Home / Romansa / TAWANAN HASRAT SANG MAFIA / Bab 6 - Sial! Ciumannya menghanyutkan

Share

Bab 6 - Sial! Ciumannya menghanyutkan

Author: Farsheed Mo
last update Last Updated: 2024-12-18 11:52:37

Elena hanya mengangguk dan diam melihat pria itu berjalan keluar. 

Beberapa saat kemudian, pria itu kembali dengan menenteng sebuah kotak P3K di tangan kirinya. 

Kemudian, pria itu meletakkan kotak P3K di atas kasur dan duduk di sebelah Elena. Tanpa aba-aba, dia menarik kaki Elena ke pangkuannya. 

“Tunggu…aku…”

Elena merasa tidak enak, sehingga ingin menolak. Tetapi, belum sempat berkata lagi, ucapan Alvaro membuatnya kembali diam.

“Diam!” seru pria itu. 

Elena pun mengatupkan bibirnya rapat, dan menuruti kemauan pria itu. 

Dengan hati-hati Alvaro mengangkat kaki Elena dan meletakkannya di atas pangkuanya. Elena berusaha menutupi gaunnya agar tidak terbuka. Sembari melihat apa yang dilakukan pria itu pada kakinya. 

Alvaro melihat dengan hati-hati dan teliti bagian-bagian mana saja di kakinya yang melepuh akibat teh panas.

“Tahan...”

Elena mengangguk dan mencengkram bantal sofa lebih kencang. Sebab, sedetik kemudian, Alvaro telah mengoleskan salep khusus luka bakar di kakinya.

Seperti seorang dokter, pria itu mengoles dengan lembut dan merata. Sesekali dia meniup kakinya yang terbakar itu. Mata Alvaro sama sekali tak lepas dari luka Elena hingga membuat wanita itu terpaku. 

Sungguh ini sangat mengejutkan, terutama bagi Elena yang kenyang mendengar berita tentang betapa kejamnya Alvaro.

Bagaimana bisa, pria yang terkenal bertangan dingin, kejam dan tak kenal ampun itu dengan begitu telaten mengoles obat untuknya? 

Tanpa sadar, Elena membandingkan perilaku Alvaro dengan Vincent yang sangat  jauh berbeda.

Jangankan merawat luka Elena yang terkena air panas,  pria itu lebih sibuk mengurus bisnis investasinya yang selalu berujung merugi.

Daripada mengobati, Vincent lebih sering memberi Elena luka. Sesaat, Elena merasa tersentuh dengan perlakuan pria itu. 

Setelah semua area yang terluka telah diberikan salep, Alvaro kembali meletakkan kaki Elena.

Namun, gerakan itu malah menyingkap luka lain yang tercetak di paha Elena.

“Luka apa ini?” 

“Ah! Bukan apa-apa, Tuan.” Elena buru-buru menarik turun gaunnya dan menutupi luka itu kembali. “Terima kasih sudah merawat saya.”

Alvaro menatap Elena lama, entah kenapa kali ini tatapan itu terlihat berbeda. 

“Lain kali berhati-hatilah.” 

Melihat Elena mengangguk, Alvaro berdiri dan hendak pergi. Namun, sebelum pria itu benar-benar berdiri,  Elena menahan tangan pria itu dan menatap kedua matanya intens.

“Tunggu! Tuan..”

“Ada apa?” Alvaro menjawab.

“Tolong maafkan para pelayan itu. Sayalah yang bersikeras membantu. Jadi, Anda bisa menghukum saya,” kata Elena.

Alvaro tak bergeming, dia hendak berbalik. Tetapi Elena kembali menarik tangannya. 

“Apapun itu, aku akan melakukannya!” seru Elena. 

Seruan Elena itu membuat Alvaro menatap dalam Elena. Tatapan mata penuh tekad itu membuat Alvaro kembali membuat wajahnya sejajar dengan Elena.

Lalu, tiba-tiba saja sebuah seringai tersungging di bibir pria itu hingga membuat Elena menyesali perkataannya barusan.

“Apa pun itu?” kata Alvaro dengan penuh penekanan.

Elena menelan saliva-nya berat seakan tahu bahwa dirinya telah salah berucap.

Alvaro mendekat tanpa memberikan kesempatan Elena untuk menghindar.  Dengan cepat tangannya memegang wajahnya, memaksa Elena menatapnya. 

Sebelum sempat berkata apa-apa, bibir Alvaro menyentuh bibirnya dengan paksa. 

Ciuman itu sungguh mengejutkan. Mata Elena terbuka lebar, saat bibir pria itu menempel di bibirnya. Dia benar-benar tak menyangka hal itu.

Elena mencoba melawan dengan  mendorong dada Alvaro, tapi pelukan pria itu begitu kuat.

