LOGINMak Acih, seorang pemandi jenazah yang berasal dari Desa Cijeruk, dusun kecil di kaki Gunung Salak. Bersama Neneng, sang keponakan, ia menjalani profesi yang enggan dilakoni oleh para penduduk di desanya. Berbagai kisah dari beberapa jenazah yang ia urus, memberi banyak pelajaran moral bagi siapa pun yang menjadi saksi hidup.
View MoreMenjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis.
Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di alam kubur kelak. Profesi yang memang tidak memberi penghasilan besar, karena seorang Mak Acih tidak pernah mematok tarif. Ia selalu mensyukuri berapa pun bayaran yang ia terima dari keluarga Almarhumah. Selalu berusaha menahan diri untuk tidak membicarakan aib sang jenazah. Karena terkadang lidah selalu terpancing untuk ber-ghibah, membicarakan segala aib yang terbawa dan melekat di tubuh si Fulanah saat mereka dimandikan. “Hukumna nya eta fardhu kifayah, Acih. Lamun maneh tos mandikeun, saterusna kawajiban keur nu sejen keur mandikeun tos gugur.” (Hukumnya adalah fardu kifayah, Acih. Kalau kamu sudah memandikan, maka kewajiban bagi yang lain untuk memandikan sudah gugur.) Begitu pesan Almarhumah ibunya yang sudah lebih dulu menekuni profesi ini. Sebuah pekerjaan yang akhirnya ia teruskan sampai sekarang. Sayangnya, di usia yang kini menginjak 65 tahun, tak satu pun dari dua anak perempuannya yang mau meneruskan pekerjaan itu. Mak Acih memiliki tiga orang anak. Dua perempuan dan satu orang laki-laki. Semuanya sudah menikah dan tinggal terpisah di rumah masing-masing. Sesekali mereka datang menengok dan menginap di rumah Mak Acih yang kini tinggal berdua saja dengan Aki Amin, suami yang sudah mendampinginya selama hampir setengah abad. Aki Amin berusia 70 tahun. Meski sepuh, tubuhnya masih bugar dan kuat. Beliau bekerja sebagai petani dan memelihara ternak di belakang rumah. Tak jauh-jauh dari profesi sang istri, saat ada yang meninggal, Aki Amin kerap dipanggil untuk membantu menggali makam dan mengubur jenazah. Desa Cijeruk. Sebuah desa kecil di kaki Gunung Salak. Di desa berhawa sejuk dan bertanah subur ini, tak banyak yang berminat menjadi seorang pemandi jenazah. Maka, Mak Acih sangat bersyukur ketika Neneng, sang keponakan, anak bungsu dari Almarhum kakaknya, mau saja saat ditawari membantunya memandikan jenazah. Sejak itu, Neneng yang seorang ibu muda berusia 28 tahun, mulai sering diajak oleh Mak Acih, menjadi asistennya. “Urutan pertama yang berhak memandikan jenazah seorang perempuan, adalah suaminya. Kemudian kerabat dekatnya, perempuan lain yang bisa tetangganya. Bisa juga laki-laki, tapi masih Mahram buat si perempuan, misal, anak laki-laki," pesan Mak Acih saat pertama kali mengajari Neneng memandikan jenazah. Selanjutnya, Mak Acih mengajari ibu satu anak itu dengan langsung praktik memandikan jenazah seorang perempuan yang meninggal tadi pagi. ... Namanya Lilis. Janda satu anak berusia kira-kira tiga puluh tahun. Sepuluh tahun terakhir, perempuan cantik itu pergi mengadu nasib ke Jakarta. Meninggalkan putranya yang sejak kecil diasuh oleh sang nenek. Tepatnya sejak Aris, suami Lilis, pergi meninggalkan perempuan bertubuh semampai itu karena terpikat oleh janda kaya dari kampung tetangga. Demi menyambung hidup karena Aris tak lagi menafkahi buah hatinya, Lilis memutuskan menerima ajakan seorang teman yang sudah lebih dulu merantau mengadu nasib di ibukota. Namun, beberapa bulan lalu, Lilis pulang ke kampung halaman dalam keadaan sakit. Perempuan berambut panjang itu mulai menolak makan, karena kerap merasa mual yang kadang disertai muntah saat memaksakan makanan masuk dalam perut. Matanya sayu dengan kornea berwarna kuning, pun demikian dengan kulitnya yang berubah warna menjadi kuning tak lazim. Perutnya membesar, kontras dengan tubuh yang kurus berbalut tulang. Lilis kerap merasakan gatal di sekujur tubuh, yang tak hilang meski sudah digaruk dengan kasar. Dokter mendiagnosis, Lilis terkena penyakit lever akut, yang dengan cepat menggerogoti kesehatannya. Kini penyakit itu sudah sampai pada stadium akhir dan mengakibatkan ‘gagal hati’, yang