Share

026

Author: Thato Kent
last update publish date: 2026-02-01 18:22:44

"Zaitun, tidak lama lagi ada yang datang. Kalian cepatlah sedikit, aku tidak mungkin bisa lama-lama alihkan mereka."

Itu suara Bu Rafni di depan pintu, spontan kami menghentikan pergumulan. Ketika menajamkan pendengaran, yang terdengar adalah bunyi langkah kaki. Pelan-pelan menjauh. Arahnya menuju pintu tengah.

"Siapa yang Mbak Rafni maksudkan?" tanya Zaitun cemas. Air mukanya mirip orang bangun tidur secara mendadak setelah dikejutkan bunyi yang keras.

"Tidak apa-apa, kenakan saja pakaianmu de
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   181

    ...ponselnya tiba-tiba berdering. Sesaat setelah merogoh ponsel dari tas wanita miliknya, dia pelan-pelan mengkerutkan dahi , dan menatap cermat layar ponselnya. Tapi kemudian, dia terima juga panggilan itu."Iya halo, maaf, ini dengan siapa?""O ... Pak Kades? Maaf Pak, aku kirain siapa. Habisnya, nomor baru sih."Rafika melagukan sebagian besar kalimatnya. Wajah kusut barusan pun, berangsur-angsur hilang dengan sendirinya."Iya Pak, benar, Bara bareng aku. Bagaimana, apa Bapak ingin bicara dengan dia?""O begitu? Oke baik, oke Pak!""Terima kasih kembali, Pak, santai saja."Perbincangan mereka hanya sampai di situ. Ketika tangannya menaruh semula ponsel ke dalam tas, wajahnya justru terarah padaku. Aku tidak sabar mendengar agar dia segera mengatakan sesuatu.Saat tanpa sengaja menjiwai wajahnya sekali lagi, barulah aku yakin bahwa dia memang terlihat sedikit tegang. "Pak Kades nyari aku ya?" Aku yang tak sabar pada akhirnya mendahului dia."Iya," jawabnya. "Tapi kok mereka tiba-t

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   180

    "Kamu benar, aku sangat kehilangan. Tapi bagaimana tidak, sedangkan kami sudah punya rencana untuk menciptakan surga kecil bersama?"Selain kepalang tanggung, aku juga sudah memutuskan. Selama tidak ada hubungannya dengan urusan pribadi wanita bermata jernih ini, aku tidak akan peduli pada apa pun."Aku mengerti perasaanmu," balasnya dalam. "Ditinggal saat ekpektasi lagi tinggi-tingginya, itu memang sangat menyakitkan. Meskipun pada situasi berbeda, aku juga pernah berada di posisi seperti kamu saat ini."Alih-alih memperlihatkan gelagat cemburu seperti yang kubayangkan, dia justru turut memperdengarkan curahan hatinya? Sial, benar-benar jauh panggang dari api!Naga-naganya pula, sangat mungkin aku tidak akan sanggup mengimbangi kata-kata wanita pemilik bodi padat berisi, tapi tidak gemuk ini.Berpikir sebentar.Sepertinya akan jauh lebih baik kalau aku arahkan saja dia ke tujuan awal kenapa kami sampai harus singgah di pasar ini."Kita sudah sampai, Nona. Maksudku, bukankah kamu bila

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   179

    "Tante, nanti kalau ke rumah lagi, ajak sama Ibu ya. Kasian Ibu, Tante, dia pasti sedih sendirian di rumah."Aditia yang kupikir hanya akan lebih banyak diam seperti biasanya, pada akhirnya nimbrung juga. Akan tetapi, apa katanya, ibunya sendirian di sana? Sendirian di mana maksudnya?Lewat kaca cermin di langit-langit mobil sejajar dashboard, bahkan Rafika pun kulihat sedang kesulitan menjawab. Entahlah itu jika cara dia yang sedang mencari cara untuk menengahi kegalauan Aditia. "Boleh ya Tante?" ulang Aditia, ada kesan memelas di sana.Bahkan bila diresapi dengan lebih dalam, nada bicara hingga isi kalimat Aditia kali ini, seakan-akan itu bukanlah Aditia si pendiam, melainkan orang asing, dan sudah pasti telah dapat membedakan baik buruknya segala sesuatu. Sementara itu, menyadari dia yang tiba-tiba berubah seperti itu, aku hanya berharap, semoga saja anak ini tidak sedang dirasuki oleh sesemakhluk sebagaimana kejadian di malam meninggalnya Bu Kasmiati waktu itu."M... oke, nanti

