LOGINMak Acih, seorang pemandi jenazah yang berasal dari Desa Cialas, dusun kecil di kaki Gunung Salak. Bersama Neneng, sang keponakan, ia menjalani profesi yang enggan dilakoni oleh para penduduk di desanya. Berbagai kisah dari beberapa jenazah yang ia urus, memberi banyak pelajaran moral bagi siapa pun yang menjadi saksi hidup.
View MoreDini hari yang sunyi. Kabut tebal perlahan turun menyelimuti Desa Cialas.Di sepertiga malam yang dingin itu, Mak Acih baru saja selesai melaksanakan Salat Tahajud. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan bersama Aki Amin.Usai mengucap salam, Mak Acih menangkupkan kedua telapak tangan mendoakan seluruh keluarganya. Meminta ampunan serta kelapangan kubur bagi mereka yang telah meninggal, juga memohon keselamatan, dan kesehatan bagi sanak saudara yang masih hidup, lalu berdzikir lama.Baru kemudian ia mengadu. Berkeluh tentang keresahannya. Setelah seminggu, sejak bencana longsor terjadi, Mak Acih tidak memiliki banyak waktu mencurahkan kegalauan dalam keheningan pada Sang Khalik.
Neneng menatap jenazah Mak Acih yang sudah dikafani dan disemayamkan di ruang tamu rumahnya. Menunggu untuk diberangkatkan ke masjid dan disalatkan.Raut wajah sang bibi tampak tenang dan damai. Seperti sedang tertidur. Seolah ia pergi tanpa beban dan penyesalan.Setitik air mata perlahan jatuh menetesi pipi Neneng. ‘Ah, Bibi, lihatlah mereka semua yang datang, ingin mengucapkan salam perpisahan yang terakhir untukmu.’ Neneng berbisik dalam hati, menatap sekelilingnya yang penuh dengan manusia.Mereka semua hendak memberikan penghormatan terakhir, dengan mendoakan sang pemandi jenazah yang terkenal amanah dalam menjalankan tuga
Subuh yang syahdu. Matahari pagi masih malu-malu menampakkan cahaya hangatnya.Neneng membuka pintu belakang rumah Mak Acih, hendak menuju ke kamar mandi yang terpisah dari rumah induk. Ketika dilihatnya Mak Acih sedang menimba air dari sumur tersebut.Dihampirinya sang bibi yang tak menyadari kehadirannya.
“Bukit Hejo memang benar dikeramatkan oleh leluhur kita.”Suara gumaman berhenti. Mereka semua fokus menyimak ucapan Ustadz Agum selanjutnya.“Kalau saya, ambil pengertiannya begini, Bukit Hejo sengaja dikeramatkan, agar ada semacam perasaan sungkan, kalau kita sebagai warga Desa Cialas sengaja mau merusak atau membabat habis pepohonan di hutan tersebut.”
“Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya
Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m
Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah
Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore