แชร์

Permainan Dimulai

ผู้เขียน: Renjana Aksara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-13 08:26:42

Raka duduk di kursi belakang, keningnya berkerut dalam saat jemarinya menari di atas layar tablet. Di sampingnya, Elena tampak tenang dengan polesan makeup minimalis yang justru menonjolkan aura elegannya. 

Bagi Elena, setiap detik berada di ruang tertutup bersama pria yang pernah membunuhnya adalah siksaan. Namun, ia harus bertahan demi peran ini. Setidaknya, sebelum ia benar-benar pergi, ia ingin memberikan satu tamparan kecil untuk harga diri Raka.

Pintu mobil terbuka, namun Mora tidak langsung masuk. Ia berdiri di sana, menatap Elena yang duduk nyaman di samping Raka dengan tatapan sayu yang dipaksakan.

"Tuan Raka… akhir-akhir ini saya mual jika duduk di kursi depan. Bolehkah saya duduk di samping anda, saya khawatir nanti malah membuat perjalanan jadi kurang nyaman.”

Raka mendongak. Melihat wajah ‘pucat’ kekasih gelapnya, naluri pelindungnya langsung bangkit. Ia menoleh pada Elena tanpa ragu.

"El, kau dengar itu? Mora sedang tidak enak badan. Pindahlah ke depan, biarkan dia duduk di sini agar bisa beristirahat," ujar Raka dengan nada perintah halus, seolah itu adalah permintaan paling wajar di dunia.

Dulu, Elena akan langsung patuh, menelan rasa sedihnya karena selalu dianak tirikan. Namun, Elena yang sekarang tidak bergerak sedikitpun.

“Aku juga sedang tidak nyaman dan ingin tetap di sini,” jawab Elena datar. 

“Elena, kau–”

“Jika kau begitu peduli pada bawahanmu, perintahkan saja dia naik mobil lain. Jauh lebih nyaman baginya, dan tidak membuatku terganggu.”

Raka tertegun. Ia tidak menyangka akan mendapat penolakan sedingin itu dari Elena yang biasanya penurut. 

"Elena, ini hanya masalah posisi duduk. Mora sedang sakit, tidak bisakah kau lebih pengertian?"

Elena menoleh perlahan, menatap tepat ke manik mata Raka. "Dan aku adalah tunanganmu, Raka. Meminta tunanganmu pindah ke depan demi seorang asisten... menurutmu apa yang akan dikatakan kolega bisnis kita jika melihat kita turun dari mobil nanti? Kau ingin merusak reputasi keluarga Wijaya dan Pratama hanya karena masalah 'mual' asistenmu?"

Raka terdiam, lidahnya kelu. Dalam dunia mereka, citra adalah segalanya. Raka terpaksa menyerah. 

Ia mencondongkan tubuh ke arah Mora dan berbisik sangat pelan, "Maaf, sayang... kali ini kau mengalah, ya?”

Mora mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Dengan kebencian yang berkobar di matanya, ia terpaksa menutup pintu belakang dan duduk di depan, di samping kemudi.

Elena kembali menatap ke luar jendela. Ia tidak peduli pada tatapan cemburu Mora dari spion tengah. Pikirannya sudah berada di meja tender, tempat ia akan bertemu Samuel Adiguna. Ada sedikit rasa cemas, apakah Samuel akan mempercayainya?

Mendekati gedung pertemuan, Raka memperbaiki posisi dasinya. "El, fokus. Jangan sampai ada detail yang luput. Kita harus memastikan kemenangan hari ini untuk mengunci dominasi NOVATECH. Kau tahu apa yang harus dilakukan, kan?"

Elena mengangguk pelan. “Tentu saja, bukankah biasanya begitu?”

“Elena-ku memang pintar,” puji Raka sambil mengusap pundak Elena.

Hati kecil Elena tergelitik geli. Sungguh bodoh dirinya dulu, merasa bahagia hanya karena pujian remeh dari seorang pengkhianat.

Setibanya di lokasi, lobi gedung sudah dipenuhi perwakilan perusahaan raksasa. Di tengah kerumunan, sosok Samuel Adiguna berdiri dengan aura dominan yang tak tertandingi. Raka langsung melangkah menghampiri rivalnya itu dengan senyum congkak.

"Tuan Samuel, senang melihat Anda di sini," sapa Raka penuh ejekan. 

“Sayangnya saya tidak senang melihat Anda.”

“Wah, Anda dingin sekali. Apakah anda masih dendam karena apa yang terjadi di tender terakhir? Saya sarankan Anda harus bersiap karena sepertinya aku akan menang lagi.”

Samuel tidak langsung menjawab. Matanya melirik sekilas ke arah Elena yang berdiri diam di belakang Raka. Di saat yang sama, sebuah suara batin yang sangat nyaring masuk ke kepala Samuel, tumpang tindih dengan ocehan sombong Raka.