Sentuhan itu perlahan berubah, dari kaku menjadi sangat lembut, tetapi tetap mendominasi. Bibir Alvaro bergerak penuh dan memabukkan, membuat Elena kehilangan kendali.

Ini adalah ciuman pertama Elena, dan sialnya ciuman Alvaro membuat Elena terbuai.

Tangannya yang tadi melawan, perlahan terkulai lemas, pasrah. Membuat Alvaro semakin memperdalam ciuman itu, dia menarik Elena semakin dalam ke pelukannya. 

Hisapan dan tautan dari Alvaro membuat Elena tak lagi bisa menolak hingga tanpa sadar berbalik mencengkeram rambut pria itu, menarik kepala Alvaro lebih rendah ke arahnya dan membalas setiap tautan yang dilakukan Alvaro.

Seolah mendapatkan sambutan, tindakan Elena itu tanpa sadar membangkitkan singa tidur dalam diri Alvaro dan membuat pria itu semakin menggeram.

“Kamu yang memancingku, Elena.”

Perkataan Alvaro membuat Elena tersentak dan seketika tersadar kalau apa yang dia lakukannya ini salah. 

Namun, sudah terlambat, karena pria itu lebih dulu mengunci pergelangan tangannya dan menindihnya di atas ranjang.

“Tu-tuan!” Elena berteriak dengan panik. Bagaimana bisa dia terbuai dan malah menyerahkan dirinya pada Alvaro?! 

Elena panik.

“Sa-saya tidak bisa melakukannya sekarang! Saya… datang bulan.”

“Sebenarnya aku curiga..” Desisan Alvaro membuat tubuh Elena menegang. 

Belum sempat Elena bertanya lebih lanjut, tubuhnya menggelinjang hebat kala Alvaro telah lebih dulu memegang bokongnya dan menekan bagian intinya. Mata Alvaro membulat, seolah menemukan kebenaran dari sebuah kebohongan yang selama ini Elena sembunyikan.

“Kenapa tidak ada yang mengganjal di area ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 89 - Apakah Alvaro Tahu?

    Bab 89Elena terhenyak, melihat siapa yang kini berdiri dengan senyum memuakkan. Dia mundur beberapa langkah saat pria itu mulai mendekat. “Ka…kamu bagaimana bisa?”Suara tawa pria itu semakin keras, seolah pertanyaan yang keluar dari mulut Elena hanya cuitan yang tak berarti. “Apa kamu merindukanku?”Elena mundur, seiring langkah pria itu yang semakin dekat dengannya. Namun…sial!Tubuh Elena terbentur tembok di belakang, hingga tak bisa menghindar lagi. “Berhenti! Bukankah kamu harusnya di penjara. Bagaimana…kamu… bebas?”Pria itu menyeringai, dan berdiri dengan angkuh. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Matanya mulai menyusuri tubuh Elena dari atas hingga bawah. Tangannya mengusap bibirnya, seolah sedang menatap makanan yang menggugah selera.“Sepertinya…Bajingan itu memanjakanmu. Tubuhmu semakin berisi dan terlihat…seksi.”“Tutup mulutmu itu, Vincent!”Perut Elena seperti diaduk-aduk, melihat ekspresi mantan suaminya itu. Rasanya ingin muntah. “Jika Alvaro melihatmu, ka

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 88 - Apa Kabar Mantan Istriku?

    Elena terkikik pelan, matanya berbinar penuh semangat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan impian.“Kalau begitu, siap-siap saja, dompetmu akan kurampok habis-habisan hari ini,” godanya dengan nada centil.Alvaro hanya mengangkat satu alis dan meliriknya sambil membuka pintu mobil. “Merampok dompetku?”Elena mengangguk, matanya menatap dalam Alvaro, menunggu reaksi pria itu. Alvaro mendekatkan wajahnya dan berhenti di sisi telinga Elena. “Mau yang lebih berharga?” tanya Alvaro pelan, hampir berbisik.“Apa?” Elena menatap Alvaro dengan serius. Mata Alvaro kemudian bergerak ke bawah. Memberikan isyarat ke bagian bawahnya. Elena nyaris tersedak saat melihat itu. Wajahnya merah padam. Ia mndelik. Tapi seperti biasa, Alvaro hanya memasang wajah datar. Seolah apa yang dia lakukan itu, hal biasa.“Dasar mesum!”Elena memukul dada Alvaro pelan, membuat pria itu meringis, dia segera bergegas masuk ke dalam mobil. Alvaro hanya tersenyum tipis dan kemudian duduk di samping Ele

