MasukUdara malam di hutan utara Arkanis terasa lembab dan dingin.
Cahaya dua bulan menyelinap di sela pepohonan tinggi, menimpa tanah yang mulai tertata. Raka berdiri di depan bangunan kecil berukuran enam kali delapan meter — dinding kayu kasar, atap daun kering, tapi di dalamnya terpasang alat-alat yang belum pernah ada di dunia itu. Sebuah papan logam kecil terpasang di pintu, bertuliskan ukiran holografik yang hanya bisa dilihat Raka: [Workshop v0.9 – Status: Aktif] Ia menarik napas panjang. “Dua hari tanpa tidur, tapi akhirnya berdiri juga.” Di dalam, terlihat: Meja kerja utama, dengan alat pandai besi sederhana. Tangki uap yang ia buat dari tong bekas. Dynamo manual berputar lambat saat roda air kecil di luar mengalir. Dan di pojok, sebuah papan komunikasi optik — alat yang memancarkan sinyal cahaya ke udara. Raka duduk di bangku kayu, menatap sistem holografik yang melayang di udara. [Workshop aktif. Fungsi baru tersedia.] Fitur: Produksi otomatis skala kecil, penyimpanan material, dan pemetaan energi lokal. Sumber daya tersimpan: Besi mentah (15), Kayu (20), Batu bara (5), Air (∞ – sungai terdekat). “Sekarang... kita mulai bikin komunikasi,” ujarnya pelan. Tangannya menggambar di udara, dan Auto Blueprint Generator menampilkan rancangan baru: Blueprint Terbaru: Telegraph Optik (Tier D+) Fungsi: Mengirim sinyal cahaya dalam pola biner jarak jauh. Bahan: Kaca kristal (2), logam ringan (4), batu bara (1). Output: Komunikasi visual 3 km radius. Raka tersenyum. “Dunia ini pakai burung dan utusan kuda buat kirim pesan. Kalau aku pasang telegraph optik di bukit timur, aku bisa pantau kota tanpa masuk ke sana lagi.” [Saran Sistem: Gunakan mode Integrasi Mana untuk memperkuat jangkauan sinyal.] “Integrasi mana…” Raka menarik sebatang kristal biru yang ia temukan di tepi hutan — katanya, kristal sihir alam yang sering digunakan para penyihir untuk ritual penerangan. Ia menempatkannya di inti alat. Cahaya biru lembut mulai berdenyut. [Sinkronisasi energi: sukses. Efisiensi meningkat 40%.] “Kerja bagus, sistem.” Raka menghela napas puas. Untuk pertama kalinya, dunia magis dan teknologi benar-benar bersatu di tangannya. Namun di balik semak, tiga sosok berjubah kelam tengah mengintai. “Dia menggunakan kristal mana… tapi tanpa mantra,” bisik salah satu. Yang tertua di antara mereka — pria bermata perak — menyipitkan mata. “Itu bukan penyihir biasa. Kirim laporan ke Menara Arcana. Jika cahaya biru itu terus tumbuh, dunia ini akan mengalami perubahan yang tidak bisa dikendalikan.” Ketiganya lenyap dalam kabut malam, meninggalkan udara dingin yang menggigit. Keesokan paginya, Workshop Raka sudah berubah menjadi pusat kecil aktivitas. Burung aneh dengan bulu keperakan berdatangan, tertarik pada panas dari alat uapnya. Beberapa hewan kecil bahkan mulai bersarang di bawah fondasi bangunan itu. Raka menatap layar status di udara. [Workshop Data:] Energi tersimpan: 18% Produksi harian: Kompor uap (2), gear kecil (6), batang besi (12) Blueprint baru tersedia: “Turbin Air Mini (Tier C)” Proyek aktif: Telegraph Optik – 72% selesai “Kalau aku punya turbin air, aku bisa hasilkan listrik kecil,” katanya sambil menatap sungai. “Satu langkah menuju teknologi modern.” Ia menatap refleksi wajahnya di air — wajah muda, tapi mata penuh tekad. “Aku bukan penyihir, aku insinyur. Tapi di dunia ini, sains dan sihir cuma beda nama.” [Host menunjukkan motivasi tinggi. Membuka fitur tambahan: Log Proyek & Progress Evolution.] Host dapat mengembangkan teknologi dari eksperimen berulang. “Jadi sistem ini belajar bersamaku…” Raka tersenyum samar. “Bagus. Kita berdua bakal bangun dunia baru.” Sore itu, ketika telegraph optik pertama berdiri di puncak bukit, sinar biru menembak langit dengan pola berkedip: “WORKSHOP AKTIF – KONEKSI TERBUKA.” Sinyal itu memantul ke awan, lalu ke menara batu jauh di ibu kota Arkanis. Di dalam menara itu, para penyihir kerajaan sedang mengamati bola kristal. Tiba-tiba, bola itu bergetar — menampilkan pola cahaya biru yang asing. Seorang penyihir muda panik, “Tuan! Ada sinyal dari arah hutan utara. Energinya bukan sihir alami!” Kepala Dewan Sihir berdiri pelan, matanya memancarkan cahaya keemasan. “Siapa pun yang berani menentang prinsip mana, harus dipanggil ke istana. Bawa pasukan. Kita akan menemukan sumber ‘api biru’ itu.” Malam turun perlahan. Di dalam workshop-nya, Raka tengah mencatat hasil eksperimen di layar virtual. “Kompor uap berjalan stabil. Output energi meningkat 17%. Telegraph berfungsi normal. Jangkauan sinyal… tiga koma dua kilometer.” Ia tersenyum lelah. “Langkah kecil untukku, tapi mungkin besar bagi dunia ini.” Namun sistem tiba-tiba mengeluarkan peringatan: [Deteksi anomali sihir mendekat. Jarak: 1,2 km. Jumlah entitas: 8. Level ancaman: Menengah.] Raka berdiri cepat, menatap keluar jendela. Jauh di kegelapan, cahaya merah berkelebat — seperti api sihir. “Pasukan… mereka datang cepat juga.” ia menatap meja, lalu sistem. “Sistem, aktifkan Protokol Pertahanan penuh. Siapkan mode jebakan uap.” [Perintah diterima. Menyiapkan perimeter pertahanan.] Energi tersisa: 18% → 6%. Raka menatap uap mulai keluar dari cerobong. “Kalau kalian mau memanggilku penyihir, baiklah,” katanya pelan, “kalian akan kulihat bagaimana sains melawan sihir.” Dan di luar, kabut mulai menyelimuti hutan, bercampur dengan uap panas dari workshop. Langkah-langkah berat mulai mendekat. Konflik pertama antara teknologi dan sihir pun dimulai.Ledakan energi itu mengguncang seluruh hutan Marevos.Kabut ungu terhempas seperti tirai robek, pohon-pohon menunduk, tanah bergetar. Cahaya biru dari sistem dan cahaya emas dari sihir Elvara bertemu di udara, membentuk pusaran dahsyat yang memaksa mereka semua mundur.Raka merasakan dadanya seperti ditarik dari dalam, sistemnya berputar begitu cepat hingga penglihatannya berbayang.【 Mode Perlawanan Diaktifkan 】【 Akses Administrator: DITOLAK 】【 Memulai Firewall Dimensi… GAGAL 】Sosok berarmor hitam itu menapak maju perlahan, seolah ledakan itu sama sekali tidak mempengaruhinya.“Menarik,” ujarnya datar. “Sistemmu masih mencoba mempertahankan diri… meski sudah dikubur dan disabotase.”Ia menekan sesuatu di pergelangan tangannya.Langsung, tubuh Raka terasa berat—seperti gravitasi menekan seluruh tulangnya.【 PERINGATAN: Gravitasi Variabel Terdeteksi 】“Berjongkok,” perintah sosok itu. “Sistemmu tidak dirancang untuk menahan tekanan dari operator kelas utama.”Raka terjatuh berlutut.
Langkah itu terdengar perlahan—tak seperti mesin, tapi juga bukan langkah penyihir.Hening hutan Marevos seolah menahan napas saat sosok itu akhirnya keluar dari balik kabut ungu.Raka merasakan seluruh tubuhnya kaku.Sosok itu berdiri tegak, dengan armor hitam matte yang menyerap cahaya.Desainnya modern, jauh lebih maju dari apa pun yang pernah ada di dunia sihir ini.Helm transparan menutupi wajah seseorang—ya, manusia, bukan robot.Leonhart segera mengangkat pedangnya. “Jangan bergerak!”Elvara menyiapkan sihir cahaya, matanya fokus pada setiap gerakan kecil sosok itu.Namun orang itu hanya menatap mereka… terutama Raka.Tatapannya penuh keyakinan, bukan kebencian.Lebih seperti seseorang yang sudah menunggu momen ini lama sekali.Raka merasakan tenggorokannya kering.“…siapa kamu?” bisiknya.Sosok berarmor itu menunduk sedikit—sebuah salam kecil yang terasa formal.“Raka Pradipta,” katanya dengan suara manusia yang jelas.“Sudah lama sekali… kita akhirnya bertemu.”Raka mundur se
Kabut ungu itu bergerak seperti makhluk hidup. Tenang, namun menyimpan ancaman di setiap lekuknya.Di tengah kabut… mata hijau giok yang berdiam di kegelapan itu membuka lebih lebar.Cahaya dari mata itu menyinari pepohonan, membuat bayangan hutan terdistorsi seolah dunia sedikit melengkung.Elvara memeluk dirinya, merasakan dingin yang meresap sampai ke tulang.“Raka…” bisiknya. “Itu… makhluk hidup?”Raka tidak langsung menjawab. Sistem di depannya berkedip-kedip, mencoba memproses sesuatu yang sangat asing.Leonhart maju setengah langkah, pedang diangkat, namun matanya tak berkedip.Bukan karena keberanian…tapi karena ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Mata itu… bukan milik monster biasa.Bukan milik roh.Bukan pula dari dunia Raka.Itu… sesuatu yang jauh di atas imajinasi mereka.Sistem berbunyi pelan, seperti berusaha berbicara tanpa membuat kegaduhan.【 Deteksi Entitas: Tidak Dapat Diklasifikasikan 】Nama Sementara: “Penjaga Marevos”Tingkat: S (Ancaman Prioritas
Suara mesin di kejauhan itu terus bergema, lebih ritmis, lebih… hidup. Seolah sesuatu yang jauh lebih besar dari robot sebelumnya baru saja diaktifkan.Raka menegakkan tubuhnya dengan napas tersengal, masih menatap bangkai exo-unit yang tergeletak. Leonhart sudah berdiri kembali, memeriksa pedangnya, sementara Elvara membersihkan debu di pipi dan rok sihirnya.“Aku tidak suka suara itu,” gumam Elvara, melirik ke arah hutan yang makin gelap.“Aku juga.” Raka menarik napas panjang. “Tapi—”Sesuatu menghentikan kalimatnya.Sebuah notifikasi transparan berwarna biru muncul di depan wajah Raka.BIP—!Raka membeku. Elvara dan Leonhart memandang ke arahnya, bingung melihat wajah Raka yang tiba-tiba pucat.“Raka…?” Elvara menyentuh bahunya. “Apa yang terjadi?”Raka tidak menjawab. Ia terlalu sibuk membaca.Di depan matanya, teks sistem muncul dengan kejelasan yang tidak pernah ia lihat sejak kedatangannya ke dunia ini.【 SYSTEM REBOOT: 87% → 100% 】【 SISTEM TEKNOLOGI MODERN AKTIF 】Mode: DARU
Suara mesin itu semakin jelas.Bip…Bip…Bip…Ritmenya teratur, dingin, dan sangat asing untuk telinga Elvara maupun Leonhart. Namun bagi Raka, suara itu… hampir seperti mimpi buruk yang kembali hidup.Ia mencengkeram alat scan di tangannya. “Itu bukan sembarang mesin. Itu… scanner medis tipe lama. Model portable.”Leonhart mengangkat alis. “Scanner? Seperti alat yang kau gunakan untuk melihat kondisi tubuh?”“Ya. Tapi aku tidak punya alat secanggih itu di sini. Dan tidak ada yang bisa membuatnya dalam dunia ini.”Raka menelan ludah.“Kecuali seseorang yang punya pengetahuan teknis dari tempat asalku.”Ketiganya bergerak makin dalam. Kabut biru semakin tebal hingga mereka harus menyalakan lampu kristal. Hutan Marevos mengeluarkan suara aneh—seperti bisikan, tapi bukan dari makhluk hidup.Seolah hutan itu sendiri mengingatkan sesuatu… dan tidak suka kedatangan mereka.Elvara memeriksa udara. “Energi liar sangat padat. Ada bekas distorsi ruang… baru saja terjadi.”Raka merespons cepat.
Pagi baru saja menyentuh puncak menara istana ketika Raka berdiri di balkon tertinggi ruang analisis. Angin dingin menerpa wajahnya, tapi pikiran Raka jauh lebih dingin dari itu. Setelah semalam menemukan pola reaktor yang jelas-jelas tidak berasal dari dunia ini, satu kesimpulan mengganggu terus menghantuinya:Ada orang lain yang memahami teknologi modern.Raka menatap pecahan kristal hitam yang ia simpan di saku. Resonator yang meledak itu meninggalkan residu energi aneh—campuran mana dan gelombang elektromagnetik. Campuran seperti itu… tidak mungkin terjadi tanpa pemahaman teknis dari dunia asalnya.Leonhart berjalan mendekat. “Kau tidak tidur?”Raka tersenyum lelah. “Susah tidur kalau dunia kita mungkin mau diledakkan.”Leonhart berdiri di sampingnya. “Aku sudah menempatkan penjaga di seluruh menara timur. Kalau ada pergerakan bayangan atau energi asing, kita tahu.”Raka mengangguk. “Itu belum cukup.”Ia menoleh pada Leonhart—mata yang penuh tekad.“Aku mau pergi ke lokasi resonan