‘Dasar bajingan tidak tahu malu! Puaskanlah dirimu sekarang, Raka. Kelak aku yang akan menertawakanmu. Keledai bodoh!’

Samuel tiba-tiba terkekeh rendah. Tawa spontan itu membuat Raka tersinggung. "Apa yang lucu, Tuan Samuel? Kau menertawakan prediksiku?"

"Anda seorang NPD sepertinya. Saya hanya sedang menertawakan diri saya sendiri, yang ternyata membuang waktu hanya untuk mendengarkan ocehan tidak bermutu Anda.”

Wajah Raka memerah. "Kita lihat saja nanti. NOVATECH akan menjadi nomor satu, menggantikan PHILATECH selamanya."

Raka berjalan angkuh menuju ruang rapat, diikuti Mora. Elena sengaja memperlambat langkahnya. Saat jarak mereka cukup jauh, ia berbisik tanpa menoleh pada Samuel yang kini berjalan di sampingnya.

"Apakah Anda tidak takut saya berkhianat dan merugikan Anda lagi, Tuan Samuel?" tanya Elena, suaranya nyaris tak terdengar.

Samuel menyeringai tipis. "Beranikah kau melakukan itu, Elena Wijaya? Kau tahu hanya aku satu-satunya orang yang bisa menarikmu keluar dari neraka Raka."

Elena menoleh sedikit, memberikan tatapan tajam yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Saya tidak akan mengecewakan Anda, Tuan. Saya pastikan pertunjukan hari ini sangat seru.”

"Akan kunantikan pertunjukannya," sahut Samuel dingin.

Elena mengangguk dan segera menyusul Raka. Samuel tetap berdiri di sana, menatap punggung Elena. Ia tidak butuh jaminan tertulis. 

Suara hati Elena yang penuh dendam murni tadi adalah bukti paling jujur yang pernah ia temui.

“Jangan kecewakan aku, Elena,” gumamnya sambil merapikan jas, bersiap menyaksikan kehancuran NOVATECH dari baris terdepan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suara Hati Istri Rahasia Presdir Kaya   Darah Daging Keluarga Pratama

    Pintu geser ruang VIP terbuka. Samuel berjalan masuk dengan langkah tegap, diikuti Erick Wijaya di belakangnya.Melihat mereka kembali, Elena langsung bangkit dari kursi dan menghampiri Samuel dengan gurat panik. Matanya sibuk meneliti penampilan Samuel dari ujung kepala hingga kaki.[Aduh... di bagian mana Ayah menghajarnya? Dia tidak akan melawan, kan? Bagaimana jika dia melawan?]Elena beralih menoleh ke arah ayahnya, seolah menelusur setiap inci tubuh ayahnya.[Sepertinya Ayah juga baik-baik saja. Lalu, apa yang mereka lakukan sejak tadi?]]Sudut bibir Samuel berkedut menahan tawa mendengar rentetan pertanyaan panik di kepala istrinya. Sementara itu, Erick yang berjalan di belakang Samuel langsung menghela napas berat."Elena..." panggil Erick dengan suara berat yang sengaja ditekan. “A-ah, iya, Yah?”"Suamimu itu baik-baik saja, tidak kurang satu apa pun. Kenapa kau menatap Ayah seolah-olah Ayah ini penjahat yang baru saja menyiksanya?"Uhuk!Maura dan Maria yang duduk di meja

  • Suara Hati Istri Rahasia Presdir Kaya   Kesepakatan Dia Pria

    Di sudut lain restoran, sebuah ruangan privat kecil menjadi saksi bisu pertemuan dua pria yang memiliki pengaruh besar di dunianya masing-masing. Berbeda dengan ruang VIP sebelumnya, atmosfer di sini terasa jauh lebih canggung, dingin, dan sarat akan ketegangan yang tak kasat mata.Erick Wijaya duduk dengan tegap, meraih teko keramik berukir emas untuk menuangkan teh ke dalam cangkir Samuel. Namun, belum sempat air hangat itu mengalir, tangan kekar Samuel menahannya dengan lembut namun tegas. “Biar saya saya, Ayah mertua.”Pria muda itu mengambil alih teko, lalu dengan gerakan tenang dan penuh hormat, justru dialah yang menuangkan teh ke cangkir Erick.“Terima kasih.”Erick memperhatikan gestur itu dengan tatapan datar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati. "Tuan Samuel, kau tidak perlu berpura-pura sopan padaku di ruangan ini. Aku tahu kau dan Elena sedang berbohong."Gerakan tangan Samuel terhenti sesaat sebelum ia meletakkan teko kembali ke tempatnya. Ia menatap san

