LOGINKabut malam mulai menebal di sekitar Workshop, bertumpuk dengan uap panas dari mesin Raka yang terus berdesis sshhhhhhh…
Hutan utara yang biasanya tenang kini terasa seperti menahan napas. Bau logam panas bercampur dengan aroma tanah basah. Raka berdiri di depan pintu Workshop, pakaian compang-campingnya berkibar pelan tertiup angin. Matanya fokus menatap kegelapan. [Deteksi Sihir: 800 meter… 700… 600.] Jumlah entitas: 8. Tipe energi: Api & Kendali Angin. Rekomendasi: Pertahanan jarak menengah aktif. “Delapan orang… dan dua di antaranya penyihir tingkat menengah,” gumam Raka. “Ini bukan sekadar peringatan. Mereka mau menangkapku.” Meski jantungnya berdetak cepat, pikirannya tetap jernih. Ia membuka panel sistem. [Protokol Pertahanan Workshop] – Jebakan Uap Tekanan Tinggi – Medan Elektromagnetik Skala Kecil – Bola Paku Otomatis (Non-mana) – Mode Lampu Silau Intensitas Tinggi Dan satu opsi baru berdenyut warna merah: [Prototype Senjata – Coil Arc v0.2] Status: Tidak stabil. Konsumsi energi besar. Jangkauan: 12 meter. Peringatan: Bisa menyebabkan overheating Workshop. Raka mengepal. “Kalau aku tidak lawan sekarang, mereka tidak akan berhenti.” Ia menekan tombol Aktifkan Semua Pertahanan. [Protokol Pertahanan penuh diaktifkan. Sisa energi Workshop: 6% → 2%.] Segera, uap panas meletup dari celah-celah tanah. Kabel-kabel kasar yang ia pasang di bawah lantai mulai menyala kebiruan. Mesin dinamo berputar cepat, mengisi udara dengan dengungan listrik. Pasukan Sihir Tiba Delapan sosok muncul dari balik pepohonan. Empat prajurit kerajaan dengan baju zirah kulit dan tombak panjang. Dua pemanah di belakang mereka. Dan dua penyihir berjubah gelap, tongkat kristal merah menyala di tangan. Salah satu penyihir, seorang wanita berambut perak, melangkah maju. “Anak itu ada di dalam,” katanya. “Aku bisa merasakan mana aneh mengalir dari bangunan itu. Itu bukan sihir alami.” Prajurit komandan mengangguk. “Perintah raja: tangkap hidup-hidup. Bila melawan… bunuh.” Mereka mulai bergerak mendekat. Namun tiga langkah kemudian — FUUUUSHHH! Uap panas menyembur dari tanah tepat di depan kaki mereka. “AWAS!” Prajurit-prajurit itu mundur, terkejut. Penyihir pria berambut kehitaman mendengus. “Uap panas? Dia mencoba meniru sihir api dengan… mesin?” Mereka melangkah lagi — dan kali ini, tanah tempat mereka pijak bergetar. Tiba-tiba, PRRRAKK! Bola-bola kecil berwarna perak melesat dari dalam tanah, memantul dan bergerak ke segala arah sebelum pecah menjadi pecahan paku kecil yang berputar. “PERLINDUNGAN!” teriak penyihir wanita. Sebuah perisai sihir merah muncul, tapi paku-paku logam itu menabraknya dan menciptakan percikan aneh — seolah sihir itu tak nyaman bersentuhan dengan energi elektromagnetik. “Apa itu…?” penyihir pria melotot. “Sihirku bergetar! Perisai ini… ditolak oleh sesuatu!” Dari dalam Workshop, Raka berbisik: “Medan elektromagnetik versi awal… sukses.” Pertempuran Dimulai Komandan prajurit berteriak, “Serang sekarang!” Empat prajurit menyerbu maju. Raka mengangkat tangan. “Sistem… Coil Arc, aktif!” [Mengisi daya – 2 detik] “1… 2… tembak!” ZAAAP! Cahaya biru muda meletup dari cincin logam yang ia pegang, membentuk garis listrik melengkung seperti petir kecil. Petir itu menyambar tanah tepat di depan prajurit — bukan mematikan, tapi cukup