Share

032

Penulis: Thato Kent
last update Tanggal publikasi: 2026-02-05 10:58:07

"Halo... kenapa terburu-buru sekali? Jangan bilang kau hanya setengah-setengah mencintai Zaitun?"

"Agnes? Apa yang kau lakukan di sini?" Aku baru saja mengambil tempat duduk di bangku kemudi, dan langsung mendengar sebuah suara. Entah sejak kapan dia berada dalam mobil ini.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Bara!" katanya juga. "Cepat katakan, apa yang kau lakukan pada Zaitun?"

Sial, ini artinya dia memang tahu, atau paling tidak sudah melihat bagaimana aku dan Zaitun barusan. Tapi setelah memik
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   196

    ...keluar dari dalam rumah, membawa nampan berisi beberapa gelas minuman."Mas Yayat, kamu juga di sini? Kapan datang? Lama ya baru Mas pulang ke kampung ini lagi?" "Baru saja!"Selain akrab, wanita paruh baya yang biasa disapa Bu Reni ini juga berkata-kata dengan ramah. Namun, lihatlah! Edy Hidayat hanya membalas dengan dua patah kata itu. Ekspresi yang dingin berbalut intimidasi yang kuat, mengingatkan aku pada awal-awal bertemu dengannya."Hm... baru to? Pantas saja baru kelihatan lagi?" deham Bu Reni. Tak ada sedikitpun kesan kalau dia tersinggung. Padahal, nyata-nyata yang ditunjukan oleh Edy Hidayat adalah sebuah sikap tak bersahabat sama sekali."Oh ya bapak-bapak, ngomong-ngomong, mau ngobrol di sini, apa di dalam saja?" Wanita berjilbab ini bertanya lagi. Entah bagaimana maksudnya. Masalahnya, dia sudah selesai menata gelas di hadapan orang-orang. Entahlah pula kalau dia mungkin berpikir, meja kayu ini tidak seberapa lapang untuk menaruh semua gelas, yang mana kami semua

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   195

    "Halo Bara, lama tak jumpa, apa kabar? Kamu terlihat kurusan, brother! Kenapa, apa karena merasa seperti terpenjara di desa kecil ini?"Datang-datang langsung berlagak sok akrab, berlagak seakan-akan tidak pernah berbuat dosa, sial, ingin rasanya kucabut saja lidahnya yang pembohong itu!"Jadi, kamu memang sudah kenal siapa dia?" Pak Nasrullah bertanya, isi kalimat serta ekspresi sangat jelas kalau sedang ingin mempertegas sesuatu."Sangat, Pak, sangat!" sahut si keparat ini.Dia terlihat lebih dari sekadar yakin, tapi andai ada yang merasa bahwa, sebenarnya dia justru semakin tajam menyindir. Aku yakin sekali akan hal itu!"Aku bahkan lebih dari sekadar kenal siapa dia, Pak! Dia saja yang tidak tahu kalau bukan aku, Mariana mustahil akan menemukan dia di hutan sana. Tapi lupakan itu! Walau bagaimanapun juga, aku berhutang budi padanya. Orang ini sudah sangat baik pada ibu, Mariana, juga anak-anak."Oh, jadi benar-benar dugaan Rafika selama ini? Bahwa Mariana sebenarnya tahu banyak te

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   194

    "Aku benar-benar tidak tahu menahu, Pak," sahutku, setelah mendengar penjelasan dari Pak Nasrullah dan dua orang tetua yang masih bertahan di sini sedari pagi tadi. Sebagaimana yang telah lebih dulu aku perkirakan, bahwa Aziz sudah bercerita tentang apa yang dialami oleh Bu Saodah, itu memang benar adanya. Namun, karena hal itu jugalah, aku tidak lagi terkejut, bahkan sudah mempersiapkan diri juga mental."Tapi sekiranya ada yang lebih percaya cerita Pak Aziz, tidak apa-apa, itu hak pribadi setiap orang, dan aku tidak akan banyak komentar untuk hal itu.""Tapi kalau kita mau cermati cerita Pak Aziz sebagaimana yang bapak semua sampaikan barusan, waktu Bu Saodah mengalami musibah tadi malam, sepertinya aku lagi di rumah Pak Kades. Jadi gimana ya? Kok aku bisa berada di tempat sekaligus dalam waktu yang bersamaan?" Saat beralibi dengan panjang lebar begitu, dari bagaimana raut wajah, gestur, hingga nada bicara, tetap aku kondisikan dengan semeyakinkan mungkin.Salah satu tetua menyel