  • Suara Hati Istri Rahasia Presdir Kaya   Restu

    Suasana di dalam ruang VIP restoran hotel bintang lima itu mendadak berubah layaknya ruang interogasi. Meja makan panjang yang mewah kini menjadi pembatas dua kubu. Samuel dan Elena duduk berdampingan di satu sisi, sementara Erick, Maria, dan Maura duduk berjejer di seberang mereka dengan tatapan menyelidik yang menghujam tajam.Erick Wijaya meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan pelan, namun sarat akan wibawa seorang ayah. "Elena... Ayah ingin mendengar langsung dari mulutmu sendiri. Apa benar yang dikatakan Tuan Samuel tadi?”Elena menggigit bibir bawahnya karena gugup. Ia menoleh ke arah Samuel dan mendapati suaminya itu justru sedang tersenyum tanpa dosa sama sekali.[Dasar pria menyebalkan!]“Ayah… aku minta maaf—”“Ya atau tidak?!” potong Erick tegas.Elena tertunduk, lalu mengangguk kecil. “Ya, Ayah. Aku dan Samuel sudah menikah belum lama ini.”“Kenapa?” tanya Erick lagi, menuntut penjelasan.Samuel beralih menggenggam tangan Elena di atas meja, lalu menatap Erick dengan s

  • Suara Hati Istri Rahasia Presdir Kaya   Bukan Karyawan, Tapi Istri.

    "Ini editan! Ini pasti video AI!" Suara Raka memekik histeris, memecah kesunyian ruang makan. Tangannya gemetar menunjuk layar ponsel, lalu beralih menunjuk Samuel dan Elena dengan tatapan murka. "Ayah! Kakek! Jangan percaya ini! Samuel menggunakan teknologinya untuk memfitnahku!" Sofia langsung berdiri, wajahnya memerah padam demi membela sang putra. "Benar Ayah mertua! Putraku tidak mungkin serendah itu! Tega-teganya kalian menjebak Raka yang tulus demi melegalkan perselingkuhan kalian sendiri! Kalian benar-benar jahat!" Pramoedya ikut menggebrak meja hingga gelas kristal berdenting. "Erick, lihat kelakuan putrimu! Dia membawa pria asing untuk menjatuhkan nama baik keluarga kami dengan taktik kotor!" Elena yang berdiri di samping Samuel hanya menatap drama itu dengan pandangan malas. “Itu benar atau tidak, seharusnya kalian lebih tahu dari kami,” ucap Elena. “Dasar jalang sialan! Raka kami tidak sekotor dirimu yang suka berselingkuh!” bantah Sofia, meski jelas

  • Suara Hati Istri Rahasia Presdir Kaya   Video Panas

    Suasana ruang makan kediaman Pratama terasa mencekam. Tak ada lagi tawa ramah atau sambutan hangat yang biasanya menyambut keluarga Wijaya. Meja panjang itu kini terasa seperti kursi pesakitan. Tatapan meremehkan dari Pramoedya dan Sofia tertuju tajam pada Elena, seolah-olah ia adalah noda yang mengotori lantai marmer mereka."Silakan duduk," ucap Pramoedya dingin, tanpa basa-basi.Elena duduk dengan punggung tegak, sementara Erick dan Maria berada di sisinya dengan perasaan yang berkecamuk. Baru saja mereka mendaratkan pantat di kursi, rintihan batin Elena kembali bergema hebat di kepala orang tua dan kakaknya.[Lihat wajah-wajah haus harta itu.] [Kemarin saat butuh suntikan modal, mereka datang merangkak dan menjanjikan pernikahan.][Sekarang, saat merasa sudah di atas angin, mereka menatap kita seperti sampah. Benar-benar keluarga lintah!]Erick dan Maria tersentak, sedangkan Maura makin menggebu-gebu mendengar itu. Maura menggenggam tangan sang adik dengan erat. “Tenang saja,

  • Suara Hati Istri Rahasia Presdir Kaya   Kendali

    Pagi hari di apartemen Elena tidak diawali dengan ketenangan. Aroma kopi yang diseduh Maura di dapur sedikit pun tidak mampu mencairkan atmosfer kaku di ruang tengah. Erick dan Maria duduk di sofa dengan lingkaran hitam di bawah mata mereka, bukti nyata bahwa semalam mereka sama sekali tidak bisa tidur karena dihantui oleh fenomena aneh suara batin sang putri.“Pokoknya aku tidak akan tinggal diam jika mereka merendahkan kita, apalagi Elena,” tegas Maura.“Jangan gegabah, bisa jadi ini hanya salah paham,” ucap Maria yang masih berusaha berpikir positif.Maura mendelik kesal, dia sudah siap untuk menyahut, tapi Elena menahannya.“Kak. Biarkan saja.”Bukan mengakui kalah, tapi Elena justru ingin agar kedua orang tuanya melihat langsung bagaimana sikap keluarga Pratama.Tok, tok, tok!Gedoran pintu yang terbilang kasar itu mengejutkan semua orang. Elena yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian rapi refleks menghentikan langkahnya. Ketika Maura membuka pintu, sosok Raka Pratama l

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status