kuat untuk membuat mereka terpental dan pingsan. “Arrghh—?!” Penyihir wanita itu makin terkejut. “Ia memanipulasi petir… tanpa mantra? Tanpa lingkaran sihir?! Mustahil!” Penyihir pria maju dan menancapkan tongkat ke tanah. Api merah membentuk lingkaran besar. “Bocah! Kau bermain dengan kekuatan yang tak kau pahami!” Ia mengayunkan tongkat. BRUAAARR!! Gelombang api menyapu menuju Workshop. Raka memekik, “Sistem! Buka Ventilasi Uap maksimum!” [Ventilasi Uap – Tekanan Tinggi] FWOOSHH! Uap panas meledak ke udara, bertabrakan dengan gelombang api. Api meredup, uap mendesis keras. Tabrakan itu menciptakan kabut panas tebal yang menyelimuti area. Komandan prajurit berteriak di tengah kabut: “Aku tidak bisa melihat! Apa ini?!” Mode Baru Terbuka Di tengah panas kabut, Raka menarik nafas dalam-dalam. Sistem tiba-tiba mengeluarkan notifikasi besar: [Mode Baru Terbuka: Combat Engineering System] – Adaptasi pertarungan real-time – Peta ancaman otomatis – Pembuatan alat tempur darurat (1–2 menit) – Analisis kelemahan sihir Raka tertegun. “Mode tempur…? Oke, sekarang kita serius.” Ia membuka peta ancaman. Delapan titik merah terlihat samar — posisi musuh dalam kabut. Sistem memberi rekomendasi: Kelemahan utama sihir api: tekanan udara & suhu rendah. Saran alat darurat: Ledakan Senyap Tekanan Udara – versi sederhana. Waktu pembuatan: 40 detik. “Buat sekarang!” Dia berlari ke meja, merakit pipa logam, memasang roda gigi dan per, dan menuangkan sedikit mana dari kristal biru. [Alat Darurat selesai: Shock Pulse–Air Pressure] Raka menarik napas. “Semoga berhasil…” Ia melempar alat itu ke luar. BOOM! Tidak ada api. Tidak ada cahaya. Hanya gelombang tekanan udara yang mengguncang seluruh kabut. Para prajurit terpental jatuh. Pemanah kehilangan keseimbangan. Dua penyihir terdorong mundur, tongkat mereka bergetar. Penyihir wanita terbatuk keras. “Tekanan udara… diubah menjadi serangan?! Teknologi macam apa ini?!” Penyihir pria marah. “Cukup! Aku akan membakar seluruh bangunannya!” Ia mengangkat tongkat, membentuk bola api yang berputar kencang. Namun sebelum bola itu diluncurkan — Awan uap dari Workshop naik tinggi dan berubah warna. Bukan putih… tapi biru. Penyihir itu terhenti. “Apa itu…?” Raka tersenyum samar. “Sistem, aktifkan Arc Coil Mode penuh.” [Energi Workshop 2% → 0.4%. Arc Mode aktif.] Gulungan logam besar di atap Workshop menyala, memancarkan cahaya biru elektrik. Dentuman terdengar seperti petir. ZRAAAAAPP!! Petir buatan itu meluncur dan menyambar bola api sang penyihir — menghancurkannya dalam sekejap. Ledakannya memantulkan dua bulan di langit. Penyihir pria terpental ke belakang, tubuhnya menggigil karena shock energi Penyihir wanita menatap dengan ketakutan. “…Itu… bukan sihir. Itu… teknologi dari dunia lain.” Kabut perlahan menipis. Semua prajurit tak sadarkan diri. Pemanah tergeletak. Dua penyihir terhuyung lemah. Raka keluar dari Workshop, tubuhnya gemetar karena kelelahan. Namun matanya penuh tekad. “Ini peringatanku,” katanya lirih. “Aku tidak berniat memerintah, tidak berniat menghancurkan kerajaan. Tapi kalau kalian memaksaku…” Ia menatap mereka tajam. “Aku akan melawan dengan apa yang dunia kalian tidak mengerti.” Penyihir wanita menatapnya lama — bukan marah, tapi takut. “…Kau bukan manusia biasa,” bisiknya. “Kau