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   193

    "Sebenarnya memang iya, Pak, aku mau bicara tentang Saodah, tapi Bara sepertinya baru akan memaafkan Saodah kalau Saodah sudah kehilangan nyawanya.""Hei Aziz, jaga ucapanmu! Berani sekali kau memfitnahku! Lagipula, sejak kapan aku ada urusan dengan istrimu? Sial, kenal saja boleh dikatakan tidak, sempat-sempatnya membicarakan perkara maaf memaafkan!"Tanpa perlu dijelaskan sekalipun, ini artinya Saodah telah menceritakan apa yang aku lakukan padanya tadi malam. Namun, ini perkara tindak kriminal.Jangankan yang tidak ada bukti pendukung dan saksi mata sama sekali, yang sudah terbukti melakukan sebuah tindak kejahatan sekalipun adakalanya masih berbelit-belit. Di luar daripada itu, tidak peduli aku sudah membangun narasai yang menurutku sudah sangat meyakinkan begitu, alih-alih terkecoh, Aziz justru terlihat tenang-tenang saja."Bapak lihat sendiri 'kan bagaimana reaksi dia? Bara ini berpikir tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan pada Saodah tadi malam.""Aziz..."Habis sudah sik

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   192

    "Tolong kamu jangan salah paham dulu Bara. Lagipula, harus aku akui, kamu memang benar, memang siapa aku sampai berani nakut-nakuti kamu?"Benar-benar brengsek ya ini orang! Sempat-sempatnya dia sindir aku pakai kata-kataku sendiri? Apa memang perlu kuhajar saja dia, biar dia yakin bahwa aku tidak main-main? Tapi kalau aku yang lebih dulu memulainya... hah sial, sepertinya aku harus menahan diri dulu, Aku langsung mengunci semua keinginan-keinginan kala sadar bahwa kami sedang menjadi pusat perhatian. Apalagi, memang sangat tidak bermoral jika aku sendirilah yang memulai keributan, sementara pada saat yang sama, orang-orang sedang memberi dukungan moril serta simpati atas kepergian Mariana.Di lain pihak, Aziz sepertinya hanya menunggu respon dariku. Tatkala aku tidak kunjung buka suara, dia sendiri lagi yang kembali berkata-kata."Barusan itu sebenarnya aku hanya ingin bilang, apakah kamu takut dijadikan bahan omongan orang kalau bicara denganku di tempat yang ajak jauh dari rumah

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   191

    Aku sedang menyendiri di ruang tamu rumahnya, ketika Rafika tiba-tiba menampakkan diri. Dia datang dengan wajah yang terlihat sedikit lelah. Saat aku hendak menyapa, dia sudah lebih dulu berkata, "Bara, Ibu baru saja nelpon."Nada bicaranya memang terdengar biasa saja, tapi bagaimana dengan isi kalimatnya? Ibunya menelepon, kenapa harus melaporkan itu pada aku?Terang saja dia berhasil membuatku mengkerutkan dahi sekali lagi. Namun kemudian, lagi-lagi dia sedikit lebih cepat menjatuhkan kata-kata dibandingkan aku."Ibu bilang, Bu Santi minta kamu untuk pulang dulu."Barulah aku bernapas dengan lega. Kupikir, dia akan menyampaikan informasi penting apa. Ternyata, hanya masalah sesepele itu?"Oke, aku pulang sekarang. Titip anak-anak ya." Aku memang sudah sangat ingin pulang. Sedari tadi aku menahan gerah. Bukan karena udara di sini tidak sejuk, tapi aku belum mandi sedari kemarin pagi."Kenapa tidak bawa mobil saja biar cepat?" tanyanya, mungkin karena mendapati aku tidak lagi mengat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status