LOGIN“Please, Sayang, mohon lakukan, Tante benar-benar sudah tidak tahan,” rengek Tante Liana dengan ekspresi wajah begitu sayu. Wanita itu sangat gelisah, menantang Bara untuk berbuat lebih jauh lagi. “Iya, Tan, saya juga merasakan keinginan yang sama. Saya ingin mala mini membuat Tante benar-benar bahagia,” sahut Bara dengan suaranya yang sudah bergetar karena menahan gejolak bir*hinya. Ia adalah singa jantan muda yang pantang menolak untuk bertarung.
View MoreNamanya Bara Aditya. Usianya dua puluh satu tahun. Ia seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri terkenal di Jakarta. Ia adalah seorang mahasiswa perantauan yang datang dari pulau seberang. Secara umum, Bara tergolong pemuda yang memiliki ketampanan di atas rata-rata dengan postur yang tinggi kekar. Hanya saja, ia bukan seorang mahasiswa yang berasal dari keluarga berada. Untuk menambah uang saku dan keperluan kuliahnya, ia juga menawarkan jasanya sebagai seorang massage therapist. Tukang pijat. Tentang keahliannya itu ia ceritakan juga pada Tante Liana, ibu kosnya, suatu saat ketika ia membayar uang bulanan kosnya. “Jika suatu saat Tante atau Om butuh tukang pijit, bisa panggil saya saja. Jangan khawatir, Tante, untuk Tante dan Om aku akan pasang tarif keluarga yang sangat ramah tamah dan berbudi bahasa,” seloroh Bara, mempromosikan profesi sambilannya. Tante Liana pun dibuat tertawa oleh rangkaian kalimat Bara yang terakhir yang mirip potongan lirik sebuah lagu dangdut itu, lalu bertanya, “Beneran kamu bisa mijit, Bar? Kamu belajar dari mana mijetnya?” Saat itu suami Tante Liana, Om Hendra Wijaya, sedang tidak ada di rumah. Suami Tante Liana seorang dosen di beberapa perguruan tinggi swasta, dan juga seorang bisnismen. Tapi Bara tidak tahu Om Hendra itu bisnis apa. “Kebetulan kakek saya dari ibu saya seorang ahli pijat dan urut di kampung, Tan. Jadi keahlian saya ini diturunkan dari beliau.” “Oh begitu? Jadi kamu sudah banyak menerima panggilan untuk memijat, dong?” “Ya lumayan, Tan, tapi belum sering. Kan saya belum lama untuk membuka jasa pijet panggilan ini. Setelah kondisi keuangan keluarga saya tidak seperti dulu lagi setelah usaha orang tua saya bangkrut, jadi terpaksa saya mulai membuka saja jasa massase panggilan.” “Oh begitu? Maaf, memangnya usaha orang tuanya Dik Bara apa di kampung?” “Toko kimia, Tan. Setelah toko-toko kimia lain yang jauh lebih besar dan lengkap berdiri di sana sini, toko ayah saya yang kecil ya jadi kelindas dengan sendirinya.” “Hm ya, ya. Baik, Dik Bara, jika nanti atau besok suami Tante butuh untuk dipijit, Tante pasti akan menggunakan tenaga kamu.” “Baik, Tan. Terima kasih, sebelumnya.” “Iya, Dik Bara, sama-sama.” Tempat kos Bara adalah jejeran beberapa kos yang menyerupai kamar-kamar tempelan karena dinding belakang kos-kos itu langsung menggunakan tembok pagar bumi rumah induk yang berdiri doi tengahnya. Rumah utamanya ditempati oleh sang pemilik kos, yaitu pasangan suami-istri yang bernama Om Hendra Wijaya dan Tante Liana. Sedangkan yang kos di tempat itu hanya buat mahasiswa dan mahasiswi. Kos-kosan yang berada di samping barat khusus untuk cewek, mahasiswi. Sementara yang di sebelah timur khusus cowok. Di sebelah timur itulah kosnya Bara. Pekarangan rumah utama dan bagian depan kedua baris kos itu dikonblok dan dihiasi oleh berbagai tanaman, sehingga terlihat sangat rapi, asri, anggun, dan sejuk. Ada juga beberapa pohon jambu bol dan jambu Taiwan di pekarangan yang cukup luas itu. Suatu hari, saat pulang dari kampus, Bara bertemu dengan