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   178

    Kaca mobil bagian tengah tiba-tiba turun hingga separuhnya. Sebuah tangan kecil melambai dan diiringi sebuah suara yang keluar dari situ setelah itu."Bara, kami di sini!"Itu suara Rafika. Tentu saja aku tahu siapa 'kami' yang dia maksudkan. Akan tetapi, aku hanya menolehinya sebentar. Sebab sebelum Rafika memanggil, telah lebih dulu ada yang menjadi fokus perhatianku.Adalah beberapa orang yang keluar dari pintu depan. Mereka sambil membopong jenazah. Bahkan, sekarang mereka mulai pelan-pelan memasukkan jenazah ke dalam keranda.Memandang dengan perasaan terenyuh yang mendalam, aku berbisik dengan lidah terpasung; 'Selamat jalan Mariana, maafkan aku yang tidak akan pernah lagi bisa membalas semua ketulusan yang kau curahkan padaku.''Tuhan, terima dia. Wanita itu sudah terlalu menderita, kasian. Mohon ampuni segala salah juga dosa-dosanya, dan berilah dia tempat yang layak di sisi-Mu, aamiin...'Detik ini, betapa sebuah kehilangan benar-benar sedang merengasi jiwa raga. Malangnya n

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   177

    Tunggu dulu, tunggu sebentar!" Pak Ridwan membalas dengan ritme yang tidak kalah melaju. Intonasinya pun demikian."Kamu tidak ingin dengarkan dulu apa yang hendak kukatakan?" Pak Ridwan lalu mengunci tatap. Auranya dipenuhi oleh rona-rona keyakinan. Namun yang sangat mungkin tidak dia pikirkan adalah, topik yang sedang dia coba dia bahas ini, bukanlah sesuatu yang menarik untuk dibahas. Setidaknya bagi aku."Maaf Pak, bukan bermaksud tidak ingin memberi Bapak kesempatan untuk bicara, tapi apa artinya sebuah narasi kalau kita sudah tahu apa inti dari kalimat tersebut?""Ah, bahasamu terlalu rumit Bara. Tapi baiklah, biar aku saja yang sederhanakan. Aku akan bertanya sekali lagi. Apakah kamu belum kenal siapa Rafika?"Aku tidak tahu apa isi pikiran Pak Ridwan sampai terkesan memaksakan diri seperti ini. Padahal, aku merasa posisiku sudah sangat jelas!Tapi baiklah, sepertinya aku memang harus menegaskannya sekali lagi."Aku juga akan apa adanya saja Pak. Jadi begini. Mariana memang p

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   176

    Bersamaan dengan jatuhnya kalimat tetua yang satu ini, keemua mereka pelan-pelan menggerakkan wajah, menatap tetua sebentar, kemudian menjadikan aku sebagai tumpuan tatapan. Dan ketika mereka mungkin tidak sabar menunggu apa tanggapanku, aku justru berlagak pilon. Bahkan, dengan sekonyong-konyong tidak menyadari apa pun, aku berkata dengan nada heran."Maaf bapak-bapak, ada apa? Kenapa aku tiba-tiba ditatap sedemikian ini? Atau, apakah aku telah menyingung perasaan bapak-bapak, tapi aku tidak menyadarinya?"Pak Ridwan yang menanggapi aku. "Kau tidak dengar apa yang dikatakan orang tua kita ini barusan?"Langsung saja aku menggeleng supaya semakin menimbulkan kesan meyakinkan, lalu berkata-kata dengan penuh penghayatan;"Sayangnya, barusan itu aku terlalu larut dengan pikiranku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya, tapi kepergian Mariana ini benar-benar membuatku terpukul. Entah bagaimana lagi caraku membayar utang budiku pada dia."Kali ini mereka bereaksi dengan c

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status