Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 53 – Malam yang Tidak Mau Diam

Share

Bab 53 – Malam yang Tidak Mau Diam

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-01-20 14:05:59

Angin malam menyusup di sela-sela jendela rumah Pak Seno, membawa hawa dingin yang terasa lebih berat dari biasanya. Aruna masih terjaga, duduk bersandar di dinding kamar perempuan, memeluk lututnya. Bisikan itu yang muncul di masih bergema jelas di kepalanya. Bukan suara keras, bukan pula jeritan. Tapi justru karena terlalu pelan, terlalu dekat, suara itu terasa seperti bernafas di tengkuknya sendiri.

“Aruna… pulanglah…”

Ia menutup telinganya rapat-rapat. Namun bisikan itu tidak berasal da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 275 H DUNIA SETELAH KEHILANGAN

    Cahaya portal di ujung ruang itu terus berkedip tidak stabil. Retakan besar menyebar ke mana mana, membuat seluruh tempat terasa seperti akan hancur dalam hitungan detik.Pelangi menggenggam Asa erat sambil berlari.“Atas sana! Cepat!”Aruna bergerak lebih dulu melewati serpihan cahaya yang terus berjatuhan. Sosok besar mengikuti di belakang mereka sambil terus mencatat keadaan ruang yang semakin kacau.“Integritas ruang tersisa dua belas persen.”Pelangi langsung panik.“Bisa nggak sih ngomong yang nggak bikin stres?!”Namun tidak ada yang menjawab.Karena semua orang tahu…keadaan mereka memang sedang buruk.Asa bergerak di samping Pelangi tanpa banyak bicara.Cahayanya redup.Sangat redup.Pelangi meliriknya beberapa kali dengan khawatir.“Asa…”Asa tidak menjawab.Ia masih terlihat kosong setelah kepergian Eren.Dan itu membuat hati Pelangi terasa berat.Dummm!Lantai di belakang mereka runtuh besar sekali.Pelangi refleks mempercepat langkah.“Cepat!”Portal bercahaya itu kini te

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 274 _ SAAT DUNIA MULAI RUNTUH

    Retakan besar di bawah mereka terus melebar. Cahaya putih yang selama ini memenuhi ruang perlahan runtuh menjadi serpihan serpihan kecil seperti kaca pecah yang jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar.Pelangi hampir kehilangan pijakan saat lantai di bawahnya berguncang hebat.“Asa!”Ia menggenggam cahaya Asa kuat kuat.Asa bergerak mendekat refleks.“…Pelangi…”Suara runtuhan terdengar dari segala arah. Langit ruang itu juga mulai retak semakin parah, memperlihatkan pusaran hitam besar di baliknya.Aruna berdiri menjaga keseimbangan sambil melihat sekeliling.“Ruang ini tidak akan bertahan lama.”Sosok besar langsung mencatat.“Perkiraan kehancuran total semakin dekat.”Pelangi langsung panik.“Terus kita harus gimana?!”Sosok tinggi itu menatap retakan di langit.“Kita harus keluar sebelum inti ruang hancur sepenuhnya.”Eren masih berdiri di dekat pintu yang nyaris pecah total. Cahaya hitam di tubuhnya bergerak tidak stabil mengikuti runtuhnya tempat itu.Ia memandang sekeliling perlah

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 273 - ORANG YANG MENARIK ASA KEMBALI

    Cahaya hitam itu terus merambat dari tangan Eren menuju tubuh Asa perlahan seperti akar gelap yang hidup. Seluruh ruang dipenuhi getaran aneh yang membuat udara terasa semakin berat.Pelangi langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa sakit akibat terpental tadi.“Asa!”Asa menoleh sedikit.Cahayanya berkedip kacau.“…Pelangi…”Namun tangan Eren masih mencengkeramnya erat.Tatapan gelap itu tidak berpindah sedikit pun dari Asa.“Aku sudah terlalu lama sendirian,” katanya pelan.Pelangi menggigit bibir kuat kuat.“Aku bilang lepasin dia!”Ia mencoba mendekat lagi.Namun kali ini Aruna langsung menahan lengannya.“Tunggu.”Pelangi langsung menoleh kesal.“Nunggu apalagi?!”Aruna menatap Eren serius.“Kalau kau bergerak sembarangan sekarang, energi mereka bisa bentrok.”Sosok besar langsung menambahkan.“Kemungkinan kehancuran ruang meningkat drastis.”Pelangi mengepalkan tangan.Ia benci harus diam saat Asa terlihat kesakitan.Eren perlahan mendekatkan wajahnya ke Asa.“Aku terus meman

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 272 - JANGAN PERGI SENDIRI LAGI