Tante Liana yang sedang menyapu ringan beranda depan rumahnya. Bara memang suka mematikan mesin sepeda motornya saat di luar pintu agar rumah dan mendorongnya masuk. Sesaat ia berhenti dan tertegun melihat wanita yang sudah berusia empat puluhan tahun itu. Wanita itu masih memiliki pesona yang sangat kuat. Beliau masih terlihat sangat cantik dengan kulitnya yang putih bersih dan masih kencang. Ketika tiba-tiba wanita itu menoleh dan melihat ke arahnya, Bara hendak menarik wajahnya, namun terlambat. Ia pun terpaksa tersenyum dan mengangguk pelan sambil menyapa, “Tante …?” “Baru pulang dari kampus, Dik Bara? Atau dari tempat pelanggan untuk mijet?” “Dua-duanya, Tan. Dari kampus trus meluncur ke rumah pelanggan.” “Oh gitu?” ucap Tante Liana seolah-olah kepada sapu di tangannya. Wanita itu sepertinya sengaja membiarkan Bara untuk menikmati keindahan tubuhnya. Karena saat itu ia memang mengenakan baju kaos hitam dan celana hitam ketat pendek ketat sehingga sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih dan mulut. Beliau memiliki sepasang kaki yang besar dan padat namun sangat indah. Biasanya, jika keluar rumah, beliau suka mengenakan hijab sar’i dan gamis atau abaya. “Iya, Tan. Apakah Tante sudah cerita sama Om kalau saya bisa mijet?” Tante Liana memandang ke arah anak kosnya yang paling ganteng sendiri itu, tersenyum, dan menjawab, “Belum sempat, Bar. Besok kalau beliau pulang, akan Tante kasih tahu.” “Syiplah, Tan. Ya sudah, kalau begitu saya masuk dulu.” “Iya, Dik Bara, monggo …” Bara hendak mendorong sepeda motornya, namun tiba-tiba wanita itu memintanya untuk menunggu dulu sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya. Oh My God! Jantung Bara berdegup kencang dengan mata yang agak terbuka lebar. Saat itu ia disuguhkan oleh sebuah pemandangan yang sangat indah. B*kong wanita itu benar-benar indah. Bulat dan cukup besar dan menantang. Makin indah lagi ketika wanita itu sedang melangkah. Namun ia segera membuang wajahnya ke arah lain ketika melihat bayangan wanita itu kembali melangkah keluar. “Ini, Dik Bara ….” Tante Liana menyodorkan sebuah plastik hitam yang berisi sesuatu. Bara memasang standar sepeda motornya lalu melangkah ke dekat wanita itu. “Apa ini, Tan?” tanyanya sembari mengambil tas plastik itu dari tangan wanita itu. “Itu bakso. Tadi Tante pesan beberapa porsi. Itu bakso super di toko bakso di tengah kota sana. Tadi Tante simpan di pemanas.” “Wah, terima kasih banyak nih, Tan. Ya sudah kalau begitu saya ke kamar dulu.” Saat itu, dua kamar kos yang ada di kedua sampingnya sedang tidak ada penghuninya. Penghuninya sedang melakukan KKN, dan satu lagi sedang pulkam. Namanya Ari dan Hendri. Bara beda kampus dengan keduanya. Namun mereka akrab. Sementara dua kos yang sebelah barat dihuni oleh cewek-cewek. Mereka kuliah di fakultas kedokteran gigi. Jadi, di kos sebelah timur itu hanya ada dia sendiri saat itu. Tiba di kamar kos Bara mengambil mangkok, sendok, dan garpu lalu menuangkan bakso yang diwadahi plastik putih itu. Satu plastik berisi pentolan bakso yang sudah setengah diiris dengan beberapa irisan. Sementara pada plastik yang satu berisi mie, bihun, dan tahu goreng. Selanjutnya bakso semangkuk itu diletakkannya di atas meja belajar. Ia ingin makan bakso sembari membuka YouTube di layar ponselnya. Ketika ia duduk di kursi menghadap meja belajarnya, ia bisa melihat keluar melalui kaca jendela di sampingnya. Kaca itu hanya bisa melihat ke luar, tapi orang luar tidak bisa melihat ke dalam jika lampu kamar tidak dihidupkan.
