LOGINTHE BILLIONAIRE'S MISTRESS _From sharing his bed to sharing his heart_ SYNOPSIS/BLURB "I thought so too. You don't remember the safe word." Jaxon had a tone of mischief in his voice. His Hazel Green eyes burned her down to her soul. Roxanne kept moving backwards till her back was against the wall. "Please, I don't want to do this." She begs. Jaxon is already very much aroused and the beast in his groin begs for release. Her begging only turns him on more. So innocent! Roxanne knows she can't do anything now, so she decides to give in to him. "Now that's what I want to see. Less struggle, more obedience. You're now my Pet. " Now get on your knees." Jaxon orders. Roxanne, a 24-year-old gymnast with heavy financial burdens, steps into the world of Club D'Lux, as an exotic pole dancer. Her first performance sparks a connection with Jaxon Hearst, the owner. When a fan gets too close, Jaxon helps her , revealing his true identity and making a shocking proposal as he's drawn to her beautiful and subtle nature. The hunger to possess her burns inside of him. He offers Roxanne a risky deal; become his mistress, and he'll take care of her financial worries and cover her father's medical bills. But as she enters Jaxon's life, shedding his layers, she discovers his dark secrets and desires that push her boundaries. As they engage in this consuming relationship, Roxanne finds herself trapped between her desire for Jaxon and her fear of his control. Can she tame his wild heart, or will their passion leave her in ruins?
View MoreSuara pekikan kecil terdengar diikuti oleh suara dentingan piring yang jatuh, membuat suasana pesta menjadi hening.
Ryan Pendragon menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar 10 tahun, berdiri kaku dengan wajah pucat.
Di depannya, seorang pria tinggi besar dengan mata tajam berdiri menjulang, jasnya yang mahal kini bernoda makanan yang tumpah.
"Ma-maafkan saya, Tuan," gadis kecil itu terbata-bata, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Pria itu menatap gadis kecil tersebut dengan tatapan dingin yang menusuk. Tangannya terkepal erat, dan Ryan bisa melihat urat-urat di lehernya menegang karena menahan amarah.
Melihat situasi yang semakin tegang, Ayah Ryan–William Pendragon bergegas menghampiri mereka. Ia berlutut di samping gadis kecil itu, mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Itu hanya kecelakaan," ujar William lembut sambil mencoba membersihkan noda di sepatu gadis itu. Kemudian ia berdiri dan menghadap pria yang terlihat marah itu. "Master Lucas, saya William Pendragon. Mohon maaf atas insiden ini. Biarkan saya membantu membersihkan jas Anda."
Namun, kebaikan William rupanya tidak diapresiasi. Master Lucas menatap William dengan pandangan merendahkan.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya pada William. "Kau pikir sapu tanganmu yang murahan itu bisa membersihkan jas mahalku?!"
William tersentak, "Maaf, saya hanya bermaksud membantu. Mungkin kita bisa—"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. William terhuyung, pipinya memerah akibat pukulan pria itu.
Ryan membeku. Matanya melebar menyaksikan adegan di depannya. Ia ingin berlari, ingin menyelamatkan ayahnya, tapi kakinya seolah terpaku di lantai.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak pria itu lagi. "Berani-beraninya kau menyentuhku dengan sapu tangan kotormu!"
William mencoba menjelaskan, "Tuan, saya hanya bermaksud membantu. Ini hanya kecelakaan kecil dan—"
"DIAM!" Pria itu semakin murka. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram kerah William. "Kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkanmu dan seluruh keluargamu dalam sekejap!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak ada yang berani bersuara, apalagi bergerak untuk membantu William.
Ryan akhirnya berhasil menggerakkan kakinya. Ia berlari mendekati kerumunan, berusaha menembus para tamu yang menonton kejadian itu dengan wajah pucat.
"Ayah!" teriaknya.
Namun sebelum Ryan bisa mencapai ayahnya, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Master Lucas, dengan gerakan yang sangat cepat, menebas leher William Pendragon dengan tangan kosongnya. Seketika itu, kepala William menggelinding, diikuti robohnya tubuh William ke lantai.
"TIDAK!" Ryan berteriak histeris. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia melihat ayahnya roboh ke lantai, darah mengalir deras dari lehernya.
Orang-orang mulai berteriak panik. Beberapa wanita pingsan menyaksikan kejadian berdarah itu.
Namun tak seorang pun berani mendekati William yang telah tewas, ataupun menghentikan pria yang baru saja membunuhnya.
Ryan berlutut di samping tubuh ayahnya, tangannya gemetar memeluk potongan kepala William. "Ayah ... Ayah!"
Ryan meraung, matanya liar mencari-cari bantuan. Ia melihat wajah-wajah familiar di antara kerumunan.
Orang-orang yang dulu selalu memuji keluarga Pendragon, teman-teman lama ayahnya, bahkan pamannya sendiri.