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 87 - Banyak Juga Boleh

    Awan mendung menggantung rendah di atas area pemakaman. Rintik hujan tipis turun seolah turut merasakan duka yang membekap hati Elena. Di sisi liang lahat, Elena berdiri kaku, mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya pucat, matanya sembab, namun kali ini ia tak lagi menangis. Di sebelahnya, Alvaro menggenggam tangannya erat, tak melepaskan sedetik pun. Ia menjadi satu-satunya penopang Elena sekarang. Elena menatap nisan baru itu, bibirnya bergetar pelan. "Istirahatlah dengan tenang, Bu… Aku akan hidup lebih baik meski tanpamu." Setelah upacara selesai, Alvaro membawa Elena pulang. Sepanjang perjalanan, Elena bersandar di pundaknya dan terlihat hanya diam. Sesampainya di rumah, Alvaro mengajak Elena duduk di ruang tamu. Ia merogoh saku jas dalamnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru biru tua. “Ini…” ujarnya pelan, lalu menyerahkan kotak itu ke Elena. Dengan tangan gemetar, Elena membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah cincin emas putih sederhana dengan

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 86 - Aku Janji

    Elena masih memberontak di pelukan Alvaro, tangisnya tak kunjung reda. Namun sesaat kemudian, pintu kamar terbuka cepat. Seorang dokter bersama dua perawat masuk dengan langkah tergesa.“Pak, kami harus memberinya penenang,” ucap dokter itu tegas.Alvaro mengangguk cepat dan menyingkir perlahan, meski tangannya masih menggenggam tangan Elena erat-erat.Perawat segera memegangi tubuh Elena. “Tolong tenang, Bu Elena.”Dokter lalu menyuntikkan obat penenang ke lengan Elena. Tubuhnya masih sempat menegang, bibirnya mengucap lirih, “Aku mau Ibu… Aku mau Ibu aku…”Namun perlahan, efek obat itu mulai bekerja. Tubuh Elena melemas, tangisnya melemah menjadi isakan, dan akhirnya matanya tertutup. Hening.Alvaro berdiri terpaku, menatap wajah pucat Elena yang kini terbaring tenang di ranjang. Perasaannya hancur, namun ia berjanji akan menemani Elena melewati masa-masa sulitnya ini. Alvaro pernah merasakan sakitnya kehilangan saat dia ditinggal ibunya. Tetapi mungkin, rasa sakit itu tak seberapa

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 85 - Jika Kamu Mati

    Telepon di tangan Elena hampir terjatuh. Wajahnya seketika pucat pasi, tubuhnya limbung.Melihat perubahan drastis di wajah Elena, Alvaro dengan sigap memegang kedua bahunya. "Apa yang terjadi?"Elena menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Suaranya bergetar saat menjawab, "Ibuku... kritis. Aku harus ke rumah sakit sekarang."Tanpa banyak bertanya lagi, Alvaro langsung meraih kunci mobil dari saku jasnya. "Ayo. Aku antar kamu."Elena mengangguk cepat, cemas. Alvaro menggenggam tangan Elena erat-erat, memberikan kekuatan tanpa berkata apa-apa, lalu mereka berdua bergegas keluar dari ruangan.Di lorong, Jose yang baru saja lewat, melihat mereka dengan heran. Tapi saat menangkap ekspresi panik atasannya, dia segera tahu bahwa ada yang tidak beres. Karena itu, dia hanya menunduk tanpa berkata apa-apa, membiarkan mereka melewatinya begitu saja.Di dalam mobil, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Elena hanya bisa menggenggam erat sabuk pengaman, bibirnya terus-menerus bergumam dalam hati,

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 84 - Gila Karena Kamu

    Elena diam di tempat. Matanya menatap Alvaro tanpa ekspresi. Alvaro yang tidak sabar, berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Elena. Tanpa aba-aba, pria itu langsung mengangkat tubuh Elena di pundaknya bak sebuah karung beras. “Lepaskan, Al. Kita sedang di kantor.” “Tidak peduli,” seru Alvaro. Teriakan Elena tak cukup untuk membuat pria itu menghentikan aksinya. Dari semalam dia sudah menahan diri, sekarang saat masalah sudah selesai. Elena masih bersikap dingin padanya. Itu membuatnya sangat marah. Elena meronta di atas pundak Alvaro, tangannya memukul punggung pria itu dengan sia-sia. "Alvaro! Turunkan aku sekarang juga!" Tapi Alvaro tetap berjalan dengan langkah besar. Para karyawan yang kebetulan lewat di lorong terkejut tapi tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa orang buru-buru menunduk, pura-pura tak melihat. Dengan wajah datar nan tegas, Alvaro membuka pintu lift dan masuk sambil tetap menggendong Elena di pundaknya. Begitu pintu lift menutup, suasana semakin panas. Al

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status