MasukSetelah makan, Elena memilih untuk duduk di sofa sambil membaca majalah di atas meja. Terbiasa melayani Vincent dan melakukan semua pekerjaan sendiri, tak melakukan apa-apa membuatnya merasa bosan.
“Ini teh untuk anda,” kata seorang pelayan yang datang menyodorkan secangkir teh.
Mendengar itu, Elena pun mengangguk mengerti dan berterima kasih.
“Tuan Alvaro belum pernah sama sekali membawa wanita ke rumah ini. Anda tentu wanita spesial untuk Tuan.”
Elena menatap pelayan itu bingung. Kata ‘spesial’ mungkin kurang tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini.
Karena dirinya di rumah ini hanyalah seorang tawanan Alvaro yang dipersiapkan untuk menjadi pemuas hasrat pria itu. Hanya menunggu waktu itu.
Namun, belum sempat Elena menjawab, seorang pelayan lain tiba-tiba datang dari belakang dan melapor dengan wajah pucat.
“Ada masalah di belakang. Tolong bantu aku!” seru pelayan itu.
“Coba selesaikan sendiri, karena aku harus mengirim teh ini ke ruang kerja Tuan Alvaro.”
Jawab pelayan yang berada di depan Elena dengan bingung. Tatapannya lantas tertuju pada nampan dan dapur secara bergantian.
Melihat itu, Elena berinisiatif untuk membantu. “Kamu urus saja masalahnya. Masalah teh, biar saya yang mengantarkannya.”
Perkataan Elena membuat pelayan itu terkejut. “Jangan, Nyonya! Tuan Alvaro pasti akan sangat marah jika kami membiarkan Nyonya bekerja.”
“Tidak apa-apa. Saya akan mengantar teh ini dulu sebelum membantu hal yang lain.” lanjut pelayan itu lagi.
“Tidak masalah! Sungguh. Ini bukan bekerja, tapi membantu. Lagipula, masalahnya terlihat mendesak.” jawab Elena lagi, berusaha untuk meyakinkan.
“Jika terjadi apa-apa, biar saya yang menjelaskannya pada Tuan Alvaro.”
Mendengar itu, kedua pelayan itu saling berpandangan sebelum kemudian menyerahkan nampan berisi teh dan teko itu ke tangan Elena.
“Terima kasih, Nyonya. Ruang kerja Tuan ada di lorong sebelah kiri kamar Anda.”
Elena mengangguk sambil mengambil nampan dari pelayan itu dan mulai melangkah pergi ke arah yang dituju.
Elena berjalan dengan hati-hati dan memastikan kalau dia tak salah masuk ruangan. Sebab, dia tak mau membuat Alvaro marah lagi.
Elena menghela napas lega begitu melihat pintu yang dikatakan oleh pelayan tadi.
Namun, belum sempat tangannya mengetuk pintu, suara kemarahan Alvaro telah membuatnya berhenti bergerak.
“Bunuh saja pembohong itu!”
Nampan di tangan Elena bergetar seketika, rasa takut membuatnya mundur dua langkah. Hingga membuat keseimbangannya tak terjaga.
PYAR!
“Akh!!
Kaki Elena bergetar kesakitan saat teko berisi teh panas mendidih itu pecah dan mengenai kakinya.
Tubuh Elena semakin bergetar karena melihat Alvaro telah berdiri di depannya dengan wajah dingin dan emosi yang terlihat jelas.
Mata elang pria itu langsung membidik tajam ke Elena. “Apa yang kamu lakukan di sini?!”
“T-tuan, saya ingin mengantar teh..”
Mata Alvaro semakin menajam dan sedetik kemudian, suara bariton pria itu menggema di seluruh ruangan. Memanggil seluruh pelayan yang ada di rumah itu.
Kurang dari satu menit, semua pelayan langsung datang dan berbaris di depan mereka sambil menunduk.
Di sisi lain, Elena semakin ketakutan, ditambah dengan rasa sakit di kakinya.
“Siapa yang membiarkan Elena membawa nampan teh? Apa kalian sudah bosan hidup?!” Alvaro berteriak marah.
Melihat itu, tak ada seorang pelayan pun yang menjawab. Alih-alih bersuara, mereka menunduk dalam dengan wajah pucat.
Setelah beberapa detik, salah seorang pelayan maju ke depan dan berlutut sambil berkata dengan suara gemetar.
“Saya, Tuan! Tolong ampuni saya karena telah bersikap lalai!”
