutar stang ke kiri dan melaju ke jalan tanah yang menuju api itu. Jalanannya licin dan bergelombang, membuat mobilnya bergoyang-goyang. Setelah beberapa menit, dia melihat sebuah rumah kayu kecil yang sederhana, dengan api unggun menyala di halaman depannya. Dan di dekat api itu—dia melihat bayangan seorang wanita yang dud
Saat di perjalanan Revan melihat mobil baru saja kembali dengan muatan barang-barang belanjaan. Kardus-kardus rapi disusun di bagasi, beberapa ibu-ibu masih menyisihkan belanjaan mereka yang tergeletak di kursi belakang.Revan buru-buru menghentikan mobil itu. Roda mobilnya mendesak aspal, ia langsung memutar stang ke kanan tanpa memikirkan apakah ada kendaraan di belakang.Kikkk... kikkkkkk..Suara klakson besar menggelegar, membuat salah satu ibu-ibu terkejut dan menjatuhkan sayuran. Mobil yang sedang melaju perlahan itu segera berhenti, supirnya menurunkan jendela dan melihat ke arah Revan dengan wajah bingung.Revan buru-buru turun, kakinya hampir tergelincir karena terlalu tergesa-gesa. Ia mendekati mobil itu dengan langkah cepat, napasnya terengah-engah dan keringat membasahi dahinya meskipun udara cukup sejuk."Kalian ada yang liat istri saya?" Tanya Revan dengan ekspresi panik. Matanya melotot ke setiap wajah di dalam mobil, tangannya menggenggam erat pegang pintu mobil.S
Sore hari, sinar matahari yang sudah lemah menyebar melewati celah tirai, menyentuh wajah dua insan yang terlelap dalam tidur yang terlarut kelelahan dan mengantuk. Revan bangun duluan, tubuhnya terasa berat seperti terbebani batu. "Enghhh..." Ia menggerakkan lehernya perlahan, menatap sekeliling ruangan yang masih bingung. Dan kemudian—jantungnya berhenti sejenak sebelum berdebar kencang seperti akan meledak—ia melihat Cintya berdampingan, tanpa sehelai benang pun, sama seperti dirinya. "Akh..." Suara merintihnya tercium tipis, kepala menyakitkan parah akibat efek samping minuman keras yang meledak di dalam otak. Semua ingatan semalam seperti kabut tebal yang sulit terurai. Cintya pun terbangun, matanya masih membutuhkan waktu untuk fokus. Namun bukannya merasa malu atau menghindar, ia malah merengkuh tubuh Revan dengan lembut, wajahnya mendekat hingga bibirnya menyentuh bibir pria itu. Hmmmpt
Suara dec apan mulut terdengar jelas di telinga Aruna.Aruna hanya bisa diam dan berdoa dalam hati, ia menutup telinganya dan terus meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap kuat."Hmpptt..hmptttt.."Revan dan Cintya sudah tak tau tempat, mereka berdua melakukan hubungan suami istri di ruang tamu. Des ahan Cintya terdengar jelas sampai ke dalam kamar Aruna.Tubuh Aruna hanya bisa bergetar. Dada Aruna seperti sesak mendengar desahan yang seharusnya tak ia dengarkan."Hiksss....hiksss...Astagfirullah...ya Allah,""Ahhh mas revaannn..." Teriak cintyaa semakin menggelagar.Andai saja rumah itu dekat dengan perkotaan atau perkampungan, mungkin Aruna sudah pergi dari situ. Ia bertahan karna tak ada lagi jalan untuk pergi. Mengingat ini sudah hampir pagi, dan tak baik juga untuk ibu hamil keluar rumah saat matahari belum timbul.Dan bukan hanya Aruna saja yang mendengar desahan itu, karyawan yang sempat menghantar Revan kembali pulang juga ikut mendengar."Astaga, itu seperti suara pembantu B
Part 24Malam itu sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah rumah yang di dalamnya menyimpan begitu banyak gejolak.Revan melangkah masuk ke kamar Aruna dengan perasaan yang tak karuan. Sudah lebih dari sebulan ia tak menyentuh istrinya—bukan karena tak mau, tapi karena Aruna terus menolak dengan alasan hamil muda.Aruna terbaring di ranjang, memunggunginya. Matanya terbuka, namun pikirannya jauh melayang. Ia sebenarnya belum tidur—hatinya terlalu penuh untuk terlelap.“Arunaa…” panggil Revan pelan.“Iya, Mas…” jawab Aruna tanpa menoleh.“Kamu belum tidur?”Aruna hanya menggeleng pelan.Revan naik ke ranjang, berbaring di sampingnya. Tangannya meraih tubuh Aruna, memeluknya dari belakang. Pelukan itu terasa berat—bukan hangat seperti dulu, melainkan menekan, seolah menuntut sesuatu.“Mas pengen kamu…” bisiknya di telinga Aruna, suaranya rendah dan penuh keinginan.Tub