adalah… anomali.” Penyihir pria yang terluka masih sempat berkata: “Dewan Sihir… tidak akan membiarkanmu hidup damai. Mereka akan datang— kekuatan yang lebih besar dari kami.” Raka menatap mereka sambil menarik napas berat. “Sistem. Simpan data pertempuran. Kita harus siap.” [Data disimpan. Host naik Level: Level 3] Fitur baru tersedia: Engineering Drones (Tipe dasar). Raka tersenyum lelah. “Baik… kalau perang yang kalian mau, kita akan mulai dari sekarang.” Uap perlahan menghilang. Dua bulan bersinar di langit. Pertempuran pertama antara sains dan sihir akhirnya berakhir — dan dunia Arkanis mulai bergeser menuju era baru yang belum pernah ada.Ledakan energi itu mengguncang seluruh hutan Marevos.Kabut ungu terhempas seperti tirai robek, pohon-pohon menunduk, tanah bergetar. Cahaya biru dari sistem dan cahaya emas dari sihir Elvara bertemu di udara, membentuk pusaran dahsyat yang memaksa mereka semua mundur.Raka merasakan dadanya seperti ditarik dari dalam, sistemnya berputar begitu cepat hingga penglihatannya berbayang.【 Mode Perlawanan Diaktifkan 】【 Akses Administrator: DITOLAK 】【 Memulai Firewall Dimensi… GAGAL 】Sosok berarmor hitam itu menapak maju perlahan, seolah ledakan itu sama sekali tidak mempengaruhinya.“Menarik,” ujarnya datar. “Sistemmu masih mencoba mempertahankan diri… meski sudah dikubur dan disabotase.”Ia menekan sesuatu di pergelangan tangannya.Langsung, tubuh Raka terasa berat—seperti gravitasi menekan seluruh tulangnya.【 PERINGATAN: Gravitasi Variabel Terdeteksi 】“Berjongkok,” perintah sosok itu. “Sistemmu tidak dirancang untuk menahan tekanan dari operator kelas utama.”Raka terjatuh berlutut.
Langkah itu terdengar perlahan—tak seperti mesin, tapi juga bukan langkah penyihir.Hening hutan Marevos seolah menahan napas saat sosok itu akhirnya keluar dari balik kabut ungu.Raka merasakan seluruh tubuhnya kaku.Sosok itu berdiri tegak, dengan armor hitam matte yang menyerap cahaya.Desainnya modern, jauh lebih maju dari apa pun yang pernah ada di dunia sihir ini.Helm transparan menutupi wajah seseorang—ya, manusia, bukan robot.Leonhart segera mengangkat pedangnya. “Jangan bergerak!”Elvara menyiapkan sihir cahaya, matanya fokus pada setiap gerakan kecil sosok itu.Namun orang itu hanya menatap mereka… terutama Raka.Tatapannya penuh keyakinan, bukan kebencian.Lebih seperti seseorang yang sudah menunggu momen ini lama sekali.Raka merasakan tenggorokannya kering.“…siapa kamu?” bisiknya.Sosok berarmor itu menunduk sedikit—sebuah salam kecil yang terasa formal.“Raka Pradipta,” katanya dengan suara manusia yang jelas.“Sudah lama sekali… kita akhirnya bertemu.”Raka mundur se
Kabut ungu itu bergerak seperti makhluk hidup. Tenang, namun menyimpan ancaman di setiap lekuknya.Di tengah kabut… mata hijau giok yang berdiam di kegelapan itu membuka lebih lebar.Cahaya dari mata itu menyinari pepohonan, membuat bayangan hutan terdistorsi seolah dunia sedikit melengkung.Elvara memeluk dirinya, merasakan dingin yang meresap sampai ke tulang.“Raka…” bisiknya. “Itu… makhluk hidup?”Raka tidak langsung menjawab. Sistem di depannya berkedip-kedip, mencoba memproses sesuatu yang sangat asing.Leonhart maju setengah langkah, pedang diangkat, namun matanya tak berkedip.Bukan karena keberanian…tapi karena ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Mata itu… bukan milik monster biasa.Bukan milik roh.Bukan pula dari dunia Raka.Itu… sesuatu yang jauh di atas imajinasi mereka.Sistem berbunyi pelan, seperti berusaha berbicara tanpa membuat kegaduhan.【 Deteksi Entitas: Tidak Dapat Diklasifikasikan 】Nama Sementara: “Penjaga Marevos”Tingkat: S (Ancaman Prioritas
