Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 132 – Panggilan dari Simpul Lain

Share

Bab 132 – Panggilan dari Simpul Lain

Penulis: Vika moon
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-28 09:50:34

Bab 133 – Panggilan dari Simpul Lain

Sejak malam ketika Aruna bermimpi melihat siluet-siluet berdiri di simpul yang berbeda, tidur tak lagi terasa seperti jeda. Ia bukan hanya beristirahat ia seolah menyeberang.

Dan malam itu, penyeberangan itu menjadi lebih jelas.

Aruna berdiri di dalam ruang yang bukan taman, bukan gedung tua, bukan kos. Ia berdiri di hamparan gelap yang luas, namun tidak menakutkan. Di bawah kakinya, jaringan cahaya membentang seperti sungai-sungai tipis yang saling terhubun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 133 – Simpul Ketiga

    Pertemuan dengan Hana mengubah segalanya.Bukan karena ada kekuatan baru yang muncul secara dramatis, bukan karena retakan besar tiba-tiba menganga di langit kota. Justru sebaliknya karena semuanya terasa lebih tenang.Terlalu tenang.Aruna berdiri di balkon kos pada suatu malam, memandang lampu-lampu kota yang berkedip di kejauhan. Di bawah permukaan tanah, ia bisa merasakan jaringan itu berdenyut stabil. Simpul taman. Simpul sungai. Keduanya saling terhubung seperti dua jantung yang berdetak selaras.Namun di balik kestabilan itu, ada ruang kosong.Seperti kursi yang belum terisi.Ia menutup mata.Dan di sanalah ia merasakannya lagi.Simpul ketiga.“Rumah sakit lama,” gumam Aruna keesokan paginya.Mereka berkumpul di taman seperti biasa—Pelangi dengan wajah penasaran, Embun dan Bulan saling berbisik, Bima dan Bagas terlihat siaga, Alvaro tenang seperti biasa, Hileon mengamati dalam diam. Hana juga hadir, berdiri sedikit canggung namun tak lagi sendirian.“Kamu yakin?” tanya Hileon.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 132 – Panggilan dari Simpul Lain

    Bab 133 – Panggilan dari Simpul LainSejak malam ketika Aruna bermimpi melihat siluet-siluet berdiri di simpul yang berbeda, tidur tak lagi terasa seperti jeda. Ia bukan hanya beristirahat ia seolah menyeberang.Dan malam itu, penyeberangan itu menjadi lebih jelas.Aruna berdiri di dalam ruang yang bukan taman, bukan gedung tua, bukan kos. Ia berdiri di hamparan gelap yang luas, namun tidak menakutkan. Di bawah kakinya, jaringan cahaya membentang seperti sungai-sungai tipis yang saling terhubung.Simpul tempat ia berdiri berpendar stabil.Namun di kejauhan sebuah simpul lain berkedip cepat.Bukan retakan.Bukan pertumbuhan liar.Melainkan panggilan.Aruna melangkah satu langkah ke arah cahaya itu—dan ruang di sekitarnya berubah.Ia tidak lagi melihat jaringan dari atas.Ia berdiri di tepi sungai tua di bagian utara kota.Airnya gelap, arusnya pelan, namun di bawah permukaan ada cahaya yang bergetar.Dan di seberang sungai—Seorang gadis berdiri.Rambutnya panjang, tergerai diterpa ang

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 131 – Jaringan yang Terbangun

    Sejak retakan di gedung tua itu tertutup, kota tidak benar-benar kembali seperti semula.Semua tampak normal di permukaan. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa. Orang-orang berangkat kerja, anak-anak sekolah, pedagang membuka lapak sejak pagi. Tidak ada langit gelap, tidak ada kabut mencurigakan.Namun Aruna tahu.Ada sesuatu yang berubah.Bukan pada dunia luar.Melainkan pada dirinya.Tiga hari setelah kejadian di utara, Aruna mulai merasakan sesuatu yang baru.Ia tidak lagi harus memejamkan mata untuk “melihat” jaringan akar itu.Sekarang, sensasi halus itu hadir bahkan saat ia berjalan di trotoar kampus.Setiap kali kakinya menyentuh tanah, ada denyut kecil yang merambat ke telapak kakinya. Seperti nadi bumi yang berdetak pelan.Ia berhenti di depan gedung fakultas.Bima yang berjalan di sampingnya langsung sadar.“Kamu ngerasa lagi?”Aruna mengangguk perlahan. “Bukan gangguan.”“Terus?”“Jaringan itu… makin jelas.”Bima terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya.“Ap

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 130– Retakan di Tengah Keseimbangan

    Langit kota berubah lebih cepat dari biasanyaBeberapa hari setelah Aruna memutuskan untuk berjalan di tengah tidak sepenuhnya meninggalkan dunia biasa, dan tidak sepenuhnya tenggelam dalam dunia yang tak terlihat sesuatu mulai terasa berbeda.Bukan gangguan kecil seperti kabut di belakang kos.Bukan getaran lembut dari akar taman.Ini… lebih luas.Lebih dalam.Dan lebih sunyi.Sore itu, mereka semua berkumpul di taman kota, di bawah pohon beringin yang kini terasa seperti titik temu tak tertulis.Pelangi duduk bersandar pada batang pohon, menatap anak-anak yang berlarian. Embun dan Bulan berbagi camilan. Bima dan Bagas berdebat soal rencana kerja setelah lulus. Alvaro mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil. Hileon berdiri sedikit menjauh, memperhatikan sekitar.Aruna memejamkan mata.Biasanya, ia bisa merasakan aliran akar yang stabil.Hari ini, aliran itu… tersendat.Seperti sungai yang tersumbat batu.Ia membuka mata perlahan.“Kalian ngerasa?” tanyanya.Hileon langsung menoleh

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 129 – Di Antara Dua Jalan

    Malam setelah percakapan di bawah pohon beringin itu terasa berbeda.Aruna duduk sendiri di kamar kosnya. Lampu meja menyala redup, menyorot gelang akar yang tergeletak di atas buku catatan KKN mereka. Angin dari jendela membuat tirai tipis bergerak perlahan.Ia memandang gelang itu lama.“Kenapa kamu memilihku?” bisiknya pelan.Tidak ada suara menjawab.Namun ada rasa hangat yang menjalar pelan dari dada hingga ke ujung jarinya. Bukan desakan. Bukan paksaan. Seperti sebuah keyakinan yang tumbuh perlahan, tanpa perlu diyakinkan.Aruna memejamkan mata.Dan lagi-lagi ia berdiri di persimpangan.Dua jalan membentang di hadapannya.Yang satu terang, ramai, penuh suara tawa dan kehidupan biasa.Yang satu lagi sunyi, panjang, dengan cahaya samar yang tidak menyilaukan—namun dalam.“Tidak semua pilihan berarti meninggalkan,” suara lembut itu terdengar lagi.Aruna menoleh, tapi tidak ada siapa pun.“Apa aku harus memilih sekarang?” tanyanya.“Tidak.”“Lalu?”“Berjalanlah. Jalan akan memperlih

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 128 – Panggilan dari Akar yang Terkubur

    Langit kota tampak mendung sejak pagi, padahal musim kemarau belum benar-benar berakhir. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seperti beban yang belum dijatuhkan. Aruna berdiri di depan jendela kelas setelah dosennya selesai menjelaskan revisi laporan KKN. Suara teman-teman yang bercakap terdengar samar, seakan tertutup lapisan tipis di telinganya. Ia tidak sedang melamun. Ia sedang merasakan sesuatu. Getaran halus. Bukan ketakutan. Bukan ancaman. Melainkan panggilan. Pelangi yang berdiri di sampingnya menyenggol pelan. “Na… kamu lagi ngerasa ya?” Aruna mengangguk tanpa menoleh. Embun dan Bulan yang berada di belakang mereka ikut mendekat. Bima, Bagas, Alvaro, dan Hileon pun menghentikan obrolan. “Datang lagi?” tanya Hileon pelan. “Bukan datang,” jawab Aruna perlahan. “Tapi seperti… ada yang bangun.” Bima menghela napas panjang. “Jangan bilang kita harus balik ke desa.” “Bukan desa,” bisik Aruna. Semua terdiam. “Bukan di sana.” Sore itu mereka berkumpu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status