berarti organ vital itu telah rusak, sehingga menyebabkan hilangnya fungsi organ ini secara menyeluruh. Dan setelah berbulan-bulan hidup menderita, terkungkung penyakit yang tak memiliki harapan sembuh, dini hari itu, Lilis akhirnya menyerah pada takdir. “Neng, tos disiapkeun sadayana?” tanya Mak Acih seraya memakai selendangnya untuk menutupi rambut. (Sudah disiapkan semuanya?) “Kain kafan, kapas, sabun, sampo, serbuk daun bidara, minyak wangi, terus, apa lagi, Bi?” Neneng memasukkan satu persatu bahan-bahan itu dalam tas anyaman daun pandan. “Tikar daun pandan sama kapur barus, Neng. Itu di lemari Bibi.” Mak Acih menunjuk lemari tua yang ada di sudut ruangan. Neneng bergegas menuju lemari yang dimaksud. “Ini sudah lengkap, Bi?” tanya Neneng. Mak Acih kembali memeriksa tas di tangan Neneng, lalu mengangguk. "Mamang henteu milu, Bi?" Neneng menanyakan Aki Amin. (Paman tidak ikut, Bi?) "Sudah pergi dari tadi buat gali kuburan. Hayu!” ajak Mak Acih. Neneng mengangguk seraya menarik nafas panjang guna menghilangkan gugup di hati. Ini pertama kalinya ia menemani Mak Acih memandikan jenazah. Sejujurnya, motivasi Neneng menjadi asisten Mak Acih, bukanlah amal semata. Namun lebih kepada materi. Kebutuhan rumah tangga semakin banyak, apalagi tahun ini, Rian, anak laki-lakinya akan memasuki bangku SMP, membuat Neneng harus menabung biaya kelulusan SD sejak jauh-jauh hari. Penghasilan sang suami yang tak selalu bisa diandalkan, membuat Neneng menerima pekerjaan serabutan apa saja, termasuk menjadi asisten bibinya. ... Bendera kuning yang berkibar di gang menuju rumah Lilis, menyambut kedatangan Mak Acih dan Neneng. Rumah itu sudah ramai dipenuhi pelayat. Mata-mata sembab dan wajah yang menyiratkan duka, seolah menyiratkan tanya, ‘Banyakkah yang menangisiku, saat waktu itu tiba?’ Neneng melewati beberapa pelayat, sembari mengucap permisi dan tersenyum pada beberapa orang yang ia kenal. “Sepertinya bukan sakit lever.” “Sakit AIDS.” “Meuren baheula keur di Jakarta, manehna damel janteun awewe teu bener." (Mungkin dulu waktu di Jakarta, dia kerja jadi perempuan tidak baik.) Bisik-bisik samar itu tertangkap oleh telinga Neneng yang langsung mengernyitkan dahi. 'AIDS itu apa?’ tanya Neneng dalam hati. Ia menoleh pada sekumpulan perempuan yang sedang bergerombol di salah satu sudut pekarangan. Salah seorang dari mereka kemudian menyadari, Neneng tengah mencuri dengar pergunjingan itu. Ia memberi isyarat tangan agar teman-temannya berhenti bergosip. Seolah mengerti, tanpa disuruh dua kali, gerombolan itu kemudian membubarkan diri sambil tertunduk memalingkan wajah. Mungkin merasa malu karena terciduk mengghibahi seseorang yang sudah meninggal. Tanpa banyak kata, Neneng kembali mengikuti Mak Acih memasuki rumah yang tergolong mewah itu. Rumah yang konon dibangun Lilis dari hasil bekerja di Jakarta. Isak tangis terdengar di salah satu ruangan. Berkumpul mengelilingi sesosok jenazah yang dari leher sampai ujung kaki ditutupi kain batik panjang, sementara pada wajahnya ditutupi kain tipis berwarna putih. Mak Acih duduk di samping jenazah Lilis, beberapa orang menghampiri Mak Acih mengajak bersalaman, sementara Neneng duduk di samping sang bibi, bingung harus berbuat apa. “Atun, tempat mandinya sudah disiapkan?” tanya Mak Acih pada seorang perempuan paruh baya, yang merupakan ibu dari Almarhumah. “Sudah, Mak. Di sebelah sana. Ayo kalau mau dilihat dulu,” ajak Atun. Mak Acih mengangguk, seraya menuju teras samping, di mana sudah disiapkan beberapa batang pohon pisang yang di susun sedemikian rupa untuk tempat memandikan jenazah. “Air, gayung, kain panjang, handuknya, sama sikat gigi, sudah semua, Tun?” tanya Mak Acih. “Sudah, Mak. Nanti sikat gigi bekas Lilis mau saya ambilkan dulu.” Atun pamit pergi ke dalam rumah. Tak lama, perempuan bertubuh kurus itu kembali, dan menyerahkan sebatang sikat gigi pada Mak Acih. Setelah semuanya dirasa siap, jenazah Lilis kemudian dibawa dan ditidurkan di atas susunan batang pisang. Kain-kain panjang yang dibentangkan mengelilingi tempat pemandian, dan difungsikan sebagai tirai, satu persatu mulai diturunkan untuk menutupi proses pemandian agar jangan sampai terlihat oleh orang lain selain pihak keluarga.Beberapa hari terakhir, udara Desa Cijeruk terasa kurang nyaman di kulit. Dikarenakan, cuaca berawan menyebabkan radiasi panas matahari yang menyinari permukaan bumi, tertahan oleh awan saat akan terpantul kembali ke angkasa, sehingga membuat cuaca menjadi lembap. Biasanya sengatan panas itu akan menguap seiring turun hujan. Setelahnya, suasana sejuk akan kembali dapat dirasakan warga Desa Cijeruk.Siang itu, Mak Acih berjalan seorang diri. Melangkah menyusuri jalan setapak di pinggir areal persawahan desa yang menghampar luas. Ia baru saja pulang dari mengantar makan siang untuk Aki Amin. Sudah seminggu ini, sang suami bekerja menggarap sawah milik Haji Kosim, salah satu juragan beras di desanya.Sekalian lewat, sepulangnya dari sawah, Mak Acih berencana membeli sayur di warung milik Ipat, tetangga desa. Ketika sebuah suara tertangkap gendang telinga Mak Acih kala melewati rumah Kokom, seorang teman sebayanya.“Mak! Ih, malu itu dilihatin orang. Bajunya dipakai dulu kalau mau kelua
Mak Acih berpesan pada Neneng agar membuatkan kafan untuk Asih, sementara ia meminta ijin memakai kamar kosong untuk mengganti pakaiannya yang basah. Untung saja Mak Acih selalu membawa baju ganti saat sedang bekerja. Bekal tambahan kalau sewaktu-waktu dibutuhkan.Selesai berganti baju, Mak Acih kembali menemui Neneng yang masih menggunting-gunting kain kafan untuk Asih. Mak Acih bergegas membantu menggelar kain kafan di samping jenazah.Lembar demi lembar kain terpasang, sesudahnya kemudian dialasi lembaran kapas pada lapisan teratas. Mak Acih meletakkan jenazah Asih di atas lembaran kapas tadi. Plasentanya ikut dibungkus dengan kain kafan dan diletakkan di bagian bawah lutut, sementara tali pusat yang masih terhubung, dibungkus dengan kapas. Helai demi helai kafan kemudian ditutup dan diikat, dengan hanya menyisakan bagian wajah yang tetap dibiarkan terbuka.“Silakan yang mau lihat wajah Almarhumah buat yang terakhir, sebelum kafannya Emak tutup.” Mak Acih memandang berkeliling, la
Neneng dan Mak Acih memasuki rumah duka yang sudah dipenuhi para pelayat. Keluarga tampak berkumpul mengelilingi jenazah Imah, sementara isak tangis terdengar disela-sela suara orang yang riuh mengaji. Mak Acih menyalami Eti, ibunda Imah yang langsung menangis dalam pelukannya. “Sing sabar, Ti. Karunya ka Imah. Jangan ditangisi terus.” Mak Acih menepuk-nepuk bahu Eti untuk menguatkan hati perempuan paruh baya itu. (Yang sabar, Ti. Kasihan ke Imah.) Mak Acih kemudian bersalaman dengan beberapa orang kerabat Imah, termasuk Iksan, suami dari Almarhumah. Pria muda itu tampak muram. Matanya sembab dan memerah. Kesedihan masih tampak di raut wajahnya. Mang Sukri yang selamat dari kecelakaan dan hanya mengalami patah tulang pada bagian tangan kirinya, turut pula hadir di sana. Pria kurus itu berulang kali meminta maaf pada keluarga, yang sudah mengikhlaskan kepergian Imah. Sebuah suratan yang tak dapat ditolak. Ingin menuntut tanggung jawab materi pun percuma. Mang Sukri bukanlah oran
Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cijeruk. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka.Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cijeruk, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi yang terkadang membuat lupa. Menyilaukan mata dengan keindahannya yang membuai. Merelakan cita-cita yang semasa hidup belum sempat terlaksana. Dan pergi hanya menyisakan kenangan, entah memori indah atau buruk pada sanak kerabat yang walau berat, tetap harus rela si Fulanah tinggalkan.Adalah Imah. Seorang ibu muda berusia 25 tahun. Tujuh tahun berumah tangga, namun Sang Mahakuasa, belum kunjung menganugerahi buah hati yang lama diidamkan Imah dan sang suami. Tak putus asa, berbagai metode untuk kesuburan pun mereka coba. Dan ikhtiar itu membuahkan hasil. Imah akhirnya dinyatakan hamil.Manusia adalah makhluk tak berdaya kuasa, karena segala takdir merupakan milik Sang Raja Manusia. Di usia
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.