Tapi tak seorang pun bergerak. Mereka hanya berdiri diam, wajah mereka campuran antara ketakutan dan ... penghinaan? Seakan akhir seperti ini sudah sepantasnya diterima oleh keluarga Ryan!
Amarah membakar dada Ryan. Dengan gerakan cepat, ia meraih pisau makan dari meja terdekat dan menyerbu ke arah pembunuh ayahnya.
"KUBUNUH KAU!" teriaknya, mengayunkan pisau itu sekuat tenaga.
Namun pria itu terlalu kuat. Dengan satu tangan, ia menangkap pergelangan tangan Ryan, menghentikan serangannya dengan mudah.
Ryan menatap mata pria itu. Dingin, tanpa emosi. Seolah membunuh seseorang di depan umum adalah hal biasa baginya.
"Keluarga Pendragon dari Golden River, ya?" Pria itu berkata, suaranya sedingin es. "Kau pikir kau siapa? Bahkan jika kau adalah keluarga yang berada di posisi paling atas, aku tetap bisa membunuhmu dengan menjentikkan jariku!"
Ia melempar Ryan ke lantai dengan kasar. "Dan kau, dasar sampah tak berarti, kudengar kau terkenal di daerah ini karena tidak berguna. Haha, dan kau ingin membunuhku? Bahkan jika aku memberimu seratus tahun, kau tetap tidak berguna!"
Ryan tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar karena shock dan amarah. Ia ingin bangkit, ingin membalas, tapi tubuhnya seolah kehilangan seluruh kekuatannya.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya dengan kuat. Ryan menoleh, melihat ibunya, Eleanor, dengan wajah pucat dan berlinang air mata.
"Ibu?" bisiknya bingung.
Tanpa berkata apa-apa, Eleanor mendorong Ryan sekuat tenaga ke arah jendela besar yang mengarah ke Sungai Emas di belakang Paviliun Riverside.
PRANG!
Kaca jendela itu pecah, dan Ryan merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya tercebur ke dalam air sungai yang dingin.
Sebelum kesadarannya menghilang, Ryan melihat ibunya berlari ke arah pria pembunuh itu, wajahnya penuh tekad ... dan keputusasaan.
Air sungai yang deras menarik tubuh Ryan, menghanyutkannya entah kemana. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa tidak ada yang membantu? Mengapa ibunya mendorongnya?
Dan yang paling penting ... apa yang akan terjadi padanya sekarang?
Entah sudah berapa lama Ryan hanyut, ia tidak dapat menghitungnya. Ketika kesadarannya mulai berangsur menghilang, Ryan merasakan sebuah tangan kuat menariknya ke permukaan. Samar-samar, ia melihat wajah seorang pria tua sebelum semuanya menjadi gelap.
*Lima tahun kemudian*
Angin dingin berhembus kencang di puncak Gunung Langit Biru. Di sebuah gua yang tersembunyi, seorang pemuda berdiri tegak, matanya terpejam dengan konsentrasi mendalam.
"Fokus, Ryan!" Suara serak seorang pria tua terdengar. "Rasakan aliran energi di sekitarmu. Biarkan Teknik Matahari Surgawi mengalir dalam meridianmu!"
Ryan Pendragon membuka matanya. Cahaya keemasan berpendar dari tubuhnya, menerangi seluruh gua.
Dengan satu gerakan tangan, batu-batu besar di sekitarnya terangkat ke udara, melayang seolah tak memiliki bobot.
Pria tua itu tersenyum puas. "Bagus. Kau sudah siap."
Ryan menurunkan batu-batu itu kembali ke tempatnya. Ia berbalik, menatap pria yang telah menjadi gurunya selama lima tahun terakhir.
"Guru," katanya dengan suara dalam. "Apakah ini saatnya?"
Sang guru mengangguk pelan. "Ya, muridku. Kau telah menguasai Teknik Matahari Surgawi dan rahasia alkimia tingkat tinggi. Kini saatnya kau kembali dan menghadapi takdirmu."
Ryan mengepalkan tangannya. Bayangan masa lalu berkelebat di benaknya. Ayahnya yang terbunuh, ibunya yang mengorbankan diri, dan pria itu ... pria yang telah menghancurkan segalanya.
"Akhirnya," ucap Ryan, matanya berkilat penuh tekad, "dendam ini bisa kubalaskan."
Sang guru meletakkan tangannya di bahu Ryan. "Ingat apa yang telah kuajarkan padamu, Ryan. Kekuatan sejati bukan hanya tentang membalas dendam. Tapi tentang keadilan dan melindungi yang lemah."
Ryan mengangguk. Ia telah berubah. Bukan lagi pemuda lemah yang hanya bisa menangis saat melihat ayahnya dibunuh. Kini ia adalah seorang kultivator, sekaligus alkemis yang kuat, menguasai teknik yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Saat fajar menyingsing, Ryan Pendragon melangkah keluar dari gua, meninggalkan kehidupannya selama lima tahun terakhir. Matanya menatap jauh ke cakrawala, ke arah kota Golden River yang tersembunyi di balik awan.
"Golden River," bisiknya. "Aku sudah kembali."
It was eight months later and a lazy Saturday morning for Roxanne and Jaxon. They laid wrapped in each other's arms. "We should do this more often," Jaxon said as he kissed Roxanne. "Yeah, we should, but I really need to get up now to check on the girls." Roxanne said as she began to untangle herself from Jaxon's warm body. "Come on, Princess, Mrs Anderson and Stella are here for that, let's just stay here." Jaxon nibbled on her neck, making her giggle. Roxanne let out a moan before saying, " Yeah, they're here but I need to go see my babies." "Fine. Whatever. You just don't want me to have some this morning." Jaxon grumbled. "This is why I moved Mrs Anderson closer. We really should drop the kids with her." Jaxon added. This made Roxanne laugh. " Don't be like that, Pappi. Alright, let's play a game." Jaxon raised an eyebrow," what game?" "It's quite simple. If you win, the kids can go stay with Mrs Anderson but if I win, I get to decide what we do." Roxanne said, a hint of
Days turned into weeks, and weeks turned into months of not hearing anything from Jaxon or anyone else. She missed Happy Feet; she had watched them come out third place at the Danceout finals. Roxanne sat in her room, her belly slightly showing in her flowery dress. She ran a comb through her hair, watching her reflection. The door creaked open, and her jaw dropped as she saw Jaxon standing there, wearing a tee-shirt and faded jeans, with a little beard and a still-devastatingly sexy body."Jaxon?" she whispered, trying to process her emotions.Jaxon opened his arms, walking towards her, "Why are you staring at me like that, Princess? Aren't you happy to see me?"Roxanne didn't respond, her eyes blazing with anger. Jaxon pulled her in, but she wiggled out of his arms."You expect a welcome after keeping me here like a prisoner?" Roxanne snapped.Jaxon chuckled, "Come on, Princess, don't be mad."Roxanne's anger boiled over, "Mad? I am full of hate towards you. I want to get the hell
Sentinel and his henchmen searched frantically, their flashlights casting eerie shadows on the ground. Suddenly, one of the men stopped, his head cocked to the side. "Wait, do you hear that?"The others paused, listening intently. The sound of rustling leaves came from a nearby thicket. They crept towards it, guns drawn.But as they parted the branches, they found only a twig, probably dislodged from the tree above. Sentinel's face turned beet red with rage."Of course, that's the pregnant woman! The twig is the fucking pregnant woman!" he bellowed, his voice echoing through the forest. "Give me one good reason not to blow your head off!"One of his men trembled, "C-cause we are very loyal, sir."Sentinel's anger reached new heights. "Who gives a damn?! Loyalty doesn't mean shit right now! Find those girls, NOW!!!" Veins bulged on his forehead as he yelled.His men scurried off in different directions, desperate to find their quarry and appease their enraged leader.Sentinel's eyes sc
"ohhh yess!" Loo moaned as she slowly rode Sentinel. "Yes, Mama, almost there." Sentinel groaned as he approached climax. Loo kept moving at the same pace, not able to move faster because of her belly. "Hmmmm!" She moaned as she faked hitting her climax. Sentinel came seconds after her.Loo got off him and laid next to him, breathing heavily. "That was intense," Sentinel said, his breathing still heavy."I really needed that," Loo lied. "I've never done it with a heavily pregnant woman." Sentinel chuckled.Loo chuckled, " you were once married, weren't you?" "Yeah, I was, but Merida never let us do anything when she was pregnant. She gets pretty irritated." Sentinel said with a laugh. " I do miss my boys," he added with a sigh. Loo just stared at him. Sentinel rubbed her belly, " Perhaps this would be a girl," Loo gave him a stiff smile as she got off the bed. " I've made pasta. Would you want some?" "Yeah. Your riding left me quite hungry, Mama." Sentinel smiled at her. "A
Sentinel's eyes never left Loo as she ate. Loo's hair stood on end under his gaze."Can you stop staring at me like that? You're making me uncomfortable!" Loo said, eyeing him.Sentinel chuckled, "You're just beautiful with my child."Loo, frustrated, suddenly stopped eating and faced him. "Alright
Jaxon didn't relent in his efforts to try speaking with Roxanne, but she wasn't giving him the chance. He couldn't go through Cynthia either, as she had asked him to leave Roxanne be for now. It has been two months, and he was going crazy without her.He would go to the Danceout arena to try to rea
Cynthia and Charles waited anxiously at the Danceout arena, worried that Roxanne hadn't arrived yet."When will your driver be here?" Cynthia asked, glancing at her watch. "The dance out is starting already, and Roxanne is late."Charles tried to reassure her, "Let's be patient, maybe there was car
Loo didn't know what to say, her words betrayed her, and her feet became weak to carry her frame. Sentinel chuckled, "Come on, Mama, you look like you've seen a ghost. It's just me, your baby's daddy."Sentinel's eyes trailed her pregnant belly. "And pregnancy suits you." He said, his tone heavy wi


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews