แชร์

009

ผู้เขียน: Thato Kent
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-23 18:03:59
"Kok kamu terlihat gugup? Kenapa? Padahal, aku cuma nanya dosa apa yang kamu bicarakan barusan, lho."

Nada bicara Zaitun memang tidak berlebih-lebihan. Tapi selain mengkerutkan kening, dia juga berkata-kata sambil menatapku dengan tatapan penuh selidik. Sudahlah begitu, keseluruhan dia sudah tidak ubahnya seorang reserse yang sedang menginterogasi pelaku kriminal.

Dan, akulah pelaku kriminal itu? Hah.... sesak lagi napas ini.

Sebelum menanggapinya, aku lebih dulu mengatur ritme pernapasa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   223

    "Lho Abang? Tunggu aku Bang! Kok main pergi begitu saja sih?"Angel tergopoh-gopoh membuntuti langkahku, dan tanpa segan-segan menyambar pergelangan tanganku."Abang ini sebenarnya kenapa sih? Kok tiba-tiba cuek seperti ini? Andaipun aku telah membuat kesalahan, setidaknya tolong beritahu apa salahku, Bang," tambahnya serentet itu.Mau tidak mau aku yang menjeda langkah. Lagipula, langkah yang sporadis ini aku ayun begitu saja tanpa tahu akan mengarahkannya ke mana.Tapi meskipun begitu, aku tetap berkata dengan kesal; "Lepaskan Angel, ini di keramaian. Tolong jangan mencari masalah di kampung orang seperti ini."Angel kemudian melepaskan pegangannya. Pada saat yang sama wajahnya terlihat berangsur-angsur muram. Aku tidak tahu kenapa dia sampai seperti itu. Entahlah kalau ini ada hubungannya dengan rentetan pertanyaannya yang belum aku hiraukan sedikitpun."Aku tidak bermaksud mengabaikan kamu atau apa, Angel, tapi kita ini sudah terlalu banyak masalah, jadi mohon tidak membuat masala

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   222

    "Ha, dua ratus ribu? Gila! Apa aku tidak salah dengar?"Aku sudah cukup terkejut, berkata-kata pun sudah tidak ubahnya seseorang yang nyaris semaput. Akan tetapi, tukang ojek pangkalan yang kutemui di depan pasar kecamatan ini dia terlihat tenang-tenang saja? Sialan sekali ya?"Bus saja ongkosnya hanya delapan puluh ribuan, lho! Kok kamu ngasih harga selangit kayak gini? Ah yang benar sajalah bos!" Kali ini aku coba menyadarkan ketidakwajaran yang dia perdengarkan. Aku curiga dia sedang memancing di air yang keruh, memanfaatkan kesempatan dari kesempitan orang lain."Ya bedalah bus sama ojek kayak gini, Mas. Bus kan kalau jalan hari ini, besok lagi baru kembali. Sedangkan kami, tidak mungkin bermalam di Morowali sana, 'kan?" balasnya senatural itu, khas orang-orang pedesaan yang nyaris tidak kenal dengan yang namanya lobi, upeti, hingga tipu-tipu.Isi kalimatnya pun cukup rasional, membuatku butuh sedikit waktu untuk menemukan kalimat sanggahan.Namun kemudian, mungkin karena mendapa

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   221

    "Bu Rahmi itu siapa?" Angel bertanya dengan nada rendah, dahinya pun tampak mengkerut.Sial, rupanya dia tidak kenal siapa orang yang sedang dibicarakan Sofia. Mau tidak mau cepat aku berbisik di telinganya, "Bu Rahmi itu ibunya Rafika, Angel.."Bersamaan dengan ujung kalimatku itu, barulah Angel terlihat biasa-biasa saja. Auranya tidak lagi semrawut seperti sesaat barusan. "O.. kupikir siapa," katanya tanpa seperti seseorang membuang ludah tanpa beban.Tapi kali ini Angel seperti berbicara dengan dirinya sendiri, aku tidak lagi menambahkan.Sampai di sini, berbeda dengan aku yang masih diselimuti rasa bingung yang mendalam, Angel sudah sepenuhnya kembali menjadi dirinya yang kukenal. Bahkan, air mukanya kini terlihat lebih santai dari saat dia membawa Sofia ke hadapanku."Maaf Mbak, aku baru tahu kalau ibu Rafika itu Bu Rahmi namanya," ucap Angel sekalem itu. "Tidak Mbak, aku sudah bicara langsung dengan mereka, kok. Intinya, tidak ada masalah."Lagi-lagi sial! Sekali lagi aku tidak