Salwa terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia yakin, jika penginapan itu sejenis losmen atau hotel melati seperti yang sering ia dengar dari teman-temannya jika sedang berkumpul. Tempat di mana kadang bisa dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan gelap. “Dik Bara mau melakukan apa di sini?” tanya Salwa dengan suara sedikit mendesah. Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan pura-pura saja. Sejatinya, saat itu perasaannya sedang degdegan dan panas dingin karena ia sudah sangat ingin digumuli oleh anak kuliahan itu. Bara tidak menjawab pertanyaan itu, namun tangannya langsung menyeberang melewati pinggul Salwa untuk meraih setelan jok tempat duduknya. Jok itu langsung bergerak ke bawah dan Salwa tergolek di atasnya. Lalu, yang dirasakan oleh Salwa selanjutnya adalah bibir Bara yang sudah melumat bibirnya. “Uh uh uuukh ….” Tindakan Bara yang tiba-tiba dengan hawa yang langsung panas itu, membuat Salwa tergagap sesaat. Namun kemudia
Ketika tangan Bara berada di bagian gundukan termahalnya, Salwa langsung menatap sayu ke wajahnya Bara. “Dik Baraa …,” desisnya. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang langsung mendahulu dengan cara memotong jalan, membuat Bara sedikit kaget. Otomatis tangannya yang sedang berada pada bagian gundukan Salwa ditarik, meraih presneling dan melepas injakan gas. Mobil pun seperti terangguk, membuat tubuh Salwa sampai terdiring ke depan. Pasca kejadian itu, tangan Bara tidak lagi berada di atas paha Salwa, dan ia konsentrasi pada pada kemudi dan jalan di depannya yang saat itu makin terlihat macet, Bara menjadi lebih sering memindah presneling, mengerem, menginjak gas, dan mengatur kemudi. Saat itu Salwa menyandarkan tubuhnya ke jok. Ia menjadi tidak banyak bersuara. Padahal saat itu ia ingin Bara meletakkan kembali tangannya di pahanya dan di bagian yang ia banggakan, lalu meremasinya. Dan, seumpama tangan pemuda di sampingnya
Bara manggut-manggut, antara memikirkan sesuatu atau memikirkan jalan yang akan dilaluinya di depannya. “Maaf, kalau maninya Dik Bara encer atau kental?” Pertanyaan itu sontak membuat Bara menoleh. Lalu dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kalau soal itu saya kurang paham, Teh. Maksud saya, yang jenis mani encer dengan mani normal itu seperti apa?” “Maaf, Dik Bara pernah melakukan ….” Salwa mengerakkan kepalan tangan kananya ke atas ke bawah, sebagai kode on*ni. Namun Bara masih berpura-pura bloon dan bertanya, “Apa itu, Teh.” “On*ni.” “Oh itu? Yang seringlah, Teh. Hehehe, ikh malu mengatakannya.” “Gak apa-apa. Katanya Dik Bara buat mencari pengetahuan.” “Iya juga sih.” “Sering? Maksudnya tiap berapa kali seminggu?” “Wah, gak mingguan, Teh. Harian, malah. Kalau mengikuti desakan bir*hi, ya bisa tiap beberapa jam.” “Wah, itu tandanya kamu itu normal. Malah mungkin tergolong abnormal.” “Abnormal? Gila, gitu?” Salwa sontak tertaw
Terkadang di saat sepi yang melanda, sering tidur sendirian, ia terkadang suka menghayal, berfantasi, betapa nikmatnya dalam sepi jika ada seorang pemuda perkasa yang mampu memuaskannya, dan bahkan membuahinya. Jika sudah berada dalam kondisi dan suasana batin seperti itu, membuat libido Salwa naik. Dan apabila ia sudah tidak mampu menahan gairahnya, ia akan melakukan aksi swalayan, mast**basi sembari membayangkan melakukan hubungan ranjang dengan seorang pemuda perkaca. Karena jika membayangkan main dengan suaminya, Wahid, tentu aksinya akan gagal, karena dalam permainan nyata pun Wahid lebih banyak gagal untuk mengantarkannya di puncak kenikmatan yang tertinggi. Pukul sebelas siang mereka berangkat menuju Cimahi. Jarak rumah dengan Kota Cimahi sekitar tiga belas kilometer dan akan butuh waktu sekitar empat puluh menit. Karena kondisi jalan yang saat itu cukup padat, kemungkinan mereka akan sampai dalam waktu satu jam. Yang bertindak sebagai driver adalah Bara, sementa
Setelah Om Hendra mandi dan berpakaian, Tante Liana belum dulu dipijat oleh Bara, agar ia bisa mengantar suaminya itu pergi hingga di ruangan depan, seperti biasa. Om Hendra resmi keluar dari rumahnya sekitar dua puluh menit kemudian. Setelah mobil suaminya pergi, Tante Liana mengunci pi
Selanjutnya Bara mengangkangkan paha Tante Liana lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihinya. Sembari mengarahkan miliknya yang besar dan panjang itu ke celah gerbang hangat milik Tante Liana. Ia menekan, tapi tidak langsung menerobos masuk. Pada tekanan kedua pun juga belum juga berhasil masuk,
Akan tetap, pada saat itu, Bara tiba-tiba memeluk tubuh Tante Liana dan menindihnya sambil berusaha menyusupkan mata bajaknya pada celah sawahnya yang benar-benar telah basah dan berlumpur itu. Serta-merta saja Tante Liana menunggu sembari memejamkan kedua mata dan menggigir bibir bawahnya.
Malam itu juga, setelah satu jam Bara balik ke kamar kosnya, Tante Liana mengirimkan pesan WA, memberitahukan kepada Bara jika suaminya, Om Hendra, memuji hasil pijatannya. “Jadi Om merasa cocok dengan pijetan saya, Tan?” balas Bara. “Cocok sekali katanya. Bahkan Om menyuruh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.