Suara mesin di kejauhan itu terus bergema, lebih ritmis, lebih… hidup. Seolah sesuatu yang jauh lebih besar dari robot sebelumnya baru saja diaktifkan.Raka menegakkan tubuhnya dengan napas tersengal, masih menatap bangkai exo-unit yang tergeletak. Leonhart sudah berdiri kembali, memeriksa pedangnya, sementara Elvara membersihkan debu di pipi dan rok sihirnya.“Aku tidak suka suara itu,” gumam Elvara, melirik ke arah hutan yang makin gelap.“Aku juga.” Raka menarik napas panjang. “Tapi—”Sesuatu menghentikan kalimatnya.Sebuah notifikasi transparan berwarna biru muncul di depan wajah Raka.BIP—!Raka membeku. Elvara dan Leonhart memandang ke arahnya, bingung melihat wajah Raka yang tiba-tiba pucat.“Raka…?” Elvara menyentuh bahunya. “Apa yang terjadi?”Raka tidak menjawab. Ia terlalu sibuk membaca.Di depan matanya, teks sistem muncul dengan kejelasan yang tidak pernah ia lihat sejak kedatangannya ke dunia ini.【 SYSTEM REBOOT: 87% → 100% 】【 SISTEM TEKNOLOGI MODERN AKTIF 】Mode: DARU
Suara mesin itu semakin jelas.Bip…Bip…Bip…Ritmenya teratur, dingin, dan sangat asing untuk telinga Elvara maupun Leonhart. Namun bagi Raka, suara itu… hampir seperti mimpi buruk yang kembali hidup.Ia mencengkeram alat scan di tangannya. “Itu bukan sembarang mesin. Itu… scanner medis tipe lama. Model portable.”Leonhart mengangkat alis. “Scanner? Seperti alat yang kau gunakan untuk melihat kondisi tubuh?”“Ya. Tapi aku tidak punya alat secanggih itu di sini. Dan tidak ada yang bisa membuatnya dalam dunia ini.”Raka menelan ludah.“Kecuali seseorang yang punya pengetahuan teknis dari tempat asalku.”Ketiganya bergerak makin dalam. Kabut biru semakin tebal hingga mereka harus menyalakan lampu kristal. Hutan Marevos mengeluarkan suara aneh—seperti bisikan, tapi bukan dari makhluk hidup.Seolah hutan itu sendiri mengingatkan sesuatu… dan tidak suka kedatangan mereka.Elvara memeriksa udara. “Energi liar sangat padat. Ada bekas distorsi ruang… baru saja terjadi.”Raka merespons cepat.
Pagi baru saja menyentuh puncak menara istana ketika Raka berdiri di balkon tertinggi ruang analisis. Angin dingin menerpa wajahnya, tapi pikiran Raka jauh lebih dingin dari itu. Setelah semalam menemukan pola reaktor yang jelas-jelas tidak berasal dari dunia ini, satu kesimpulan mengganggu terus menghantuinya:Ada orang lain yang memahami teknologi modern.Raka menatap pecahan kristal hitam yang ia simpan di saku. Resonator yang meledak itu meninggalkan residu energi aneh—campuran mana dan gelombang elektromagnetik. Campuran seperti itu… tidak mungkin terjadi tanpa pemahaman teknis dari dunia asalnya.Leonhart berjalan mendekat. “Kau tidak tidur?”Raka tersenyum lelah. “Susah tidur kalau dunia kita mungkin mau diledakkan.”Leonhart berdiri di sampingnya. “Aku sudah menempatkan penjaga di seluruh menara timur. Kalau ada pergerakan bayangan atau energi asing, kita tahu.”Raka mengangguk. “Itu belum cukup.”Ia menoleh pada Leonhart—mata yang penuh tekad.“Aku mau pergi ke lokasi resonan