    Retakan di pintu itu terus menyebar seperti luka yang tidak bisa dihentikan. Cahaya hitam keluar semakin banyak, membuat seluruh ruang terasa dingin dan berat.Tangan Eren kini sudah sepenuhnya mencengkeram sisi pintu.Perlahan.Namun pasti.Ia sedang mencoba keluar.Pelangi masih menggenggam cahaya Asa erat erat. Jantungnya berdetak kacau saat melihat Asa melangkah maju tadi.Ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya muncul sepenuhnya.Bukan takut pada kehancuran.Bukan takut pada Eren.Namun takut kehilangan Asa.“Asa…” suaranya pelan namun bergetar.Asa menoleh perlahan.Cahayanya bergerak tidak stabil.“…aku harus…”“Nggak,” potong Pelangi cepat.Ia menggenggam cahaya itu semakin erat.“Kamu jangan ngomong kayak mau ninggalin aku.”Sunyi.Kalimat itu membuat Asa langsung diam.Bahkan retakan pintu yang terus berbunyi terasa seperti menjauh beberapa detik.Eren memperhatikan mereka dari balik celah pintu.Matanya yang gelap bergerak perlahan.“Masih sama seperti dulu.”Pelangi la

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 271 - PENANTIAN YANG BERUBAH MENJADI GELAP

    Retakan di pintu itu terus melebar perlahan. Cahaya hitam yang keluar darinya mulai memenuhi udara di sekitar mereka seperti kabut tipis yang hidup.Pelangi berdiri di depan Asa tanpa sadar. Tangannya sedikit gemetar, namun ia tetap tidak mundur.Entah kenapa…semakin lama mendengar suara Eren…semakin terasa bahwa sesuatu dalam dirinya telah berubah terlalu jauh.Asa masih menunduk.Cahayanya tidak stabil.“…Eren…”Suara itu terdengar seperti bisikan penuh rasa bersalah.Dari balik pintu, mata gelap itu tetap memandang lurus ke arah Asa.“Akhirnya kau masih mengingat namaku.”Sunyi.Namun kali ini…sunyi itu terasa seperti luka yang membuka dirinya perlahan.Pelangi menoleh sedikit ke arah Asa.“Kamu… dekat sama dia ya…”Asa diam cukup lama.Lalu perlahan berkata.“…dia… sahabat…”Kalimat itu membuat dada Pelangi terasa sesak.Karena sekarang semuanya mulai masuk akal.Rasa bersalah Asa begitu besar bukan hanya karena kehilangan seseorang.Namun karena yang hilang adalah orang yang s

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 270 - SOSOK DI BALIK RETAKAN

    Suara dentuman dari pintu itu terus menggema ke seluruh ruang. Setiap bunyinya terdengar berat, seperti sesuatu yang sangat besar sedang mencoba menghantam dari sisi lain.Dummm…Retakan cahaya di permukaan pintu semakin melebar sedikit demi sedikit.Pelangi berdiri mematung sambil menggenggam cahaya Asa lebih erat. Jantungnya berdetak sangat cepat.“Aku serius… ini nggak normal…”Aruna menatap pintu itu tanpa berkedip.“Memang bukan.”Sosok besar langsung mencatat.“Tekanan energi meningkat drastis.”Asa gemetar di samping Pelangi.“…dia… bangun…”Pelangi langsung menoleh.“Siapa dia…”Namun Asa hanya menunduk.Cahayanya bergerak kacau.Seperti ketakutan lama yang kembali muncul seluruhnya.Sosok tinggi itu melangkah mendekati pintu perlahan.“Aku tidak menyangka segelnya melemah secepat ini.”Pelangi langsung berkata cepat.“Kalau emang berbahaya kenapa nggak ditahan!”Sosok itu diam beberapa detik.Lalu menjawab pelan.“Karena segel itu terhubung dengan Asa.”Sunyi.Pelangi langsun

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 84 – Ketika Tirai Tidak Lagi Tertutup

    Pagi itu, Aruna terbangun sebelum matahari benar-benar muncul.Bukan karena mimpi buruk.Bukan pula karena suara apa pun.Ia terbangun karena sunyi.Sunyi yang terlalu rapi, terlalu bersih seolah dunia menahan napas. Aruna membuka mata perlahan. Langit-langit kamar tampak sama, tapi ada sesuatu yan

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 83 – Setelah Malam Itu

    Pagi datang tanpa suara. Tak ada kokok ayam. Tak ada suara ibu-ibu desa menyapu halaman. Bahkan angin pun seolah enggan berhembus. Desa itu bangun dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar seperti seseorang yang baru saja melewati mimpi buruk dan belum yakin apakah ia sudah terjaga. Aruna membuk

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 82 – Harga dari Sebuah Janji

    Gelap menelan pesarean itu sepenuhnya.Tak ada bulan. Tak ada bintang. Bahkan cahaya senter yang tadi sempat berkedip kini benar-benar mati, seolah malam menutup mata dunia dengan paksa. Hanya bau kemenyan yang semakin pekat dan suara tembang sinden yang menggema dari segala arah.Aruna berdiri kak

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab - 81 Tembang yang Kembali Menagih

    Malam turun perlahan di desa itu, seolah sengaja menunda gelap agar setiap orang sempat menyiapkan diri. Namun justru penundaan itulah yang membuat jantung Aruna berdegup tak karuan. Senja yang memerah di ufuk barat tampak seperti luka lama yang kembali terbuka—indah, tapi menyimpan peringatan.Di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status