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   220

    Setelah mengatakan itu Angel beralih padaku. "Sayang, perkenalkan, ini Mbak Sofia, pemilik rumah kos ini," katanya dengan nada hingga ekspresi yang nyaris sempurna. Tapi tidak lupa pula dia sambil diam-diam mengedipkan sebelah mata.Entah apa maksud Angel sampai harus memperagakan adegan konyol seperti ini segala?Buruknya lagi, meskipun Sofia kini sedang menatapku dengan tatapan curiga, aku harus berlagak oke-oke saja demi tidak mempermalukan Angel di hadapan dia.Sehingga membuatku mau tidak mau mengulurkan tangan lalu berkata, "Perkenalkan, aku Bara. Senang bertemu dengan Anda.""Anda tidak ingin menambahkan sesuatu?"Spontan aku mengernyitkan dahi. "Maksud Anda?""Memperkenalkan istri anda, misalnya?"Sontak aku menelan ludah. Gelagat hingga kata-kata wanita ini sudah sulit dihadapi. Angel pun sepertinya sedang merasa teepojokkan. Permukaan wajahnya mulai terlihat sedikit menegang."Apakah Anda keberatan?" ulangnya terkesan semakin terobsesi dengan apa yang dia rencanakan."Apa i

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   219

    "Tidak Bang, aku tidak mengada-ada. Lagipula, apa mungkin aku berani mengarang cerita sebesar ini? Ini tentang keluarga dan rumah abang lho. Abang pasti pernah dengar, 'kan orang berkata bahwa ucapan itu adalah doa?" Selain terkesan frustrasi, Angel juga berkata-kata dengan penuh penekanan. Ekspresinya pula, mendadak sangat serius.Di lain pihak, meskipun tidak serta-merta percaya dengan pengakuannya, namun aku terdiam, belum tahu lagi hendak berkata apa. Entahlah, tapi aku mulai ragu pada keyakinanku sendiri. Pada jeda ini, aku mulai berpikir akan menghadapi apa pun itu dengan kepala dingin. Sedangkan kenapa barusan aku sampai syok, itu hanyalah reaksi spontan saja.Lebih dari setengah tahun tidak saling bertukar kabar dengan anak istri serta ibu di desa sana, tentu saja segala sesuatunya dapat terjadi. Lagipula, memang apa yang abadi di dunia ini selain keabadian itu sendiri?Begitu juga dengan Nola. Jika Angel berpikir saat ini sedang hamil besar, aku justru berfirasat Nola akan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   218

    Walau bagaimanapun juga, Angel ini boleh dikatakan adalah orang asing, atau paling tidak terhitung orang baru di daerah sini. Lalu ketika dia tiba-tiba mengaku tahu anak-anak Mariana di hadapanku, siapa yang tidak akan mencari tahu?Di lain pihak, mendapati aku kebingungan, Angel tidak bereaksi secara berlebih-lebihan. Bahkan, dia justru balik bertanya; "Teman wanita abang yang dokter itu tidak cerita apa-apa tentang aku?"Teman wanita? Sekali lagi dia berhasil membuatku mengkerutkan dahi tanpa sadar. "Maksud kamu, Rafika?" Aku tidak sedang bertanya, hanya memastikan."Iya, dokter puskesmas itu," sahutnya setelah lebih dulu menganggukkan kepala."Tunggu-tunggu!" Aku menyela dengan terbodoh-bodoh. "Apa tidak sebaiknya kau buka dulu maskermu? Aku bukan seseorang yang harus kau hindari, bukan?""Oh sorry! Aku sampai tidak sadar!" Barulah dia melepas maskernya.Andai situasinya tepat, maka barusan itu seharusnya aku akan bergurau dengan berkata, 'Buka dulu topengmu biar kulihat wajahmu'

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status