Mendengar itu, wajah Alvaro semakin menggelap. Tanpa menunggu waktu lama, dia berteriak memanggil nama seseorang yang pernah Elena dengar.
“Jose!”
Segera setelah itu, seorang pria bertubuh tinggi datang dengan eskpresi tenang. Elena menebaknya sebagai tangan kanan Alvaro, karena hanya pria itu yang berani memandang wajah Alvaro tanpa perlu menunduk ketakutan.
“Ada apa, Tuan?” Jose bertanya. Mata Jose menyapu semua pelayan yang berbaris rapi di depannya. Kemudian beralih ke sosok Elena.
“Pecat mereka semua!”
Semua pelayan di hadapan Alvaro tercengang.
Beberapa bahkan sudah jatuh terduduk dengan wajah berurai air mata, termasuk pelayan yang membiarkan Elena membawa nampan. Wanita itu terduduk lemas dengan raut wajah sedih.
“Tolong jangan pecat mereka, Tuan!”
Tanpa sadar, Elena bangun dan menggenggam tangan Alvaro untuk memohon.
“Saya lah yang akh–! Menawarkan diri untuk membantu. Pelayan itu sama sekali tak bersalah!”
Ringisan itu, Alvaro memicingkan matanya dan kembali melihat ke arah kaki Elena.
Sedetik kemudian, di hadapan semua orang tubuh Elena sudah lebih dulu diangkat ala bridal style oleh Alvaro.
Pria itu dengan kuat membopong dan membaringkannya di kamar miliknya. Tatapan Alvaro mengeras saat melihat beberapa bagian dari kaki Elena memerah dan mulai melepuh. Alvaro kembali berteriak, membuat Elena semakin ketakutan.
“Tunggu di sini dan jangan melakukan apapun!”
Bab 89Elena terhenyak, melihat siapa yang kini berdiri dengan senyum memuakkan. Dia mundur beberapa langkah saat pria itu mulai mendekat. “Ka…kamu bagaimana bisa?”Suara tawa pria itu semakin keras, seolah pertanyaan yang keluar dari mulut Elena hanya cuitan yang tak berarti. “Apa kamu merindukanku?”Elena mundur, seiring langkah pria itu yang semakin dekat dengannya. Namun…sial!Tubuh Elena terbentur tembok di belakang, hingga tak bisa menghindar lagi. “Berhenti! Bukankah kamu harusnya di penjara. Bagaimana…kamu… bebas?”Pria itu menyeringai, dan berdiri dengan angkuh. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Matanya mulai menyusuri tubuh Elena dari atas hingga bawah. Tangannya mengusap bibirnya, seolah sedang menatap makanan yang menggugah selera.“Sepertinya…Bajingan itu memanjakanmu. Tubuhmu semakin berisi dan terlihat…seksi.”“Tutup mulutmu itu, Vincent!”Perut Elena seperti diaduk-aduk, melihat ekspresi mantan suaminya itu. Rasanya ingin muntah. “Jika Alvaro melihatmu, ka
Elena terkikik pelan, matanya berbinar penuh semangat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan impian.“Kalau begitu, siap-siap saja, dompetmu akan kurampok habis-habisan hari ini,” godanya dengan nada centil.Alvaro hanya mengangkat satu alis dan meliriknya sambil membuka pintu mobil. “Merampok dompetku?”Elena mengangguk, matanya menatap dalam Alvaro, menunggu reaksi pria itu. Alvaro mendekatkan wajahnya dan berhenti di sisi telinga Elena. “Mau yang lebih berharga?” tanya Alvaro pelan, hampir berbisik.“Apa?” Elena menatap Alvaro dengan serius. Mata Alvaro kemudian bergerak ke bawah. Memberikan isyarat ke bagian bawahnya. Elena nyaris tersedak saat melihat itu. Wajahnya merah padam. Ia mndelik. Tapi seperti biasa, Alvaro hanya memasang wajah datar. Seolah apa yang dia lakukan itu, hal biasa.“Dasar mesum!”Elena memukul dada Alvaro pelan, membuat pria itu meringis, dia segera bergegas masuk ke dalam mobil. Alvaro hanya tersenyum tipis dan kemudian duduk di samping Ele
Awan mendung menggantung rendah di atas area pemakaman. Rintik hujan tipis turun seolah turut merasakan duka yang membekap hati Elena. Di sisi liang lahat, Elena berdiri kaku, mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya pucat, matanya sembab, namun kali ini ia tak lagi menangis. Di sebelahnya, Alvaro menggenggam tangannya erat, tak melepaskan sedetik pun. Ia menjadi satu-satunya penopang Elena sekarang. Elena menatap nisan baru itu, bibirnya bergetar pelan. "Istirahatlah dengan tenang, Bu… Aku akan hidup lebih baik meski tanpamu." Setelah upacara selesai, Alvaro membawa Elena pulang. Sepanjang perjalanan, Elena bersandar di pundaknya dan terlihat hanya diam. Sesampainya di rumah, Alvaro mengajak Elena duduk di ruang tamu. Ia merogoh saku jas dalamnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru biru tua. “Ini…” ujarnya pelan, lalu menyerahkan kotak itu ke Elena. Dengan tangan gemetar, Elena membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah cincin emas putih sederhana dengan
Elena masih memberontak di pelukan Alvaro, tangisnya tak kunjung reda. Namun sesaat kemudian, pintu kamar terbuka cepat. Seorang dokter bersama dua perawat masuk dengan langkah tergesa.“Pak, kami harus memberinya penenang,” ucap dokter itu tegas.Alvaro mengangguk cepat dan menyingkir perlahan, meski tangannya masih menggenggam tangan Elena erat-erat.Perawat segera memegangi tubuh Elena. “Tolong tenang, Bu Elena.”Dokter lalu menyuntikkan obat penenang ke lengan Elena. Tubuhnya masih sempat menegang, bibirnya mengucap lirih, “Aku mau Ibu… Aku mau Ibu aku…”Namun perlahan, efek obat itu mulai bekerja. Tubuh Elena melemas, tangisnya melemah menjadi isakan, dan akhirnya matanya tertutup. Hening.Alvaro berdiri terpaku, menatap wajah pucat Elena yang kini terbaring tenang di ranjang. Perasaannya hancur, namun ia berjanji akan menemani Elena melewati masa-masa sulitnya ini. Alvaro pernah merasakan sakitnya kehilangan saat dia ditinggal ibunya. Tetapi mungkin, rasa sakit itu tak seberapa
Telepon di tangan Elena hampir terjatuh. Wajahnya seketika pucat pasi, tubuhnya limbung.Melihat perubahan drastis di wajah Elena, Alvaro dengan sigap memegang kedua bahunya. "Apa yang terjadi?"Elena menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Suaranya bergetar saat menjawab, "Ibuku... kritis. Aku harus ke rumah sakit sekarang."Tanpa banyak bertanya lagi, Alvaro langsung meraih kunci mobil dari saku jasnya. "Ayo. Aku antar kamu."Elena mengangguk cepat, cemas. Alvaro menggenggam tangan Elena erat-erat, memberikan kekuatan tanpa berkata apa-apa, lalu mereka berdua bergegas keluar dari ruangan.Di lorong, Jose yang baru saja lewat, melihat mereka dengan heran. Tapi saat menangkap ekspresi panik atasannya, dia segera tahu bahwa ada yang tidak beres. Karena itu, dia hanya menunduk tanpa berkata apa-apa, membiarkan mereka melewatinya begitu saja.Di dalam mobil, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Elena hanya bisa menggenggam erat sabuk pengaman, bibirnya terus-menerus bergumam dalam hati,
Elena diam di tempat. Matanya menatap Alvaro tanpa ekspresi. Alvaro yang tidak sabar, berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Elena. Tanpa aba-aba, pria itu langsung mengangkat tubuh Elena di pundaknya bak sebuah karung beras. “Lepaskan, Al. Kita sedang di kantor.” “Tidak peduli,” seru Alvaro. Teriakan Elena tak cukup untuk membuat pria itu menghentikan aksinya. Dari semalam dia sudah menahan diri, sekarang saat masalah sudah selesai. Elena masih bersikap dingin padanya. Itu membuatnya sangat marah. Elena meronta di atas pundak Alvaro, tangannya memukul punggung pria itu dengan sia-sia. "Alvaro! Turunkan aku sekarang juga!" Tapi Alvaro tetap berjalan dengan langkah besar. Para karyawan yang kebetulan lewat di lorong terkejut tapi tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa orang buru-buru menunduk, pura-pura tak melihat. Dengan wajah datar nan tegas, Alvaro membuka pintu lift dan masuk sambil tetap menggendong Elena di pundaknya. Begitu pintu lift menutup, suasana semakin panas. Al







